LIKE HEROIN

LIKE HEROIN
HARAPAN II



Seperti menemukan sebuah harapan. Ingin rasanya Hana bersorak bahagia. Tak perduli seberapa dingin wajah pria yang sedang melihatnya.


"Ada apa datang kemari?" Datar dan dingin. Tak ada kesan ramah yang terdengar dari suara itu.


Hana terdiam. Lidahnya seperti keluh. Sedikit merasa bersalah pula.


Hayeon yang melihat Hana hanya terisak tak mampu berucap. Wanita itu akhirnya mengatakan maksud dan tujuan Hana datang ke tempat itu. Mengambil alih.


"Tuan. Tolong bantu Hana!"


Wajah yang semulanya terlihat datar kini berubah menjadi wajah dengan raut penasaran, terbukti dengan adanya sedikit kerutan di dahi.


"Ada apa?"


"Hejin, Tuan. Heejin diculik orang. Kami tahu Tuan bisa membantu kami. Karena itu kami datang kemari."


Senyuman remeh jelas terlihat. Sepertinya juga kepalang sakit hati pula atas ucapan Hana sebelumnya.


"Tapi maaf. Sepertinya aku tidak bisa membantu. Bukankah itu urusan kalian? Bukankah ibunya sendiri yang memintaku untuk tidak pernah menampakkan wajah pada Heejin? Ataupun ikut campur dengan urusan kalian?"


Pertanyaan sekaligus pernyataan itu telak menusuk Hana. Bahu di balik mantel itu bergetar hebat bersamaan dengan tangisan yang kembali pecah. Juga rasa tak enak hatinya, saat ini Hana merutuki perkataannya yang kejam. Perkataannya yang membuat orang lain merasa kecewa.


Hana coba mengumpulkan banyak keberanian untuk memulai bicara. Tangannya mengepal hebat. Meremas kertas yang sejak tadi ia bawa. "Tapi itu ada kaitannya denganmu. Kau harus membantuku!" Entah ini terkesan seperti sebuah permohonan atau perintah. Jelas sekali Hana ingin pria itu membantunya. "Ini juga urusanmu. Karena kau ayahnya!" Lepas. Bebas tanpa kendala. Ucapan itu akhirnya keluar juga dari lisan Hana yang sedikit bergetar.


Baik Hayeon maupun Jimin kompak terdiam, sedikit menganga juga, tidak percaya dengan apa yang mereka dengarkan dari mulut Hana barusan. Apa yang dikatakan Hana? Apa wanita itu sedang bercanda?


Terkejut? Tidak juga. Mungkin maksud Hana adalah ia bisa bebas menganggap Heejin sebagai putrinya. Lantas pria itu kembali tersenyum remeh. "Ya. Karena Heejin memanggilku ayah, lantas kalian ingin aku membantu kalian? Bagaimana mungkin aku ayahnya? Haha... Ini lucu." Jimin sedikit terkekeh pelan. Tak mengerti dengan situasi.


Tangan yang bergetar. Mengeluarkan secarik kertas dari dalam sebuah amplop. Gerakan Hana agak ragu untuk memberikan carikan kertas itu. Tapi ia harus melakukannya. Harus membiarkan Jimin membacanya. Hana siap dengan semua konsekuensi.


Sebaliknya, Jimin agak ragu juga untuk mengambil carikan kertas bertinta itu. Penasaran dengan isinya.


Membaca dengan perlahan penuh ketelitian. Takut salah memahami.


Antara percaya dan tidak. Jika tidak percaya, lantas hasil pada kertas menyatakan kesamaan 99,9%. Jika percaya, Jimin baru mengenal Hana. Dan Hana yang begitu yakin untuk membiarkan Jimin melakukan tes yang sama sendiri. Bagaimana bisa? Itulah pertanyaan terbesar yang ada di otak Jimin


Tawa itu pecah. Sedikit menggelegar di lorong yang sunyi. Jimin tak berarti ia tak percaya. Hanya saja ia penasaran bagaimana semua itu terjadi? "Bagaimana mungkin? Aku bahkan baru mengenali kalian. Apa karena Heejin memanggilku ayah lantas kalian ingin aku menjadi ayahnya? Atau hanya karena kemiripanku pada gadis kecil itu?"


"Ceritanya panjang. Jika kau tak ingin menyesal maka bantulah aku menyelamatkan Heejin. Aku tahu kau punya banyak kuasa. Semua akan aku jelaskan nanti. Heejin dalam masalah besar, ia diculik dalam keadaan sakit." Tak mengerti harus memohon dengan cara seperti apa lagi. Hana terduduk bersimpuh tepat di dekat kaki Jimin. Bahkan bersiap akan bersujud.


Jimin dan Hayeon pun kian penasaran dengan apa yang Hana katakan. Heejin sakit? Sakit apa? Separah apa?


Jimin yang melihat Hana bersimpuh di hadapannya. Pria itu tak berniat untuk membawa Hana bangkit. Ia hanya mundur beberapa langkah dari hadapan Park Hana.


"Aku mohon. Bantu aku. Lakukan sesuatu demi Heejin. Aku rela melakukan apapun perintahmu. Aku juga akan menceritakan panjang lebar bagaimana kau menjadi ayah dari putriku."


"Apapun? Kau akan melakukan apapun? Termasuk memberi tubuhmu untukku? Atau memberi nyawamu untukku?" Pertanyaan Jimin agaknya begitu sulit. Hayeon bahkan melotot dan sedikit menggeleng. Berharap Hana tak akan pernah menyetujui itu. Terlalu mengerikan untuk menyerahkan hidup pada pria pembunuh tersebut.


Sebenarnya Jimin tak sungguh-sungguh dengan apa yang ia katakan. Dirinya hanya ingin melihat keseriusan Hana. Seberapa besar Hana akan berjuang demi putrinya. Bukan, maksudnya putri mereka.


***


Malam ini sudah hampir pagi. Jimin membiarkan Hana dan Hayeon menginap di rumahnya. Ketiganya sibuk mengatur strategi untuk bisa menyelamatkan Heejin. Pun kemudian Hana dan Hayeon menemukan lelah menghampiri mereka. Mata yang akhirnya sayu dan tertidur dengan rasa takut yang membayangi.


Jangan bilang Jimin hanya bersantai. Pria itu sibuk luar biasa memikirkan segalanya. Kacau. Mungkin sekalipun Jimin tak melihat hasil tes itu, ia akan tetap membantu. Ia akan tetap menyelamatkan Heejin. Karena Jimin sudah terlanjur jatuh hati pada gadis kecil itu sejak awal.


Jimin melihat Hana dan Hayeon yang tertidur di sofa usangnya. Mengambil selembar selimut untuk menutupi tubuh dua wanita itu.


Pelan penuh kehati-hatian. Takut ia membangunkan keduanya. Jimin menyelampirkan selimut dengan gerakan yang pelan. Sekalipun ia penjahat atau pembunuh, Jimin tak mampu menyakiti wanita. Cukuplah ia yang melihat kakak perempuannya yang menjadi korban kejahatan. Dan ibunya yang terkurung dalam sangkar emas.


[]


LOVE


Ameera Limz