LIKE HEROIN

LIKE HEROIN
AWAL



Sebutlah wanita itu Hana. Ya, lengkapnya adalah Park Hana. Perempuan berusia 24 tahun. Sudah setahun ini ia tinggal di lantai enam rusun yang sama dengan Choi Jimin. 


Sebenarnya Hana adalah wanita yang cukup kaya raya. Sebelum kedua orangtuanya meninggal Hana dan kakak laki-lakinya Hejoon ditinggalkan begitu banyak harta berupa rumah mewah juga aset berharga lainnya. 


Hanya saja Hana memutuskan pergi dari rumah empat tahun yang lalu, tinggal di kota yang berbeda dengan kakaknya yang masih menetap di Busan. 


Awal kepergian Hana dari rumahnya adalah ia yang tidak bisa hidup bersama kakak lelakinya. Kakak lelakinya itu sangat kejam, saking kejamnya rela membunuh istrinya sendiri tepat di hadapan Hana. 


Hana tak bisa hidup dengan orang yang kejam. Akhirnya Hana pergi meninggalkan Busan menuju Seoul. Di Seoul Hana memulai hidupnya sendiri dengan berjuta masalah. 


Bermula dari Hana yang bekerja sebagai gadis penuang minuman di sebuah club malam, kemudian mendapati masa depannya hancur di club malam tersebut. 


“Bagaimana keadaan Heejin?” tanya Hana pada seseorang melalu sambungan telepon. Seseorang itu adalah sahabat yang sangat ia percaya untuk menjaga Heejin. 


“Dia baik-baik saja, semakin aktif dan semakin pandai bicara. Kapan kau akan kemari?”


“Bulan depan.”


“Baiklah, kami tunggu kedatanganmu bulan depan.”


“Hayeon-ah, bisa aku meminta tolong sesuatu padamu lagi?” Sebenarnya Hana sangat ragu untuk mengatakan itu. Tapi, mau tak mau ia membutuhkan bantuan sahabatnya Hayeon. 


“Apapun itu selagi aku masih bisa membantu.” Ucap Hayeon begitu yakin di seberang sana. 


“Tolong serahkan Heejin pada kakakku jika aku tidak kembali bulan depan!”


“Tapi kenapa? Bukankah kau sangat membenci Hejoon?”


“Aku memang membencinya. Tapi hanya ia keluargaku satu-satunya sampai saat ini. Biarpun ia kejam, tapi ia sangat menyayangi anak kecil, aku hanya yakin ia akan menjaga Heejin dengan baik.”


“Tapi aku juga bisa menjaga Heejin dengan baik.” Protes Hayeon, Hayeon sudah menganggap Heejin bak anaknya sendiri. 


“Tidak, kau masih gadis, dan kau akan menikah, aku tidak mungkin merepotkanmu lebih banyak lagi.” Jawab Hana, “aku akan berangkat kerja sebentar lagi. Lain waktu aku akan menelponmu lagi. Dan untuk kebutuhan Heejin aku akan mentransfernya besok.”


Setelah selesai menelpon sahabatnya yang bernama Hayeon, Hana mengganti pakaiannya dengan jeans oversize seperti semalam, lengkap dengan topi juga masker yang akan selalu menutup rapat wajahnya yang cantik bahkan nyaris sempurna itu. 


Seperti biasa Hana harus terus bekerja demi bisa mengumpulkan banyak uang, demi tanggung jawabnya terhadap Heejin. 


Hana bekerja di sebuah club malam, di sana awalnya memang bekerja sebagai penuang minuman untuk tamu VIP. Tapi, setahun belakangan ia juga bekerja sebagai wanita yang menjual jasa, jasa untuk memuaskan hasrat sex lelaki  berhidung belang. 


Kalau dibilang kenapa bisa ia bekerja seperti itu? Itu berawal karena ia yang merasa dirinya sudah kepalang hancur, kepalang kotor, dan kepalang menyelam dalam dunia yang kelam dan suram itu.


