
Matahari siang ini tengah menatap kami dengan tatapannya yang nanar.
Semua orang sedang fokus pada apa yang mereka sedang lakukan. Mendengar diandra mau menjadi pacar fahri yuli menarik diandra dan mematikan telepon diandra, dengan nada marah yuli “di, kamu apa-apa an mau jadi pacar fahri?” diandra menjawab dengan santai “dia selama ini baik ko sama aku, jadi kenapa engga kan.” Sambil melihat ke arah sani berharap sani akan bertanya, tapi sani benar-benar cuek dan tak peduli, yuli pun mengerti kenapa diandra berbuat seperti itu.
Matahari pun semakin terik dan mereka semua tetap berada dibawah sinar matahari dan tak mempedulikan seberapa panasnya. Tapi diandra tentu saja sangat merasakan panasnya terlebih melihat sikap sani yang acuh tak acuh pada diandra. Sebenarnya sani yang lebih dulu memberi harapan pada diandra, tapi harapan itu mungkin tak ada lagi sekarang. Diandra sebenarnya sengaja pergi ke stasiun berharap bertemu dengan sani, diandra menyadari betapa bodohnya mau panas-panasan hanya karena ingin dekat dengan laki-laki yang tidak peduli padanya. Dan kata sani yang terucap adalah “di, sekarang kamu item ya.” Tak ingin menjawab diandra bergerutu dalam hati “what? Item? Anda fikir ini semua karena apa? Ngga item bagaimana duduk dibawah terik matahari yang panas ini demi melihat Anda!” lalu diandra mengajak yuli untuk pulang, diandra berjalan sangat cepat terdengar samar mereka berteriak “ka diandra jangan marah cuma bercanda” tak ingin diandra mendengarnya. Yuli hanya melihat diandra karena yuli tahu kenapa diandra seperti itu.
Hari pun sudah mulai gelap, sungguh diandra merasa sangat sakit hati dengan perkataan sani. Beberapa telepon dan chat diandra abaikan, karena pasti itu dari fahri. Tak lama kemudian ada dina dan putri datang kerumah diandra mengajak diandra keluar untuk nongkrong ditempat biasa. Karena suasana hati diandra sedang tidak baik jadi diandra ikut untuk menghibur diri sendiri. Tak menyangka diluar sudah ada fahri yang menunggu. Diandra kaget dan merasa malas.
Diandra melihat ke dina dan putri sambil mengangkat alis sebelah dengan ekspresi kesal. Mau tidak mau diandra akhirnya dibonceng fahri hingga tiba di cafe. Semua orang berteriak ”ciiieeee..... pajak jadiannya mana?” diandra heran oh ternyata diandra lupa kalau dia sudah jadi pacar fahri. Selama di cafe suasana hati diandra lebih baik dari sebelumnya dan fahri pun ternyata orang yang humoris jadi diandra tidak bosan dan sedikit terhibur, dalam hati diandra “fahri baik ko, humoris lagi sani is nothing diandra” sambil melihat fahri, dan fahri terlihat malu karena dilihat oleh diandra, diandra pun tertawa melihat tingkah fahri yang seperti itu. Karena malam sudah terlalu larut diandra meminta fahri untuk mengantarnya pulang, dan fahri tidak keberatan sama sekali menuruti
permintaan diandra padahal suasana sedang senang-senangnya. Sedangkan dina dan putri masih tetap ingin disana.
Selama perjalanan fahri pun banyak bercerita tentang dirinya, saat sampai di rumah pun dia bertegur sapa dengan sangat ramah pada orang tua diandra. Tapi saat diandra di kamar fikirannya tentang sani kembali muncul, diandra pun tiba-tiba menangis tanpa alasan.
Hari-hari berganti tak terasa diandra sudah satu minggu menjadi pacar fahri, dan diandra tak pernah lagi datang ke dekat stasiun, ada beberapa kali sani mengirim pesan pada diandra tapi diandra tak ingin merespon karena alasan dia mengirim pesan pada diandra adalah karena temannya ingin berkenalan dengan diandra. Bayangkan saja bagaimana rasanya orang yang kita suka malah menyuruh kita pdkt dengan orang lain, lagi pula diandra sudah punya fahri, meskipun diandra tak ada perasaan apa-apa pada fahri setidaknya fahri bisa sedikit menghibur diandra.
Setelah pulang sekolah diandra langsung mengajak fahri bertemu, dan kebetulan dina, putri, adrian dan yang lainnya berencana untuk main dirumah fahri.
Fahri adalah anak broken home. Kedua orang tuanya sudah bercerai dari dia masih kecil dan masing-masing sudah menikah lagi, dan fahri kini tinggal dengan neneknya yang juga sedang ada kesibukan diluar rumah, jadi pada saat itu tidak ada siapa-siapa dirumahnya.
Sesampainya dirumah fahri diandra melihat-lihat foto disana dan bertanya tentang keluarganya. Diandra tak tahu dina dan adrian pergi kemana, putri juga dan hari tak tahu kemana. Diandra hanya duduk sambil menonton tv bersama fahri, tak lama kemudian diandra bertanya pada fahri dengan siapa saja dia berpacaran sebelum diandra, dan dia menceritakan bahwa dia pernah sangat mencintai seorang wanita tapi wanita itu meninggal, dan sebelum bertemu diandra dia mengaku pernah beberapa kali berpacaran dengan banyak wanita hanya ingin mencari wanita yang seperti mantan yang sangat ia cintai itu, hingga dia bertemu dengan diandra. “What?” diandra dengan nada naik, lalu fahri melanjutkan “bukan berarti aku melihat dia di kamu, aku tulus sama kamu karena kamu ya kamu dan rasa itu tumbuh karena kamu diandra” mendengar perkataan fahri sebenarnya diandra merasa geli, diandra tidak peduli tentang hal itu lagi pula diandra tak ada perasaan apapun pada fahri hanya ingin memastikan wanita yang menjelekan fahri tadi, dan mungkin sebagian omongan wanita itu benar, tapi mendengar perkataan fahri diandra hanya berfikiran mungkin fahri berbuat seperti itu ada alasan tersendiri. Setelah lama bercerita diandra penasaran kemana perginya putri, dina, dan yang lainnya. Akhirnya
diandra mengelilingi rumah itu dan melihat dina dan adrian sedang berbuat yang tidak-tidak, diandra melihat mereka dan menendang pintu lalu meminta fahri untuk mengantarnya pulang. Disisi lain dina dan adrian kaget karena diandra tiba-tiba ada di depan mereka. Untuk sebagian orang pada zaman sekarang ada
yang berfikiran tidak masalah karena masih di batas wajar. Tapi untuk diandra hal itu dianggap hal yang tabu dan diandra tidak suka melihat sahabatnya sendiri berbuat seperti itu. Selama perjalanan diandra menceritakan
kekesalannya pada fahri, melihat tanggapannya sepertinya fahri sepemikiran dengan diandra.