Look at Me, Elle

Look at Me, Elle
Bab 8 Leonardo Hardika



"Kau lebih berkharisma dengan bulu-bulu halus seperti itu, Nath." Jambang yang tumbuh tak terlalu lebat di pipi Leonathan memang membuat pria itu tampak lebih dewasa dan keren, seperti pujian sang adik barusan.


Pria yang sibuk mengamati gelas berisi kopi itu mendongak dan tampak kaget begitu melihat wajah lelaki di hadapannya. "Nard!" panggil Leonathan seraya memberikan segelas kopi pada karyawan yang menunggu pesanan pelanggan. Mengambil dari tangan Leonathan, ia lantas pamit dan segera memberikan makan serta minuman pengunjung yang telah menunggu. "Sejak kapan kau masuk ke kafe? Aku sampai tidak sadar," gumamnya dan segera melewati karyawan untuk keluar dari meja bar.


"Kau terlalu sibuk," balas Leonardo terkekeh. Pria itu merangkul sang kakak dan menupuk-nepuk punggung. "Aku baru saja datang, dan langsung ke mari karena ingin mengobrol banyak tentang usahamu."


Leonathan yang tak percaya itu bertanya, "kau bru datang?" Sang adik terkekeh dan mengangguk, membenarkan. "Maksudku, kau belum istirahat?"


"Belum, Nath. Aku ingin tidur di rumahmu saja. Ngomong-ngomong, aku lapar ... bisa pesankan aku sesuatu?"


"Kau!" Dipukulnya lengan Leonardo tanpa kekuatan lalu menampar pelan pipi kanan Leonardo berkali-kali. "Duduklah di mana pun kau mau, akan kubuatkan kopi terenak favoritmu."


"Thanks, Brother!" sahut sang adik sebelum melangkah pergi dan meninggalkan pukulan di lengan kiri Leonathan. Ia yang terkekeh itu terus melangkah, dan menyapukan pandangannya ke segala. Mencari sekiranya tempat yang cocok untuk istirahat dan berbincang-bincang dengan saudara kandung satu-satunya di dunia.


Leonathan begitu menikmati kegiatannya dalam mengolah kopi agar menjadi minuman yang memberikan energi penuh dan semangat membara bagi siapa pun penikmatnya. Hatinya yang lama bersedih itu sedikit terobati lantaran sang adik bekunjung ke kafe Mixture pertama. Dalam waktu tiga menit saja dia sudah menyajikan kentang goreng saus keju, donat, dan kopi Cappuccino, serta pancake es krim untuk dirinya sendiri.


"Makanlah, kau pasti lapar," ujarnya menyuruh Leonardo yang asik bermain ponsel. Bahkan pria itu tersenyum, Leonathan bisa melihat guratannya sekilas. "Tak terasa, sudah satu tahun kita tidak bertemu, Nard."


"Ya, karena sudah lama ... aku berkunjung ke mari. Sebagai orang yang lebih muda aku mendatangi anggota keluarga yang tua, bukan?"


"Aku tidak setua itu, Nard." Leonardo tertawa-tawa sambil menaruh handphone hitam ke atas meja yang berwarna senada dengan gawai miliknya. Melihat adiknya mengambil pancake es krim, Leonathan tak ragu memukul punggung tangan Leonardo. "Jangan berakting seolah-olah kau suka makanan manis!"


Leonardo yang masih kalah cepat meringis seketika, namun terkekeh. "Pelitamu itu belum berubah juga ternyata."


"Memangnya kau sudah berubah jadi pecinta makanan manis?" tanya Leonathan datar seraya menggapai pegangan cangkir, sementara sang adik yang masih memakai kacamata bulat bening itu meraih piring berisi puluhan potongan kentang goreng. "Aku tahu betul, kau hanya ingin membuat kakakmu ini kesal. Adik durhaka," tambahnya sebelum mendekatkan bibir ke pinggiran cangkir, membiarkan kopi cold brew masuk ke mulut dan mengalir pada tenggorokannya yang kering.


Leonardo yang sedang asik mengunyah beberapa kentang goreng itu menganggukkan kepala. Minum kopinya seteguk, ia baru membalas, "terkadang aku merindukan masa kanak-kanak kita, Nath." Leonathan tersenyum simpul dan melempar tatapan ke luar jendela, mencoba menerawang masa-masa ketika mereka berdua masih bocah. "Kau yang selalu kena imbasnya ketika aku mengganggumu."


