Look at Me, Elle

Look at Me, Elle
Bab 13 Masih Cinta



Suara pintu diketuk membuat Leonathan sedikit terkejut karena dia baru saja mengecek ponsel. "Masuk!" pekik pria berkemeja hitam lengan pendek itu sesudah menelan fettuccine alfredo, mi pipih yang dicampur dengan mentega dan keju.


Dilihatnya pintu di depan mata terdorong, dibuka oleh adik kandungnya yang berjalan tegap ke arahnya, tepat setelah melewati pintu itu dan akhirnya pintu kayu itu kembali tertutup. "Bagaimana? Bisa siang ini?" tanya Leonathan tak pakai basa-basi. Apalagi mengajukan pertanyaan kala adiknya itu duduk di sofa yang sama dengannya dan duduk di samping kiri.


Leonardo yang baru saja bersandar, mengangkat tangan dan meregangkan otot. "Aku baru datang dan kau sudah menanyakan pertemuan kita dengan kekasihku, Nath?" Leonathan dengan entengnya mengangguk sebelum mengambil lagi pasta rasa gurih nan lezat menggunakan garpu. Hingga tibalah mi itu masuk ke mulutnya, Leonathan mengunyah cepat. "Dia saja belum mengabariku sampai detik ini."


Sedikit mengerut, Leonathan menyerap mi rasa asin nan gurih ke tenggorokan. "Maksudmu?" tanyanya kemudian. "Tidak ada kabar sedikit saja dari kekasihmu? Pesan singkat?"


"Tidak ada kabar setelah dia pamit semalam. Bahkan selamat pagi untukku juga tidak ada."


"Mungkinkah dia sangat kesakitan?" tebak Leonathan sembari fokus menatap pasta miliknya yang hampir habis. "Karena itulah dia fokus dengan rasa sakitnya. Mengesampingkanmu sejenak saja, karena dia susah mengurus dirinya sendiri," tambahnya sebelum memasukkan suapan keempat ke mulut.


"Mungkin." Leonathan kembali mengunyah dengan sangat cepat, tak ada kata terlambat untuk menghancurkan makanan yang rasanya enak. "Jadi, malam nanti aku akan menjenguknya." Sontak saja Leonathan menoleh. Melihat pergerakan kepala Leonathan yang cepat itulah, menimbulan tanda tanya besar dan perasaan tak suka di hatinya. "Ada apa? Kenapa dengan muka terkejutmu itu?"


"Boleh aku ikut?"


"Untuk apa?! Kau bukan kekasihnya, Nath!" Sang kakak lantas tertawa-tawa begitu mendengar nada cemburu dari mulutnya. "Apa? Tidak ada yang lucu!" Leonathan yang hampir tersedak pun buru-buru meraih botol minum kemasan dan meneguk seperlunya sampai tenggorokannya tidak bermasalah lagi. Apa yang dipikirkan Leonardo terhadapnya? "Aku tidak ingin mengajakmu atau membiarkanmu mendekatinya dengan maksud dan tujuan lain, selain rasa pedulimu sebagai calon kakak ipar pada calon adik ipar. Dia milikku, Nath," tekannya dengan tatapan begitu serius yang membuat Leonathan menghela napasnya. "Ingat posisimu," sambungnya lagi dan dibalas Leonathan dengan gelengan kepala.


"Kau berpikir aku apa? Tertarik pada kekasihmu? Suka pada wanita yang tak lain adalah kekasih dari adik kandungku sendiri?" Tertawa terbahak, Leonathan memukul lengan kanan adiknya cukup kencang dan berseru, "ayolah! Waras sedikit, aku tidak mungkin menikungmu. Kau saudaraku satu-satunya dan aku mengasihimu, sama seperti ibu yang mencintaimu. Kita bersaudara, Nard."


"Kau yakin tidak akan mencintainya dan tidak terlintas sedikit pun di otakmu untuk memilikinya?"


Leonathan kembali tertawa-tawa dan kini merangkul Leonardo. "Ayolah, gunakan akal sehatmu! Aku bukanlah kakak yang kejam." Leonardo terdiam dan beberapa detik kemudian mengangkat sedikit ujung bibirnya. "Ada apa?"


"Apa aku terlihat seperti orang yang cemburuan, Nath?"


"Ya, seperti itulah."


"Tidak mungkin!" serunya sembari tertawa, Leonathan bahkan sudah tertawa lebar dan geleng-geleng kepala. Keduanya pun sama-sama berdeham untuk mengusir tawa lebar dari mulut mereka sendiri-sendiri. "Aku sangat mencintainya, Nath."


"Iya, aku bisa mengetahui itu. Terlihat jelas dari sinar matamu."


"Sejelas itu?"


