Life Of Life

Life Of Life
Ketika rasa mengalahkan logika 5



Hari demi hari berjalan normal hingga diandra bertemu lagi dengan sani. Saat itu pergi ke kedai kopi yang ada di dekat rumahnya. Diandra melihat ke sekeliling kedai kopi itu dan kagum dengan art desain yang ada disana. Diandra memesan secangkir coklat panas dengan sedikit gula. Tak lama kemudian pesanan itu datang dan betapa terkejutnya


diandra yang mengantarkan coklat panas itu adalah sani.


“Ini pesanannya ka.” Sambil tersenyum melihat diandra


Oh tuhan betapa kagetnya diandra bahwa sani ada di tempat ini, dan ternyata kedai kopi itu milik saudara sani, dan sani sedang main disana. Karena melihat diandra yang sedang sendiri jadi sani sengaja menggantikan waiter disana untuk mengantarkan secangkir coklat panas.


Akhirnya diandra ditemani oleh sani. Mereka sangat asyik ngobrol sampai diandra lupa kalau tujuan dia kesana untuk mengerjakan tugas presentasi sekolah. Meskipun begitu suasana hati diandra benar-benar berubah seolah-olah ada bunga mawar yang tumbuh dihatinya. Diandra melihat jam dan diandra terkejut karena waktu berjalan begitu cepat.


“sani aku pulang ya, ini udah malam” sambil panik ekspresi diandra membereskan barang yang ia bawa. Tapi kemudian sani memegang tangan diandra yang sedang panik dan mereka berdua saling bertatapan. Dagdigdug begitu cepat detak jantung diandra saat sani menatapnya.


“diandra tenang!” sani berkata sambil tertawa


Diandra pun terdiam dan lebih tenang “mau aku antar pulang?” tanya sani “ngga usah aku pulang sendiri, deket ko.” Sambil berlari diandra menjawab


Masalahnya bukan karena terlalu malam diandra pulang, tapi diandra ingat karena tugas presentasi yang harus beres besok. Saking asiknya diandra ngobrol dengan sani diandra lupa dengan tujuan awalnya.


Malam itu diandra begadang untuk mengerjakan presentasi hingga sangat larut.


Pagi pun tiba, alarm berbunyi begitu kerasnya dan diandra terbangun sampai terjatuh dari tempat tidur saking kagetnya. Saat melihat jam “oh tuhan aku terlambat” sambil tergesa-gesa diandra bersiap-siap untuk pergi ke sekolah. Benar saja setelah diandra sampai, gerbang sekolah sudah di tutup, dan diandra harus


menunggu di depan gerbang sampai upacara selesai.


“ah shit betapa sialnya aku hari ini.” Bergerutu dalam hati


Tiba-tiba ada anak laki-laki yang mendekati diandra.


“kamu ka diandra kan?” tanya anak leleki itu


“iya, kenapa?” jawab diandra


“ka aku masuk organisasi pencinta alam loh, kakak di organisasi itu juga kan ?”


“mm oh iya” ingin mengakhiri percakapan karena diandra tak nyaman ditanya oleh orang asing


Tak lama kemudian gerbang pun di buka, dan diandra harus dihukum di lapang sekolah dengan menghormat ke bendera selama 30 menit. Matahari saat itu seakan ikut menghukum diandra.


Diandra melihat kesekeliling dan banyak orang yang tertawa melihat ke arah diandra terutama alfi. Dia tersenyum seperti iblis yang senang sudah memangsa manusia. Orang seperti alfi yang sangat susah tertawa saat ini sedang tertawa lepas melihat diandra dihukum.


“ko pusing ya?” bicara diandra dalam hati


“aku lupa belum makan karena terburu-buru tadi, badan tetaplah kuat.” Menyemangati diri sendiri


Diandra melihat ada siswa yang tiba-tiba pingsan di dekatnya, lalu pmr membawanya ke uks. Badan diandra sangat lemas tapi diandra tak mau pingsan seperti itu terlebih lagi akan di tertawakan seperti apa lagi jika alfi melihat diandra, itu satu-satunya yang ada di benak diandra saat itu.


Diandra sudah tak peduli lagi pada hukuman diandra akhirnya berlari ke kamar mandi, semua yang dihukum berteriak “KAAAAAAAA....!!” tak ingin mendengarnya lagi diandra tak peduli, diandra berjalan merunduk menghindari jendela lainnya hingga sampai di kelas. Diandra perlahan melihat dari jendela dan bersyukur


saat itu tak ada guru dikelasnya.


Diandra masuk kelas dengan santainya dan langsung mencubit yuli sambil tertawa terbahak.


Yuli “udahan di hukumnya sayang?”


Yuli “ko yang dihukum seneng amat?”


Diandra “aku lagi kasmaran lagi.” Sambil tertawa lagi diandra akhirnya menceritakan pertemuannya dengan sani semalam


Yuli “pantesan” sambil menyenggol diandra hingga terjatuh


Diandra “aduh sakit tau!”


Yuli “yaudahlah yang kasmaran gitu doang sakit” sambil tertawa


Tak lama kemudian andri menghampiri diandra dan bertanya pada diandra tentang presentase yang harus selesai hari ini.


Andri “kamu udah ngerjain presentase?”


Diandra “udah dong”


Yuli “pasti udahlah orang semalam..” belum selesai kalimat yuli, diandra langsung membungkam mulut yuli sambil membawa yuli menjauh dari andri.


Andri “ kalian apa-apa an sih?”


Diandra “kita memang begini suka romantis antar teman hahaha”


Andri kembali ke bangkunya sambil menggelengkan kepala melihat tingkah laku diandra dan yuli.


Yuli “kenapa sih di?”


Diandra “jangan ngomongin sani di depan andri!”


Yuli “ kenapa? Aaaaaaatau jangan-jangan kamu pacaran sama andri ya? Dengan nada meledek


Diandra “apa-an sih enggak, tapi kayaknya andri ngga suka sama sani mungkin ada masalah pribadi”


Yuli “oh gitu? Tapi ngga boong? Jangan-jangan kamu suka ya sama andri? Atau andri udah bilang suka sama kamu? Hahaha”


Diandra “what?”


Tak lama kemudian guru masuk dan langsung membentak diandra, karena diandra kabur dari hukumannya. Diandra tetrus diomeli oleh guru dan untungnya ada jeje yang tiba-tiba menanyakan pelajaran kepada guru itu, jadi dia lupa kalau belum selesai memarahi diandra.


Diandra menoleh ke arah jeje dan berkata terimakasih dengan pelan.


Siapa yang akan menyangka bahwa diandra yang sering di hukum dan dimarahi itu selalu menjadi juara kelas. Diandra tak hanya nakal dan jahil, tapi dia juga mudah memahami pelajaran, dia pintar berbahasa inggris, dan menguasai komputer. Iya diandra nyaris sempurna tanpa masalah yang ia timbulkan.


Bel berbunyi waktunya pulang,


Jeje “di, nongkrong yu di tempat biasa?”


Diandra “iya ayooo” tak lama kemudian hp diandra berbunyi, ada chat dari no yang tak di kenal. Diandra kaget sekaligus senang, ternyata itu chat dari sani yang mengajak diandra main.


“guys aku ngga jadi ikut yah, sorry ada urusan” teriak diandra sambil berlari kegirangan.