Dengan kaki kiri ditumpu ke paha kanan, Leonathan melipat kedua tangannya sebelum menyahut, "mama selalu melindungimu dan cerdiknya kau memanfaatkan itu." Mengambil pancake yang sudah ia potong menjadi beberapa bagian, ia meneruskan, "bodohnya aku, menjadi kakak yang selalu menurutimu."


Dengan tertawa lepas, pria yang memiliki bulu mata lentik itu mengangguk-angguk sampai terbatuk. "Kau tahu? Aku sangat senang kala itu, apalagi kalau aku ingat raut wajahmu yang merah karena marah dan kesal."


"Ingin kutonjok wajahmu saat mama terus saja membelamu mati-matian."


"Tapi semua itu berlangsung tidak lama."


"Karena akhirnya mama tahu, kaulah yang salah." Leonardo mengiyakan dan kembali memasukkan beberapa stik kentang goreng ke mulutnya lagi. "Semenjak remaja, kau tidak dipercaya lagi. Kebusukanmu terbongkar setelah mama melihatmu sendiri berulah di kamarku."


"Ya, dari lulus sekolah dasar sampai mama tiada, kaulah yang menjadi anak kesayangannya."


"Kau cemburu?" tanya Leonathan yang hampir pecah tawanya jika ia tak mendapatkan tendangan maut sang adik. "Kau pikir tidak sakit?! Bodoh!" pekik Leonathan sembari mengelus tulang kering kaki kirinya yang baru saja mendapat tendangan Leonardo. Sang pelaku hanya meminta maaf singkat dan segera mengalihkan pembicaraan.


"Kau tidak keberatan 'kan kalau kuajak ke makam mama?"


"Tidak, kapan?"


"Siang ini jika memungkinkan."


"Baiklah, sekarang saja. Tunggu aku ambil jaket dan kacamataku dulu."


Leonardo mencegah sang kakak, "aku tahu kau juga lapar, jangan terlalu terburu-buru. Liburanku di sini masih tiga hari."


"Hanya tiga hari?" Leonathan yang tak jadi bangun itu begitu kaget. "Seorang Leonardo bisa menahan hasrat masuk ke dunia malam seperti dulu?" tanyanya sekali lagi karena begitu tak percaya dengan ucapan adik satu-satunya itu. Masih belum percaya walau Leonardo mengatakan 'iya' sambil meyunggingkan senyum, Leonathan tetap menggeleng. "Kau yakin? Kau sedang tidak menipu saudaramu sendiri, bukan?"


"Itu karena seseorang."


"Karena kekasihmu?" tebak Leonathan yang tidak salah dan tidak benar sepenuhnya. Ia makin penasaran ketika Leonardo malah fokus makan dan memeriksa ponsel, tak lagi menatap ke arahnya. "Hei! Katakan padaku, kau sudah punya kekasih, Nard? Bukannya kau tidak suka jika diatur wanita?!"


Sambil tersenyum, pria yang menyugar poninya itu menggerakkan kepala lagi ke atas dan bawah berkali-kali, sampai membuat kakaknya melongo sekaligus melotot tak percaya. "Aku sudah menemukan calon istri terbaik, Nath."


"Ka-kau? Kau akan menikah?!" pekik Leonathan yang berbinar, ikut merasa bahagia mendengar berita baik dari lelaki berumur dua puluh tiga, tahun ini. Pria yang mengangguk itu semakin melebarkan senyum terbaiknya pada sang kakak. "Kapan kau akan melangsungkan hari itu?"


"Tentunya aku ingin dalam waktu dekat ini, sayangnya dia tidak setuju."


"Ada apa? Dia belum percaya padamu sepenuhnya?"


"Entahlah, Nath ... aku merasa, dia sedikit tidak percaya diri karena mendapatkan pria tertampan dan terkeren sepanjang masa sepertiku." Leonathan yang mendengar itu sampai tersedak oleh pancake yang belum dikunyah halus. Karena kesal dengan pengakuan sang adik, Leonathan bangun. Angkat kaki dari hadapan adiknya yang kelewat sombong dan percaya diri itu. "Nath! Kau mau ke mana?! Nath!"


"Aku tidak ingin meladeni adik sombong sepertimu lagi. Lebih baik bekerja," sahut Leonathan yang sudah mengayunkan kaki, jauh dari meja yang ada di sudut ruangan itu. Leonardo sendiri sudah tertawa-tawa di tempat duduk, kemudian melanjutkan kegiatannya menghubungi seseorang.


***


"Hai, ma ... Onard ke sini. Sudah lama, ya, ma."


