Look at Me, Elle

Look at Me, Elle
Bab 3 Tamparan



Sesuai rencananya, sesudah membersihkan badan yang penuh keringat akibat bekerja, Leonathan kembali bekerja sama dengan mobil kesayangan untuk mencari wanita incaran yang kabur saat ia tertidur. Bahkan belum sempat mengatakan maaf atau menyapa di pagi hari, Brielle sudah menghilang. Sungguh, perasaan kesalnya meledak hingga sekarang.


Hanya saja Leonathan harus bisa tenang agar dapat menemukan alamat di KTP Brielle, ada di daerah Kuta Selatan. Cukup jauh jaraknya, karena posisi rumah Leonathan ada di Seminyak. Jarak yang ditempuh kurang lebih 12 kilometer, atau dua puluh menit kalau dia mengebut dan jalan tidak macet.


Hingga akhirnya Leonathan tiba di depan rumah yang terlihat sangat bagus dan terawat. Dari depan, Leonathan bisa menebak jika harga rumah tersebut tidaklah murah. Keluar dari mobilnya, ia pun tak melepas kacamata dan menuju ke pagar putih yang tingginya tidak sampai tiga meter. Belum sempat menghampiri pembuka pagar, bahu Leonathan ditepuk seseorang dari belakang.


"Selamat malam," ucapnya setelah Leonathan menoleh padanya. "Kalau boleh tahu cari siapa, Bli?"


Dengan jantung yang agak terkejut, Leonathan merogoh kantong celana jeans hitam yang ia pakai, mengeluarkan dompet warna senada pula dan menyodorkan kartu identitas diri Brielle yang tak lupa ia bawa. "Saya mencari teman lama, kebetulan KTP Elle tertinggal. Ingin saya kembalikan padanya," ucap Leonathan yang tentu saja berbohong. Beruntung dia bisa menemukan jawaban yang bisa dinalar. Karena jika tidak, alasan apa yang harus dia pakai kalau perempuan di hadapannya ini menanyakan KTP Brielle yang ada padanya?


"Wah, Putri sudah tidak tinggal di sini selama satu tahun lebih." Leonathan yang tadinya merasa sedikit lega karena menemukan alamat Brielle, kembali lesu sampai mengeluarkan napas panjang menahan emosi. "Setahu saya Putri diusir karena masalah harta di keluarga besarnya, Bli." Sembari menyodorkan kembali KTP Brielle, ia sedikit menepi. "Karena saya asisten rumah tangga, saya sering mendengar berita dari orang-orang di sini waktu berkumpul."


"Elle diusir?"


"Saya dengar, dulu ketika nenek dan ayahnya Putri atau Elle ini meninggal ... ada perebutan harta, kemungkinan rumah ini juga sudah dihak milik sama salah satu keluarga tertua dari neneknya. Putri pergi mungkin karena mengalah. Dia juga jarang keluar juga waktu sekolah dulu, jarang mengobrol sama orang-orang."


"Matur suksma," jawab Leonathan sembari meletakkan dua tangannya di depan dada seperti salam namaste. "Saya cari informasi melalui teman saya saja, terima kasih banyak," imbuhnya sebelum menghampiri pintu mobil dan masuk ke BMW Z4 hitamnya. Begitu ia masuk, orang yang memberikan informasi itu juga melanjutkan jalannya. Sampai perempuan itu masuk ke rumah besar, selisih tiga rumah dari rumah keluarga Brielle di hadapannya. "Aku harus mencarimu ke mana jika masalahnya semakin rumit seperti ini?!" Mengacak rambutnya karena bingung, gusar, dan marah, Leonathan memukul setir berkali-kali hingga akhirnya memilih untuk pulang saja.


Tujuannya setelah sampai di ruang tengah adalah mengabari Alice. Melakukan panggilan telepon, tak ingin basa-basi dengan mengirimkan pesan yang kemungkinan akan lama dibalas oleh sahabat yang pernah ia cintai. Hingga dugaannya benar, Alice mengangkat panggilannya. "Aku ingin data atau informasi tentang Naomi."


"Mengapa suaramu harus terdengar serius seperti ini?" sahut sang penerima telepon dari seberang. "Ada apa denganmu, Nath? Santailah," tambah Alice yang merasa kesal karena pria berumur dua puluh lima tahun itu mulai mengaturnya dan terdengar berbeda dari biasanya.


Menarik dan mendorong udara melalui lubang hidungnya sebelum menerangkan, "KTP milik Elle ada padaku, dan aku sudah mendatangi alamat rumahnya. Sayang sekali, rumah itu sudah tidak ditempatinya selama satu tahun lebih." Meski penjelasan singkat, pasti Alicebisa mencerna dan memahami secara cepat. "Karena itulah aku meminta informasi tentang sahabatmu, Naomi. Dia pasti mengenal Elle dengan baik, jadi aku bisa menemukan Elle dari sahabatmu itu."


