
Naomi yang tak bisa menutupi kegugupannya, menutup pintu rumah Brielle dengan pelan dan sesekali menarik dan menghembuskan napas panjang. Menelan ludah sebelum berbalik dan memandang ke arah sahabatnya yang sedari tadi memerhatikannya dengan tatapan tajam. Melihat betapa mengerikannya pandangan Brielle, ia pun menunduk sambil melangkah sangat pelan ke arah sofa yang diduduki Brielle.
"Sejak kapan kau tahu kalau mereka bersaudara?!" sembur Brielle yang sudah kelepasan. Ia sungguh kecewa pada Naomi. Bisa-bisanya sahabat dekat yang ia percayai itu tidak menceritakan hal sepenting ini.
"Sejak aku ikut Leonardo ke Bali ... dulu."
Jelas sekali kelopak mata Brielle yang membuka lebar, makin lebar dari sebelumnya. Tubuhnya yang tadi menyandar pada sofa, tak lagi menempel sedikit saja di sana. Makin tajam ia memberikan tatapan ke arah Naomi yang berusaha menempatkan diri di sebelahnya. "Sudah lama?!" pekik Brielle kemudian.
"I-iya, Elle."
Membuang napas kasar, Brielle bangun dari sofa dan melipat tangan di dada. Ia berdiri tepat di depan Naomi. Sementara gadis di depannya itu tak berani mendongak ke arahnya. "Kapan?!" teriaknya ingin tahu, bersama perasaan seperti tersayat pisau. "Kenapa kau harus menutupi ini dariku, Naomi?!" tambahnya yang menghentakkan kaki, melampiaskan kekesalannya. "Kenapa kau harus merahasiakannya?! Kapan kau tahu kalau Leonardo dan Leonathan bersaudara?!"
"Se-sekitar dua tahun lalu."
"Kenapa kau tidak cerita dari dulu?! Kenapa aku harus terlambat mengetahui ini?!" bentak Brielle yang merosot, duduk di lantai dengan muka kecewa mendalam pada sahabat paling diandalkan dan dipercaya. "Apa tujuanmu menyembunyikan kebenaran itu?"
"Aku ingin yang terbaik untukmu, Elle."
"Yang terbaik?" sembari terkekeh ia mendongak dan memberikan tatapan tajam, mengarah tepat ke sepasang mata cokelat tua milik Naomi yang masih duduk sopan di sofa. "YANG TERBAIK KATAMU?!" kekehannya lenyap dan digantikan gelengan kepala berkali-kali.
"Y-ya, Elle."
"Sadar atau tidak, kau menambah masalah baru!" pekiknya lagi sambil menyingkirkan tangan kanan Naomi yang menyentuh bahunya guna menenangkan dirinya. "Bagaimana bisa aku melupakan Leonathan kalau Leonardo adalah adik kandung dari ayah Elnathan?!"
"Kau pasti bisa."
"Leonardo pamannya anakku sendiri, Naomi!" Brielle yang sudah kecewa itu ingin sekali mengusir Naomi sekarang juga, tetapi ia tak setega itu karena masih memikirkan hubungan persahabatan mereka. "Bagaimana bisa anakku memiliki papa tiri yang tak lain adik dari papa kandungnya?!" sambungnya yang kini tak lagi menatap Naomi, perempuan itu sudah berkaca-kaca dan membuat hatinya sedikit terluka. "Bisakah kau berpikir baik-baik sebelum menyembunyikan informasi penting ini dariku?! Kenapa aku harus tahu sekarang? Dari segi mana yang terbaik untukku?"
"Maafkan aku, Elle," sesal Naomi dengan suara bergetar.
"Seharusnya kau menceritakan ini semua sebelum aku menjalin hubungan bersama Leonardo. Ini salahmu!" tutup Brielle yang langsung bangkit dari lantai dan berlari ke kamarnya. Bukan hanya Naomi yang menangis, Brielle pun tak kuasa menahan air matanya yang memaksa untuk keluar. Ditutupnya pintu yang baru saja ia buka sebelum naik ke ranjang bersama sang putra, jagoannya yang sudah terlelap di atas ranjang sembari memegang sebuah mobil-mobilan.
Di luar kamar, Naomi berusaha untuk meminta maaf. Gadis itu tidak berhenti mengetuk pintu kamar Brielle dan anak sahabatnya itu pelan. Berkali-kali dia mengetuk, namun sang pemiik kamar tetap mengabaikan. "Aku mohon, Elle ... buka pintunya dan bicarakan ini baik-baik. Aku akan memberikan solusi untukmu!"
