Look at Me, Elle

Look at Me, Elle
Bab 2 Pergi



Pria yang bertelanjang dada, masih belum sadar dari alam mimpi. Padahal langit di atas rumahnya sudah cerah. Matahari hampir tampak, kemungkinan besar membutuhkan waktu beberapa menit lagi untuk menampakkan diri secara keseluruhan.


Tak lama, tubuh pria yang berbungkus selimut hitam itu bergerak untuk menghadap ke arah yang berlawanan. Semula tengkurap, kini telentang menghadap langit-langit kamar. Tiga detik kemudian, mata birunya terlihat. Kelopak matanya terbuka dan ia langsung menoleh ke kiri.


Perempuan yang semalam tidur bersamanya kini sudah tak ada. Membuat Leonathan terkejut dan terduduk dalam sekejap. Ia syok, mendapati sisi kirinya kosong, tidak ada siapa pun. Berbeda dengan keadaan semalam, sebelum ia larut dalam kantuk. "Kau ke mana?" tanya pria itu begitu mengingat wajah cantik Brielle dalam otaknya.


Tanpa basa-basi ia turun dari ranjang. Berjalan cepat ke kamar mandinya yang tertutup rapat. Leonathan pun mencoba tenang. Ia mengetuk pintu putih di hadapannya dan memanggil, "Elle! Apa kau ada di dalam?!" Tak ada sahutan dan hanya terdengar suara ketukannya yang menggema dari dalam. Dibukanyalah pintu itu dengan cepat, tangan kanannya mendorong gagang pintu dengan sekuat tenaga. "Sial!" menggeram dan meremas gagangnya sebelum membanting pintu itu.


BRAK!


Sesudah menutup pintu kamar mandinya dengan kasar, Leonathan bergegas mencari ponselnya di atas nakas, samping tempat tidur. Begitu melihat, ia menggapai dan mencari nama Alice di kontak. "Cepat angkat!" serunya begitu tak kunjung mendapat sapaan dari seberang. Tak putus harapan, Leonathan terus menelepon sahabatnya. Namun tetap saja, Alice tak kunjung menerima panggilannya.


Dengan marah, pria bertubuh atletis tersebut melempar ponselnya ke ranjang. Saking kencangnya tangannya membanting, benda pipih itu memantul. Bersama rahang mengeras, Leonathan berbalik, menghampiri kamar mandi lalu segera masuk. Tak lupa membanting pintu itu untuk kedua kalinya, menutupnya dengan sangat kasar. Sampai barang yang menempel di tembok pun bergetar karena kedahsyatan dari dorongan tangan Leonathan.


Sampai di dalam, Leonathan lantas memutar keran. Membiarkan air yang jatuh dari lubang shower membasahi tubuhnya. Tanpa melepas celana tidur hitamnya. Kedua tangan menempel pada dinding, kepala menunduk. Sepasang mata Leonathan terpejam, berharap ia bisa lebih tenang. Meski perlahan-lahan otaknya memaksa untuk mengingat peristiwa gila yang ia lakukan bersama Elle.


Bagaimana kejamnya dia yang mengambil alih tubuh Elle di saat kesadaran gadis itu sudah sangat minim. Walau sang empunya mengizinkan, namun Leonathan sadar betul bahwa Elle sudah terpengaruhi oleh minuman beralkohol. Rahang pria itu kembali mengeras di saat ingatan itu menari-nari di otaknya lagi.


"Mengapa aku sangat menyesal melakukannya?" tanya bibir Leonathan sembari membuka mata. Menatap tembok di hadapannya dengan tajam, lalu tangan kiri terkepal. Dua detik kemudian, kepalan tangan itu menghantam dinding dengan sangat keras. "Aku tidak bermaksud merenggut kesucianmu," geram Leonathan sebelum meninju lagi tembok putih kamar mandinya. "Aku tidak sengaja melakukannya."


Tak heran jika pria itu marah dan terkejut karena setelah tersadar dari tidur, Brielle tak ada di sampingnya. Terlebih lagi pergi dari rumahnya tanpa mengatakan apa pun. Leonathan sudah bisa merasakan apa yang dirasa oleh Elle begitu sadar di pagi hari. Pasti perempuan itu lebih terkejut, atau kemungkinan terburuknya adalah membenci Leonathan. "Aku harus mencari dan mendapatkan maaf darimu," janjinya sebelum melepas celana dan mulai membersihkan tubuh kekar yang bersih dan putih itu.