"Baiklah, besok aku akan menemanimu ke rumah orang tua Naomi atau ke toko bunga keluarganya. Selama duduk di bangku sekolah dulu aku sering mampir ke sana dan menjadi pelanggan setia mereka."


"Aku membutuhkannya hari ini, Alice! Mengertilah, masalah ini sangat genting. Aku tidak mungkin membiarkan Elle melakukan hal yang tidak-tidak setelah kita bercinta. Kau pasti mengerti perasaan bersalahku padanya. Aku tidak bermaksud menyakitinya."


"Kau? Kau benar-benar sudah melakukan kesalahan besar, Nath!" teriak Alice yang hampir saja memecahkan gelas di genggaman tangannya. "Kau sampai tidur dengan sahabat Naomi?!"


"Sudahlah, aku tidak butuh bentakan atau omelanmu," putus Leonathan sambil menekan tombol di remot yang ia genggam, membuat televisi LED menghitam, mati. Ia bangkit dan mengayunkan kaki ke kamar tidur sembari melanjutkan, "yang aku inginkan hanya informasi Naomi. Aku yakin, dia pasti tahu kediaman Elle. Kali ini, bantulah aku. Bukan aku saja yang selalu membantumu dengan mendengarkan curhatan tidak mutu tentang mantan-mantan berengsekmu."


"Malam ini aku sibuk. Tunggu besok pagi, aku janji, besok pagi aku akan mengajakmu ke toko bunga orang tua Naomi. Selamat malam, Nath. Sampai jumpa besok pagi." Panggilan pun ditutup sepihak oleh wanita berkulit putih sepertinya.


"Sialan," umpat Leonathan sebelum melemparkan ponselnya ke atas ranjang. Pria itu menggeledah lemari pakaian dan mengganti celana jeansnya dengan celana tidur. Sedangkan kaos polos hitam dibiarkannya melekat di tubuh. Sesudah itu membanting tubuhnya di atas kasur dengan posisi telentang dan menatap langit-langit kamar. "Akan kucari dirimu sampai dapat, Elle."


Leonathan yang lelah hati dan pikiran kini membiarkan matanya tertutup. Mengesampingkan sifat keras kepala dan semena-mena dari Alice, ia memilih mencari wajah Elle dan berakhir membawanya ke alam mimpi. Meski cuma mimpi, setidaknya dia bisa menyampaikan kalimat maaf, perasaan menyesal yang benar-benar berasal dari lubuk hatinya jika mengetahui keputusan Elle itu. "Kabur adalah keputusan terburuk, Elle ," gumamnya sebelum benar-benar masuk ke dunia mimpi.


Tidak sendirian lagi, pagi ini Leonathan mencari Brielle bersama Alice. Pria yang tampak gagah dengan kaos hitam polos lengan pendek, menampilkan otot-otot kencangnya tengah menyetir. Duduk di balik kemudi, Leonathan masih memakai kacamata hitamnya dengan tatapan fokus ke depan dengan sesekali melirik wanita yang ada di sebelah kiri. "Jika kau tidak mengesampingkan tugas dariku, kita pasti sudah menemukan Elle sejak kemarin."


"Mana sempat aku mengecek data-data karyawan yang tidak penting?" tanya perempuan yang duduk malas-malasan di kursi penumpang. "Selama ini kau juga tidak pernah mempermasalahkan apa yang aku kerjakan di kafemu, kenapa sekarang kau lebih heboh?" Menyilangkan tangan di depan dada, Alice melirik Leonathan dengan tatapan tajam. "Karena wanita itu?" tanyanya yang terdengar kesal di telinga sang pengemudi mobil.


"Ya, jika tidak karena cinta pertamaku itu, aku tidak akan segila ini."


"Cinta pertamaa? Setahuku, akulah cinta pertamamu. Dia bukan cinta pertamamu, Nath ... ha ... ha ... lucu sekali!"


Leonathan menghentikan kendaraan roda empat yang ia kemudikan ini sesuai perintah lampu merah yang ada di depan. "Bagaimana pun juga, hanya dia yang pernah tidur denganku." Menoleh dan menatap lekat-lekat perempuan berambut pirang di sebelah kirinya, Leonathan tersenyum miring. "Baru kali ini juga aku mencintai seseorang dari pandangan pertama, bukankah itu juga yang dinamakan cinta pertama?"