Leonathan membenarkan. Ia menepuk bahu kanan sang adik sebelum meraih botol kemasan lagi dan mendekatkannya lubangnya ke bibir. "Kau sangat khawatir dan frustrasi saat memberitahuku tentangnya yang belum juga memberimu kabar." Lalu menuang air mineral itu dan meneguknya berkali-kali dengan kepala mendongak.


Leonardo tiba-tiba teringat saat ia dan Brielle bisa saling jatuh cinta dan berakhir dia yang lebih dulu menyatakan perasaan. Alasan utama saat dirinya bisa jatuh hati pada Brielle adalah sosok jagoan yang selalu melindungi wanita itu ke mana pun ia pergi. Ya, dia adalah Elnathan. Putra dari Brielle yang memiliki wajah dan karakteristik seperti bukan orang Indonesia asli itu mampu memikatnya. Melihat Brielle yang berusaha membahagiakan Elnathan, membuatnya semakin tertarik dengan Brielle.


"Kau tahu apa yang membuatku sangat mencintainya, Nath?"


"Apa?"


"Bagian dalam dirinya yang membuatku begitu cinta padanya adalah kasih sayang yang tulus. Rasa sayangnya terhadap jagoan kecilnya begitu terasa, aku bisa merasakannya. Kau tahu? Seperti perhatian dan kasih sayang mama pada kita dulu."


"Lalu, bagaimana dengan Naomi? Dulu kau sangat mencintainya, bukan?" Leonardo menggerakkan kepala ke atas dan bawah berkali-kali hingga kini tubuhnya tak lagi bersandar pada sofa. Menatap kakaknya serius dan menerawang jauh ke masa lampau, di mana ia masih menjalin hubungan bersama sang manta. "Apa cintanya lebih sedikit ketimbang cinta dari kekasihmu yang sekarang?" Leonathan mengajukan pertanyaan sembari mengecek ponselnya. Sialnya, kabar yang didapat masih sama saja. Anak buahnya belum menemukan Brielle di mana pun.


"Bukan lebih sedikit, Nath."


"Lalu?"


Leonardo menggeleng. "Dia berubah. Aku sendiri tidak paham kenapa dia tiba-tiba cuek dan menjadi sedikit lebih kasar setelah kita pindah ke mari." Leonathan lantas memandang sang adik dengan tatapan tidak percaya. "Sifatnya lambat laun berubah sesudah kami pindah."


"Maksudmu Naomi berubah secara tiba-tiba?"


"Ya."


"Ada apa?"


Leonardo menggeleng. Ia menyambar botol minum lain yang ada di atas meja, di hadapan mereka sembari menjawab, "aku sendiri tidak tahu apa yang salah dengan diriku. Tapi semua sifat baiknya berubah begitu saja."


"Tidak mungkin jika tidak beralasan, Nard." Leonathan membalasnya dengan pandangan sungguh-sungguh mengarah pada sang adik yang tak lagi menatapnya. Pria itu memilih untuk membiarkan punggungnya terdampar pada sandaran sofa sembari menatap langit-langit ruangan sang kakak. "Aku tidak tahu kisah cintamu, kau belum cerita secara detail sejak putus dengan Naomi. Apa keputusanmu itu ada keterkaitannya dengan kekasihmu yang sekarang?"


"Aku tidak tahu, Nath ... sudahlah, tidak usah dibahas. Aku ingin fokus pada hubunganku yang sekarang. Apalagi kita sudah bertunangan, tidak mungkin aku mengungkit masa lalu ketika masa depan sudah ada di depan mataku."


"Kau masih mencintai Naomi?"


"Kau ini bicara apa?" Leonardo melayangkan pertanyaan itu dengan raut wajahnya yang begitu terkejut. "Tidak mungkin aku mencintainya. Aku sudah menutup rapat kisahku dengannya, Nath. Jangan mengarang cerita."


Leonathan lekas tertawa. "Santailah, aku hanya bercanda."


"Hah?!" sambil tersenyum miring, Leonardo menaikkan dua kakinya ke atas meja dan menyimpan dua tangannya ke atas kepala sembari melanjutkan, "tidak lucu! Tidak terdengar seperti gurauan, buruk sekali."


"Kau saja belum menikah!"


Leonathan yang sudah menggapai gagang pintu lantas menoleh ke belakang dan menyahut, "jika aku sudah menemukan wanitaku, akan kunikahi dia saat itu juga." Leonardo mengangguk dan mengacungkan jempol sebelum ia benar-benar memejamkan mata, tidur siang sesingkat mungkin sebelum kembali ke toko bajunya.