Tentunya dengan pikiran dan perasaan yang kacau Leonathan beraktivitas saat ini. Baru kali ini dia merasakan penyesalan yang besar setelah meniduri seorang gadis. Selama hidup di dunia, ia sama sekali tidak pernah merasakan hal seperti ini sebelumnya. Dari pertama menatap Elle, dia sudah bisa merasakan ada yang berbeda.


Namun, lagi-lagi nafsunya yang menggebu tidak bisa ditahan ketika melihat lekuk tubuh Elle dan betapa menariknya gadis itu ketika mereka semakin sering berbincang. Mendengar suara Elle saja, Leonathan mampu merasa tenang dan di dalam hatinya seakan menemukan rekan yang cocok untuk menghabiskan waktu lebih lama. Sangat lama, dan Leonathan tidak merasa bosan sedikit pun.


"TIDAK AKAN MELEPASKANMU!" teriaknya yang lagi-lagi memukul dinding kamar mandi dengan mata yang terbelalak lebar. "Tidak akan kubiarkan kau menjauh dariku, Elle."


Dua puluh menit lamanya Leonathan menghabiskan waktu di kamar mandi hanya untuk membuat tubuhnya lebih bersih dan harum. Dengan gesit, jari-jarinya memasang kancing satu-persatu dari bawah kemeja hitam yang membalut tubuhnya. Begitu selesai, digulungnyalah kedua lengan panjang tersebut sampai siku. Leonathan juga menghampiri ponselnya yang tertidur di atas ranjang, lalu mengantonginya. Tanpa mengambil jas hitam, ia keluar dari kamar. Karena di dalam mobil, Leonathan sudah menyiapkan beberapa jas bersih yang siap dipakai.


Leonathan tidak lupa untuk menutup pagar sebelum masuk ke dalam mobil BMW Z4. Duduk tepat di belakang setir dan sesudah itu memakai seatbelt. Ia mulai melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang. Tangan kirinya merogoh kantong celana hitam, dan mengambil ponsel tersebut dari sana. Leonathan mulai mencari nama Alice dan melakukan panggilan.


Satu panggilan tak dijawab, yang kedua juga masih tidak terjawab, ketiga pun masih sama, dan panggilan keempat mulai membuat Leonathan menggeram karena kesal. Satu yang ia sesali, dia belum sempat meminta nomor ponsel atau nama media sosial milik Elle. Jadi, jalan satu-satunya adalah meminta bantuan Alice, agar sahabatnya itu mau mengirimkan nomor ponsel Naomi. Dengan begitu, Leonathan bisa mendapatkan nomor pribadi Elle dari Naomi.


Hingga akhirnya, di panggilan yang kelima, Leonathan bisa mendengar suara serak Alice dari seberang. Terdengar jelas sekali bahwa perempuan itu baru bangun tidur. "Aku ingin meminta nomor ponsel sahabatmu Naomi. Kirimkan padaku secepatnya. Aku membutuhkan itu."


"Untuk apa? Kau terdengar memaksa dan terburu-buru. Apakah ada sesuatu yang aku tidak tahu? Kau melakukan kesalahan?" tanya Alice sekaligus menebak. Wanita berambut pirang bergelombang yang semula terbaring di ranjang, kini memilih duduk sambil mendengar suara Leonathan dengan saksama.


"Kirimkan saja nomor Naomi. Aku harus menutup teleponnya. Ingat perintahku, secepatnya. Aku sedang di jalan menuju kafe. Kuharap, setelah sampai kafe, kau sudah mengirimkan nomor Naomi. Sampai jumpa."


"Baiklah, sampai jumpa. Tetap fokus menyetir!" pesan Alice yang masih bisa tersampaikan sebelum Leonathan mematikan sambungan telepon dan mempercepat laju kendaraan roda empatnya. Dengan pandangan fokus ke depan, otaknya kembali pada sosok perempuan yang ingin dia kejar, Brielle Putri Adiharja.


***


Sudah berkali-kali Leonathan menghubungi nomor ponsel Naomi yang dikirimkan Alice padanya. Di sela-sela waktu istirahat seperti sekarang, ia juga mengirimkan pesan untuk sahabat Brielle itu, meminta nomor ponsel Brielle dan mengatakan bahwa dia sangat butuh nomor Brielle dalam pesan tersebut.


"Kenapa susah sekali menghubungi perempuan ini? Kenapa seolah-olah aku dipersulit menghubunginya?" tanya Leonathan seraya mendongak, tepat ketika berdiri dari tempat duduknya. "Aku benar-benar ingin meminta maaf, tetapi kau seakan tidak memberiku jalan keluar."


