
Alice dan Leonathan segera meluncur ke tempat yang sudah menjadi target. Alice pun siap untuk masuk ke rumah di mana Brielle tinggal meski hanya kamar sewaan. Wanita itu keluar dari mobil Leonathan dengan tampang yang sedikit sedih, merasakan bahaya jika sampai di dalam sana perempuan pengisi hati Leonathan tidak ada.
"Naomi?" lirihnya yang terkejut bukan main begitu ia melihat sendiri Naomi keluar dari rumah dua lantai itu. Bahkan di saat dirinya belum sempat bertanya pada seseorang yang ada di depan pintu.
"Kenapa ke sini? Ada masalah apa?" tanya Naomi yang sama terkejutnya dengan Alice. Bingung ketika temannya itu datang ke lokasi yang ditinggali Brielle. "Kamu ke sini sama Leonathan?"
"Aku ingin mengembalikan KTP Brielle."
Sambil menjauh dari pintu masuk, Naomi terus berjalan. "Dia sudah tidak ada di sini," jawabnya yang membuat Alice menggelengkan kepala. "Kalau tidak percaya, periksa saja di dalam."
Naomi mengeluarkan ponsel dari tas kecil yang talinya menggantung di pundak. "Karena aku yang tinggal di sini. Elle pergi entah ke mana dan semua itu karena sahabatmu. Salahku sudah mengenalkanmu dan Leonathan padanya," tambahnya yang berhasil membuat kaki Alice berputar.
Alice membalikkan badan, siap untuk menanyakan banyak hal. Tetapi baru saja hendak menjawab ucapan Naomi, ia mendapat tarikan di lengan kiri. Siapa lagi kalau bukan ulah Leonathan yang tiba-tiba dan ternyata bukan cuma lengannya saja yang ditarik. Naomi pun kena tarikan Leonathan.
"Aku ada urusan!" pekik Naomi yang tak terima ketika Leonathan menggiringnya kembali menuju pintu masuk tempat kos Brielle. "Lepaskan!"
"Kau juga harus membuktikan bahwa Brielle benar-benar tidak ada di kamarnya."
"Cek saja sendiri, aku sedang sibuk!"
Senyum miring Leonathan terbentuk dan dia menjawab dengan rasa penuh percaya diri, "kalau kau beralasan seperti ini, aku semakin yakin Elle ada di dalam. Kau pasti berbohong padaku waktu itu."
Tanpa berlama-lama, Alice lari kecil ke arah perempuan berumur yang sepertinya beliau adalah pekerja di tempat kos tersebut. "Saya ingin bertemu dengan pemilik KTP ini, bisa ibu tunjukkan kamarnya? Dia teman saya yang sudah lama tidak ada kabar," ucap Alice ketika sang wanita berusia lima puluh tahunan itu menatap dan bertanya maksud kedatangan Alice.
"Putri?" lirih ibu itu ketika melihat wajah Brielle di dalam foto KTP yang baru disodorkan Alice padanya. "Sudah lama saya enggak lihat Putri. Sepertinya ada masalah keluarga, terakhir saya tanya dia mau pergi lama. Enggak tahu mau pulang kapan katanya."
"Ibu yakin ini orangnya?"
"Betul, ini Putri. Sering cerita-cerita sedikit sama saya kalau lagi libur kerja atau keluar kamar."
Bukan hanya Alice yang mendengarkan penuturan jelas dari asisten rumah tangga atau ibu yang bertugas membersihkan tempat kos tersebut, tetapi Leonathan juga mendengar. Bahkan dia tak lagi meminta Naomi untuk menunjukkan kamar Brielle, melepaskan cengkeraman tangannya dari lengan perempuan berambut keriting di sampingnya.
"Bisa ibu tunjukkan kamar Elle?"
"Bisa, tapi perempuan saja." Leonathan menyetujui dan meminta Alice serta Naomi untuk masuk ke dalam bersama asisten dari pemilik tempat kos itu.
Naomi yang makin ke sini maki tak suka dengan Leonathan bilang, "sudah aku katakan, Elle tidak ada di dalam sana. Hanya aku yang menempati kamarnya karena masa sewanya bulan ini tinggal dua hari. Besok aku akan pergi dari sini, jadi kau tidak akan melihat wajahku lagi dan tidak bisa mencurigaiku lagi." Tentu tak ketinggalan dengan tatapan kesal terarah pada pria sok tampan itu. Masih belum puas bersuara, Naomi melanjutkan, "jangan terpuruk jika Elle memang sudah hilang. Semua itu karena ulah cerobohmu sendiri." Kemudian ia angkat kaki dari hadapan Leonathan, bukan untuk masuk ke tempat kos, tapi melewati pagar dan segera menemui taksi online yang sudah sampai sejak beberapa menit lalu menunggunya.