"Tetapi ada yang lebih berharga dari cinta pertama." Alice yang tak mau kalah itu juga ikut tersenyum miring. "Cinta sejati lebih berarti dari cinta pertama, Nath. Percuma kau memiliki cinta pertama, jika ujung-ujungnya cinta pertamu tidak bisa menjadi cinta sejati, perasaan dari dalam hatimu yang benar-benar tulus, tanpa pamrih atau syarat."


Alice semakin tersenyum ketika melihat Leonathan yang tampak berpikir, memikirkan seperti apa cinta sejati itu. "Bukan mengincar fisik, tetapi murni karena kau memang mencintainya, berdasarkan perasaan terdalam dari dasar hatimu. Apa cinta pertamamu itu juga termasuk cinta sejati, Nath?"


Leonathan tiba-tiba terkekeh dan kelakukannya itu membuat Alice mengerut bingung. "Jika aku tidak tulus padanya, aku tidak mungkin mencarinya sampai pusing seperti ini." Menggeleng geli karena Alice meremehkan perasaannya untuk Brielle.


"Bahkan sudah seminggu lebih aku mencari wanita yang berhasil membuatku frustrasi sekaligus merasakan cinta yang lama kudambakan." Alice sudah tidak berkomentar, ia membungkan mulut dan memilih untuk memalingkan wajahnya dari Leonathan yang masih menunjukkan senyuman manis itu.


Ya, seperti yang dikatakan Leonathan tadi, pencarian Brielle sudah berlangsung lebih dari tujuh hari. Dikarenakan informasi tentang Naomi tak didapatkan dengan jelas, Leonathan sampai mencarinya ke seluruh Bali dengan mengandalkan tempat-tempat yang biasa digunakan Naomi untuk melepas penat. Bahkan ketika Alice mengajaknya ke toko bunga orang tua Naomi, informasi yang didapat hanyalah apartemen yang disewa Naomi selama liburan ke Bali.


Berita yang sama seperti dikatakan Alice padanya tentang tempat tinggal asli Naomi, yang memang bukan di Pulau Bali bersama orang tuanya. Alice sebagai sahabatnya hanya mengetahui bahwa Naomi tinggal di Jogja sendiri, dan ke Bali hanya berlibur. Hanya fakta itu yang Alice punya, sama sekali tidak tahu apartemen yang disewa sang sahabat.


Leonathan yang geram saat itu akhirnya memutuskan untuk mencari Brielle sendirian tanpa bantuan Alice. Parahnya, kabar apartemen itu tidak bisa diandalkan karena sampai di sana, Naomi ternyata sudah keluar dari apartemen sewaannya.


"Beruntung sekali salah satu karyawanku melaporkan kabar mengejutkan ini padaku secara langsung." Memandang Alice, Leonathan geleng-geleng kepala. "Jika tidak, kau mungkin tak akan mengecek data Elle seperti perintahku."


Leonathan kembali membahas betapa leganya dia ketika ada jalan keluar yang bisa ia ambil. Begitu terkejut saat pagi jam tujuh kurang, dia dikabari bahwa ada karyawan bernama Brielle yang sudah tidak masuk kerja lebih dari lima hari dan tidak memakai surat keterangan dokter ataupun izin. "Jika karyawanku tidak mengabari, kau pasti juga tidak memerhatikan data karyawan lainnya. Apa kau ingin kupecat?"


"Oke, aku minta maaf. Lain kali aku akan memerhatikan semua karyawanmu, Nath."


"Hanya lima karyawan saja, dan di saat satu orang tidak berangkat ... kau bisa-bisanya tidak tahu." Membuang napas sambil mencengkeram setir kuat-kuat, pria ini berusaha menahan emosi. Leonathan lagi-lagi harus menarik oksigen dalam-dalam dan fokus pada jalanan agar tidak tersulut kemarahan.


"Aku tahu kau terhitung baru mengurus kafe kedua milikku. Tetapi, mengapa kau tidak pernah memerhatikan wajah karyawan? Terlebih, Elle bekerja di kafe yang kau tangani? Mengapa bisa kau tidak mengenalnya ketika bersalaman di klub malam itu?" Baru sekarang Leonathan bisa semarah dan seemosi ini pada sahabat yang pernah dicintainya.


Tanpa melihat Leonathan, Alice menundukkan kepala dengan perasaan bersalah walau sedikit saja. "Sudah aku katakan, aku minta maaf karena tidak pernah memerhatikan seluruh karyawanmu. Lagipula, wanitamu itu juga cantik ketika datang ke La Favela. Aku akui, dia begitu cantik malam itu. Jelas saja, aku tidak ingat jika wanita itu bekerja di Mixture Cafe pimpinanku."