"Tidak bisa berbuat apa pun selain menunggu balasan Naomi," putusnya sembari menghembuskan napas lelah. Karena yang bisa memberikan informasi hanya perempuan itu, teman dari Brielle.


Berdiri di depan kaca ruangannya yang menampilkan pemandangan kafe lain, dan laut yang tak terlalu jauh dari kafe miliknya ini, Leonathan mengepalkan tangan. Tak habis pikir pada diri sendiri yang melupakan hal sepenting itu, data gadis yang menarik hatinya. Jika waktu bisa diputar kembali, Leonathan pasti ingin mencari informasi Brielle lebih detail, tidak seperti semalam yang asal bermain karena larut dengan situasi dan perasaan.


"Apakah aku menggunakan perasaan?" tanyanya pada angin, tidak yakin. "Aku tak akan melukainya jika memakai perasaan, ya, tidak mungkin aku berani berbuat jika perasaanku ikut andil." Lagi-lagi Leonathan membuang udara melalui hidung dengan kasar. "Kupikir, itu hanya nafsu."


Ingin rasanya dia meninju kaca bening jendela yang disentuh tangan kirinya saat ini sampai pecah, melampiaskan kemarahan dan penyesalan. "Aku harus mendapatkanmu dan maaf darimu secara langsung, Elle." Kini ia hanya bisa berharap pada Tuhan agar Naomi cepat membaca pesan darinya dan segera memberi balasan. Perasaannya seperti mendesak dirinya sendiri untuk menggapai Brielle, wanita yang ia sentuh tanpa mengetahui semua asal-usulnya lebih dalam.


"Jika semalam aku menanyakan nomor, alamat, dan tempat kerjamu, mungkin sekarang aku bisa mendekapmu." Sesuatu yang disesalkan oleh Leonathan, lupa menanyakan hal penting ketika berkenalan dengan seorang wanita. "Betapa bodohnya?!"


Waktu berlalu, dan kini yang dilakukan Leonathan mendengarkan pesanan pembelinya. Pria itu tidak ragu atau malu membuatkan kopi untuk para pembeli meski statusnya sebagai pemilik kafe. Hanya membuat kopi hatinya merasa jauh lebih tenang dan berpikir jernih. Terlebih lagi aroma kopi yang menyengat begitu memberikan kelegaan bagi pecinta kopi sepertinya. Pikirannya bisa teralihkan dari sosok wanita itu walau sejenak.


Ketika baru saja membuat segelas kopi yang rasanya tidak terlalu kuat dan kental, yakni kopi Americano, ponsel di dalam saku celananya bergetar. Keluar dari bar cafe miliknya, Leonathan merogoh saku celana. Menempatkan benda pipih gelap itu di telinga kanan, sang penelepon memberitahu kabar yang membuatnya terkejut bukan main. Sambil terus mendengarkan, langkah kakinya menuntun ke sebuah ruangan. Ruang khusus untuknya berpikir sekaligus rehat.


"Apa kau bisa menjelaskannya di sini? Aku masih di kafe, kemarilah." Sang penelepon yang merasa keberatan, mengatakan tidak setuju. "Ayolah, Alice. Sekali ini saja, jangan hanya menjadi pemaksa. Kau pikir hanya dirimu yang bisa memaksa?" Leonathan sampai mengacak-acak rambutnya karena Alice tak ingin datang ke kafe Mixture pimpinannya. "Aku bosmu, bukan kau yang mempekerjakan diriku. Kau yang kemari!" Panggilan pun ditutup sepihak oleh Leonathan. Lelaki itu memilih menarik napas dalam-dalam sebelum memandangi langit senja yang sebentar lagi akan digantikan dengan gelapnya langit malam.


"Memang aku akui aku pria berengsek karena membuatmu tak sadarkan diri tadi malam. Tetapi, kau juga harus tahu ... dari sekian banyaknya wanita yang pernah aku temui, hanya kau yang membuatku tertarik dan menyesal sudah melakukan hal itu padamu, Elle." Tiba-tiba saja ponselnya bergetar lagi. Begitu dilirik siapa pelakunya, Leonathan membalas, "akhirnya kau menuruti perintahku juga, Alice."