Leonathan tak tinggal diam, ia mengejar Naomi. Begitu berhasil menghadang wanita itu untuk masuk ke pintu belakang yang sudah dibuka, Leonathan menutupnya. "Bagaimana kau bisa tenang jika Elle benar-benar hilang?" Belum sempat Naomi menjawab, Leonathan menoleh ke sopir yang menampakkan diri setelah diam di balik kemudi. "Pesanannya dibatalkan, saya akan mengganti." Dikeluarkannya uang lima puluh ribu rupiah dari dompet yang sudah ada di tangan. "Maaf atas kerugiannya." Dengan bingung, sang sopir melirik Naomi karena orang yang memesannya hanya diam. "Bicarakan ini bersamaku dan Alice. Aku tahu, ada yang kau sembunyikan."
"Kau masih tidak percaya?!" Naomi yang tak habis pikir dengan pria penuh percaya diri ini ingin sekali menjambak rambut cokelat karamel Leonathan dengan sekuat-kuatnya. "Kalau boleh menarik rambutmu itu, aku sudah menariknya sampai rontok, kalau perlu botak sekalian."
"Antar teman saya ini ke kafe Mixture, Pak."
"Dia memang tidak ada di kamar, Nath!" teriak Alice yang berlari ke arah Leonathan serta Naomi.
"Ya, sekarang masuklah ke mobil bersama Naomi. Kita akan berbicara di kafe," perintah Leonathan pada Alice yang baru datang dan menatap ke arahnya. "Tunggu apa lagi? Kau mengira aku sedang memaksa? Memang, dan jangan buat aku marah. Aku perlu informasi tentang Elle yang belum bisa aku temukan selama ini." Leonathan melambai ke arah sopir tersebut dan beliau pun mengangguk. Pria itu segera berlalu dan menuju BMW Z4 yang masih terparkir rapi, tentunya akan naik setelah melihat taksi pesanan Naomi bergerak mendahuluinya. Begitu sudah berjalan, Leonathan masuk dan menancapkan gas sesuai kebutuhan.
Duduk bersama dua wanita, Leonathan menjadi pusat perhatian. Meski ketiganya tidak satu sofa, rasa penasaran para pengunjung kafe tak mungkin sirna begitu saja. Mereka yang duduk dekat dengan meja Leonathan pun berusaha memasang telinga baik-baik. "Lalu apa yang kau lakukan selama? Kau mencari sahabatmu?"
"Untuk apa aku memperpanjang waktu liburan di Bali jika bukan mencemaskan keadaan Elle? Dia sudah kuanggap sebagai saudaraku sendiri, dan sekarang aku belum bisa bertemu dengannya untuk berpamitan. Kau pikir aku tidak khawatir?!" semprot Naomi yang ditenangkan Alice, mendapat elusan di punggungnya tetap mampiu memberikan bentakan untuk Leonathan. "Sebenarnya apa yang kau lakukan? Sampai sahabatku pergi dan menyembunyikan diri, bahkan tidak ingin mendengarkanku yang selalu memberikan semangat untuknya selama ini."
Alice yang mendengar pertanyaan itu lantas berdeham. "Lupakan apa kesalahan Leonathan, yang terpenting sekarang adalah Brielle. Bukankah kau ingin Brielle ketemu? Lebih baik kita kerja sama, supaya masalah cepat selesai dan Leonathan bisa meminta maaf."
"Jangan berusaha melindungi sahabatmu itu, aku tahu yang dia lakukan sangat fatal."
"Aku memang pria kurang ajar, tetapi aku tidak lari dari tanggung jawab," balas Leonathan yang ternyata membuat Naomi geram, berusaha bangun dan ingin melayangkan tamparan. Namun kecepatan Alice patut diacungi jempol, berhasil menggagalkan Naomi. Sontak saja, para pengunjung kafe baik yang sudah duduk lama di sekitar mereka maupun yang baru datang refleks menoleh ke arah Naomi dan Alice.