Sebelum pergi dari ruangan Leonathan, ia menyempatkan waktu untuk coba lagi menelepon Brielle. Karena kekhawatiran masih meerayap di dada, Leonardo segera menghubungi sang kekasih dan beruntungnya tak menunggu lama, Brielle menjawab. Binar bahagaia berbalut kecemasan mengitari wajahnya. "Bagaimana kondisimu? Apa perutmu sudah mendingan, Sayang?" tanyanya begitu sapaan ramahnya mendapat jawaban, namun penuh dengan nada cemas dari kalimat lelaki itu.


Brielle mencoba untuk menenangkan sang kekasih serta membalas, "aku sedikit lebih baik. Tetapi, kemungkinan besar aku kelelahan. Bisa aku undur diri dari tokomu?" dengan suara begitu lembut nan halus.


Pria yang semula menyandarkan punggung pada sofa pun duduk tegak dan ekspresinya berubah. Tampak sekali dia mencemaskan wanita di balik ponselnya ini. "Apa penyakitmu terlalu serius? Kau sampai mau mengundurkan diri," sahut Leonardo terkejut bukan main.


"Aku kelelahan, dan pola makanku kurang teratur." Leonardo mengangguk paham. "Aku rasa aku harus berhenti bekerja denganmu dan mengelola toko bunga bersama Naomi saja." Brielle mengatakannya dengan sangat hati-hati, Leonardo tahu itu meski dia hanya mendengarnya melalui gawai. "Apa kamu keberatan?" tambahnya yang membuat Leonardo tak bisa menahan bibirnya untuk tersenyum.


"Kalau itu yang terbaik untukmu, tidak masalah. Lakukan apa yang terbaik, Sayang."


Dari seberang Brielle sangat bersyukur, bahkan ia tak menyangka dengan jawaban yang diberikan Leonardo, begitu bijak baginya. "Kamu yakin tidak apa?" tanyanya sekali lagi memastikan kesungguhan Leonardo mengenai keputusannya yang diambil sejak semalam.


Leonardo mengulas senyum sekali lagi. "Untuk apa aku melarang kekasihku? Kalau bekerja di satu toko sudah cukup untukmu dan Elnathan, tidak masalah. Sebentar lagi kita juga akan berumah tangga."


"Terus? Apa hubungannya?"


"Semua kebutuhanmu akan kutanggung, Sayang." Terdengar dari seberang bahwa Brielle hanya berdeham dan tertawa kecil, sangat amat pelan sampai Leonardo mendengarnya samar-samar. "Omong-omong, kamu sudah makan?"


"Sudah, kamu sendiri?" Leonardo menjawab dengan jawaban yang tidak beda. "Selamat bekerja," pesannya yang membuat Leonardo mencegah Brielle untuk mengatakan kalimat penutup tambahan.


"Aku mencintaimu," ucapnya yang membuat Brielle membalas seperti yang dikatakan Leonardo. "Kalau sudah, aku yang tutup teleponnya. Oh, iya ... aku akan menjengukmu nanti malam, bersama kakakku. Selamat siang, Say—"


"Tunggu dulu!" sela Brielle memotong. "Menjengukku? Kamu dan kakakmu?"


"Iya. Mengapa? Apa ada yang salah?" Leonardo yang tadinya sudah tenang kembali cemas begitu mendengar pekikan Brielle yang begitu panik. "Sayang? Apa ada masalah?" Leonardo berdiri dari sofa dan menajamkan telinga begitu Brielle menarik napas dalam-dalam. "Ada apa, Sayang?" imbuhnya lagi karena sang kekasih tak kunjung memberi balasan terhadap pertanyaan penuh penasaran.


"Aku butuh istirahat, lagipula tidak mungkin aku bertemu kakakmu dalam keadaan sakit. Besok aku yang akan datang ke tokomu untuk berpamitan. Begitu saja bagaimana?" tawar Brielle setelah didesak Leonardo. Tentunya ia memutar otak dulu sebelum melontarkan kalimat itu. "Jujur saja, aku malas keluar kamar ... tidak mungkin kakakmu masuk ke kamarku."


"Baiklah, cepat sembuh, Sayang."


"Sampai jumpa," lirih Brielle dan panggilan ditutup oleh Leonardo. Lelaki itu langsung keluar dari ruangan sang kakak dan menemui pria itu sesegera mungkin. Sampai di lantai bawah Leonardo pun menyampaikan permintaan Brielle yang masih belum sehat sepenuhnya pada Leonathan dan mengatakan pula bahwa Brielle tidak bisa menemui Leonathan hari ini.


"Kekasihmu aneh." komentar pria yang berdiri di hadapan sang adik. Leonardo yang tak ingin memperpanjang lantas menggeleng dan mengangkat bahu. "Tapi kau akan menjenguknya? Tanpa aku?"


