LIKE HEROIN

LIKE HEROIN
JADI, AKU BENAR?



Pengar itu masih terasa, begitu berat dan juga sangat menyiksa. Jimin coba pejamkan matanya untuk sebentar lagi. Berharap segala rasa sakit di tubuhnya hilang dan setidaknya berkurang.


Di tengah pejaman mata, rungu Jimin  mampu menangkap suara gelak bahagia yang membuatnya merasa lebih tenang dan sakitnya perlahan menghilang perlahan, seolah sura gelak tawa itu adalah obat yang begitu mujarab.


Mencoba untuk bangkit dan membuka mata dengan begitu perlahan. Mengedar pandang pada seluruh penjuru ruangan dimana ia berada. Coba sesuaikan pengelihatan dengan silau cahaya mentari pagi hari yang menyelinap masuk dari celah kain gorden tipis.


Siluet gadis kecil sedang berlari kecil mengejar bola yang mengelinding. Itu yang pertama Jimin lihat. Suara tawa gadis kecil itu seperti sihir yang mampu menarik dirinya untuk kuat melawan segala kesakitan yang ia rasakan. 


Jimin mengingat dengan baik bagaimana sebuah mobil menghantam tubuhnya. Sakit teramat ia rasakan setelah itu. Mencoba bertahan dan beruasaha kabur dari kejaran, dan terakhir ia pinsan dan tak ingat apapun lagi.


Begitu berharap yang dialaminya hanya sebuah mimpi sebagai hiburan tidur. Dan berharap pula mimpi itu tak kan terulang kembali lagi. Rasanya terlalu sakit dan sesak. Cerita yang begitu panjang sampai ia bisa mengingatnya dengan sangat baik. Rasa seperti berjuang di ujung maut. Bahkan Jimin berpikir sekarang pun ia masih dalam sebuah mimpi. Iya, mimpi yang tak ingin didapatkannya. 


Lalu jika itu hanya mimpi, bagaimana mungkin gadis kecil yang tertawa bahagia itu terlihat semakin nyata? Memandang kearahnya, berhambur memeluknya, dan memanggilnya ayah dengan sura menggemaskan dan senyuman yang begitu indah.


Tangan Jimin reflek membentang, kemudian dengan cepat mendekap tubuh mungil itu dengan sangat erat. Penuh akan syarat kerinduan di dalamnya.


Memejam mata merasakan ketenangan, kedamaian juga kehangatan yang perlahan mengalahkan rasa sakit di tubuh. Jimin ingin seperti ini dulu, melupakan segala masalahnya, menumpahkan semua kerinduannya.


"Heejin. Sudah waktunya kau mandi!" mendengar suara itu Jimin mengurai pelukannya pada Heejin dengan perlahan, Jimin kemudian sadar jika itu memang bukan sebuah mimpi. Tapi, kenyataan. Jimin merasa jika harus merasa kesakitan lebih dulu untuk bertemu mereka Jimin tak masalah. Ia akan melewati segala kesakitan itu yang penting sekarang adalah yang di cari berada di depan mata. Tanpa perlu membayar mahal orang yang bisa mencari mereka. 


Keterkejutan Hana begitu ketara. Melongo tak percaya dengan apa yang dilihatnya. Pria yang sebenarnya tak ingin ia lihat, pria itu telah sadar, bahkan tengah memeluk putrinya dengan erat dan penuh kasih sayang.


"Maafkan putriku. Apa mungkin dia mengganggu tidurmu?" Hana coba untuk terlihat lebih santai dan biasa saja, menghapus segala keterkejutannya. Tak menyangka jika pria yang ia tolong dan hindari itu bisa sadar dalam waktu yang cepat. Padahal dokter bilang Jimin mungkin akan sadar jauh lebih lama karena trauma dari kecelakaan itu.


"Aku merindukanmu." Bukankah itu terlalu tiba-tiba untuk dikatakan? Tapi, Jimin sudah mengatakannya begitu saja. Lepas dan bebas.


"Apa maksudmu?" Hana mengerut dahi. Bingung atas pernyataan Jimin yang baru saja ia dengar.


"Apa pernyataanku kurang jelas? Perlu aku ulangi lagi?"


"Mungkin maksudmu merindukan tubuhku. Bukan begitu maksudmu, Tuan?" Wow... Berani sekali Hana bertanya seperti itu? Harusnya Hana tidak berkata demikian, harusnya ia mendengar lebih dulu apa yang akan Jimin katakan.


"Ada anak kecil diantara kita. Bagaimana bisa kau berpikir seperti itu?" Jimin lebih sadar jika ada Heejin yang mendengar mereka. Itu tidak baik bagi Heejin yang sudah mulai pandai bicara. Bisa-bisa Heejin mengikuti perkataan mereka, karena anak-anak seumuran Heejin sedang berada dalam fase emas, yang akan menangkap dengan mudah apapun yang di dengar dan di lihat.


"Aku akan pergi memandikannya." Hana mengambil alih Heejin. Membawanya keluar dari kamar itu dan memandikannya. 


***


"Hana. Apa kau sedang baik-baik saja?" Hayeon menyadari Hana yang sedang melamun. Untunglah masakannya yang masih di atas kompor tak sampai hangus.


"Ah, em-- Iya. Aku baik-baik saja. Tentu aku baik-baik saja."


"Sepertinya kau baru saja sedang melamun? Apa yang sedang kau pikirkan?" 


"Tidak. Bukan sedang melamun. Aku hanya kepikiran bagaimana jika ketakutanku itu benar? Bagaimana jika pria itu adalah ayah Heejin? Bagaimana, Hayeon-ah?" 


"Satu-satunya jalan adalah dengan kau merahasiakan segalanya rapat-rapat, merahasikannya dari siapapun."


Tanpa keduanya menyadari. Ada sepasang kaki yang berdiri di dekat pintu dapur, menempel pada dinding untuk bisa mencuri dengar pembicaraan antara Hana dan Hayeon. 


"Hayeon. Aku takut. Aku takut pria itu akan membawa putriku." Hana bicara sedikit pelan. Tapi pelan itu mampu terdengar rungu Jimin yang berada di balik dinding. 


"Dia belum tentu ayah dari Heejin. Belum tentu Hana. Jadi untuk apa kau setakut ini? Itu baru pradugamu saja." 


"Tapi... Tapi segala yang aku ingat mengarah padanya. Bahkan kau lihat sendiri seberapa miripnya Heejin pada pria itu, bukan? Aku......" 


"Jadi tebakanku benar? Heejin putrimu?" Jimin menampakn eksistensinya. Keluar dari persembunyian, membuat Hana dan Hayeon mati langkah.


Tergemap, terdiam tanpa kata. Terlalu gegabah untuk membahas hal itu. Sementara pria yang dibicarakan sedang berada di bawah atap yang sama. Harusnya Hana lebih berhati-hati, tapi rupanya nasi sudah kepalang menjadi bubur.


LOVE


Author: Ameera Limz


********


Hai, jangan lupa tinggalin jejaknya ya sayang.