
"Kenapa berdiri di ambang pintu? Masuk dan bawakan minumannya untukku! Aku tidak membayarmu untuk berdiri di sana." Wajah berantahkan itu menatap Hana dengan smirk yang membuat merinding. Mau tak mau Hana harus melayaninya. Sejatinya memang pria tersebut sudah membayar mahal untuk segalanya malam ini.
"Butuh es batu atau tidak?" bisa ditebak dengan pasti jika Hana sedang ketakutan. Takut yang teramat hingga rasanya Hana inggin kabur saja, atau justru ditenggelamkan kedalam tanah ketika berhadapan langsung dengan pria yang sedang duduk di sofa. Padahal beberapa waktu lalu ia tak setakut ini. Semuanya biasa saja. Dan malam ini berbeda. Hana merasa dirinya seperti sedang berada dalam wahana rumah hantu saja saking takutnya ia.
Smirk penuh arti terus saja terukir diwajah. Ada juga sedikit senyum meremehkan yang tergambar pada wajah menawan itu.
"Tidak perlu takut. Jadi apakah ini pekerjaanmu?" Ini bukan pertanyaan tapi lebih menjurus pada pernyataan dan sindiran.
"Aku rasa pekerjaan kita sama-sama tak ada yang benar, Tuan." Pun hana yang balik memberi sindiran. Ketakutan yang tadi mendera seketika menghilang bersamaan dengan emosi yang mulai datang sebagai pengganti.
Acap kali Hana mendapat sindiran atas pekerjaannya. Tapi biasanya yang menyindir adalah orang-orang yang memang tak pernah berhubungan secara langsung dengan kehidupan gelapnya. Hana tak masalah untuk itu. Pengecualian untuk kali ini, kali ini yang menyindir pun sama buruk dengannya. Jika Hana penjual jasa maka si pria adalah pengguna jasa. Jadi atas dasar apa pria itu menyindirnya dengan berlagak seolah ia adalah pria baik-baik saja padahal sama.
Bukan pria yang bodoh. Pria itu tahu betul jika sebenarnya Hana sedang tersinggung atas ucapannya untuk sekarang ini. "Oh, baiklah. Maafkan aku!" Sedikitpun tak ada tampak rasa bersala bersamaan dengan ucapan kata maaf yang keluar dari bibir pria brengsek tersebut.
"Jadi ini ingin pakai es tidak?" Agak ketus terdengar pertanyaan Hana kali ini. Kepalang tidak suka atas sindiran yang ditujukan padanya barusan.
"Tidak. Tidak butuh es. Aku tidak suka dingin. Aku justru ingin malam ini menjadi hangat."
Tuhan, rasanya ingin pingsan Hana melihat smirk yang terus terukir. Ada juga rasa ingin mencakar habis wajah brengsek itu.
Mencoba mengabaikan apa yang di lihat oleh netra dan yang apa yang di dengar oleh rungu. Hana membuka satu botol Red Wine yang ia bawa. Menuangkan isinya, hingga cairan merah menggoda itu mulai bergulir memenuhi gelas yang semula kosong.
"Cukup!" Sedikit tersentak Hana kala tangannya yang sedang menuang Wine itu di tahan secara langsung oleh pria yang duduk di sebelahnya.
"Tidak butuh Wine? Apa ingin langsung di layani yang lain?" Tanya Hana yang sedikit bingung. Bingung yang terukir jelas bersamaan dengan dahi yang sedikit berkerut.
"Mana mungkin aku tidak mau meminum minuman yang sudah ku bayar mahal. Aku justru sangat ingin. Tapi aku ingin menikmati keduanya secara bersamaan!"
"Bersamaan?"
"Ya. Ingin menikmati Red Wine ini langsung dari bibirmu."
Sialan memang. Hana terdiam. Raganya mulai merasakan remang dengan tangan pria tersebut yang masih belum lepas dari tangannya. Tak pernah Hana merasakan hal ini selama ia bekerja menjual jasa. Ini pertama kalinya. Ya, pertama kali sejak kegadisannya di renggut di tempat kotor itu.
***
"Heejin.... Ibu Yeon sudah belikan banyak coklat untukmu. Kenapa masih merengek ingin coklat dari pria itu?" Bingung sekaligus frustrasi Hayeon menghadapi sikap anak-anak yang memang kerjanya suka menangis dan merengek.
"Tidak mau. Heejin mau coklat dali ayah." Heejin menggeleng sambil menutup mulut dengan kedua telapak tangannya yang mungil. Hayeon sampai bingung harus bagaimana. Meski sudah setahun lebih mengasuh Heejin ia masih kekurangan pengalaman. Ia masih gadis yang tiba-tiba harus mengasuh seorang bayi tanpa melahirkannya. Agak bingung karena memang nihil pengalamannya.
***
Dan waktu terus berlalu hingga hampir menuju pagi hari.
"Ini." Choi Jimin menyerahkan liontin berbentuk hati milik Heejin yang tak sengaja tersangkut di bajunya beberapa hari lalu.
"Bagaimana bisa ini berada di tanganmu?" cecar Hana menerima liontin kecil berukir namanya dan Heejin.
"Itu tak sengaja tersangkut di bajuku. Untung terjatuh di rumahku dan aku melihatnya. Berikan itu pada anakku!"
Rasa ingin tertawa Hana mendengar Jimin yang menyebut Heejin anak. Itu tetdengar sangat lucu baginya. Atas dasar apa pria pembunuh itu menyebut Heejin anaknya? Apa hanya karena Heejin menyebutnya ayah? Bahkan sebenarnya ia bisa mengajari Heejin untuk memanggilnya dengan sebutan paman. "Dia bukan anakmu." Ketus Hana.
"Ya, bukan anakku. Tapi anakmu kan?" Jimin tersenyum. Sepertinya dengan memancing emosi Hana ia akan tahu siapa yang sebenarnya ibu kandung Heejin.
Aneh bukan? Sebenarnya untuk apa pula Choi Jimin penasaran atas kehidupan Heejin. Namun rupanya pria pembunuh itu sudah kepalang jatuh cinta dan sangat sayang pada anak kecil cantik tersebut.
Jangan kira Hana bisa-biasa saja. Wanita itu bahkan sudah terkejut luar biasa. Bagaimana mungkin Choi Jimin tahu jika ia adalah ibunya Heejin? Apa jangan-jangan Hayeon yang mengungkapkannya? Agaknya Hana melupakan kenyataan jelas terukir namanya di liontin perak itu.
"Tidak perlu terkejut seperti itu. Aku tahu Heejin sebenarnya adalah putrimu. Tak perlu kau tutupi, aku akan tahu dengan sendirinya. Tapi sepertinya anakmu itu tidak banyak memiliki kemiripan denganmu selain hidung. Bahkan dia lebih babyak mirip denganku. Haha... " Jimin terkekeh. Ia hanya berkelakar.
Rupanya apa yang baru dikatakan oleh seorang Choi Jimin sungguh membuat Hana terdiam. Diam menyadari jika apa yang dikatakan pria itu sangat benar. Kenapa ia baru menyadari hal itu sekarang? Atau jangan-jangan?
LOVE
Author: Ameera Limz