LIKE HEROIN

LIKE HEROIN
PECUNDANG



Jimin menghabiskan malamnya dengan bersusah payah. Bersusah payah mengingat segala hal yang sudah ia lalui dua tahun lalu. Mengingat bagaimana pada akhirnya ia menghancurkan masa depan seorang wanita. Wanita yang sedikitpun tak ia kenali.


(Flashback 2 tahun lalu)


Pada akhirnya Jimin merasa frustrasi untuk bisa bertahan dalam sebuah sangkar emas.


Hari-hari yang ia lalui terasa begitu berat. Sangat berat. Tak ada semangat hidup. Jimin ingin bisa melindungi keluarganya terutama saudara dan ibunya. Nyatanya ia sama sekali tak bisa melakukan apa-apa. Ia gagal.


Sudah dua tahun. Dua tahun waktu yang Jimin habiskan hanya untuk menyesali segalanya. Dua tahun ia mencoba berpura-pura tak tahu apapun tentang kematian kakak perempuannya yang bernama Choi Jieun. Dua tahun pula Jimin hidup dalam keputusasaan.


Jimin hampir saja pasrah. Pasrah membiarkan kehidupannya dikendalikan bagai robot oleh Choi Jiseung.


Jimin akan menghabiskan banyak minuman dengan konsentrasi alkohol diatas 50%. Botol-botol kosong berserak memenuhi lantai kamar yang berlapis permadani abu tua buatan Italia. Pria itu berharap minuman yang ia tenggak setiap hari itu mampu membunuhnya bagai racun.


Hwan ibunya. Wanita itu masuk ke kamar dimana Jimin menghabiskan waktu. Hwan tahu betul putra bungsunya tak pernah ingin keluar kamar jika suaminya berada di rumah. Jimin terlampau malas bertemu si tua sialan itu.


Hati ibu mana yang tak akan teriris melihat anaknya hancur. Berantahkan. Dan hidup bagai boneka robot yang dikendalikan.


Hwan coba mengangkat tubuh yang terkapar diatas permadani. Menelungkup dengan bau alkohol yang menyengat. Menusuk hidung. Membawa tubuh setengah sadar Jimin pada ranjang besar yang empuk. Menyangga kepala putranya dengan bantal lembut yang berisikan bulu-bulu angsa.


"Semua ini akan berakhir, Nak. Kita akan melewati segalanya." Hwan melirih. Jimin mendengarnya. Lantas Jimin yang waktu itu baru berusia 24 tahun hanya membalasnya dengan tumpahan air mata tanpa suara isak.


"Pulihkan dirimu dari pengar dan mabuk. Besok ibu akan mengajakmu untuk bicara." Jimin mengangguk menanggapinya. Hanya mengangguk dengan isyarat kedipan mata. Seperti kehabisan kata untuk berucap.


***


Pada akhirnya Choi Jimin mengikuti perkataan ibunya. Keluar dari rumah adalah solusi satu-satunya.


Berbekalkan buku tabungan yang dibuat secara diam-diam oleh ibunya, sebuah revolver hitam, dan handphone. Jimin mencoba memulai kehidupan barunya. Kehidupan yang keras.


Satu minggu.


Dua minggu.


Jimin habiskan waktu bebasnya dengan membuang segala emosi yang menumpuk bagai gunung di tubuhnya. Beban emosi itu terlalu memberati sehingga dirinya merasa sulit untuk sekedar bergerak.


Jimin ingat betul. Mengingat seorang wanita dengan rok hitam yang panjangnya hanya sepaha. Wanita itu datang membawaknnya banyak macam Red Wine. Kala itu lampu ruangan begitu gelap dan remang. Ia tak bisa mengenali dengan baik wajah wanita yang membawakan dan menuangkannya minuman. Hanya bau parfume wanita itu yang ia kenali. Wangi yang mampu mengeluarkan sisi lain seorang Jimin. Sisi kelelakiannya yang menguar.


Entah gelas dan botol ke berapa yang ia tenggak habis isinya. Kala itu Jimin mulai kehilangan sebagian kesadarannya. Anggur membuatnya mabuk. Menghapus beban pikiran dan menimbulkan masalah baru.


Choi Jimin gila. Jimin gerah. Panas serasa membakar gairah di dirinya. Ingin di sentuh, menyentuh, dan ingin menguasai.


Manik mata elang itu berkabut dan berkilat. Tajam. Seperti ingin menelanjangi.


Kehilangan kendali atas dirinya sendiri. Jimin menarik paksa wanita di hadapannya. Mengurung dan mengukung dalam kuasanya. Jimin ingin menjadi bejad malam itu. Ingin merasakan untuk pertama kali sesuatu yang belum pernah ia alami.


Birai ranumnya yang sedikit tebal itu tanpa permisi membungkam birai merah cherry wanita dibawahnya. Turun hingga ceruk leher. Meninggalkan banyak jejak. Tak peduli dengan pemberontakan. Tak peduli dengan beberapa tinju dan tendangan yang menghantam tubuh. Itu tak sakit sama sekali. Jimin mampu menahannya.


Terakhir kali yang mampu Jimin ingat adalah dirinya yang yang baru saja mendapatkan sebuah pelepasan. Mengosongkan dirinya pada tubuh lemah dan tak berdaya di bawahnya. Terengah dengan peluh yang membanjir. Tubuh terasa lengket. Tapi itu sangat indah. Pengalaman pertama yang membuatnya gila.


Jimin bukan pria yang bodoh akan edukasi seksual. Ia paham betul jika dirinya pertama kali merenggut kegadisan wanita yang tak di kenal. Takut dan merasa bersalah pula. Memungut setiap pakaian yang berserak pada lantai. Memakainya dan pergi begitu saja bagai pecundang. Hanya meninggalkan beberapa juta WON tepat di atas ranjang. Dimana wanita yang digagahinya lelap tak bertenaga.


(Flashback end)


"Arghhh.... Sial. Ingatan macam apa ini?" Jimin sebenarnya hanya ingin ia mengingat dan membayangkan wajah wanita yang ia hancurkan. Bukan malah mengingat bagaimana ia menikmati segalanya.


Sedetikpun Jimin tak mampu memejam mata untuk lelap. Ingatan itu begitu buruk. Dia pecundang. Kabur begitu saja.


Jimin keluar dari kamar. Menuju dapur yang bersebelahan dengan ruang tamu. Membuka sebuah lemari pendingin kecil dan mengambil sebotol air dari dalamnya. Meneguk isinya dalam waktu sekejap. Botol yang kosong ia banting tepat pada tempat sampah di sudut dapur.


Dari dapur yang tak berdinding. Choi Jimin bisa melihat dengan jelas Hana yang tertidur di sofa usangnya.


"Jika benar itu dirimu. Maafkan aku." Harusnya kata maaf itu terucap langsung di hadapan Hana. Tapi Jimin masih terlalu pecundang. Ia juga masih sulit mengingat wajah wanita yang ia hancurkan. Akan ia pastikan segala-galanya. Tapi nanti. Nanti setelah ia berhasil membawa Heejin kembali.


[]


LOVE


Author: Ameera Limz