"Tidak ada solusi lagi. Kau membuat ini semua semakin rumit," balas Brielle teramat pelan, dan pastinya tidak akan didengar oleh kedua telinga Naomi. Mencium kening putranya, Brielle bangun dan menyimpan tasnya dulu di gantungan tas yang terbuat dari besi di samping lemari pakaiannya. Memilih baju tidur terusan selutut, ia melirik pintu. "Aku kecewa padamu!" teriaknya, karena Naomi masih saja mengetuk pintu dan memohon-mohon untuk dibukakan.
"Aku tetap menunggumu sampai kau mau bicara baik-baik padaku, Elle! Ayok, dengarkan tujuanku merahasiakan ini darimu, Elle!" pintanya tak menyerah. "Elle!" tambah pula ketukan di pintu itu yang beruntungnya tidak dapat mengusik ketenangan Elnathan yang masih tidur. "Ayo! Buka pintunya, Elle!"
Tidak ada tiga menit gaun putih yang tadinya membalut cantik di tubuh Brielle, sudah digantikan dengan daster biru laut tanpa motif, polos. Ia berjalan santai menuju pintu kamarnya dan segera membuka pintu yang tak dikunci itu. Dengan gerakan cepat Brielle menarik pintu tersebut. Tangan Naomi yang terus mengetuk itu hampir saja mengenai hidungnya jika dia tidak mundur.
"Apa yang mau kau jadikan alasan? Kebahagiaanku? Dari mana? Kau justru membuatku pusing dan bingung sekarang!" Berjalan melewati Naomi, ia menuju dapur untuk mengambil air minum. Selain tenggorokannya kering, dapur adalah tempat yang membuatnya tenang. Entah kenapa, Brielle lebih suka menuang kesedihan dan perasaan-perasaan negatif lainnya di sana.
Naomi yang terus membuntutinya itu berjalan pelan. Sesuai tempo dari langkah kaki Brielle, karena wanita itu pasti tak ingin langkahnya disamakan. Masih menjaga jarak dari Naomi.
"Aku ingin melihatmu bahagia, Elle. Karena itu juga aku merelakanmu berpacaran dengan Leonardo. Kalau kau bukan sahabat baikku, aaku tidak akan membiarkan kalian berdua berhubungan seperti sekarang. Tapi, karena aku tahu Leonardo menyukaimu ... aku siap memutuskan hubungan dengannya."
Brielle yang sudah berdiri di depan dispenser galon bawah itu, lantas menoleh sesudah mengisi gelas kaca yang tadinya kosong jadi terisi setengah. "Apa maksud ucapanmu itu?" tanya Brielle sembari mendelik. Bahkan kakinya tak kuat jalan lagi, padahal jarak dari depan dispenser ke kursi makan tidak jauh. "Info apalagi yang membuatku tambah kaget?!"
"Maaf, Elle."
"Kau tahu di mana salahmu?!" Brielle yang sudah lemas, jalan ke kursi dengan langkah yang teramat pelan. Tangan Naomi yang terulur padanya bahkan ditepis. "Aku tidak mau kau berkorban, apalagi mengorbankan perasaanmu untuk kebahagiaanku!"
"Tapi Leonardo menyukaimu, Elle. Apalagi sekarang, aku bisa melihat kebahagiaannya ketika sedang bersamamu."
"Tapi kau sendiri menyimpan kesedihan saat melihatku bersamanya!" bentak Brielle yang meremas gelas kacanya. "Apa kau mau, aku ini dicap sebagai perebut pacar sahabatnya sendiri dan dianggap sebagai wanita terkejam di dunia karena memacari kekasih sahabatku sendiri?! Kau mau aku dicap sebagai wanita seperti itu?!"
"Aku hanya mau kau bahagia, Elle!" seru Naomi yang sudah menangis. "Aku sedih saat melihatmu sendirian mengurus Elnathan. Kertika aku melihat binar mata Leonardo saat menatapmu, aku pun tahu kalau dia menyukaimu. Aku tidak mungkin berhubungan dengan pria yang tidak mencintaiku, Elle."
"Lalu? Apa kau tidak memikirkan perasaanku?" tanya Brielle terjeda, ia menerawang jauh peristiwa terkelam semasa hidupnya dulu. "Apa kau tahu perasaanku setelah mengetahui semua ini?"
