
Leonathan tidak bisa menahan raut kekagetannya, dengan kelopak mata yang masih terbuka lebar-lebar. Pria itu bahkan masih setia memberikan pelukan untuk Alice. Menenangkan wanita yang menangis dengan sesenggukan itu dan dagu menopang pada bahu kirinya.
"Aku berubah karena menemukan cinta. Aku harus mengejarnya, bukankah itu pula yang kau inginkan dariku?"
"Tapi aku tidak menyuruhmu menjauh dariku, Nath. Jangan berhenti memberikan perhatian! Bukankah kau selalu berjanji untuk setia di sampingku dan selalu ada untukku?"
"Saat ini Brielle lebih membutuhkanku."
"Jadi kau tidak peduli lagi pada sahabatmu sendiri? Benar kalau kau mau menghindar dariku, Nath?"
Melonggarkan dekapan, Leonathan sedikit mundur dan memberikan tatapan yang sekiranya bisa dipahami dan diresapi Alice baik-baik. Dua tangan besarnya menggenggam jari-jari Alice, membungkus dengan dua telapak tangannnya dan mengelus-elus.
Sembari menatap Alice dalam-dalam, Leonathan mengatakan, "seorang sahabat selalu ada di waktu yang tepat. Meski tidak setiap detik aku di sisimu, aku akan ada di masa sulitmu. Aku akan mengulurkan tangan jika kau membutuhkanku." Leonathan menarik sudut bibirnya hingga membentuk sebuah senyum tulus. "Kita sahabat, dan aku tidak akan tega melihatmu terpuruk. Aku akan bersamamu."
"Janji?"
"Ya, tapi ... jika Elle belum bisa aku dapatkan, aku tidak berhenti mencarinya dan membawa wanita cantik itu ke dalam hidupku. Bagaimana pun, aku sudah merasakan sesuatu yang lama tidak pernah aku rasakan."
Alice yang menatap Leonathan sedikit tidak suka mendengar penjelasan lelaki itu, Leonathan sendiri juga tahu kalau Alice sangat menghindari topik yang berbau Brielle.
"Sebagai sahabat baikku, kau pasti tahu kebahagiaanku. Jadi, berhenti bersikap seperti anak-anak. Kau dan aku sudah dewasa, umurmu bahkan jauh lebih dewasa dari umur Elle. Seharusnya kau malu jika bersikap seperti ini."
Menepuk-nepuk pipi kiri Alice, Leonathan tersenyum lagi dan berdiri. Ia melanjutkan makan siangnya, melahap roti bagel yang belum sempat masuk ke dalam mulut. Menjauh dari sofa, ia mengayunkan kaki secepat kilat hingga sudah berdiri di depan jendela yang menghadap pada suasana luar kafe Mixtuer.
Gigi-gigi di dalam melakukan senam, terus memperhalus roti garing di luar namun lembut dan kenyal di dalam. Memandang awan yang menggumpal di langit, ia masih berharap. Leonathan berusaha percaya bahwa Tuhan akan memberikannya petunjuk lagi tentang keberadaan Elle.
"Mengenai kehamilanmu, apa mantan yang kau kejar-kejar itu mau bertanggung jawab?"
Alice yang tersentak menghembuskan napas panjang dan matanya lagi-lagi berlinang air. Belum bisa menjawab pertanyaan Leonathan karena dadanya terasa sakit dan sesak.
"Jika kau diam, aku sudah tahu jawabannya. Pasti dia menolak bayinya sendiri, bukan?" Leonathan yang geram dan panas hati itu hanya bisa mengepal tangan, lalu memukul tembok dengan dua tangannya sekaligus tanpa menoleh ke belakang. "Jika ingin melampiaskan rasa sakit hatimu, aku siap bertarung dengannya."
"Tidak! Tidak perlu, Nath!" tolak Alice mentah-mentah dan menggeleng kuat. Ia yang mulai beranjak dari sofa itu mulai berjalan pelan mendekat pada Leonathan yang mencengkeram dinding. "Aku ingin dia sadar pelan-pelan. Cukup temani aku, aku bisa mengurus anakku bersamamu."
"Dia yang seharusnya bertanggung jawab."
"Kau tidak ingin membantuku merawat bayiku nanti?"
"Meskipun aku mau merawat, tetap dia ayahnya." Begitu jengah ketika Alice terus membela pria yang nyatanya memang salah, dan tidak harus dibela mati-matian seperti sekarang ini. Terlihat jelas sekali jika Alice begitu mencintai sangn mantan, namun juga berharap akan perhatian Leonathan.
