LIKE HEROIN

LIKE HEROIN
PERGI



Frustrasi itu masih saja dialami Choi Jimin. Berjuta masalah datang serentak menghantui dan memenuhi pikirannya. Bingung dengan apa yang harus dilakukan. Pertama adalah masalah yang ditimbulkan oleh ayahnya yang terus berusaha keras untuk menariknya pulang dan melanjutkan bisnis gelap keluarga mereka, kedua adalah masalah yang sebenarnya ia timbulkan sendiri. Choi Jimin menggila. Ya, menggila karena otaknya mulai terus-menerus memikirkan Park Hana. Terlebih lagi setelah ia menggunakan jasanya beberapa malam lalu.


"Arghhhhh...." Erangan frustrasi itu terus-menerus keluar dari bibir Choi Jimin. Menghela nafas kasar dan berharap masalahnya bisa ikut terbuang keluar bersamaan dengan nafas yang ia embuskan.


Otak Jimin secara terus-menerus memutar kenangan malam itu seperi sebuah film. Malam indah yang ia lalui bersama wanita yang bahkan ia tak mengenalnya dengan begitu baik.


Ponsel yang mulanya teronggok terabaikan di atas nakas kini beralih pada tangan kekar dengan vein yang tercetak jelas. Begitu maskulin. 


Deretan huruf membentuk untaian kata dan kalimat, diketik dengan cepat oleh dua buah jempol yang menari pada keyboard.


"Tolong cari tahu informasi mengenai wanita ini!"


Choi Jimin mengirimkan pesan itu pada seorang teman yang bisa melacak segala informasi tentang seseorang, teman yang akan tahu dimana musuhnya berada. Jimin mengirimkannya bersamaan dengan sebuah foto. Entah dari mana Choi Jimin bisa mendapatkan foto itu.


"Kita lihat saja semuanya sebentar lagi. Semoga perasaanku ini tak salah." Choi Jimin menggumam kala ia berhasil mengirim pesan tersebut.


***


Ketukan pintu terdengar semakin kencang bersamaan dengan bell yang dibunyikan secara berulang. Agaknya para penghuni rumah sedang tak berada di sana.


Dua orang pria masih berdiri di depan pintu yang tak kunjung terbuka dan di buka.


"Permisi. Apa anda tahu kemana pemilik rumah ini pergi?" Seorang pria yang mungkin sedikit lebih tua menghampiri Choi Jimin yang kebetulan keluar dari unit miliknya.


"Tidak. Kalian siapa?" Jimin memasang curiga pada dua orang pria itu. Tapi apa yang Jimin katakan adalah sebuah kenyataan, Jimin memang tak tahu keberadaan tetangganya itu. Terhitung sudah tiga hari setelah malam yang ia habiskan bersama Hana di club malam. Jimin tak pernah melihat keberadaan Hana, Hayeon juga si kecil Heejin. Jimin tahu itu dari kamera pengawas yang sudah ia pasang di sudut lorong dan tersambung secara langsung dengan handphonennya.


"Terima kasih, Tuan." dua orang pria itu kemudian pergi. Meninggalkan lorong dan Choi Jimin yang masih berdiri di sana.


"Kemana kalian pergi?" Lirih. Terdengar sangat lirih. Entah kenapa Choi Jimin menjadi segila itu. Jimin seperti seorang suami yang baru ditinggal pergi seorang istri dan anak.


***


"Hana. Apa kau yakin dengan keputusanmu?" Hayeon terlihat sangat takut.


"Hayeon-ah. Aku mohon jangan menanyakan itu lagi. Aku sudah sangat yakin dengan keputusanku. Aku ingin berhenti. Berhenti menjadi kupu-kupu."


"Lalu bagaimana dengan wanita yang kau sebut mommy itu? Bagaimana jika ia mengetahui keberadaan kita? Aku takut jika wanita itu nekat menculik Heejin."


"Tenanglah. Aku tidak akan pernah membiarkan hal itu terjadi. Yang penting sekarang kau dan Heejin bersamaku. Dengarkan apa yang aku katakan. Mudah-mudahan tidak akan ada yang tahu keberadaan kita."


Sudah menjadi keputusan Park Hana untuk pindah dari tempat tinggal lamanya. Setidaknya di tempat tinggal yang baru tidak akan ada yang mengetahui mereka. Kakaknya, ibu mucikarinya, dan yang satunya lagi tentulah Choi Jimin.


Hana mulai merasa resah tinggal di tempat lama. Resah karena terus dipaksa kembali dan menikah, resah karena anaknya sedang dalam incaran, resah karena ia baru saja mengetahui satu fakta yang berhasil membuatnya bingung sekaligus takut luar biasa.


Hana dan Hayeon tampak sedang saling diam. Tenggelam dalam pikiran masing-masing, hingga pikiran mereka terkecai kala Heejin menagis dan terbangun dari tidurnya.


"Anak ibu kenapa menangis?" Tak butuh waktu lama bagi Hana untuk langsung menyambut putrinya untuk bangkit dari tempat tidur, membawa gadis kecilnya masuk dalam pelukan, mengusap punggung mungil itu dengan pelan dan begitu lembut, mencium pipi gembul yang sedikit merah itu dengan hangat. 


LOVE


Author: Ameera Limz