Look at Me, Elle

Look at Me, Elle
Bab 11 Bertemu



Langit di Kota Semarang sekarang sudah tampak cukup gelap. Mobil Leonathan masih menepi, tepat saat sang pemilik melihat nama sebuah rumah makan dari luar. "Aku sudah sampai di depan," lapor Leonathan yang masih berada di dalam mobil, pada seseorang dari seberang telepon. "Kau sendiri sudah sampai atau belum?" tanyanya lagi kala panggilannya diterima.


Sang adik yang memang belum sampai ke tempat tujuan pun meminta Leonathan masuk lebih dulu karena dia masih menunggu kekasihnya yang tengah sibuk berdandan. Leonathan yang sudah hapal dengan kebiasaan dari sebagian besar kaum hawa itu hanya bisa mengangguk pasrah. Apalagi ini adalah acara yang tidak terlalu santai, mengingat Leonardo dan kekasihnya ingin meminta restu sekaligus mengenalnya lebih dekat. Pastilah harus memerhatikan penampilan.


"Jangan lupa untuk menanyakan meja pesananku," pesan adiknya sebelum Leonathan menutup panggilan.


Alhasil, Leonathan memarkirkan mobilnya di tempat yang sudah tersedia. Sesuai jawaban Leonardo, pria yang memakai kemeja biru tua dengan atanan rambut rapi tersisir ke belakang, memasukkan dua tangannya ke saku celana sembari berjalan tegak menuju pintu masuk. Begitu dibuka, tema alam dari resto tersebut menyambutnya dan membuat Leonathan memikirkan ide untuk mempercantik beberapa kafe yang akan dia buat.


Masuk lebih dalam ke rumah makan yang bertema taman atau kebun, serba hijau lantaran banyak tanaman seperti baby tears, kaktus bintang, bunga peace lily, dan masih beberapa tanaman lainnya. Mendekati bagian karyawan yang berdiri di samping kasir, ia bertanya, "meja atas nama Leonardo Hardika di mana?" tepat ketika karyawan perempuan itu menyapa dan mengucapkan selamat datang.


Memutar tubuh seratus delapan puluh derajat, karyawan itu mengambil buku di atas meja. "Atas nama pak Leonardo Hardika, meja nomor dua puluh dua lantai satu," jawabnya begitu mengecek nama adik Leonathan. "Mari saya antar," tambahnya yang sudah pasti disetujui Leonathan.


Keduanya berjalan cukup jauh karena meja yang dipilih Leonardo berada di bagian paling belakang di area lantai dasar ini. Sesuai dugaan Leonathan, adiknya memilih tempat di sudut ruangan karena topik pembicaraan ini berbau keseriusan. "Silakan," ujar sang karyawan sembari mengembangkan senyum. Leonathan sendiri hanya mengangguk singkat sebelum duduk dan memangkau satu kakinya pada kaki yang lain. Sesudah itu sang pelayan resto pergi dari hadapannya.


Tak ingin berdiam diri saja, Leonathan lantas menghubungi sang adik yang belum juga memberinya kabar. "Halo, kau ada di mana? Bisakah lebih cepat? Kau membuat tamumu menunggu."


Bukannya merasa bersalah, Leonardo justru tertawa kecil. "Aku sudah di tempat parkir, kalau ingin pesan, pesan saja."


"Jika aku yang memesan meja, aku yang akan memesan makanan, Nard. Berhenti berbicara, dan cepatlah ke mari."


"Oke-oke ... bersantailah dulu."


Kemudian panggilan ditutup Leonardo yang membuat Leonathan segera mengecek beberapa pesan dari pimpinan kafe Mixture dari beberapa daerah, juga pesan dari orang suruhannya. Sudah tiga tahun lamanya ia mencari Brielle dan ia belum menemukan wanita itu. Kini ia ingin fokus mengembangkan Mixture cafe di Kota Semarang bersama adiknya yang juga memiliki toko baju di ibukota Jawa Tengah ini. Malam ini, dua harinya Leonathan bermalam di Kota Lumpia.


Mendengar langkah kaki dari sampingnya, Leonathan sontak menoleh ke kiri di mana sosok lelaki mendekat ke arahnya. "Akhirnya kita bertemu, Nard!" seru Leonardo yang memakai kemeja putih dan segera memeluk sang kakak begitu pria itu bangun.


Menerima pelukan sang adik, Leonathan menepuk-nepuk punggung. "Sudah berapa bulan kita tidak bertemu secara langsung seperti ini?"