Bukan seperti Leonardo yang dulu. Pria yang dulu jarang berbicara, sekarang sehalus ini. Leonathan semakin terkaget-kaget ketika mendengar adiknya mengatakan semua isi hati terdalam untuk wanita yang mengisi perasaan pria itu pada makam sang ibu.


Beginilah perkataan Leonardo, "Mama ... Onard menemukan satu wanita seperti mama. Onard harap mama menyukai wanita yang dekat dengan Onard dan bisa melangkah ke jenjang pernikahan suci. Onard bersyukur mengenal dan mencintainya, dan lebih beruntung jika mama bisa menemani Onard ketika kami melangsungkan pernikahan. Onard harap mama suka dengan pilihan Onard." Sambil mengelus keramik makam mamanya, pria itu meneteskan mata.


Leonathan yang di samping sang adik tak cuma berjongkok dan diam, namun menepuk punggungnya berkali-kali dan menguatkan dengan ucapan, "pasti mama bangga denganmu dan setuju dengan keputusanmu, Nard. Percayalah, mama bahagia melihat dirimu yang lebih positif dari sebelumnya. Kau juga anak terbaik milik mama, yakinlah, mama sangat bangga padamu."


"Thanks, Nath."


Leonathan mengiyakan, kemudian berdiri tanpa menyentuh bahu atau menenangkan sang adik lagi, namun berbalik badan lebih dulu sambil mengajak, "ayo pulang! sepertinya sebentar lagi akan hujan deras."


Mengayunkan kakinya lebih dulu sambil memasang kacamata hitamnya dengan dua tangan masuk ke saku celana. Sang adik mengekor sesudah meletakkan sebuket bunga forget-me-not di atas keramik makam mamanya. Kemudian keduanya masuk mobil sembari berlari karena langit mulai menangis, tetesan hujan menimpa tubuh dan area pemakaman.


"Kau merindukan mama?"


Leonardo mengangguk. "Kau sendiri? Tidak merindukannya? Aku yakin, kau jauh merindukannya." Leonathan hanya menjawab pertanyaan itu dengan dehaman. Meski bagaimana pun dia lebih suka memperlihatkan sisi terkuat, tak ingin lagi dilihat sebagai pria lemah meski hatinya sendiri butuh mengeluarkan keluhan dan kepiluan. "Walau kau tidak mengatakannya, aku tahu kau, Nath. Kau lebih terluka daripada diriku."


"Kita sudah dewasa, tidak bisa mengingat kenangan menyedihkan lagi. Aku lebih suka menguburnya dalam-dalam."


"Terkadang sebagai manusia kau perlu menuangkan perasaanmu."


"Ya, tapi tidak untuk sekarang. Ada sesuatu yang harus kukeluarkan, lebih penting dari kesedihan dan lain-lain." Leonardo yang mendengar kalimat ini keluar dari mulut sang kakak menjadi kian tak sabar ingin sampai ke kafe. Sepertinya, pria itu sudah bersemangat mengorek isi hati Leonathan mengenai perasaan kakaknya itu pada seseorang.


Sepulangnya mereka dari ziarah ke makam sang wanita terkuat bagi dua saudara keturunan Jawa dan Amerika, Leonathan dan Leonardo kembali ke kafe Mixture. Keduanya berbincang lagi di tempat paling sudut kafe. Lantaran tak ingin terganggu dari keramaian dan jauh dari suara musik yang terpancar dari pengeras suara yang ada di tengah-tengah ruangan.


Alhasil Leonathan mengajak adiknya di pojok tembok, paling ujung. Baru ingin duduk di depan sang adik, perempuan yang memiliki perut bulat tiba-tiba mengaitkan tangannya pada lengan kiri Leonathan. Pria itu hanya menoleh sekilas, lalu menatap pada adiknya yang mengamati kedua manusia di hadapannya.


"Bukannya kau bekerja di Mixture cafe lainnya?"


"Biasa, dia sering ke mari sesuka hati."


Dengan enteng Leonardo bertanya lagi, "kau tidak berniat memecatnya?" pertanyaan ini membuat Alice mengelus perut buncitnya berkali-kali dan menengok ke samping kanan di mana Leonathan menggeleng kecil. "Setahuku kau bekerja di sana hanya sebentar, tapi mengapa ikut ke mari?" pertanyaan ini diajukan pada Alice yang tiba-tiba mencubit dua stik kentang goreng yang datang beberapa menit lalu di atas meja dan memakannya dengan tenang. "Apa tugasmu hari ini sudah selesai?"