Brielle tertawa miris. "Sedih sekali rasanya, ketika kau tahu rahasia besar terungkap tepat saat kau mulai melupakan cinta pertamamu, dan memilih menikah dengan orang yang mencintai dirimu. Lalu cinta pertamamu datang dan perasaan yang dulu masih belum benar-benar hilang."
"Ka-kau ... kau belum bisa melupakan perasaanmu dengan Leonathan?!"
"Menurutmu aku sudah bisa melupakannya begitu saja?" tanya Brielle tanpa melihat sang sahabat yang menatap ke arahnya dengan tatapan tak menyangka, tidak percaya kalau Brielle masih memiliki perasaan terhadap Leonathan.
"Sedangkan anaknya, darah dagingnya selalu bersamaku setiap waktu. Kau kira aku bisa melupakan Leonathan secepat itu?" Brielle menelan ludahnya dan menutup mata sembari membuang napas. "Meski bertahun-tahun aku berpisah dengannya, darah dagingnya melekat padaku."
Menggigit bibirnya kuat-kuat, Naomi mengingat kesalahannya dalam mengambil keputusan dulu. Kalau saja dia lebih terbuka dan menceritakan kebenaran mengnai hubungan Leonathan dan Leonardo, kemungkinan masalah ini tidak ada. Kemungkinan Brielle tidak akan menerima cinta Leonardo kalau tahu bahwa Leonathan dan Leonardo kakak beradik. Ya, tetapi kenyataan yang berlaku sudah terlambat, waktu tidak bisa diulang kembali.
"Kau salah, harusnya dari awal tahu itu kau berbicara padaku. Kalau sudah terlanjur seperti ini, aku bisa-bisa merusak hubungan kakak beradik itu."
"I-iya ... seandainya aku tidak salah memilih jalan yang salah, kau mungkin tidak akan sepusing ini, Elle ... aku benar-benar minta maaf padamu," sesal Naomi yang langsung menggapai tangan wanita di depan matanya, masih menutup mata. Sementara napas panjang sudah keluar dari mulut dan hidung Brielle sebelum wanita itu membenamkan wajahnya di sepasang tangannya yang terlipat di atas meja.
"Kau pasti sangat menyesal," lirih Brielle yang diangguki Naomi.
Memang benar, perempuan itu sungguh menyesal, begitu dikuasai rasa bersalah karena menyembunyikan fakta itu. Bahkan dari awal dia mengetahui bahwa Leonardo dan Leonathan adalah saudara kandung. Akibatnya, berakhir merugikan semua pihak termasuk dirinya sendiri yang sebenarnya masih mencintai Leonardo. Begitu mencintai Leonardo sampai ia rela membiarkan Leonardo memilih wanita mana yang pantas untuknya.
"Kau juga masih ada rasa dengannya?"
"Ma-maksudmu? Maksudmu pada Leonardo?"
"Ya, siapa lagi kalau bukan dia?" Naomi hanya terdiam lalu menunduk dalam-dalam. "Kau mencintainya 'kan?"
"Ak—"
"Camkan ucapanku ini." Brielle mengatakannya sambil menepuk punggung tangan Naomi dan membuat sahabatnya itu mendongak dan memandanginya. Dilihat, Naomi yang sudah banjir air mata sembari memegang dua bahu, kanan dan kiri milik sahabat baiknya itu. "Aku tidak suka kalau kau terlalu mengorbankan perasaanmu sendiri demi aku. Meskipun sahabat, kau juga berhak mencintai siapa pun. Aku yang merasa lebih sedih lagi kalau akulah yang menyebabkanmu menangis."
Mengusap air mata Naomi, ia menambahkan, "kau sudah banyak membantuku." Kemudian menarik tubuh tersebut dan memeluknya erat. Brielle mengusap-usap punggung Naomi dengan air mata yang juga tidak bisa berhenti. "Ikuti kata hatimu, aku juga akan mengikuti kata hatiku sendiri."
Dilihatnya Brielle yang berusaha tenang dengan meminum air mineral dalam gelas kaca, beberapa teguk. "Apa kau akan tetap berhubungan dengan Leonardo?" Brielle menatapnya sesudah meletakkan gelas itu ke atas meja.
"Apa menurutmu aku harus melanjutkan hubunganku dengannya? Kalau sahabatku sedih akan hubungan itu, dan aku masih menyimpan perasaan pada laki-laki lain ... bisakah aku melanjutkan hubungan itu?" Brielle balik bertanya sambil tersenyum, sangat tipis.
"Bagaimana dengan pertunangan kalian? Selangkah lagi kalian akan menikah, Elle ... cuma menunggu restu dari Leonathan."