Berawal dari ketika dirinya yang tak sengaja terjebak cinta satu malam dengan seorang lelaki yang bahkan ia tak ingat bagaimana rupanya, karena saat itu terjadi, suasana kamar begitu gelap, hanya mampu menampakkan siluet dari lelaki yang bergerak diatasnya kala itu. 


Dari hubungan cinta satu malam itu pula lah Hana akhirnya harus menerima kenyataan jika ia hamil, ditubuhnya sudah ada janin yang tersemayam, sebuah kehidupan di dalam tubuhnya. Saat itu juga Hana merasa dunianya benar-benar sudah hancur, sudah tak bisa untuk di perbaiki lagi. 


Akhirnya dua bulan setelah melahirkan Heejin, Hana memutuskan untuk menitipkan Heejin pada seorang sahabat yang amat sangat di percayai olehnya. Kemudian kembali bekerja di club malam tempat ia terjebak cinta satu malam kala itu, bedanya kali ini Hana juga bekerja sebagai wanita penghibur di sana. Toh, dirinya sudah kepalang hancur, dan Hana juga membutuhkan banyak uang untuk bisa menghidupi Heejin. 


***


“Sudah ada kabar tentang anak sialan itu?” 


Seorang lelaki parubaya sedang bertanya dengan wanita yang juga sama  parubayanya. Keduanya sedang berada di ruang makan. 


“Masih belum ada.” Wanita parubaya itu menjawab sembari menunduk, tanpa berani untuk menatap. Seperti sedang menyembunyikan sesuatu yang begitu besar. 


“Sialan, dia pikir dia bisa hidup tanpa bantuan dana dariku? Pasti sekarang anak sialan itu sudah menjadi gelandangan.”


Dalam hati wanita parubaya yang bernama Hwan itu sedikitpun tak khawatir dengan ucapan suaminya. Ya, ia tahu bagaimana keadaan putranya sekarang, putranya baik-baik saja, sekalipun tinggal di tempat yang begitu tak layak, setidaknya putranya yang tampan tidak menjadi gelandangan seperti yang suaminya katakan. 


Hwan sudah tahu dimana anaknya berada, tapi ia menyembunyikan kenyataan itu dari suaminya, juga putra sulungnya yang bernama Jiseok, itu semua ia lakukan karena putranya sendiri lah yang memintanya, untuk menyembunyikan hal itu, dan Hwan tidak keberatan, karena ia tahu jika putranya tinggal di rumah maka putranya akan selamanya tersiksa dan terkekang dengan semua aturan yang sudah di buat oleh suaminya, cukuplah putra pertama dan putrinya saja yang menjadi korban, tidak dengan Jimin putra bungsunya. 


Ya, keluarga Choi Jiseung, keluarga mafia kaya raya, memiliki banyak harta yang sangat berlimpah. Choi Jimin adalah anak terakhir di keluarga itu, Jimin memiliki kakak pertama laki-laki bernama Jiseok dan kakak perempuannya yang meninggal bernama Jieun. 


Dari kecil sebenarnya Jimin sangat menghormati ayahnya, ia bahkan sangat bangga dengan ayahnya yang seorang bos mafia itu. Namun kemudian ia menemukan sebuah kenyataan jika ayahnya justru memanfaatkan anak-anaknya untuk urusan bisnis mereka, Jiseok kakak lelakinya dinikahkan dengan anak seorang kontraktor yang jauh lebih kaya dibandingkan dengan keluarga mereka. Kemudian Jieun kakak perempuannya di nikahkan dengan seorang laki-laki yang juga tak kalah kaya rayanya. 


Jimin sangat dekat dan menyayangi kedua saudaranya, meski Jimin adalah anak bungsu, Jimin justru terkadang berperan menjadi seorang kakak bagi Jieun, ia akan melindungi Jieun dari orang-orang yang mengganggu. Tiba suatu hari ia harus melepaskan Jieun, karena Jieun sudah dijodohkan dengan seorang laki-laki pemilik perusahaan ternama di Busan. 