"Aku akan menemukannya," balas Leonathan yang segera bangkit dari sofa dan pergi dari hadapan dua wanita yang terus memanggil namanya. "Aku sudah menghancurkan dunianya," bisik Leonathan dengan tangan kanan mendorong pintu kafe.
Seakan-akan memanggil pria itu untuk bergelut di belakang bar dan mesin pembuat minuman berkafein itu. Aroma pekat dan sedap dari kopi menyeruak dan mengelilingi Leonathan. Dengan begitu ketenangan mulai hadir dalam jiwa rapuhnya.
Ya, sekarang terlalu lemah lelaki berumur dua puluh lima tahun itu. Jauh di dalam hati Leonathan, jatuh cinta dengan seorang gadis bukanlah perkara mudah. Begitu sulit menemukan wanita tulus, bukan hanya melihat tampang atau uangnya saja.
Namun, yang Leonathan cari adalah kesetiaan dari wanita yang mampu membuatnya nyaman. Bicara tentang fisik? Leonathan lebih suka wanita yang sama seperti ibunya, memiliki kulit sedikit gelap layaknya wanita Indonesia. Sayangnya, hingga detik ini wanita itu belum bisa dilihat lagi.
"Pesanan kopi Espresso dua gelas, Tuan Leo," ujar barista yang berada di samping kanan tubuh Leonathan. Sedangkan sang bos yang termenung sembari memegang cangkir hitam kosong masih belum tersadar.
"Tuan, kopi Espresso dua gelas," ucapnya lagi sedikit lebih keras dan dekat dari telinga Leonathan. Bagai pikirannya tengah tersesat, pria yang setia melamun itu tak kunjung menoleh. Ditepuknya pundak kanan Leonathan sembari mengatakan sekali lagi, "Tuan Leo ... pesanan dua gelas kopi Espresso ditunggu."
"O-oh, akan kubuat." Menggulung kaos lengan panjang warna hitamnya sampai melebihi siku. Leonathan mengambil satu cangkir hitam satu lagi, dan berdiri tegap dengan berkali-kali mengerjapkan mata. Mengembalikan fokus, pria berambut lurus kecokelatan itu berdeham dan mengarahkan tatapannya pada bubuk kopi yang sudah ia tuang pada poltafilter. Kemudian memadatkan bubuk kopi itu.
"Double shot Espresso?" tanya Leonathan memastikan, bisa kena komplain jika dia salah membuat.
"Benar, Tuan Leo," balasnya tanpa melirik karena dia sendiri takut memberikan yang terbaik untuk pelanggan.
Tidak lebih dari satu menit, dua kopi Espresso buatan Leonathan pun jadi, dan siap dihantarkan pada pemesannya untuk dinikmati. Melihat kopi buatannya dihirup dan diseduh, Leonathan tersenyum. Ia baru bisa bernapas lega ketika melihat ekspresi penikmatnya baik-baik saja, itu tandanya kopi buatannya tidak buruk.
"Tuan Leo bisa istirahat jika lelah. Jam makan siang juga lewat, Tuan."
"Ya, sepertinya aku harus makan siang. Aku masuk ke ruanganku."
Sang karyawan mundur sedikit dan mengangguk setuju. "Silakan, Tuan," singkat barista tersebut dan membiarkan Leonathan melewatinya. Bukan hanya dia, barista yang lain juga memberi jalan Leonathan untuk lewat.
Sebelum naik ke lantai dua, di mana ruangan pribadi Leonathan berada serta beristirahat di sana, Leonathan memilih berbelok ke etalase makanan. Dia memilih beberapa roti di sana, seperti kroisan yang bentuknya seperti bulan sabit, juga memilih roti lainnya, yaitu bagel. Kedua roti itulah yang akan mengisi kekosongan dari perut kotak-kotak pemilik kafe tersebut.
Siang ini Leonathan hanya menghirup aroma kopi saja, karena pagi tadi dia sudah meenyeduh dan akan menikmati minuman favoritnya itu ketika makan malam saja. Untuk siang ini ia hanya ditemani dengan air mineral dingin. Karena di sudut ruangannya terdapat kulkas mini, ia tak perlu turun ke bawah demi menyegarkan tenggorokan.
Di tengah waktu makan siangnya berlangsung, pintu ruangan tertutup itu diketuk dari luar. Leonathan yang tidak tahu siapa pelakunya pun bertanya, usai menelan roti kroisan. "Iya? Siapa?" tanyanya tanpa berdiri, masih setia duduk di sofa dengan tangan kiri memegangi KTP Brielle.
