
Hayeon akan segera menarik Heejin masuk dalam gendongannya ketika mendengar denting suara dari lift yang ada di ujung lorong. Ia akan dengan segera membawa Heejin masuk kedalam unit milik Hana, sebelum tetangga mereka menyadari keberadaannya dan Heejin yang sedang berman di lorong.
Hayeon takut, sangat takut. Pasalnya beberapa minggu lalu Choi Jimin kembali datang ke unit milik Hana. Hayeon tak berani lagi untuk melihat Choi Jimin. Pasalnya Choi Jimin telah mengancam akan menghabisi mereka bertiga jika berani mengungkapkan siapa dirinya pada polisi.
Padahal itu semua karena kecerobohan Choi Jimin sendiri yang lupa untuk menutup wajahnya dengan masker. Tapi, sekarang Hana, Hayeon bahkan Heejin si kecil yang tak tahu masalah orang dewasa di sekitarnya pun ikut terancam.
Ya, untuk sementara waktu Hayeon dan Heejin tinggal bersama Hana. Setidaknya sampai sebelum Hayeon akan melangsungkan pernikahannya setahun lagi. Hanya setahun waktunya untuk bisa bersama Hana dan tentunya bersama Heejin yang telah banyak mengisi hari-harinya.
Baik Hana dan Hayeon tak ada seorangpun yang peduli siapa Choi Jimin sebenarnya. Meski seminggu belakangan mereka melihat wajah Choi Jimin yang terpampang nyata pada selembaran yang ditempel hampir di semua tempat. Tak ada yang berniat untuk melaporkan Jimin pada polisi. Tak ingin ambil pusing dengan urusan orang lain. Hanya saja sepertinya Choi Jimin lah yang ketakutan. Takut tetangganya itu melapor ke polisi.
Heejin merengek, tak ingin dibawa masuk ke rumah. Heejin bosan terkurung dalam rumah yang sempit. Bagi si kecil menggemaskan itu lebih menyenangkan bermain di lorong, berlarian atau sekedar main menangkap bola.
“Jangan di paksa jika dia tak ingin di bawa masuk.”
Hayeon menegang seketika. Bulu kuduknya meremang. Choi Jimin sudah berdiri di belakangnya yang sedang berusaha membujuk Heejin yang menangis.
Jelas sekali Hayeon sedang ketakutan. Sedangkan si kecil Heejin justru berhenti menangis dan berlarian memeluk kaki Choi Jimin yang berdiri.
“Heejin-ah.....” Hayeon melotot dan melirih melihat Heejin yang memeluk kaki Choi Jimin. Ingin menarik Heejin. Tapi, Choi Jimin sudah lebih dulu menggendong anak kecil itu.
“Kau rindu ayah?” Tanya Jimin pada Heejin yang ada dalam dekapnya.
“Heejin celalu lindu ayah. Cangat lindu.” Dengan bicara khas anak kecil yang masih belum fasih berucap, Heejin yang menggemaskan itu berhasil membuat Jimin tersenyum dan hatinya akan selalu menghangat melihat senyuman manis menggemaskan dari Heejin.
Tak ada pula alasan lagi untuk Jimin menutupi wajahnya dengan masker. Toh, tiga orang yang bertetangga dengannya itu sudah mengenali wajahnya.
“Heejin. Ayo kita pulang!” Hayeon merentang tangannya untuk mengambil alih Heejin dari dekapan Jimin.
“Tidak. Heejin masih lindu ayah.” Heejin dengan pipi gembilnya mengerucut bibir. Semakin jadi menggemaskan.
“Heejin. Sekarang pulang ya! Ayah ada banyak pekerjaan.” Jimin baru saja akan menyerahkan Heejin pada Hayeon. Kemudian Jimin tersenyum pada si kecil Heejin. Matanya menelaah wajah menggemaskan Heejin dan kemudian berhenti kala menyadari warna manik mata Heejin dan bentuk matanya begitu mirip seseorang.
“Sudah malam. Sekarang Heejin pulang dan tidur! Anak kecil tidak boleh tidur terlalu malam.” Lanjut Jimin sembari menyerahkan Heejin dalam gendongan Hayeon.
“Tapi Heejin belum mau tidul sebelum Ibu pulang.” Heejin yang sekarang dalam pelukan Hayeon menggeleng kecil.
“Bukankah ibumu ada bersamamu?” Jimin bingung.
Kali ini Jimin masuk kedalam unitnya dengan kesal. Menggerutu pasal wajahnya yang terpampang nyata di manapun. Koran harian, media online, televisi dan bahkan selembaran yang sudah tertempel hampir di setiap sudut kota.