Tak pernah menyangka jika akhirnya kakak perempuannya itu harus meninggal dengan sangat tragis, karena itu akhirnya Jimin sangat membenci ayahnya, ayahnya tidak melakukan apapun untuk menuntut keadialan atas meninggalnya Jieun, ayahnya seolah tutup mata akan kematian kakak perempuannya.


Jimin membenci itu, ia memberontak ayahnya. Namun, akhirnya Jimin di usir dari rumah karena pemberontakannya. Dengan senang hati akhirnya Jimin pergi dari rumah kediaman mereka yang mewah itu, ia pergi hanya bermodalkan sebuah handphone dan sepucuk senjata api yang diberikan ibunya secara diam-diam. 


Sekarang Jimin seperti lebih tenang hidup sendiri, ia tak lagi di rundung rasa bersalah karena tak mampu melindungi Jieun, karena tak mampu menuntut keadilan atas kematian Jieun kakaknya. Setidaknya ia juga tidak akan berhadapan dengan ayahnya yang kejam dan tidak akan pernah menjadikan dirinya sebagai umpan bisnis ayahnya.


Berutung saat pergi dari rumah Jimin sudah memiliki kemampuan menggunakan senjata api, ia menggunakan kemampuannya sebagai modal pekerjaan, ia menjadi seorang pembunuh bayaran, ia akan membunuh siapapun dengan senjata api yang ia miliki, begitu lihai dan tak pernah sekalipun ketahuan atau tertangkap. Walau bagaimanapun Jimin dulunya dididik sebagai anak seorang mafia. Lincah dan juga licik.


Jimin sebenarnya memiliki keinginan untuk bisa membunuh orang yang telah menghabisi nyawa kakak perempuannya, tapi rupanya orang itu bukanlah orang yang bisa Jimin habisi dengan begitu mudah, orang itu adalah musuh terkuat Jimin. Hingga sekarang ia masih belum bisa menghabisinya, hanya masuk dalam daftar orang yang harus ia habisi saja. Tapi, Jimin tak akan pernah menyerah, ia masih terus mencari cara dan jalan agar bisa membunuh orang itu, ia harus membunuhnya, bagaimanapun nayawa kakaknya harus dibayar dengan nyawa pula.


Tak ada seorangpun yang mengetahui pasti penyebab kematian kakak perempuan Jimin. Satu-satunya yang tahu hanyalah tuan Choi Jiseung. 


Sebuah rahasia besar, penyebab di balik kematian putrinya yang ia nikahkan dengan seorang pengusaha muda yang cukup kaya raya. Jiseung begitu licik, ia akan melakukan apapun. Harta, tahta, dan wanita sungguh menjadi prioritas utama bagi tua rentah Choi Jisung. Keluarga bukanlah prioritasnya, keluarga ia anggap sebagai orang-orang yang kebetulan harus ia beri makan dan pelihara, sampai pada waktunya ia bisa menjual atau rela membunuhnya. Seperti memelihara seekor kelinci saja, ia rawat, ia beri makan, sampai waktunya besar ia bisa menjualnya demi mendapat uang, atau justru membunuhnya untuk disantap dan menjadi kenyang. Itulah yang sedang ia terapkan pada anak-anaknya.


Sementara itu, Hwan mengetahui betapa buruk perangai dari suaminya, karena itulah Hwan tak pernah lagi mau melayani suaminya dengan baik. Percuma jika ia melayaninya dengan baik. Tapi, akhirnya membuat Hwan kecewa. Hwan pernah akan mengajukan untuk berpisah dengan Choi Jisung, kalau tidak salah anak bungsunya Jimin berusia sekitar 12 tahun saat itu.


Percuma, semua menjadi percuma, ia tak bisa melakukan apapun, karena Choi Jisung dengan kuasanya mengancam, Jiseung mengancam akan menghabisi ketiga anaknya jika Hwan berani mengajukan surat perceraian. Brengsek dan kejam sekali memang. 


LOVE


Author: Ameera Limz