
Pulang dari tempat kerja, tepatnya selesai berkeliling dari empat kafe Mixture yang ada di Badung, Leonathan menyempatkan diri untuk bersih-bersih sebelum menengok Abigail. Semakin hari, makin banyak waktu pula yang dilalui Leonathan bersama bayi perempuan menggemaskan tersebut. Pria yang mendadak suka dengan anak bayi itu juga tak bisa menutupi perasaannya saat menggendong Abigail, begitu senang dan bangga bisa mengenal, serta ikut merawat bayi secantik Abigail.
Sekarang saja Leonathan tengah memerhatikan bayi cantik yang tengah sibuk menatap langit-langit kamar dengan dua tangan bergerak-gerak. Dua kakinya juga aktif digerakkan. Sang mama yang sedang menyiapkan makan malam masih bergelut dengan ayam di dapur.
Leonathan sendiri sesekali menoel atau menciumpi pipi Abigail. Seperti sekarang, ia mengangkat Abigail pelan-pelan dari kasur bayi kelambu tema kuda poni. Di saat sudah benar-benar ada dalam dekapannya, Leonathan mencium pipi berisi itu, baik pipi sebelah kanan maupun kiri diserbunya secara bergantian.
Bukan menangis atau tertawa, bayi berkulit putih nan bersih itu malah menatap Leonathan. Seperti pengamat, Abigail melihat Leonathan dengan tatapan penuh, mengarah pada mukanya.
"Kenapa? Apa ada yang aneh di wajahku?" tanya Leonathan dengan senyum mengembang begitu lebar.
Di saat bertanya pun Abigail hanya berkedip seperlunya tanpa mengalihkan pandangan. Benar-benar menatap wajah Leonathan sangat detail seperti pengamat ekspresi.
Masih menatap walau Leonathan sudah tertawa kecil. "Hei, Gail ... kenapa? Kau ingin sesuatu? Atau aku ini terlalu tampan?"
Leonathan terkekeh sendiri saat bayi itu hanya mengedipkan mata berkali-kali sambil berusaha menggapai pipi Leonathan menggunakan dua tangannya yang terbungkus pakaian lengan panjang juga sarung tangan. "Aku tampan, ya?" Menggeleng dan meneruskan, "papamu lebih tampan, tapi kelakuannya saja yang tidak tampan seperti wajahnya."
Alice yang baru keluar dapur sontak berlari dan sedikit protes, "hentikan, Nath!"
Berdiri di samping Leonathan, ia melirik anaknya dan mencolek salah satu daging bulat itu, apalagi kalau bukan pipi anaknya yang seperti dorayaki, kue tembam. "Abigail hanya kagum, Paman Nath."
Kemudian menatap Leonathan dengan raut kesal, dan protes sekali lagi, "jangan katakan apa yang buruk tentang papanya. Aku tidak ingin dia membencinya."
"Aku tidak bermaksud."
"Ya sudah. Em ... kalau begitu, ayo kita makan! Masakanku sudah siap," ajaknya yang langsung menggandeng tangan kanan sang sahabat karena tangan kirinya digunakan untuk menggendong Abigail. Leonathan yang masih maklum pun tak berpikir jauh. Ia membiarkan Alice menuntunnya sampai ke ruang makan dan mempersilakannya duduk. "Kau ingin nasinya banyak atau sedikit, Nath?"
"Dua sendok saja," jawabnya sesudah mengecup kening Abigail. "Dia mulai menguap," imbuhnya memberitahu Alice.
Sembari mengambilkan nasi untuk Leonathan ia membalas, "sebentar lagi saatnya meminum ASI. Kau makan saja dulu, aku akan makan setelah dia kenyang dan tidur." Leonathan yang mengikuti ucapan Alice pun setuju dengan berdeham singkat dan setelah itu memberikan Abigail pada ibunya sebelum ia menyantap ayam goreng dan sayur sop buatan wanita yang kini berlalu dari dapur.
Leonathan pikir ia akan melihat Abigail terlelap dengan wajah tenang nan cantiknya. Namun yang dilihat berbanding terbalik, bayi itu justru tak ingin tidur. Bahkan ketika diletakkan ke tempat tidurnya, Abigail justru menangis. Leonathan yang sudah kenyang itu pun menawarkan diri untuk menggendongnya, dan menyuruh Alice untuk menghabiskan makan malam yang sudah Leonathan siapkan di atas piring.