Kekesalan itu makin bertambah saat sebuah pesan masuk di aplikasi Kakao miliknya.
“Masih tak ingin pulang kerumah? Kau yakin bisa bertahan? Kau bahkan sudah menjadi buronan.”
Jimin yakin betul yang mengirim pesan itu adalah ayahnya yang jahat. Jimin juga tak bisa menyalahkan ibunya karena sekarang ayahnya tahu dimana keberadaan dirinya, kontaknya bahkan tempat tinggalnya. Jimin percaya pasti ibunya terpaksa karena di ancam oleh ayahnya yang berhati iblis.
“Bagaimana bisa aku di takdirkan untuk menjadi anak dari ayah yang jahat sepertinya? Ayah. Hah.. Dia bukan ayah tapi iblis.” Jimin menggerutu kesal, handphone miliknya itu ia banting sembarangan di atas kursi ruang tamu yang sudah begitu buluk.
Mengingat ayahnya justru membuat Jimin teringat Heejin yang memanggilnya ayah. Gadis kecil itu sekarang membuat hati Jimin bisa menjadi tenang dan hangat hanya dengan membayangkan senyum menggemaskannya.
“Apa seperti ini rasanya menjadi seorang ayah?” Jimin tersenyum sendiri membayangkan ia akan menjadi seorang ayah suatu hari nanti. Dan Jimin bersumpah dirinya akan menjadi sosok ayah yang baik dan bertanggung jawab pada keluarga. Tak akan Jimin tiru perangai ayahnya yang kejam.
Pria pembunuh bayaran itu melangkah ke arah kamar. Membuka bajunya untuk di ganti dengan kos oblong yang lebih nyaman di gunakan saat berada di rumah.
Bidang bahu tanpa fabrik itu terpampang nyata melalui pantulan cermin yang cukup besar pada dinding. Bahkan ketika Jimin sedikit menyamping, Jimin bisa melihat dengan jelas bahunya yang memiliki bekas luka akibat terkena senjata api. Akan selalu menjadi sebuah kenangan bagi Jimin. Bekas luka itu adalah bekas luka tembakan yang ia dapatkan secara tak sengaja ketika sedang belajar menggunakan senjata api. Bekas itu di sebabkan oleh kakak perempuannya yang telah tiada. Saat itu Jieun tak sengaja menarik pelatuk pistolnya, untunglah itu tidak mengenai organ vital Jimin, beruntung itu hanya sebuah luka tembakan di bagian bahu.
Tersenyum di sebelah sudut bibirnya. Jimin kemudian mengenakan kaos hitam longgar yang membuatnya jauh lebih nyaman ketimbang menggunakan jaket atau sweater.
Kemudian mengambil jaketnya yang barusan ia pakai dari luar. Niat hati akan menggantungnya pada holder yang menempel dibalik pintu.
Perhatian Jimin teralih pada benda kecil pipih yang terbuat dari perak, benda kecil itu baru saja terjatuh dari jaketnya tanpa sengaja.
“Apa ini?” Jimin menggapai benda pipih yang berbentuk hati itu. Ia tersenyum menyadari jika itu adalah sebuah liontin milik Heejin. Jimin mengetahuinya dari nama yang terukir di sana. “Mungkin ini tersangkut ketika aku menggendongnya.” Jimin tersenyum.
Ia akan mengembalikan itu besok pagi. Sekarang dirinya terlalu malas untuk kembali keluar.
Jimin kali ini sedikit bingung. Ketika ia membalik benda pipih itu, dibaliknya terukir nama Hana. Bukankah seharusnya di sana terukir nama Hayeon? Bukankah Hayeon adalah ibunya Heejin? Kenapa di liontin itu justru nama Hana yang terukir? Muncul banyak pertanyaan di kepala Choi Jimin. Ia seperti menemukan sebuah misteri yang harus segera dipecahkan.
Meletakkan liontin berbentuk hati itu diatas nakas kecil disebalah tempat tidur. Kemudian Jimin balik menatap cermin ketika otaknya secara tak sengaja memikirkan satu hal lagi. Tanpa sengaja Jimin menyadari satu hal kecil yang membuatnya begitu tertarik. Matanya. Matanya yang sipit dan tajam bak mata elang itu memiliki warna manik yang sama dengan seseorang. Ya, Jimin menyadari warna manik dan bentuk matanya sangat mirip dengan sosok si kecil Heejin.
LOVE
Author: Ameera Limz