
Dont judge people by the cover yang ada dibenak diandra tentang fahri. Dan tanpa sengaja diandra sudah menjadi bagian dari geng mereka, meski diandra tak benar-benar ingin bergabung, tapi seiring berjalannya waktu semua yang ada disana menjadi teman diandra. Hampir setiap malam diandra datang ke cafe itu bersama fahri. Beberapa waktu lalu andri memperingatkan diandra kalau fahri laki-laki yang tidak baik, diandra hanya menjawab iya iya sambil bercanda. Tak lama kemudian fahri menelepon diandra dan meminta tolong motornya mengalami kecelakaan dan meminjam uang pada diandra, tanpa berprasangka buruk diandra langsung bertanya dimana dan meminjamkannya uang. Andri yang mendengar hal itu langsung marah pada diandra dan memperingatkan kembali diandra bahwa fahri bukan laki-laki yang baik. Lama-lama diandra jadi kefikiran dengan apa yang mantan fahri ceritakan pada diandra, tapi diandra ingin membuktikannya sendiri. Sudah dua hari setelah fahri meminjam uang pada diandra, fahri tak sesering dulu menghubungi diandra. Suatu saat diandra diajak oleh dina dan putri untuk main ke cafe dan disana ada fahri, tak ada yang mencurigakan dari dia, diandra pun berfikiran “oh hanya pemikiranku saja mungkin, kalau ada yang tidak beres dengan fahri”.
Hari semakin malam semua orang sibuk dengan pacarnya masing-masing, saat itu fahri yang ada di dapur cafe memanggil diandra untuk melihat dia membuat kopi, diandra mendatangi fahri dan berbincang sambil membuat kopi. Entah kenapa pembicaraan fahri menjadi lebih ke arah hal yang lebih dewasa, diandra hanya
menanggapinya dengan tersenyum sambil mencicipi kopi buatan fahri. Sejujurnya diandra sudah merasa tak nyaman berada dengan fahri di ruangan yang hanya ada mereka berdua, diandra menyimpan cangkir berisi kopi itu dan hendak kembali ke depan, tapi tiba-tiba fahri menarik tangan diandra dan hal yang tak menyenangkan
terjadi, fahri mencium diandra, dan diandra langsung menampar fahri saat itu juga, lalu pergi tanpa pamit pada siapapun.
Diandra pulang naik ojol, karena cafe itu lumayan jauh dari tempat tinggal diandra. Mata diandra berkaca-kaca tak percaya apa yang baru saja fahri lakukan, selama ini diandra tak mendengarkan perkataan siapapun tentang fahri, dan diandra baru sadar kalau dia tak jauh berbeda dengan mantan fahri yang lain.
Sesampainya di depan rumah diandra berpapasan alfi yang sepertinya baru pulang dari warung, diandra tak mau melihat ke arah alfi karena mata diandra berkaca-kaca. Dindra jalan lebih cepat dan masuk ke rumah lalu berlari ke dalam kamar, entah beberapa kali telepon diandra berbunyi, tak ingin diandra menanggapinya. Diandra pergi ke kamar mandi dan menggosok gigi beberapa kali karena geram mengingat kejadian tadi di cafe. Diandra menelepon yuli dan menceritakan semuanya, yuli hanya menenangkan diandra sampai tak sadar diandra sudah tertidur dengan mata sembab. Keesokan paginya diandra bangun dan seperti biasa membuka pintu jendela dan melihat alfi yang sedang menyiram tanaman, tapi kali ini alfi melihat balik ke arah diandra, diandra hanya memelototi alfi dengan nada seolah-olah berbicara “apa liat-liat!” alfi hanya tersenyum dan masuk kedalam rumah. Diandra berpikir “gila kali ya dia tiba-tiba senyum, kesurupan kali". Diandra ke kamar mandi dan melihat dirinya di cermin “oh my god, mata gueeeeee..... “ seketika diandra sadar alfi bukan tersenyum tapi menertawakan mata diandra yang bengkak karena menangis semalam. Diandra terus menggerutu “fahri sialan!”. Kali ini diandra sarapan di rumah dan mamah diandra bertanya “kamu habis nangis ya ? kenapa ? “ jawab diandra “engga mah Cuma sakit kepala jadi ingin nangis” kembali mamahnya bertanya “masa?” “apa sih mah, sudah ah aku berangkat dulu assalamualaikum” mencium tangan mamahnya lalu bergegas pergi karena tak ingin dialog tersebut menjadi panjang.
