LIKE HEROIN

LIKE HEROIN
TAMU



Lagi-lagi mimpi buruk itu datang menghantui Park Hana, hingga tidurnya tak akan pernah menjadi nyenyak dan tenang, mimpi itu seperti bayangan yang akan selalu mengikuti setiap langkah Hana, membayangi dirinya, membayangi setiap urusannya sehingga Hana akan merasa begitu sulit untuk melakukan apapun.


Hana terbangun dari tidurnya yang gelisah, nafasnya tersengal-sengal seperti baru saja habis lari marathon, dan tubuhnya sangat berpeluh setelah mengalami mimpi itu.


Jijik dan frustrasi Hana jadinya, bagaimana bayang-bayangan dirinya yang melengguh dibawah kuasa tubuh lelaki yang sama sekali tak dikenalinya, bagaimana ia juga tidak sadar telah ikut menikmati setiap kenikmatan yang ditawarkan padanya, semua itu terus berputar bak sebuah scene dalam film yang selalu membuat Hana terbayang. Hal yang Hana bisa kenali dari lelaki yang selalu datang dalam mimpinya hanyalah pada bagian punggung atas lelaki itu terdapat bekas sebuah luka, Hana sekilas mengingatnya dan saat itu juga Hana tanpa sengaja menyentuh bekas luka yang terasa timbul.


“Sampai kapan? Sampai kapan semua ini akan berakhir? Aku muak jika harus terus dibayang-bayangi kejadian dua tahun lalu itu.” Hana mengerang frustrasi setelah ia menyadari hal barusan adalah sebuah mimpi yang akan selalu datang menghampiri di setiap tidurnya.


“Ibu, maafkan aku. Aku gagal menjadi anak perempuanmu yang baik. Aku tak seharusnya pergi dari rumah hanya karena aku membenci Kakak, harusnya aku masih bertahan di sana meski aku tak akan pernah bicara padanya, setidaknya aku tidak akan menjadi seperti sekarang. Aku sudah mengecewakanmu.” Setiap kali Hana teringat dan terbayang kenangan buruk itu, ia akan menyesali keputusannya, ia akan terus meminta maaf pada sang ibu, meski ibunya tak akan pernah lagi bisa menjawab dan membalas permintaan maafnya yang melirih itu. 


Sebulan, sudah satu bulan setelah Park Hana menelpon temannya dan mengatakan akan pulang untuk menjenguk putri kecilnya. Nyatanya Hana tak bisa melakukan itu. Ia sama sekali tak di perbolehkan pergi kemanapun oleh wanita yang ia sebut Moomy, wanita yang akan membantunya mendapatkan laki-laki hidung belang yang akan menggunakan jasanya. Sekarang Hana benar-benar terikat. Tak bisa melakukan apapun selain menurut karena jika dirinya menolak semua perintah maka sang Moomy akan menculik putri kecilnya. Tidak, itu tak akan pernah terjadi, Hana tak akan membiarkan putrinya menjadi korban. Satu-satunya cara agar Hana bisa bertemu dengan putrinya adalah meminta bantuan Hayeon sahabatnya untuk datang membawa Heejin padanya.


Dering bell unit Hana berbunyi. Hana yang agaknya sedang sibuk mempercantik diri itu seketika menjadi begitu semangat untuk membukakan pintu. Angannya untuk bertemu sang putri begitu besar.


Tak butuh waktu lama. Hanya sekitar beberapa detik saja hingga pintu di buka oleh Hana.


“Heejin, ib...” Kalimat Hana terputus, seketika wajah cerianya berubah menjadi murung. Yang datang bukanlah yang sedang ia tunggu. Melainkan sosok lelaki dibalik pakaian serba hitamnya. Hana mengerut dahi. “Maaf, anda siapa?”


“Baru kali ini aku bertamu tapi tak dipersilahkan masuk lebih dulu, justru langsung di rundung pertanyaan.” Sosok lelaki itu agaknya tengah menyindir sikap sang pemilik rumah yang tak sopan membiarkan tamunya berdiri di ambang pintu begitu saja.


Oh, sekarang Hana tau siapa lelaki di hadapannya sekarang ini. Lantas membuka lebih lebar pintu rumahnya dan mempersilahkan tamunya ikut masuk. 


“Silahkan duduk. Maaf disini tidak ada apa-apa yang bisa aku sajikan pada seorang tamu melainkan secangkir teh hangat.” Hana yang sudah mempersilahkan tamunya untuk duduk itu lantas tak ikut duduk, melangkah ke bagian dapur yang letaknya bersampingan dengan ruang tamu yang sempit itu. Mengeluarkan satu buah cangkir dari rak. Niatnya ingin membuat secangkir teh untuk tamunya itu.


Sang tamu itu terlihat sedang menelisik seluruh sudut ruangan dengan mata elangnya. Tak ada yang aneh dan mencurigakan. Tak ada juga benda menarik yang ia lihat di tempatnya berada sekarang.


Pun kemudian mata elang itu beralih memperhatikan sang tuan rumah yang sibuk dengan secangkir teh. Posisi sang tuan rumah sedang membelakangi.