"Terima kasih untuk perhatianmu selama ini, Nath."
"Jangan salah sangka dulu," Leonathan membalas sembari menarik sudut bibirnya sampai senyuman terbentuk di wajaah tampan pria bermata biru itu. "Aku melakukannya karena aku memikirkan Abigail, bukan semata-mata karena perhatian padamu," sambungnya yang membuat Alice tak jadi memasukkan sendok berisi nasi dan ayam ke dalam mulut. "
Alice yang tadinya berbinar, kini sinar di matanya meredup. "Apa tidak ada rasa pedulimu itu untukku?"
"Ada atau tidak, itu hakku."
Alice semakin terbelalak mendengar jawaban dari Leonathan yang teramat menyakitkan, menampar walau tanpa melayangkan telapak tangan di pipinya. Hatinya harus merasakan kekecewaan sekali lagi, meski dia selalu menerima perlakuan Leonathan yang seolah-olah memedulikannya.
"Jika ada, itu hanya sebagai teman. Aku tekankan lagi, hanya sebatas teman dan tidak bisa lebih dari itu."
"Nath, kau ... kau yakin mengatakan yang barusan?" Sungguh, Alice tak tahu harus berjuang sampai kapan demi mendapatkan cinta Leonathan untuknya yang sudah sirna gara-gara kehadiran Brielle. Sampai detik ini pun Leonathan masih mengunci hatinya, dan hanya Brielle yang bisa membuka gembok itu. "Kau yakin? Apa hati kecilmu itu tidak memihak padaku sama sekali?"
"Sampai kapan kita membahas hal yang sama ini terus-menerus?" Membuang napas beratnya, Leonathan melirik Abigail sekilas yang sibuk menggigit sarung tangan yang dipakainya.
"Keputusanku sudah bulat," sahut Leonathan tanpa emosi karena dia sedang menggendong dan menimang-nimang Abigail.
Tidak mungkin dia meningkatkan volume atau memberikan bentakan pada Alice jika tak mau anak ini menangis karena kaget dan ketakukan. "Kau selalu saja membahas perasaanku yang sudah jelas bukan untukmu lagi. Mengerti dan sadarlah, Alice."
"Aku akan terus berusaha mengembalikan perasaanmu itu, Nath. Aku tidak akan menyerah."
"Percuma, itu tidak akan berhasil dan usahamu itu akan sia-sia." Mencium singkat kening Abigail, ia menambahkan dengan nada yang begitu memohon pada Alice dan tatapan penuh dari mata birunya menatap wanita itu, katanya, "sadarlah."
"Kau yang sadar, aku sudah membalas perasaanmu. Tapi, kenapa kau harus mencintai perempuan lain setelah aku menyadari perasaanku, Nath? Apalagi di saat wanita itu tidak ada pun kau tetap menjaga perasaanmu untuknya."
"Kau sendiri yang terlambat menyadari, tetapi kenapa kau yang menyalahkanku?"
"Karena ka—"
"Jangan menyalahkan aku yang bertemu dengan Brielle atau menyalahkan Brielle. Semua itu karena dirimu sendiri yang menolakku, Alice. Kau tidak bisa egois seperti ini, pahamilah perasaan orang lain," potong Leonathan karena mulai geram.
Ia lelah kalau selalu membahas perasaan, apalagi wanita yang keras kepala dan egois itu sahabatnya sejak lama. "Jika kau terus membahas ini, aku benar-benar akan menjauh darimu. Aku tidak akan memikirkan nasibmu lagi. Kau tidak bisa semena-mena Alice."
"Tidak perlu takut, aku akan tetap membiayai semua kebutuhanmu jika aku pergi. Rasa sayangku untukmu tetap ada, Gail. Jadilah anak yang baik," ujar Leonathan sembari mengusap-usap kening dan hidung mancung nan mungil milik bayi dalam tangannya itu.
Sedangkan Alice yang mengikuti Leonathan dari belakangsudah tak bisa menahan air matanya. Ia menatap punggung Leonathan dengankesedihan. Meski begitu, mulutnya tetap bergumam, "sampai kapan pun aku tetapberusaha membuatmu menjadi papa Abigail, Nath."