Diandra melihat alfi yang ada di depannya. Biasanya diandra menyusul alfi, tapi kali ini diandra berjalan sangat pelan agar tak bertemu alfi, memikirkan alfi yang tadi pagi menertawakannya.
Sesampainya disekolah diandra langsung bercerita lagi dengan nada marah pada yuli, andri dan jeje mendengarkan dengan wajah kesal juga dan ingin memukuli fahri, tapi diandra melarang dengan alasan tak ingin ada kekerasan toh sebenarnya diandra juga tidak ada perasaan apa-apa pada fahri. Beberapa kali fahri menelepon diandra, dan berpuluh-puluh chat tak ingin diandra menanggapinya, hingga waktu
istirahat dina menelepon diandra dan menanyakan ada apa?, lalu diandra pun menceritakan semuanya pada dina dengan nada marah, tapi diluar dugaan dina menanggapinya seolah-olah “apa sih kamu lebay, Cuma begitu juga” sudah Cuma bilang begitu saja, tak ingin memperpanjang obrolan dengan dina, diandra langsung mematikan teleponnya.
Sepertinya dina merasa kalau diandra juga marah padanya dan beberapa kali mengirim chat maaf. Tapi diandra masih tak ingin membalas chat dari siapapun. bel pun berbunyi pertanda saatnya pulang, tapi ajay tiba-tiba menghampiri diandra dan mengajak diandra untuk main “di, abis ini ada acara ngga?” jawab diandra “nggak,
kenapa?” “main yu?” ajak ajay “oh iya ayok, nanti kamu jemput aku dirumah” jawab diandra.
Setibanya dirumah diandra melihat dina yang menunggu diandra diluar rumah
Diandra “ada apa?”
Diandra “nggak ko.”
Dina “fahri nyariin kamu, katanya mau minta maaf”
Diandra “seriously? I dont care” sambil bernada sinis
Dina “ tapi di, kamu harus ngasih kesempatan sama fahri dong.”
Diandra “din, sorry aku mau pergi ada janji” sambil masuk ke dalam rumah
Dina pun pulang dengan rasa kesal pada diandra. Tak lama kemudian ajay datang menjemput diandra dan mengajak diandra ke YM (young mall), diandra merasa aneh juga kenapa tiba-tiba ajay mengajak diandra ke mall, tapi diandra ikut saja. Sesampainya disana ajay mengajak diandra untuk bermain biliar, diandra sama sekali tidak
bisa bermain biliar, tapi ajay mengajarkan diandra dengan sabar, meski diandra memainkannya dengan emosi dan lelucon. Rupanya ajay tahu masalah yang sedang dihadapi oleh diandra dan ingin menghibur diandra. Yahh .. memang sebaik itu dia. Akhirnya diandra menceritakan semuanya pada ajay. Tapi hal yang benar-benar tidak menyenangkan terjadi. Diandra melihat sani dengan wanita dan pasti itu pacarnya, tiba-tiba diandra ingin mengikuti sani dari belakang dan mengajak ajay untuk ikut memata-matai sani dan pacarnya. Sani dan pacarnya
pergi ke arah bioskop, sepertinya mereka berencana untuk menonton film, diandra dan ajay pun mengikuti mereka. Ajay bertanya-tanya “apa-apaan ini di?” jawab diandra “sudah diam!” ajay menikmati filmnya, dan diandra melihat ke arah sani dan pacarnya. Karena semakin lama diandra merasa semakin sakit hati, ya sakit
hati yang sesungguhnya, lalu diandra keluar dari bioskop itu, ajay pun mengejar diandra dan bertanya pada diandra. Diandra menceritakan lagi semuanya tentang sani, dan diandra sungguh tidak peduli tentang apa yang dilakukan fahri pada diandra, diandra hanya marah pada fahri, tapi diandra sakit hati oleh sani yang
bahkan tak melakukan apapun pada diandra. Hari mulai sore diandra dan ajay pun pulang.
Tak terasa sudah sepuluh hari dari kejadian fahri. Diandra akhirnya membalas chat dari fahri dan memutuskan hubungan mereka, awalnya fahri tak terima dengan keputusan diandra tapi karena diandra sudah ilfil jadi mereka harus berpisah, lalu diandra memblokir nomor telepon fahri.