Ada rasa kesal di dalam hatinya kala mendengar betapa tajamnya suara Leonathan demi membela Brielle. Bukan cemburu karena cinta, tetapi aneh sekali menurutnya. Kenapa seorang Leonathan bisa semarah ini padanya hanya karena wanita yang baru ditemuinya dalam beberapa jam saja.


Leonathan cuma melirik sekilas. Ia masih tak habis pikir dengan Alice yang begitu menganggap enteng sebuah pekerjaan, bahkan sudah menjadi orang terpercayanya. Andai teman dekatnya ini menghafal betul wajah Brielle, pasti ia akan menemukan tempat tinggal wanita itu secepatnya, tanpa menghitung hari. Yang paling disayangkan Leonathan adalah ternyata Brielle menjabat sebagai karyawan di kafe miliknya, Mixture Cafe kedua bimbingan Alice.


Tibalah mereka di tempat kos elit di daerah Canggu, tepatnya ada di Jalan Raya Canggu Kerobokan Nomor 88. Tanpa berlama-lama, Leonathan bergegas turun dari mobil setelah turun dari kendaraan roda empat yang hanya terdiri dari dua kursi saja. Baru menutup pintu dan berjalan bersama Alice, ia melihat sosok Naomi yang keluar dari tempat kos. Leonathan yang jeli lantas mengejar dan menarik lengan kirinya.


"Kau pasti baru menemui Elle. Tolong panggilkan dia, ada yang ingin aku bicarakan," ujar Leonathan tanpa memberikan salam karena tak sabar ingin bertemu Brielle.


Bukannya memberitahu, Naomi justru memberikan tamparan keras untuknya. Sampai Alice yang baru mendekat melongo dengan mata terbelalak. Masih menatap Leonathan dengan melotot, Naomi dengan kencang menyahut, "GARA-GARA DIRIMU, ELLE TIDAK ADA DI TEMPAT KOS! DIA SUDAH PERGI!" Ekspresinya begitu marah dan tampak kecewa.


"Kalau aku boleh menampar mukamu berkali-kali, aku akan menamparnya ribuan kali sampai aku puas! Sayangnya, aku tidak ada waktu untuk meladeni pria berengsek dan kurang ajar sepertimu!"


Melemparkan tatapannya yang seperti kilat pada sahabatnya yang lain, Naomi menggeleng lemah. "Seharusnya aku tidak mengenalkan Elle pada kalian berdua. Karena kalian, aku kehilangan sahabat baikku."


Leonathan yang tidak terlalu memedulikan pipi yang terasa panas dan perih, dibuat tercengang dengan kalimat terakhir Naomi. "Kau tidak tahu di mana Elle berada sekarang? Bukankah sekarang ini dia ada di tempat kos?"


"Bodoh! Kau sendiri tahu kalau aku baru saja keluar dari sana, dan tidak ada Elle di dalam. Teman kosnya bilang bahwa dia sudah pergi sejak beberapa hari lalu dan belum pulang."


Melewati tubuh Leonathan, Naomi melambaikan tangannya pada taksi online yang sudah ia pesan. Masuk melalui pintu belakang, ia memberikan tatapa tajam pada Leonathan dan Alice sebagai salam perpisahan. Taksi online tersebut pun berlalu dari sana.


Leonathan hanya melihat mobil yang ditumpangi Naomi itu pergi sampai menghilang, barulah dia melangkah cepat ke kendaraan roda empat miliknya. Kembali masuk dan duduk di kursi semula, kedua tangannya yang terkepal terus dihantamkan ke setir dengan sekuat tenaga. Melampiaskan amarah, kekesalan, dan rasa sesal di sana.


"Masih ada waktu, Nath ... kita masih bisa mencari Brielle di seluruh Bali. Aku yakin, dia masih ada di sekitar sini."


"Kau pikir tempat mana lagi yang bisa aku datangi?! Semua informasi sudah kudapatkan dan jalan terakhir hanya tempat tinggalnya. Naomi bahkan tidak tahu di mana Elle berada!" Mengusap pipi yang kena tamparan, Leonathan sedikit meringis. "Jika ada apa-apa dengannya, aku tidak akan menampakkan diri pada dunia lagi. Akan kuberikan Mixture Cafe padamu."


"Apa yang kau bicarakan?!"


Tak menjawab pertanyaan Alice, Leonathan memilih untuk mengendarai mobilnya lagi dan melajukan kendaraan mahal itu dengan kecepatan rata-rata. Pikirannya sudah melayang ke mana-mana. Bahkan pria itu bertekad untuk bunuh diri jika dia belum bisa menemukan Brielle.