*
"KAU SEBENARNYA KERJA ATAU TIDUR?!" teriak Leonathan kala matahari masih bersembunyi. Bahkan dia sudah meletakkan satu tangannya di pinggang, tangannya yang lain tengah memegang ponsel di telinga kiri.
"SUDAH BERBULAN-BULAN TAPI KAU TIDAK BISA MENEMUKANNYA DI MANA PUN! CARI KE MANA SAJA SAMPAI DAPAT! AKU MEMERINTAHMU UNTUK MENDAPATKAN KABAR BARU, TAPI TETAP SAJA TIDAK ADA HASIL! TIDAK BECUS!" imbuhnya tidak kuat lagi. Emosi lama yang tak dikeluarkan itu pun meledak-ledak.
"JIKA TAK ADA KABAR SAMPAI TIGA BULAN LAGI, AKU AKAN MEMECATMU!" Sesudah itu Leonathan mematikan panggilan dan melemparkannya begitu saja di atas ranjang.
Mengacak-acak rambut cokelatnya yang sudah berantakan sejak semalam, ia berdiri di depan jendela kamar yang kain gordennya tersibak. Suasana langit yang masih gelap dan hening di luar sana persis seperti suasana hatinya saat ini. Meski ada anggota baru yang membuatnya sedikit ceria, tetap saja Leonathan membutuhkan kehadiran Brielle. Rasa bersalah terus saja menggerogoti hatinya, ia belum bisa bahagia total jika Brielle belum bisa ia temukan.
"Sebenarnya di mana kau sekarang ini? Apa kau masih ada di bumi ini atau sudah pergi jauh dan sulit aku temui?"
Membuang napas gusar, pria dengan tubuh tegap dan berotot itu memilih untuk memposisikan dirinya di atas lantai dengan sepasang lengan kencang menahan tubuhnya sendiri, serta kaki jenjang diluruskan memanjang. Leonathan siap berolahraga, push up sebanyak tiga puluh kali, untuk menyegarkan tubuh sekaligus otaknya. Tak hanya push up, dia juga melakukan angkat beban guna menjaga bentuk lengannya yang berotot dan kencang.
Selesai berolahraga Leonathan segera pergi ke amar mandi. Ia terdiam di dalam sana dengan muka yang sudah diguyur air dari shower. Mendongak, Leonathan memejamkan mata sembari mengingat lagi kejadian kala ia tidur dengan Brielle di kamar pribadinya.
"Kenapa kau langsung pergi malam itu?" gumamnya bersama dua tangan mengepal, sampai uratnya pun tercetak jelas. "Aku yakin, kau sangat terpukul, Elle. Tapi bisakah kau membicarakannya dulu padaku? Kenapa kau lebih memilih pergi dan hilang dari hadapanku selama ini?"
Tubuh bagian atas yang telanjang milik Leonathan terus diguyur air, membuat keringat luruh bersama air dingin yang mengalir. Pikirannya masih setia mengingat wajah manis Brielle yang memberikan senyum untuknya. Bahkan wajah Brielle yang begitu memesona ketika tidur masih lewat di pikirannya dari dulu hingga sekarang.
"Tega sekali kau, Elle. Hanya kau yang berhasil membuatku tertarik dan sibuk memikirkan perasaan cinta."
Leonathan meraih botol sampo dan menuangnya ke atas tangan. Ia menggosokkan cairan wangi nan licin itu ke rambut cokelatnya yang sudah basa sejak tadi. Memijat pelan kulit kepalanya, wajah Brielle dibiarkannya menari-nari di dalam otak.
"Meski bukan cinta pertamaku, tapi kaulah yang sanggup membuatku sepusing ini."
Waktu yang dibutuhkan Leonathan di dalam kamar kecil itu tidak lebih dari dua puluh menit. Ia langsung menuju ke lemari pakaian dengan hitam membalut tubuh bawahnya, membiarkan otot perutnya tercetak. Belum sempat meraih atasan untuk ganti, Leonathan mendengar ponselnya berdering dan segera bergegas meraihnya.
"Halo?" tanyanya tanpa melihat siapa yang menelepon. "Oh, ya. Aku ingat. Aku baru saja mandi. Aku akan menjemputmu lima belas menit lagi." Membuang napas kekecewaan dari mulutnya karena yang meneleponnya barusan adalah Alice.