"Apa Leonathan akan memberi restunya?" Naomi semakin merasa bersalah, mendengar pertanyaan Brielle ini ia jadi ingat nasib Elnathan yang belum tahu sosok ayah kandungnya sampai bocah tampan itu sudah berumur tiga tahun. "Bahkan aku dengar, dia tidak berhenti mencariku."
"Itu dua tahun lalu, Elle."
"Apa menurutmu aku harus menikah dengan Leonardo?"
"Kenapa tidak?"
"Sebagai wanita dan sahabat aku masih punya hati. Memangnya aku bisa melihat sahabat terbaikku menangis di hari pernikahanku karena cintanya menikah denganku? Kau berpikir aku sejahat itu?"
"Aku hanya ingin melihatmu bahagia, Elle." Brielle menggeleng kuat, membantah niat Naomi yang tidak masuk di akal dan hatinya.
"Bukan seperti itu caranya!" pekiknya sambil berdiri. "Kalau kau rela mengorbankan hatimu demi aku, berarti akulah yang menjadi sahabat terburuk di dunia ini!"
"Tidak!" bantah Naomi yang tidak setuju dengan pendapat Brielle seperti memojokkan dirinya sendiri. "Jangan bilang begitu. Aku melakukannya karena keinginanku sendiri."
"Kalau begitu, sekarang biarkan aku yang memutuskan hubunganku dengan Leoardo akan seperti apa ke depannya."
"Apa yang kau mau, Elle? Kau ingin semuanya berakhir?"
"Aku akan sendiri. Aku akan berjalan sendiri dan menghindar dari kakak beradik itu. Tidak akan ada lagi aku dengan Leonardo ataupun kembali ke masa lalu."
"Kau sendiri belum pernah mengenal dekat Leonathan," Naomi mengatakannya sangat lirih dan membuat Brielle menoleh singkat padanya.
"Aku akan menghindar dari para lelaki, terutama dua saudara kandung itu." Brielle kemudian angkat kaki dari dapur dengan tangan kosong, meninggalkan gelas beningnya di atas meja padahal masih ada sisa. "Selamat malam, Sahabat!" pamitnya dengan menekan kata terakhir. "Sampai jumpa besok pagi, dan semoga mimpi indah! Tuhan memberkatimu!"
"Maafkan aku, Elle," bisik Naomi seraya menatap punggung Brielle yang sudah jauh karena wanita beranak satu itu sudah berlari. "Semoga kita selalu bahagia, Elle." Meraup wajahnya yang diselimuti kesedihan, bibirnya kembali melanjutkan, "walaupun rasanya sangat tidak mungkin untuk mendapatkannya."
Di dalam kamar tidur, Brielle tanpa pikir panjang naik ke ranjang. Wanita yang sudah berumur dua puluh tiga tahun itu segera menyentuh kepala Elnathan begitu naik, merangkak ke kasur, dan tidur di sebelah anak laki-lakinya. Dia yang masih menangis terus mengusap kepala bocah laki-laki tampan dengan warna rambut cokelat, sama seperti milik sang papa.
Dipeluknya erat-erat Elnathan sambil dikecupnya berkali-kali puncak kepala itu dan mulutnya mulai mengucapkan kalimat-kalimat yang dipenuhi dengan tekad bulat. "Mama bersyukur punya anak sepertimu, Sayang ... Mama beruntung karena kamu selalu ada di samping Mama. Mama minta maaf kalau selama ini Mama belum bisa mengenalkan El ke papa, tapi Mama janji ... suatu saat kalau waktunya tiba, El pasti bisa ketemu papa kandung El. Mama sayang Elnathan."
Didekapnyalah tubuh bocah berumur tiga itu dengan kuat dan tak berhenti mendaratkan bibirnya ke kening sang anak. "Mama janji, Elnathan pasti ketemu papa suatu saat nanti," tekannya lagi sebelum ikut masuk ke alam bawah sadar dan membiarkan kantuk menyergapnya.
Seperti yang dikatakan Brielle, Elnathan pasti akan bertemu dengan ayah kandungnya. Entah kapan waktunya, namun cepat atau lambat, hari yang dinanti-nantikan Elnathan sejak dulu pasti akan datang. Begitu pula dengan pria yang selama ini tak berhenti mencari anaknya, pencariannya pasti akan berhasil. Entah sekarang, besok, atau beberapa waktu lagi. Lebih jelasnya, hanya takdir yang akan mempertemukan keluarga kecil itu.