"Hampir satu tahun."


Keduanya sama-sama terkekeh dan di tengah-tengah mereka saling bertanya pekerjaan, karyawan resto kemudian menghampiri meja nomor dua puluh dua tersebut. Leonardo memesan ayam panggang dan es teh untuknya dan sang kekasih, sementara Leonathan memilih tahu gimbal yang sejak kemarin ingin ia coba ditambah minuman dingin es gempol, khas Semarang.


"Kenapa kau sendiri?"


"Tidak," jawab Leoanrdo sembari geleng-geleng kepala dan mengembalikan buku pesanan itu pada perempuan yang masih menunggu. "Dia langsung ke kamar mandi karena perutnya mulas usai melihatmu," imbuhnya setelah karyawan cantik yang sedari tadi berdiri angkat kaki. Leonathan mengangguk paham walau ia sudah ingin tertawa. "Ada apa?"


"Tidak ada."


"Kau membayangkan apa, Nath?" tanya sang adik penuh selidik. Leonathan tetap menggeleng dan mendadak berpikir mengenai alasan kekasih Leonardo pergi ke kamar kecil usai melihatnya. Memangnya ada yang salah dengan dirinya sampai kekasih Leonardo pergi setelah melihatnya? "Ada apa?"


"Tunggu, kau bilang apa tadi? Kekasih barumu itu pergi setelah melihatku?"


"Sepertinya, karena dia mendadak ingin ke kamar kecil setelah melewati pintu masuk." Bukan hanya Leonathan yang kini bertanya-tanya, tetapi Leonardo juga baru sadar bahwa ada yang janggal. Kini ia ikut penasaran, apa ini hanya kebetulan atau kekasihnya itu mulas setelah melihat tampang Leonathan. "Akan lucu kalau dia tak tahan melihat wajahmu, Nath."


Berbeda dengan adiknya yang terbahak-bahak walau ditahan, jantung Leonathan justru berdegup kenacaang. Ia jadi kepikiran tentaang ucapaan Leonathan beberapa bulan lalu yang mengatakan bahwa dia ingin menikahi seorang wanita yang sudah memiliki anak, dan wanita itu adalah teman dari Naomi. "Kau belum pernah memberitahuku siapa nama dari kekasihmu itu."


"Ya, karena aku ingin melihatmu berkenalan secara langsung dengannya. Itulah alasanku mempertemukanmu dengannya malam ini, tepat di hari jadian kami."


Sedangkan orang yang sedang mereka bicarakan tengah panik. Wanita yang memakai terusan putih bersih selutut dengan rambut hitam digulung ke atas tengah kebingungan di dalam toilet wanita. "Apa yang harus aku lakukan sekarang?!" teriaknya tertahan, masih memegangi dadanya yang berdegup cukup kencang. "Kenapa dia yang menjadi kakak kandung Leonardo?" tanya Brielle yang seketika itu juga tak bisa menepis pikirannya yang mengingat-ingat insiden tiga tahun silam.


Di saat ia merasa bahwa semua dunianya sudah baru, kehidupannya yang lama sudah tertutup rapat, kini pria yang selama ini dihindarinya justru malah muncul di depan mata. Parahnya lagi, lelaki itu adalah kakak dari calon suaminya. "Kalau seperti ini, aku tidak bisa melupakanmu," lirih Brielle yang tak kuat lagi menahan, membiarkan air matanya lolos dari pertahanan.


"Elnathan," gumamnya sambil memikirkan sang buah hati yang sedang berada di tangan yang tepat, Naomi. "Apa ini saatnya Elnathan mengetahui semuanya?" imbuhnya dengan wajah bercucuran air mata. Riasan natural di wajahnya harus terhapus sedikit demi sedikit karena air sialan yang muncul terus-menerus tanpa henti itu.


Begitu mendadak kedatangan Leonathan, sampai Brielle bingung harus bagaimana. Tempat yang aman saat ini hanya toilet, tidak bisa ia keluar dan menemui Leonathan sekarang. Hati wanita itu belum siap menunjukkan ledakan besar.


"Apa yang harus aku katakan pada mereka?!" pekik Brielle frustrasi, dan sedetik setelah itu ia mendengar suara dering tanda panggilan masuk dari dalam tas selempang persegi panjang mungil. Digapainya ponsel android tersebut hati-hati dan seperti yang ditakutkan, Leonardo menghubunginya. "Aku harap kau mau memaafkan kebohonganku ini, Sayang."