Mata elang itu seolah tak bisa berhenti untuk menatap ke arah Hana, hingga Hana berbalik badan dan menyadari dirinya sedang di tatap dengan begitu tajam. Tatapan mata elang itu seperti sedang menelanjangi dirinya. Membuat Hana sedikit salah tingkah. Ternyata Hana memiliki pesona memikat yang luar biasa. Kulit putih bersihnya, kaki jenjangnya, tubuh rampingnya, mata hitam bulatnya yang berbinar, bibir merah dan tipisnya yang menggoda, juga rambut coklat bergelombangnya yang panjang. Semua sangat menarik. Sangat. 


“Katakan padaku apa maksud kedatangan tuan tetangga kemari?” celetuk Hana yang merasa aneh di tatap seperti itu. Duduk pada kursi yang berbeda. Menyodorkan secangkir teh yang baru ia buat pada sang tamu.


“Namaku bukan tuan tetangga. Aku punya nama.” Celetuk jimin. Ya, kalau bukan Jimin lalu siapa lagi, di lantai paling atas hanya mereka berdua. Itu artinya mereka bertetangga.


“Lantas aku harus memanggil anda dengan sebutan apa? Aku bahkan tidak kenal dengan anda.” Benar juga, Mereka belum saling mengenal satu sama lain.


“Harusnya aku juga tidak menerima tamu yang tak penting. Harusnya aku tak membukakan pintu.” Hana kesal dengan jawaban yang keluar dari mulut tamunya itu.


“Aku kemari hanya ingin memberikanmu sebuah peringatan.”


“Peringatan apa?” Hana coba menatap langsung pada manik hijau milik Jimin. Dan anehnya adalah mereka justru seperti sedang tersihir kala kedua manik mereka saling beradu pandang. Untuk beberapa saat keduanya terdiam dan terjebak pada lamunan masing-masing.


Jika saja tak ada bunyi pintu yang di ketuk, mungkin keduanya masih betah saling memandang.


“Ekhem... Maaf, jika ada yang ingin di katakan maka katakan dengan segera. Aku memiliki tamu, jika tak jadi untuk mengatakannya maka anda bisa pergi dari sini. Kita bisa bicara lain waktu.” Hana tersadar lebih dulu. Lantas bangkit dan akan membukakan pintu. Kali ini Hana yakin yang datang adalah Hayeon dan Heejin yang ia tunggu sejak tadi.


Jimin berdiri. Cukup sadar diri akan posisinya sebagai tamu. Ada apa ini? Bukankah tujuannya kemari untuk membuat Hana bungkam? Dan yang ada sekarang ia jadi seperti orang yang linglung setelah kedua mata mereka saling beradu pandang beberapa detik lalu. Dan Jimin melangkah menuju pintu dan keluar ketika Hana membukakan pintu untuknya. Bukan, bukan hanya untuknya. Tapi untuk tamu yang sudah menunggu di luar sana juga. 


Mencoba untuk melangkah keluar tiba-tiba langkah Jimin terhenti kala anak perempuan kecil yang ada di ambang pintu memanggilnya dengan sebutan ayah. Hatinya menghangat melihat betapa cantik dan lucunya gadis kecil itu. Jimin tersenyum ramah menanggapi panggilan dari anak kecil tersebut.


“Heejin-ah. Itu bukan ayahmu Nak.” Hayeon mengusap punggung Heejin yang berada dalam gendongannya. “Ma-maafkan putriku. Dia memang memanggil laki-laki dewasa yang ditemuinya dengan sebutan ayah.” Hayeon membungkuk sedikit, meminta maaf pada Jimin. Padahal Jimin sedikitpun tak mempermasalahkan itu. Hayeon juga terbiasa mengatakan jika Heejin adalah putrinya, padahal dia sendiri pun belum menikah.


Jimin kembali tak sadar jika dirinya sedang tak menggunakan masker sebagai penutup sebagian wajahnya. Ia membukanya sejak menyeruput teh yang disajikan Hana. Sepertinya Jimin sendiri tak sadar akan hal itu. Sepertinya Jimin benar-benar linglung sekarang padahal Hana tak melakukan apapun padanya selain memberikannya secangkir teh.


Jimin hanya mengangguk sembari tersenyum pada gadis kecil di hadapannya, kemudian pergi dari hadapan mereka semua dan Jimin agaknya perlu mengatur waktu yang tepat untuk bisa bicara pada Hana. Agar wanita itu tak pernah membongkar keberadaan dirinya jika suatu waktu dirinya sedang berada dalam daftar pencarian polisi.


***


“Siapa laki-laki barusan?” Hayeon langsung merundungi pertanyaan pada Hana.


“Hanya tetangga. Dia penghuni unit paling ujung.” Hana mengambil alih Heejin yang berada dalam gendongan sahabatnya. Putri kecilnya sangat pandai dan manis, Heejin sedikitpun tak merasa asing pada Hana meskipun mereka jarang bertemu. Gadis kecil itu tahu jika Hana adalah ibu yang sesungguhnya dan Hayeon hanyalah ibu asuhnya.


Hayeon sepertinya masih agak ragu. Pasalnya Hayeon seperti menyadari sesuatu dari sosok Jimin barusan. Ia seperti melihat ada sosok Heejin pada pria tadi. Entah dari sudut mananya yang membuat Hayeon bisa melihat Heejin dari Jimin. Tapi Hayeon tak ingin terlalu banyak bertanya lagi, takut pertanyaannya bisa membuat sahabatnya sakit karena harus mengenang kembali kenangan buruk itu. 


LOVE


Author: Ameera Limz