
Jauh dari kesan mewah. Sebuah rumah susun yang berukuran tak lebih dari empat kali empat meter persegi. Itu bukan satu ruangan kamar saja, tapi sudah terdiri dengan kamar mandi yang sempit, ruang dapur yang berdempetan dengan kamar mandi secara langsung, dan sebuah ruang tamu yang tak kalah sempitnya.
Rumah susun itu begitu sepi, tak begitu banyak orang yang menghuni. Dari sekitar 120 unit yang terdiri dari enam lantai tak lebih dari seperempat yang terisi, itupun makin ke lantai paling atas makin sepi pula yang menghuni.
Terhitung di lantai paling atas hanya dua unit yang berisi, satu di huni oleh seorang pria dan yang satu? Entahlah, entah pria atau wanita, penghuni disana hampir tak pernah melihatnya, sekali melihat orang yang tak di ketahui jenis kelaminnya itu akan menggunakan celana jeans dan jaket jeans yang ukurannya sangat besar dengan topinya yang menyembunyikan rambut, tak lupa dengan sebuah masker yang setia menyembunyikan wajah tak kalah rapat. Terkadang penghuni unit lain yang kebetulan berpas-pasan akan menebak jika orang yang misterius itu mungkin saja seorang penjahat.
Hujan malam ini baru saja mulai mereda, hanya tertinggal rintik halus yang masih belum kunjung berhenti.
Seorang pria dengan sebuah sweater hitam oversize, sepatu kets hitam, juga topi baseball hitam sedang berdiri di sebuah unit di lantai teratas rusun. Tangannya sibuk merogoh saku mencoba menemukan keberadaan anak kunci unit miliknya.
"Sial, pasti kuncinya terjatuh saat aku mengeluarkan ponsel." lelaki dengan warna manik mata yang sedikit hijau juga surainya yang berwarna coklat terang itu mengumpat kesal sendiri. Menyadari jika benda kecil yang ia cari tak ada di dalam saku. Menghela nafasnya dengan sedikit kesal kemudian berbalik menuju ke ara lift yang letaknya paling ujung lorong rusun.
Kalau sudah begini lelaki dengan surai coklat itu akan menyesal telah membeli unit yang paling ujung, yang letakknya paling dengan lift.
Tangan yang sudah terlihat sedikit mengeriput akibat terlalu lama terkena air hujan itu tampak makin memucat diterpa angin malam yang cukup dingin, hingga dinginnya terasa menusuk tulang dan menembus kulit yang tak begitu tebal. Lelaki berambut coklat itu menyembunyikan tangan keriput dan pucatnya dibalik saku yang kebetulan ada di kedua sisi sampingnya sweater, padahal sweater yang ia gunakan pun telah basah, sedikit pun tak akan bisa menghangatkan tangannya yang terasa dingin dan beku. Ia menunduk menyusuri lorong lantai enam rusun, berharap menemukan anak kuncinya yang mungkin saja tergeletak di lantai yang ia telusuri.
"Kau mencari ini?" suara wanita yang baru saja keluar dari lift cukup menyita perhatian lelaki bersweater hitam dengan nama Choi Jimin yang sedang menunduk dan mengedar pandang sepanjang lorong. Gadis itu mengulurkan tangannya, memperlihatkan sebuah anak kunci berwarna silver yang ada di telapak tangan.
"Iya, ini yang aku cari, aku tak bisa masuk ke unitku tanpa ini." Jimin mengulur tangannya untuk mengambil anak kunci yang ada di telapak tangan wanita dengan jeans biru tua oversize di hadapannya. Tangan dengan kulit yang terasa dingin dan memucat itu mencoba mengambil benda kecil yang ia cari. Tanpa sengaja kedua kulit dingin manusia itu saling bersentuhan.
Jimin terlihat biasa saja ketika berhadapan dengan wanita yang tinggal selantai dengannya. Dari sudut pandang matanya tak ada kesan yang menarik yang ia lihat dari wanita itu, badan yang tersembunyi dengan begitu rapat dibalik jeans biru tua kebesaran, rambut yang sepertinya digelung di balik topi baseball, dan wajah yang tertutup oleh masker yang terlihat basah, mungkin baru saja terkena hujan. Yang Jimin lihat hanyalah bola mata berwarna hitam bulat dengan bulu mata yang cukup lentik tanpa polesan mascara.
Berbeda dengan Jimin, wanita itu justru merasa ada gelenyar aneh yang menjalar dari telapak tangannya yang baru saja bersentuhan tanpa sengaja dengan tangan Jimin. Seperti tersengat listrik bertegangan rendah, tak mematikan tetapi cukup menggetarkan, dan getaran itu seolah mengalir melalui darah dari telapak tangan hingga ke seluruh tubuh, luar biasa sekali efeknya.
"Terima kasih!" ucap Jimin dengan sedikit menunduk hormat setelah ia berhasil mengambil alih anak kuncinya. Kemudian ia berbalik dan berjalan cepat menuju lorong paling ujung, membuka sebuah unit yang letaknya di sebelah kanan lorong. Kemudian masuk dan menutup pintunya.
Sementara gadis yang baru saja menemukan kuci unit milik Jimin itu masih berdiri mematung di posisinya, masih di depan lift.