"Perutku sakit," jawab Brielle begitu sang kekasih menyapanya. Tanpa basa-basi, ia mengatakan alasannya yang tak bisa ke meja mereka. "Aku langsung pulang, Sayang. Maaf ... karena aku, makan malam kita gagal."


Jelas saja berbohong, Brielle sama sekali baik-baik saja dan perutnya tidak bermasalah sedikit pun. Detik itu juga dia melewati pintu toilet dan berjalan cepat untuk keluar dari rumah makan ini, sembari mendengarkan suara Leonardo yang tak menyangka bahwa dirinya memilih pulang sendiri.


"Kamu yakin sudah pulang?"


"Sudah, aku sudah di jalan, Sayang. Aku masih mencari taksi, tidak enak kalau kalau kamu pergi lagi untuk mengantarku pulang. Kakakmu pasti merindukanmu, makanlah bersamanya dan habiskan waktumu bersama, Sayang. Aku matikan teleponnya," pamit Brielle buru-buru dan langsung mematikan panggilan sebelum Leonardo mengucapkan beberapa kalimat yang kemungkinan dapat membuatnya terpaksa berbohong.


Menyimpan kembali ponselnya ke dalam tas putih selempang dan mencegat taksi yang kebetulan sekali baru menurunkan dua penumpang perempuan. Dengan cepat Brielle membuaka pintu belakang yang kembali tertutup, dan masuk. "Jalan Erlangga Raya, ya, Pak."


Sang sopir yang baru saja mengantongi uang lantas menoleh ke belakang dan tersenyum ramah, "siap, Mbak."


Sementara di rumah makan bertema alam itu, Leonathan tak berhenti berpikir. Bahkan dia sudah merasa aneh sejak Leonardo mengatakan bahwa kekasihnya izin ke kamar mandi begitu melihatnya. Ditambah lagi alasan kepergiannya mendadak karena kondisi perut wanita itu sedang tidak baik-baik saja.


Kembali mengecek ponsel ketika mendapati pesan dari sang kekasih yang meraa tidak enak dan meminta maaf darinya sekali lagi, Leonardo menyampaikannya pada sang kakak. "Aku sendiri juga tidak tahu kalau perutnya tiba-tiba sakit. Perut mulas juga tidak bisa ditahan, Nath."


"Tetapi aku ingin sekali melihat kekasihmu itu. Tingkahnya membuatku penasaran."


"Kau tidak bermaksud meebutnya dariku 'kan, Nath?"


"Tidak, maksudku ... aku tidak tahu."


Leonardo yang tak menyangka jawaban sang kakak kandung begitu menyentil perasaannya, sontak meninggikan volume bicara, "apa itu artinya kau tertarik dengan kekasih adikmu sendiri?!" Leonathan mengerutkan dahi seraya menatap lekat-lekat adiknya dengan rahang mengeras. "Jawab, Nath! Apa kau sudah gila?!"


"Tingkahnya sangat aneh."


"Aneh? Dia sudah mengatakan kalau perutnya sakit, apalagi yang kau pikirkan?!" Leonardo benar-benar tak percaya dengan jalan pikiran Leonathan dan isi dari hati pria itu.


Sedangkan Leonathan segera mengecek handphone dan menghubungi anak buahnya. "Aku merasa ada yang tidak beres dengannya. Aku jadi teringat seseorang," balasnya dengan tatapan tajam mengarah pada layar ponsel. "Usahakan, besok aku sudah bisa melihatnya dan kau mengenalkannya padaku."


"Untuk apa?!" tanyanya lagi dan pria di hadapannya hanya menggeleng. "Mengapa kau jadi begini, Nath?" Leonathan terus mengetik beberapa kalimat di layar ponselnya secepatnya dengan sangat serius sampai-sampai ia tak melirik sedikitpun pada sang adik yang bingung bukan kepalang karena dirinya.


"Ada yang harus aku selidiki sebelum memberikan restuku padamu," tekan Leonathan sebelum menyimpan ponselnya di atas meja.


"Apa kau pikir kekasihku ini bukan wanita baik-baik?!"


"Lebih dari itu."


"Apa in?! Kau mengira dia seperti apa?! Gila kau, Nath!" Leonathan hanya mengangkat bahu. "Kau benar-benar sudah gila! Aku mengenalnya dengan sangat baik, dan dia bukan wanita yang tidak benar.


