LIKE HEROIN

LIKE HEROIN
DOKTER KIM



Jimin tak mengerti apakah semua yang dikatakan Hana adalah kebenaran atau sebuah kebohongan belaka. Hanya saja ia merasa bahwa dirinya masih harus mencari tahu banyak hal. Meyakinkan, dan memastikan segala hal terlebih dahulu.


Jimin juga tak mengerti bagaimana bisa dirinya begitu patuh, menurut pada perintah Park Hana. Duduk berselonjor kaki pada sofa, untuk mengganti perban pada semua lukanya.


"Apa sebenarnya kau sudah tahu siapa lelaki bejad yang sudah membuatmu melahirkan Heejin?" Jimin bertanya prihal itu.


Hana terlampau malas menanggapi pertanyaan Jimin. Kesal juga. Rasanya Hana ingin mencongkel luka di betis Jimin yang sedang ia bersihkan. Agar pria itu diam. Berhenti banyak bertanya.


"Ya. Dia memang bejad. Sangat bejad. Tapi aku belum tahu siapa orangnya." Hana tersenyum remeh yang dibuat-buat.


"Aaaaww..... Bisa tidak pelan sedikit?" Meringis merasakan sakit pada betisnya. Hana mengganti perbannya dengan sedikit kasar.


"Diam. Berhenti banyak tanya jika tak ingin aku melakukannya lebih kasar lagi daripada ini!" Okay. Agaknya Jimin memang perlu diam untuk sementara waktu. Banyak bertanya ternyata tak baik baginya, karena akan menimbulkan rasa sakit yang teramat.


Pun akhirnya Hana melakukan segalanya begitu telaten. Membersihkan luka Jimin dengan pelan menggunakan antiseptik, kemudian membalutnya dengan perban yang baru dan steril.


Hana tak sadar. Ditengah kesibukannya pria bermata elang itu menatapnya secara diam-diam. Seperti ada cinta didalamnya. Seperti ingin menelanjangi juga. Terlalu dalam dan tajam. Jimin sendiri juga tak tahu dengan apa yang sebenarnya ia lakukan. Hatinya telah lama mati dan dipenuhi oleh dendam yang menguasai. Jadi, Jimin pun tak tahu dengan apa yang ia rasakan kala menatap wanita dihadapannya.


Hana sudah selesai dengan luka yang ada di kaki. Membuat Jimin sontak menyadarkan dirinya. Menggiring kembali pikiran yang sepertinya mulai berkelana entah sampai kemana.


"Luka di bahumu. Apa kau bisa mengganti perbannya sendiri?" Hana berdiri.


"Kau pikir tanganku ini elastis? Kau pikir aku punya mata dibalik kepalaku? Bagaimana mungkin aku melakukannya sendiri." Benar juga. Tak mungkin bagi Jimin untuk melakukannya seorang diri. Hana mungkin terlampau canggung hingga bingung dengan apa yang akan ia katakan.


"Baiklah. Aku akan membantumu. Tapi bisakah kau membuka bajumu sendiri?"


Jimin tersenyum. Sedikit menyeringai dengan tatapannya yang nakal. "Kau bisa membukanya!"


"Aku rasa tanganmu tak apa-apa, Tuan. Kau sepertinya masih mampu untuk membukanya sendiri." Hana membuang muka. Ada malu juga sebenarnya.


"Kenapa? Kau malu? Bahkan malam itu kau yang dengan agresif membuka pakaianku, Nona. Kau lupa? Kau sudah pernah membuatku telanjang di depanmu." Sialan, bisa-bisanya Jimin berkata demikian. Apa dirinya tak mengerti bagaimana Hana sekarang? Kesal sekaligus malu. Semu merah di wajah muncul bagai perona alami.


"Berhenti bicara demikian. Lakukanlah sendiri olehmu!" Kesal. Kenapa Jimin dengan ringannya bisa membahas hal itu. Tak tahukah Jimin jika hal itu terlalu sensitif untuk dibahas.


"Maaf. Aku tidak bermaksud."


"Lupakan. Sekarang buka bajumu!"


Seperti mantra. Lagi-lagi Jimin menurut patuh. Seperti anjing peliharaan yang lucu.


Sialan, hanya dengan tato bagaimana bisa Hana sampai terkagum-kagum sampai tak berkedip. Jimin yang menyadari, ingin sekali rasanya menggoda wanita di hadapannya.


"Ada apa? Kau tertarik dengan tubuhku? Ingin bisa menyentuhnya lagi?"


Ingin rasanya Hana menyumpal mulut sialan itu dengan sepatu, atau lebih baik menjahitnya dengan jarum jahit pakaian. Frontal tak bisa di filter.


"Lebih baik kau mati saja!" Kembali Jimin membuat Hana kesal sekaligus malu.


Jimin hanya terkekeh kecil, kemudian Hana yang bergerak duduk di tepi ranjang. "Berbaliklah!"


Jimin membalik tubuhnya. Membelakangi.


Kembali Hana melihat bekas luka itu. Besar dan itu sedikit timbul. Pikirannya sempat berkeliaran beberapa detik, kemudian Hana coba fokus pada luka yang masih basah, melepas perban yang kemarin.


Fokus Hana kemudian teralihkan pada helai rambut Jimin yang jatuh dan menempel di tengkuk. Tanpa perintah Hana mengambil helaian rambut itu dengan pelan, hingga Jimin tak menyadari. Hana menyelipkan helai rambut itu pada kotak obat yang ia bawa. Disana juga ada selembar kapas yang terlumur darah dan suda mengering.


"Aku rasa kau sudah cukup sehat untuk kembali ke rumahmu. Tak baik juga kau terlalu lama di sini. Kau bisa pergi setelah ini!" Ini terdengar seperti sebuah pengusiran. Tapi, apa yang Hana lakukan adalah yang terbaik. Tak ingin terlalu lama terjebak satu atap dengan Choi Jimin. Terlalu bahaya.


***


Penghujung musim gugur, hawa pun terasa mulai dingin dan siap berganti dengan musim dingin. Dimana butiran salju akan jatuh, menutup, memutih dan menghampar di Bumi.


Hana coba merapatkan mantel panjang yang ia gunakan. Mengancingnya hingga akhir.


Langkah Hana dengan sepatu yang hak nya tak terlalu tinggi itu, terlalu menggema di lorong rumah sakit yang sepi dan senyap. Hana akan menemui seorang dokter yang begitu dekat dengannya. Dokter pria yang tampan, tinggi, menawan juga pandai luar biasa.


Terkejut dengan langkah panjang seseorang yang tiba-tiba sudah berada di depannya.


"Kenapa begitu terkejut?" Dokter pria dan masih muda itu tersenyum dan sedikit terkekeh. Begitu manis. Ditambah dengan kedua dimple yang ada di pipi, manis itu kian bertambah jadinya.


"Kau sudah melakukan segalanya?" Tanya Hana yang agaknya tak sabaran.


"Wow... Santailah sedikit, Nona. Sepertinya kau tak sabaran sekali ya?" Dokter muda itu tertawa. "Kita di ruanganku saja?" Dokter dengan marga nama Kim itu mendekat kearah Hana, berbisik pelan tepat di samping indra rungu Hana. Nafasnya begitu terasa, mengembus dengan hangatnya. 


LOVE


Author: Ameera Limz