Jimin melangkah masuk kedalam unitnya yang sempit, tak ada barang yang begitu berharga di unitnya, di ruang tamu hanya ada kursi dan meja yang sudah hampir rusak, di dapur hanya ada peralatan masak utama saja, dan di kamar tempat ia berdiri sekarang, hanya ada ranjang dari kayu yang sudah sangat tua, kasurnya hanya kasur busa dengan kain pelapisnya yang lusuh, di sebelahnya ada lemari kecil tempat pakaian dan meja kecil dengan sebuah laci. Mungkin jika barang-barang milik Jimin di jual ke loak sekalipun tak akan laku, tapi Jimin masih menggunakannya.
Dua benda yang berharga bagi Jimin saat ini mungkin hanya sebuah pistol yang setia ia bawa jika keluar rumah, dengan handphone yang tak kan pernah ia lupakan. Kedua itu adalah nyawa baginya untuk tetap bertahan, kedua itu adalah barang penunjang pekerjaannya. Ia tak akan bisa bekerja tanpa itu.
Bukannya Jimin tak mampu untuk membeli sesuatu yang baru atau yang masih layak pakai, tabungan dari upahnya cukup untuk segala kebutuhannya, bahkan sangat cukup, hanya saja ia sedang sangat malas untuk membeli dan membuang yang lama. Jika ia ingin pindah dan membeli rumah mewah sekalipun ia bisa. Tapi, pertimbangannya terlalu banyak jika ia tinggal di tempat lain selain tempatnya sekarang ini.
"Aku tidak mengira jika di lantai paling atas ada orang lain yang mengisi unit." Choi Jimin sibuk menggumam sendiri, tangannya sibuk melucuti dan melepaskan satu persatu pakaian basah yang menempel di tubuhnya. Kemudian beralih menggapai selembar handuk yang tergantung di dinding dekat dengan pintu kamar mandi.
Mencoba mengabaikan hal itu, Jimin melangkah ke kamar mandi demi membersihkan tubuhnya dengan air hangat, setidaknya di rusun yang sempit itu Jimin masih bisa menikmati mandi malam hari dengan kran yang mengalirkan air yang hangat.
Hangat dari kucuran air itu cukup membuat embun pada cermin yang menempel di dinding kamar mandi, cermin itu tak begitu besar, tapi mampu memperlihatkan badan bagian atas Cho Jimin yang atletis, otot bisep yang terlihat menonjol, jakun yang cukup terlihat, rahang wajah yang kokoh, dan juga otot perut kotak-kotak yang mampu membuat wanita yang pernah di tidurinya tergoda dan tergila-gila, sampai gemas ingin bisa menyentuh lagi dan lagi.
Jimin menyugar rambut jatuhnya yang basah, kemudian telapak tangannya mengusap bagian cermin, membersihkan embun yang menempel di sana. Jimin cukup memperhatikan wajahnya sendiri dari bayangan yang di pantulkan cermin, kemudian dirinya menyadari sesuatu.
"Arghhhhh...." Jimin mengerang kemudian, "Bagaimana aku lupa menutup wajahku saat berhadapan dengan wanita tadi." Jimin baru ingat tadi ia melepas masker yang menutupi wajahnya sebelum masuk ke area rusun, itu ia lakukan karena maskernya basah terkena hujan, cukup sesak untuk bernafas di balik kain masker yang basah. Tadinya Jimin merasa sedikit aman karena rusun dirasa sudah cukup sepi, penghuninya pasti sudah tidur semua, apalagi malam hujan, orang-orang pasti enggan untuk beraktivitas. Jadi ia merasa sedikit aman untuk melepas masker yang menutupi wajahnya selama ini, tapi tak menyangka jika akhirnya hal tadi terjadi.
Panik sendiri Jimin jadinya, selama ini ia telah bersusah payah menyembunyikan wajahnya dari penghuni-penghuni rusun. Tapi malam ini, seseorang melihat wajahnya secara langsung.
"Bagaimana jika ia mengenali wajahku? Bagaimana jika ia mengingat wajahku? Sial. Sial. Sial. aku harus menutup mulutnya sebelum ia menemukan fakta tentangku. Aku harus cari cara, aku harus tahu di unit nomor berapa wanita itu tinggal, aku harus membungkam mulutnya agar tak memberi tahu siapapun tentangku. Atau jika ia menolak, aku tak segan menjadikannya salah satu dari daftar yang harus ku habisi."
Saking kepikirannya soal itu, Jimin sampai tak bisa tertidur dengan nyenyak malam ini, ia akhirnya menyerah, ia bangkit dari atas ranjangnya yang berlapis kain sprei hitam yang telah lusuh. Berjalan menuju sebuah meja kecil yang ada tepat di sebelah tempat tidurnya, mengeluarkan peralatan dari dalam laci yang ada di meja. Ia sedang merakit sesuatu, sesuatu yang bisa ia gunakan untuk mencari tahu di unit nomor berapa gadis tadi tinggal. Dia sedang merakit sebuah kamera pengawas. Mungkin besok pagi-pagi sekali Jimin akan memasang benda itu di sudut lorong.
LOVE
Author: Ameera Limz