Dua puluh menit setelah Leonathan menerima pesan bahwa Alice akan datang ke kafe pimpinannya, baik Leonathan maupun Alice sudah berada di tempat duduk. Keduanya saling berhadapan, ditemani kopi Cappuccino di masing-masing tangan mereka. Di meja nomor dua puluh itu Alice mulai mengabari hal terburuk yang tidak ingin Leonathan dengar.


"Semua yang aku katakan barusan memang nyata, Nath ... Naomi hanya singgah sebentar di Bali. Kemungkinan besarnya, Naomi tidak ingin tanggung jawab dengan apa yang menimpa wanita itu karena ulahmu semalam."


"Bisa-bisanya kau berpikir begitu dengan sahabatmu sendiri?"


"Ya, dia teman lamaku. Tetapi tidak menutup kemungkinan jika dia memiliki sifat seperti itu. Zaman sekarang ini kita semakin sulit memercayai orang lain. Bukan begitu?"


Sambil mengusap-usap dagunya dengan jempol, Leonathan mendesah dengan hembusan napas panjang keluar dari hidungnya. "Kau ini sekalian cerita masalah pribadimu?" Alice mengangkat bahu, kemudian menyesap kopi Cappuccino yang teramat kental, manis, dan sedikit pahit di lidah. "Apa pesan darimu juga belum dibaca Naomi?" Alice mengangguk tanpa bersuara, masih menikmati kopinya. "Ya sudah, terima kasih sudah memberikan sedikit informasi yang semakin membuatku putus asa."


"Apa kau benar-benar sudah jatuh cinta dengan wanita itu?"


"Jika tidak, aku tidak akan menidurinya. Kau sendiri tahu, selama ini aku tidak pernah berhubungan badan dengan siapa pun, termasuk dirimu. Aku hanya ingin melihat tubuh mereka, tidak lebih." Alice begitu paham, keberengsekan Leonathan masih dibatas yang menurutnya normal. "Aku bukan pria lain yang sejenis dengan mantan kekasihmu, hanya mengincar tubuh saja tanpa mencari kenyamanan."


"Berhenti memuji dirimu sendiri dan menjelek-jelekkan kenalan atau mantanku! Sudahlah, aku ingin pergi ke klub."


"Tidak! Kembali ke kafe, kau ini aku gaji, jangan makan gaji buta, Alice."


Alice tetap pergi, ia bangun dan menggeleng. "Aku harus menjernihkan otak dari bejatnya perlakuan seorang pria. Kau pasti memahamiku." Sesudah itu melenggang pergi dari meja nomor dua puluh tersebut sembari melambaikan tangannya.


"Apa aku harus mengganti pemimpin kafe keduaku itu?" gumamnya seraya berdiri. Leonathan memilih keluar dari kafe Mixture miliknya ini, kafe pertama yang dipimpinnya sejak berumur dua puluh tahun. Itu tandanya umur kafe Mixture pertama atau pusat kafe Mixture ini sudah menginjak umur lima tahunan. Berbeda dengan kafe Mixture kedua yang kini berada di bawah pimpinan Alice, masih dua tahun, jalan tiga tahun. Jika Alice tidak berniat memajukan kafe keduanya, lebih baik dia memecat Alice dan mencari pemimpin yang pantas mengelolanya.


Leonathan memilih untuk masuk ke dalam mobil BMW Z4 hitam yang terparkir rapi. Menaikinya, dan mengendarai mobil mahal itu ke arah rumahnya. Ketimbang lari ke klub, pikirannya tidak bisa teralihkan dari sosok Brielle yang disakitinya. Leonathan yakin, wanita itu pasti sakit hati dan menyimpan kebencian padanya.


Sampai di rumah, lelaki itu lari ke kamar dan masuk ke kamar mandi. Ada celana dan pakaian yang belum ia cuci berada di lantai dan di sudut pintu kamar. Mengambil keduanya, Leonathan mengecek kantong celana yang kemungkinan ada barang tertinggal di sana. Benar saja, ia menemukan sesuatu. "Apakah ini salah satu petunjuk dari-Mu?" tanyanya dengan perasaan terkejut. Bagaimana tidak? Leonathan mendapatkan kartu pengenal, atau KTP milik Brielle yang ternyata sempat ia ambil sebelum dia melakukan hubungan badan. "Aku tidak ingat pernah mencuri barang ini dari tasnya."


Menyimpan tanda pengenal itu di nakas, Leonathan lantas masuk ke kamar kecil dan memulai aksi bersih-bersih badan secara kilat sebelum mencari alamat wanita itu. Ia pun tersenyum lega karena Tuhan masih mengizinkannya untuk mencari cinta pertamanya.