"Aku tahu, tapi dia sering mengabaikan pesanku, sama sepertiku yang sering mengabaikan pesan dariku, Nath."
"Tanggung jawabnya sebagai ayah perlu kau tagih."
Tanpa permisi, tangan kanan dan kiri Alice sudah melingkar di perutnya. Wanita itu memeluk Leonathan dari belakang dan tidak ragu untuk menekan mukanya di punggung berbalut kaos hitam pria itu. Leonathan yang memahami situasi ini pun tak enak hati untuk melepaskan diri dari dekapan Alice. "Jangan mengabaikanku, Nath ... aku ingin kau selalu bersamaku kalau dia tidak bisa di sampingku."
"Ya, dan akan kuminta secara paksa tanggung jawabnya sebagai pria. Dialah yang harus mengurusmu dan anak kalian. Berani berbuat, harus berani mendapat akibat. Baik yang baik maupun buruk. Bukan lari seperti pecundang," ujarnya penuh penekanan dan tatapan menajam. Leonathan memutar badan, melirik mata Alice yang masih mengeluarkan air mata. "Tidak usah menangis."
"Aku takut menjalani hari-hari di depan nanti, Nath." Alice mendongak dan perasaan sedih juga sampai ke relung hati Lonathan. Bagaimana tidak? Alice sudah menjadi salah satu orang di dunia ini yang ia sayangi. Melihat orang yang disayang sedih, pasti Leonathan turut merasakan kesedihannya. "Bagaimana nasibku dan anak ini, Nath? Ak-aku takut."
Kembali mendekatkan diri, ditariknya tubuh Alice lalu didekap erat. "Sudah kukatakan dari dulu, berhenti berhubungan dengannya saja. Karena aku tahu, dia bukanlah pria baik seperti dugaanmu." Melepaskan sepasang tangannya dari tubuh Alice lalu memegang dua pundak itu untuk memberi kekuatan meski mulutnya melanjutkan, "sekarang terjadi, bukan? Dan kau hanya bisa menyesali apa yang kukatakan dulu, kini benar-benar kau hadapi."
Bukan hanya mengatakan itu pada Alice saja, tetapi lebih tepatnya pada dirinya sendiri. Buktinya, dia sendiri menyesal telah bertindak tanpa berpikir panjang.
"Maaf, Nath."
"Ayo, aku akan mengantarmu pulang. Untuk beberapa minggu ini kau kerja sebentar saja." Alice yang sedari tadi mendengar itu hanya menurut dan membiarkan tangannya digandeng Leonathan, keluar dari ruangan pribadi di lantai dua ini.
Naomi yang rencananya akan ke ruangan Leonathan untuk menanyakan tentang kabar keberadaan Brielle, justru dibuat naik pitam sesudah melongo. Dibuat terkejut, sangat kaget dengan pemandangan di tangga paling atas. Leonathan tengah merangkul Alice dan memberikan elusan di perut sahabatnya, juga memberikan doa, "semoga kau dan bayimu sehat." Naomi berusaha membuat dadanya naik-turun dengan kecepatan normal.
"Yang aku lihat sekarang ini apakah salah paham?" tanya Naomi di saat Alice dan Leonathan kompak menangkap keberadaannya yang masih sampai di anak tangga pertama dari bawah.
"Apa ada kabar tentang Elle?" tanya Leonathan yang otaknya langsung tertuju pada wanita pujaannya. "Kau ke sini ingin membicarakan itu, bukan?" tambah Leonathan yang memijak beberapa anak tangga, meninggalkan Alice yang masih di atas dengan wajah sendu dan tenggorokan tak mau bersuara.
"Kalian ada sesuatu? Kalau iya, untuk apa kau mencari Elle?!"
"Kau menghamili sahabatmu sendiri?!" Naomi geleng-geleng kepala karena tak tahu ingin merespons Leonathan dan Alice dengan cara apalagi. "Aku pamit, kalian tidak sehat." Leonathan mencegah Naomu dengan menarik lengan perempuan itu. "Apa? Kau ingin mengatakan itu salah paham?"
"Memang salah paham. Aku peduli, iba karena dia sahabatku dan hamil tanpa pasangan."
"Kau iba atau cinta?" pertanyaan Naomi ini membuat Leonathan tertawa. "Lihat, kau saja berusaha menutupinya dengan tawa bodohmu itu."