"Bukan itu maksudku, tapi ada hal lain yang ingin aku tahu." Leonardo semakin mengernyit bingung dan mencondongka tubuhnya yang semula tegak, menjadi ke arah sang kakak. "Bisa kau beritahu padaku mengenai asal-usul kekasihmu dan semua yang kau ketahui tentangnya?"


"Aku akan memberitahukannya padamu, tapi setelah dia ada bersama kita, Nath. Kalau dia bersedia menceritakan masa lalunya di hadapanmu, aku setuju. Ini mengenai aibnya, aku tidak bisa memberitahukan semuanya padamu tanpa persetujuan darinya."


"Baiklah, akan kutunggu waktu itu tiba." Leonardo berdeham dan manggut-manggut. "Secepatnya, aku ingin mengetahui asal-usul dan identitasnya secara keseluruhan, tanpa terkecuali."


"Kau tidak akan jatuh cinta padanya, bukan?"


Leonathan menembakkan kilat dari mata birunya pada Leonardo. Tubuhnya semakin tegak kala Leonardo juga kian duduk tegap. "Aku cuma ingin tahu, apakah dia cocok untukmu atau tidak. Itu saja."


"Kau yakin?"


"Ya, agar aku bisa memberikan restuku padamu dan kekasihmu itu secara ikhlas."


Begitu perbincangan panas itu selesai, lima menit kemudian seorang pelayan datang dan membawa nampan. Ia memberikan makanan hasil pesanan Leonardo dan Leonathan penuh hati-hati. Menyajikan menu di hadapan dua orang tampan cukup membuatnya senam jantung, sampai-sampai ia menyenggol pot kecil berisi tumbuhan kaktus sampai oleng dan hampir jatuh dari atas meja. "Maaf, saya tidak sengaja, Pak." Leonathan yang membantu mengambil itu hanya tersenyum, dan mengembalikan pot putih itu ke tempat semula. Sang pelayan membungkuk sebelum undur diri.


Sedangkan Leonardo sudah memerhatikan menu yang tersaji di hadapan mereka dengan napas berat dan panjang. "Kalau sudah terlanjur pesan sebanyak ini, siapa yang akan menghabiskan?"


"Kau bisa membungkus atau membuangnya," balas Leonathan enteng sebelum ia mencoba minuman dingin khas Semarang, es gempol. Barulah ia menyerbu makanan saus kacang, tahu gimbal yang membuatnya tak sabar ingin mencicipinya.


"Aku masih sayang uang, Nath."


"Kau pikir jika aku yang pesan, aku tidak akan membungkusnya?"


Leonardo geleng-geleng kepala. "Bisa saja kau bertindak semaumu dan merasa kaya, jadi kau bisa membuangnya seperti ucapanmu tadi."


"Daripada bingung mencari sarapan esok pagi, lebih baik aku memanaskan makanan itu dan sarapan pakai itu. Hemat pangkal kaya." Leonathan bahkan berdoa dahulu sebelum benar-benar memasukkan tahu gimbal suapan pertama ke dalam mulutnya. Leonardo yang melihat itu pun merasa tertampar, lalu menyusul sang kakak untuk bersyukur atas berkat di hadapannya kini pada Sang Pencipta.


Sedangkan wanita yang baru turun dari taksi itu mengeluarkan uang dari dalam tas dan memberikannyaa pada sopir transpirtasi umum tersebut sebelum berlari ke arah rumahnya. Dengan raut wajah yang menahan marah, kesal, dan kecewa, Brielle menggedor-gedor pintu cokelat di hadapannya. Masih belum dibukakan, sampai ia teriak, "Naomi! Tolong buka pintu! Naomi!"


"Ya! Tunggu sebentar!" teriak seseorang dari dalam. Brielle yang sudah menampilkan wajah memerah karena kesal itu semakin menggedor pintu sekuat tenaga. "Kenapa? Kau sudah selesai makan malam?" tanya Naomi yang terlihat sedang mengatur napas sambil menatap Brielle yang sedang geleng-geleng kepala dari atas sampai bawah. "Kenapa kau pulang lagi?"


"Kenapa kau menyembunyikan ini dariku?!"


"Me-menyembunyikan apa?"


"KALAU LEONATHAN KAKAK KANDUNG LEONARDO! KENAPA KAU TIDAK PERNAH MENCERITAKAN INI PADAKU, NAOMI?!" semprot Brielle yang tak kuat lagi menahan amarahnya yang tertimbun selama perjalan dari rumah makan ke sini. Melewati tubuh Naomi, ia masuk ke dalam dan melemparkan tubuhnya ke atas sofa. "Kau kelewatan!"