"Jika aku tidak menyayangi Abigail, aku tidak akan menampakkan wajahku lagi di depanmu," lirih pria itu sesudah melempar kembali gawainya ke atas ranjang sebelum ia berbalik dan mencari lagi atasan untuknya melakukan photoshoot bersama Abigail dan Alice.
Ya, tepat di umur Abigail yang menginjak sepuluh hari Alice menginginkan newborn photoshoot yang biasanya dilakukan ketika sang bayi berumur lima sampai empat belas hari. Sebelum umur Abigail dua minggu, Alice meminta pada Leonathan dan memohon-mohon agar anaknya itu memiliki kenangan terindah bersamanya juga dengan Leonathan yang selama ini merawat Abigail dengan sangat baik layaknya seorang ayah pada buah hatinya sendiri.
Pukul enam pagi, Leonathan keluar dari rumahnya menaiki mobil favoritnya yang biasa, berwarna hitam. Sengaja tidak sarapan karena Alice pasti menyediakan makanan untuknya. Sebetulnya ia sendiri sedikit keberatan kalau harus ke rumah Alice sepagi ini.
Namun, karena lagi-lagi yang menjadi alasan kuat adalah Abigail, si kecil yang selalu merindukannya. Jika bukan anak menggemaskan itu, Leonathan lebih memilih berbaring di kasur saja sembari memantau kabar anak buahnya mengenai Brielle.
Sampai di halaman rumah Alice, wanita itu sudah berdiri dan mengamatinya turun dari mobil. Bahkan ia melambai dan hampir memeluk Leonathan jika saja pria itu tidak memundurkan tubuhnya. "Mandilah, aku akan mengajak Abigail jalan-jalan di sekitar sini."
"Kau tidak mau sarapan dulu?"
"Tidak," singkat Leonathan yang segera mengambil alih Abigail dari tangan sang ibu dan membawanya pergi dari hadapan Alice. "Hubungi aku kalau kau sudah selesai mand." Alice hanya mengangguk ketika Leonathan menoleh singkat ke arahnya, membiarkan pria itu mengajak Abigail jalan-jalan di sekitar rumahnya.
Pukul tujuh pagi, pihak fotografer yang dipesan Leonathan akhirnya datang. Para kru mulai menata barang-barang yang dipakai untuk pemotretan seperti lampu, background polos, serta beberapa properti yang nantinya akan dipakai Abigail, contohnya adalah alas foto berbulu, keranjang jerami bulat, dan sofa mini khusus bayi.
"Untuk sesi kedua aku dan kau harus ikut, Nath."
"Hah? Untuk apa?" tanya Leonathan yang segera mengangkat dagunya, melirik Alice yang berdiri di hadapannya. "Ini pemotretan khusus Abigail, jika kau ingin ikut, ikut saja. Aku tidak." Leonathan yang sedang berusaha membuat Abigail tertawa itu tak ingin marah dan kesal, terlebih lagi bukan cuma dia dan Alice saja yang ada di ruang keluarga tersebut. Para kru yang sibuk mengamati dan mengambil gambar Abigail juga ada di sekitar mereka berdua.
"Ayolah, aku sudah mengajakmu dari kemarin. Tidak apa 'kan kalau hanya satu foto?" bujuk Alice yang membuat Leonathan menghela napas panjang sebelum mengangguk. "Terima kasih, Nath! Aku juga sudah menyiapkan kostum yang serasi untuk kita bertiga." Leonathan yang sudah benar-benar kesal akhirnya hanya diam. "Aku ambilkan punyamu, tunggu sebentar."
Tidak main-main, Alice memang sudah mempersiapkan hari ini tiba. Dia memberikan Leonathan kemeja putih, sama seperti gaunnya yang berwarna putih. Abigail sendiri sudah siap dengan sayap bulu dan bando yang berwarna putih, sama seperti Alice dan Leonathan. Abigail diapit oleh kedua orang dewasa yang membawanya dan menciumnya secara bersamaan atas perintah sang fotografer.
"Kau cocok sekali jadi papa Abigail, Nath."
"Aku boleh jadi papanya, tapi tidak dengan jadi suamimu," balas Leonathan yang berbisik di belakang telinga kanan Alice. Sesudah itu ia angkat kaki dari sana, ingin segera mengganti kemeja putih itu dengan kaos cokelat susu yang sebelumnya melekat di tubuhnya. Karena sesinya sudah kelar pula, Leonathan meninggalkan ruang keluarga untuk menenangkan diri.