Meski sudah menjelaskan berkali-kali bahwa dirinya tidak mencintai Alice, Naomi tetap tidak percaya. Pria yang lelah menerangkan tersebut akhirnya pasrah dan mengalah. Namun tetap, Leonathan meminta Naomi untuk tidak pergi dari kafe-nya sebelum mereka membahas Brielle.
Karena merasa kedatangannya sia-sia, tentu Naomi memilih untuk pergi. Leonathan meminta Alice untuk masuk mobil lebih dulu dan dia mengejar Naomi yang sudah hampir meninggalkan lahan parkir kafe Mixture.
"Lalu apa maksud kedatanganmu ke sini jika tidak ingin membahas Brielle? Benar tidak ada perkembangan?"
"Aku ke sini cuma mau memberitah saja, perihal pekerjaanku. Aku harus pulang. Liburanku di sini sudah berakhir. Kejadian Elle membuat pekerjaanku terbengkalai."
"Kau sendiri tidak peduli dengan sahabatmu?"
"Tentu tidak!" elak Naomi yang mulai murka. "Aku tidak setega itu! Aku akan meminta seseorang untuk mencarinya, dan aku harap kau benar-benar mencari Brielle juga!" semburnya yang siap memutar badan lagi, dan beberapa menit lagi benar-benar akan meninggalkan Bali.
"Itu sudah pasti," balas Leonathan serius. "Kau sendiri, kau akan pulang ke mana?"
"Aku tinggal di Jogja dan semua pekerjaanku ada di sana. Selamat tinggal." Menatap Alice yang sudah berada di jok penumpang, Naomi melambai. "Semangat, ya. Pesanku cuma satu, jangan terlalu sering ke klub. Kalau memungkinkan berhenti, berhentilah minum-minuman beralkohol demi kesehatan anakmu. Sampai jumpa, Al!" Naomi melambai dan siap angkat kaki dari parkiran. Namun, tiba-tiba saja ponsel di genggaman tangan kirinya berdering. Ada sebuah pesan dari nomor yang tidak dikenal. Karena melihat Naomi mengerut bingung, Leonathan pun bertanya, "ada apa?"
Naomi mendongak sejenak terus menatap lagi layar ponselnya. Membuka pesan itu dan membacanya dengan raut terkejut, tapi ditahan. "Apa ada masalah?" tanya Leonathan lagi begitu mengamati raut muka Naomi dengan sangat teliti.
"Tidak, aku pikir ada yang penting, ternyata orang iseng yang ingin mengerjaiku. Biasa, nomor tidak dikenal."
"Kau yakin tidak apa-apa?" tanya Leonathan sekali lagi memastikan dan detik itu juga Naomi menunjukkan senyum terbaiknya senatural mungkin agar Leonathan tidak melihat ekspresi kaget di wajahnya. "Karena mimik wajahmu mengatkan sebaliknya. Jika ada sesuatu yang salah dan mencurigakan, katakan saja. Aku akan membantumu, sebisaku."
"Tidak usah, orang ini hanya mengirim pin-pin jebakan. Biasa, penipuan." Leonathan mengangguk paham. "Baiklah, aku pergi sekarang. Sampai jumpa lain waktu!" pekiknya sebelum melangkah cepat, menjauhi kawasan Mixture Cafe.
Leonathan segera mengitari mobil gelapnya, masuk dan duduk di belakang setir sembari memakai sabuk pengaman. Memastikan bahwa Alice juga memakai seat belt, barulah Leonathan menjalankannya. Mobil yang hanya muat untuk dua orang itu membawa sang pemilik dan sahabatnya ke tempat tujuan, tempat tinggal Alice.
"Aku senang saat tanganmu mengelu perutku seperti di tangga tadi. Bisa kau lakukan lagi untukku, Nath?"
"Itu hanya sebuah ketidaksengajaan." Leonathan menoleh sebentar dan melengkungkan bibirnya sebelum menambahkan rentetan kalimat permohonan, "jangan berpikir kalau aku masih mencintaimu seperti dulu. Perasaan cinta untukmu sudah sepenuhnya hilang, dan digantikan nama lain. Aku tidak melakukannya dengan perasaan cinta, mengertilah."
Ya, memang benar sekali penuturan Leonathan pada Alice yang faktanya masih berharap penuh pada pria di sebelahnya itu untuk mencintainya. Alice tidak bisa menerima kenyataan begitu saja kalau perasaan Leonathan sungguh sirna dan tidak bersisa. Sama sekali meninggalkan perasaan yang dulu pernah ia sia-siakan, sekarang hanya menyisakan rasa iba layaknya teman dekat atau sahabat. Menyakitkan dan sangat sulit diterima dengan lapang dada.