"Biarkan saja, aku tinggal memotong gajinya," sela Leonathan begitu enteng. Meraih gagang cangkir setelah membuka tutupnya, lalu meneguk nikmatnya rasa kopi sesingkat mungkin dan diikuti Leonardo yang juga meminum kopinya sendiri. Melepaskan tangan Alice yang masih memegangi lengannya, lalu menggeser tubuhnya sedikit lebih ke kanan, menjauh. "Aku tidak ingin perasaanmu padaku semakin membesar, kau tahu ... sudah ada wanita lain di hatiku. Bersikaplah senormal mungkin," pinta Leonathan yang tentunya menahan emosi sekuat-kuatnya jika tak ingin diledakkan.


"Tapi aku tidak mudah menjauh darimu, Nath. Kau tahu sendiri, aku berusaha menjauh darimu! Tapi perasaanku yang membuat diriku tidak bisa melepaskanmu, Nath."


"Aku tidak memintamu melepaskan, tapi pakailah pikiranmu dan perasaanmu sebagai perempuan. Jika kau berperasaan, kau pasti memikirkanku juga. Aku tidak lagi mencintaimu, sampai berapa kali aku harus mengingatkanmu tentang ini? Kita hanya sahabat, cuma teman. Tidak lebih dan tidak kurang, Alice. Sadarlah, perasaanku padamu sudah tidak ada."


Leonardo yang melihat perdebatan di depannya lantas melerai, "hentikan!" menahan bahu Alice dan bahu sang kakak sambil menatap keduanya bergiliran. "Kalian sudah bukan bocah lagi, dewasalah seperti umur kalian yang beranjak tua."


"Perasaan seseorang tidak bisa dibohongi," tekan Alice sebelum memasukkan beberapa kentang goreng yang dia comot dengan ekspresi kesal bercampur sedih. "Sampai kapan pun aku berusaha, perasaanku tetap tidak bisa diatur seenaknya. Kau pikir perasaanku perasaan robot yang mudah diatur penciptanya?"


"Kau masih bisa berpikir."


"Sudahlah! Hentikan! Aku di sini ingin mengobrol, bukan melihat kalian bertengkar." Leonardo menatap tajam kakaknya dan berubah melembut ketika melirik Alice. "Aku setuju, perasaan manusia sulit diatur, tapi tidak ada yang tidak mungkin karena hatimu, milikmu. Kaulah yang memegang kendali."


Leonathan bangun sambil membalas ucapan sang adik, "berat membicarakan perasaan padanya, Nard. Alice tidak akan mendengarkan." Kemudian melewati wanita yang duduk sembari mendongak ke arahnya. "Kita sambung obrolan kita di rumah, aku harus kerja agar otakku kembali dingin. Bersantailah, Nard. Jika harus menghabiskan makanan di sini, habiskan saja sepuasmu." Leonathan benar-benar angkat kaki dan membiarkan Alice serta Leonard berbincang berdua tanpa dirinya.


Malam harinya di kediaman Leonathan Hardika, kakak beradik itu masih di ruang tengah sembari berbaring di atas karpet. Leonathan fokus mengamati desain mengenai kafe yang akan ia bangun di luar kota, sementara sang adik sudah berhenti bermain game online. Ia mulai membuka mulut, "aku dengar kau pernah memiliki masalah."


"Setiap orang yang hidup di dunia ini memiliki masalah."


"Aku tahu, tapi bukan itu yang aku maksud." Leonathan tetap menatap intens layar handphone dengan memasang telinganya baik-baik. "Kau mencari siapa?"


"Siapa?"


"Yang kau cari, siapa wanita yang kau cari? Aku dengar kau mencari pujaan hatimu yang mendadak pergi setelah kau melakukan kepuasan sendirian."


"Tutup mulutmu," pintanya sambil mengetatkan rahang. "Siapa yang memberitahumu tentang ini? Alice?" Leonardo mengikuti pergerakan sang kakak yang semula berbaring menjadi duduk. "Uruslah dirimu sendiri, kau tidak perlu memikirkan kisah cintaku."


"Jadi kau ingin aku membiarkan kakakku menjadi jomblo sejati yang sukses?"


Menghela napas, Leonathan beranjak. "Jika aku tega, tinjuku sudah membuatmu berbaring di rumah sakit, Nard." Kemudian berlalu, memilih mendinginkan tenggorokan dengan air es. Leonathan pergi ke dapur, meninggalkan adik kurang ajarnya yang tertawa di belakangnya.