"Tentu saja, dia kekasihku."


Belum sempat Leonathan protes, ponsel diganggaman adiknya berdering. Fokus pada mesin kopi, ia menoleh ketika Leonardo memanggilnya. Sang adik pamit pergi setelah ia menerima telepon, "ada pesanan mendadak."


"Baiklah, hati-hati kau di jalan." Leonardo menepuk salah satu pundak sang kakak setelah itu berbalik badan. "Rasa curigaku makin bertambah pada kekasihmu, Nard," gumamnya sembari melihat punggung Leonardo yang kian menghampiri pintu keluar, hingga pria tersebut benar-benar beranjak dari kafenya.


Di toko bunga milik Naomi dan dikelola oleh dua wanita bersahabat, Brielle mondar-mandir sambil *******-***** jarinya. Jam istirahat yang biasanya dipakai untuk makan dan berleha-leha justru sekarang digunakan untuk memutar otak. Wanita yang mengenakan gaun sebetis motif bunga-bunga itu tak berhenti bolak-balik. "Apa yang harus aku lakukan sekarang? Secepat mungkin aku harus memutuskan hubungan ini," lirih Brielle yang ternyata didengar perempuan yang baru masuk ke ruangan serba hijau itu. "Kira-kira kalimat apa yang pantas? Aku ingin putus padamu, Leonardo ... atau, aku ingin mengakhiri hubungan kita ... huh, mana yang cocok?"


Naomi mendehem, yang ternyata bisa membuat wanita cantik di hadapannya sontak menoleh, memutar kepala menjadi menengok ke belakang. "Kau yakin? Putus dengan Leonardo cuma karena dia adik dari Leonathan?"


"Aku justru tidak yakin melanjutkan hubungan ini." Brielle terlihat masih cuek. Bahkan wanita anak satu ini tidak menatap Naomi lama-lama. Kembali memikirkan kalimat mana yang cocok ia lontarkan agar hubungannya dengan Leonardo berakhir tanpa pertikaian dan tanpa tanda tanya besar.


"Pikirkan perasaan Leonardo, Brielle."


Sontak saja Brielle memutar badan hingga tubuh dan tatapannya mengarah tepat ke hadapan sahabatnya yang tampak sendu. "Pikirkan perasaanku, perasaanmu juga, Naomi!" sembur Brielle yang lagsung memegang dua lengan Naomi, kiri dan kanan dipegangnya erat-erat. "Sadarlah! Kalau ini aku teruskan, hatimu pun akan terluka!"


"Leonardo lebih terluka."


"Kau jangan cuma memikirkan perasaannya yang begitu mencintaiku. Kalau kau memang kasihan, pikirkan lagi kalau hatiku ternyata belum menerima cintanya sedalam perasaannya padaku! Mengertilah, aku belum sepenuhnya mencintai Leonardo."


"Tapi aku ingin melihatnya bahagia."


"Dengan cara melihatku dan dia menikah?!" sentak Brielle yang langsung mendorong tubuh Naomi. "Gunakan otak dan hatimu! Apa kau mau cinta tulusnya cuma untukku? Untukku yang belum mencintainya sedalam yang dia tahu?!" Lucunya Naomi mengangguk, mengiyakan ucapan Brielle itu.


Naomi mendongak dan menatap Brielle, mendekatkan wajahnya dan melihat Brielle lekat-lekat. Tatapannya seakan memohon, dan itu membuat Brielle sangat tidak nyaman. "Menikahlah dengannya, hanya kaulah yang bisa membuat Lonardo bahagia dan Leonathan hancur sehancur-hancurnya. Bukankah kau mau Leonathan mendapatkan pelajaran yang setimpal?"


"Aku bukan setan yang mau melihat banyak orang menderita," putus Brielle sebelum ia keluar dari ruangan itu. "Bisa-bisanya kau bicara seperti itu, Naomi." Tak habis pikir dengan sahabatnya sendiri, Brielle membuang napas panjang dan segera mengikat rambut panjang nan hitam karena hawa panas mengitarinya. Tiba-tiba saja ada pesan masuk, terdengar dari dalam tas.


Sepeninggalannya Brielle, Naomi menangis sejadi-jadinya. "Leonardo pasti sedih, Elle ... pikirkanlah perasannya!" pintanya berteriak yang masih sampai di kuping Brielle.


Di luar, Brielle bersorak begitu mendapati pesan Leonardo yang katanya akan pergi ke Jogja sekitar tujuh hari lamanya. "Mungkin kesempatan inilah yang bisa aku jadikan alasan. Maafkan aku," ucapnya sebelum kembali ke toko, bergabung bersama pelanggan dan satu karyawan di sana.