"Dan akhirnya aku terlambat menyadari perasaanku padamu, Nath." Leonathan tidak menjawab, bahkan ia tak lagi menatap Alice, melainkan memandang beraneka macam kendaraan di depan mobilnya yang berjalan lancar. "Apa kau tidak memberikan kesempatan untukku?"
"Berhenti berucap yang tidak-tidak." Leonathan melirik sekilas ke samping kiri di mana Alice duduk dan setia menatapnya. "Aku sudah menutup rapat hatiku padamu sejak menerima tolakan ketiga darimu. Sekarang kau mengemis perasaan itu?"
"Aku baru sadar, aku menyia-nyiakan kebaikan hatimu, Nath."
"Aku justru berterima kasih padamu, karena aku juga sadar bahwa perasaanku padamu hanya peduli saja, bukan perasaan cinta seperti yang baru kau minta sekarang ini." Leonathan mengelus tangan Alice beberapa detik sembari bilang, "kalau butuh perhatianku, kau masih bisa mendapatkan. Tapi tidak dengan perasaan cinta, karena hatiku sudah menemukan tempat yang tepat."
Alice bisa mendengar penjelasan singkat nan padat tersebut. Menjauhkan tatapannya dari sosok dan wajah tampan pria yang mengawasi pergerakan kendaraan, ia menunduk sambil mengamati perut ratanya. Tangannya perlahan menyentuh dan mengelus-elus penuh perasaan. Tidak bisa mencegah air yang keluar di mata, Alice terpejam lalu mengatakan, "aku tidak ingin kau menjadi sahabat yang tidak peduli, Nath."
"Aku usahakan."
"Terima kasih.
"Tetapi aku tidak akan berhenti mencari Brielle. Jangan usik aku jika sedang mencarinya, dia tetap prioritasku meskipun kau sedang mengandung." Alice mengangguk, kemudian melemparkan pandangan ke jendela di sisi kirinya dan menarik napas dalam-dalam. "Bagaimana pun kondisimu, aku masih cemas mengenai Brielle. Dia tujuanku hidup sampai saat ini."
Sedangkan di dalam mobil yang lain, tepatnya di kursi penumpang bagian belakang, Naomi masih sibuk memeriksa pesan dari nomor asing. Bukan dari orang asing, hanya nomornya saja yang tidak dikenal, namun pengirimnya adalah orang yang ia kenal baik. Ya, dia Brielle Putri Adiharja yang menghilang sudah berbulan-bulan lamanya.
"Aku baik-baik saja, Naomi. Jangan cemas dan jangan beritahu keberadaanku pada siapa pun. Hanya kamu yang bisa aku percayai, Mi. Biarkan semua orang mengiraku menghilang atau mati, keluarga besarku pasti bersyukur aku pergi dan tidak akan pernah mengusik mereka yang gila harta lagi. Aku juga ingin menjauh dari pergaulan bebas di Bali, dan meninggalkan kejadian kelam yang membuatku marah pada dunia ini dan Tuhan. Aku benci diriku yang sekarang, Mi. Tolong ingat ini, jangan bilang pada siapa pun tentangku. Aku sudah aman di Semarang sejak malam itu," ucap Naomi dalam hati, dan tentunya mulutnya tidak bersuara.
Detik itu juga, perempuan berambut hitam nan keriting itu bisa menghirup oksigen yang tak lagi menyesakkan dada. Dibalasnyalah pesan Elle secepat kilat, mengatakan bahwa dirinya benar-benar cemas mengenai keadaan Elle. Lalu buru-buru menghapus air mata yang mendadak turun ke pipi. "Akhirnya kamu menghubungi sahabatmu yang khawatir ini, Elle!" pekiknya yang tak terlalu kencang karena malu pada sang sopir taksi jika terdengar keras. "Oke, kalau begitu aku akan menyusulmu ke Semarang dan kita akan bekerja sama! Kita akan buat toko bunga, Elle!" seru Naomi yang lagi-lagi di batin, tapi jempol-jempolnya tak berhenti menari di layar ponsel, tepatnya di papan ketik.
Hari ini, hari yang membuat Naomi bahagia dan sangat senang meskipun ia juga merasa kasihan pada Leonathan. Dia hanya bisa menyimpan kabar bahagia ini dari pria itu dan sahabatnya yang lain. Mau bagaimana lagi? Dia harus menghargai keputusan Brielle yang masih ingin menyembunyikan keberadaannya dari banyak orang.