"Aku, Nath. Bisakah aku masuk?"
"Alice?" bisiknya bingung. Bukankah jam segini seharusnya wanita itu ada di kafe? Untuk apa dia datang ke sini tanpa mengabarinya lebih dulu. Mengesampingkan rasa penasarannya, Leonathan memberikan izin untuk Alice masuk ke ruangannya.
Wanita berambut pirang nan bergelombang yang tampil memesona dengan gaun panjang sebetis itu lantas duduk di samping Leonathan usai sang penghuni ruangan mengizinkannya pula untuk memosisikan diri di sebelahnya. Meletakkan tas merah yang sewarna dengan gaun di pangkuannya, Alice menarik napas dalam-dalam sebelum menyampaikan maksud kedatangannya ke hadapan Leonathan. "Apa kau baik-baik saja?"
"Seperti yang kau lihat sekarang, aku sedang makan." Alice menelan ludahnya dan mengangguk-anggukkan kepala. Pergerakan dan pertanyaan itu malah membuat Leonathan semakin bertanya-tanya dengan maksud dan kedatangan Alice. "Ada apa? Kau datang ke sini hanya untuk bertanya tentang kabarku?"
Alice melirik benda yang dipegang Leonathan di tangan kiri pria itu. "Kau masih memerhatikannya, Nath? Bahkan saat kau makan?" bukannya menjawab, ia justru mengajukan pertanyaan yang diangguki Leonathan dengan santai. "Sejak kapan kau mulai mengabaikan sahabatmu sendiri? Kau bahkan jarang membalas pesanku akhir-akhir ini. Sekarang ini apa aku tidak berarti lagi bagimu, Nath? Posisiku tergantikan hanya karena kau mencintai wanita itu?"
"Apa maksud ucapanmu itu?" Leonathan yang ingin memasukkan roti bagel ke dalam mulutnya dan menggigit roti itu sampai membatalkan niatnya setelah mendengar pertanyaan aneh Alice. Ya, menurutnya itu aneh karena Alice terdengar tidak suka jika dia memerhatikan Brielle. "Ada yang tidak beres dengan otakmu, kurasa kau cemburu dengan Brielle."
"Ya, memang! Benar dugaanmu itu, aku cemburu! Kenapa kau berubah? Kenapa kau lebih mementingkan Brielle daripada aku, sahabatmu sendiri?" tanya Alice yang mulai menggebu-gebu dan matanya mulai berkabut. "Mana janjimu yang selalu ingin menjaga dan memerhatikanku? Kau lupa akan semuanya itu, Nath! Sejak malam itu, kau berubah! Apa yang sudah wanita itu lakukan sampai sahabatku yang sellau peduli ini berubah cuek dan menganggapku tidak ada?!"
"Kau ini kenapa?" Leonathan kembali meletakkan roti bagel ke atas piringnya lagi dan mengalihkan perhatiannya pada Alice sepenuhnya. Tubuhnya bahkan sudah mengarah ke wanita yang tampak ingin menangis itu. "Bukankah selama ini kau sendiri yang ingin aku bahagia bersama wanita yang aku cintai dan berhenti mengganggumu berpacaran?" tanya Leonathan dengan tatapan tak percaya sekaligus pusing. "Kau yang menyuruhku untuk mencari wanita pujaanku, dan aku sudah menemukannya malam itu. Tetapi sekarang apa?"
"Aku tidak suka kalau kau terlalu jauh dariku, Nath!"
"Kau tidak bisa egois, dan berhenti memerintahku atau memaksaku lagi. Jika kau kekasihku, mungkin aku akan menerimanya. Tetapi nyatanya, kita hanya sebatas teman, sahabat saja."
"Aku hamil, apa kau tahu itu?!"
"Ka-kau ham-hamil?!"
"Kau sampai terkejut 'kan?" Alice tersenyum miris dan berusaha mengusap air matanya sendiri. "Apa kau pernah menanyakan kabarku lagi? Atau sedikit saja menyinggung hubunganku dengan mantanku. Tapi, kau tidak melakukannya, kau selalu fokus dengan Brielle!" teriak Alice yang tangisnya tak bisa dibendung lagi, Leonathan yang iba pun memberikan pelukan untuknya. "Kau sudah berubah, Nath!"