Life Of Life

Life Of Life
Ketika rasa mengalahkan logika 2



“You will never know what will happen in your life, sometimes life is not always as expected.”


Diandra mengawali paginya seperti biasa, ia masih tetap melihat alfi yang sedang menyiram tanaman saat membuka jendela kamarnya. Diandra dan alfi hampir tak pernah bertegur sapa, di sekolah pun saat berpapasan seperti orang yang tidak saling kenal, tapi memang seperti itulah seorang alfi dan diandra sudah tak peduli.


Kelas dimulai, sebagian murid membuka buku dan mendengarkan guru menjelaskan, sebagian lagi ada yang tidak memperhatikan sama sekali. Diandra meskipun pergaulannya kurang baik tapi dalam hal pelajaran ia selalu memperhatikan, dan diandra selalu mendapat nilai lebih tinggi dari teman-temannya meskipun diandra jarang belajar dirumah.


Bel pun berbunyi, semua siswa berhamburan keluar kelas. Diandra memilih untuk pergi ke warnet sekolah untuk membuka fb, tanpa sengaja diandra melihat perubahan status sosial media sani berpacaran lagi dengan wanita lain. “oh my god !” kaget bercampur kesal tanpa sadar diandra berteriak. Semua yang ada disana melihat ke arah diandra, setelah diandra sadar telah menjadi pusat perhatian diandra menundukan kepala nya dengan rasa malu. Difikir-fikir kenapa harus marah diandra sama sekali tak ada hubungan apapun dengan sani jadi untuk marah seperti ini rasanya tak berhak, tapi perasaan ini rasanya sakit, jantung diandra terasa sesak. Diandra segera mematikan komputer dan sontak berlari ke kelas dan duduk di bangku lalu menyandarkan kepalanya di meja “kenapa rasanya aku ingin menangis?” dalam hati diandra lirih


Andri datang menghampiri diandra dan bertanya “di, kamu kenapa?” , “ngga apa-apa ndri” sambil mengangkat kepala diandra menjawab. Tak lama kemudian yuli, dita, dan jeje yang selesai dari kantin melihat diandra sedang dalam kondisi yang tidak biasanya, mereka pun bertanya sambil bercanda


Yuli “di, kamu kenapa?”


Diandra “im fine yul”


Jeje “ah masa kayak mau nangis begitu, jangan-jangan kamu diapa-apain sama andri ya?”


Andri “apa-an sih orang datang-datang sudah kayak gini !”


Diandra “beneran aku ngga apa-apa gays” sambil tersenyum


Dita “ndi tanggung jawab dri”


Andri “apa-an putus cinta kali diandra bukan karena gue!” dengan nada agak tinggi


Diandra “hahaha sudah-sudah aku laper mau jajan” sambil berdiri diandra menarik tangan yuli “anter aku jajan” lanjut diandra


Akhirnya diandra dan yuli pergi ke kantin sekolah, selama perjalanan akhirnya diandra menceritakan apa yang membuatnya tidak karuan seperti itu, yuli bilang  “memang itu bukan hak kamu, dan kamu tak pernah bilang kalau kamu suka sama dia, jadi bagaimana dia tahu”,  “tapi dia kayaknya ngga suka sama aku yul, soalnya dia sudah beberapa kali malah ngasihin No. telepon aku ke teman-teman nya” jawab diandra. Yuli hanya menepuk pundak diandra dan menggelengkan kepalanya. Diandra malah merasa semakin pesimis dengan ekspresi yuli.


Di kantin yuli melihat ajay dan eki “di, daripada kamu sedih ngga jelas mending kita kerjain mereka berdua” sambil melihat ke arah ajay dan eki yuli berbicara pada diandra.


Diandra pun ikut melihat mereka berdua dan jiwa jahilnya muncul, oh iya diandra bukan anak pendiam dan baik loh, diandra sebenarnya orang yang bisa jadi jahil.


Diandra dan yuli mengambil makanan di kantin yang tidak sedikit, lalu “bu ini semua eki dan ajay yang bayar ya hahaha” sambil berteriak melihat ke arah ajay dan eki lalu diandra dan yuli berlari sambil tak henti tertawa. Sesampainya dikelas diandra dan yuli masih tertawa dan membagikan makanan tadi ke yang ada dikelas, tak lama kemudian ajay menepuk pundak diandra sambil berkata “ganti uang jajanan kamu!” diandra hanya melihat ke arah ajay dengan mata yang berlinang tanpa menjawab sepatah kata pun, lalu yuli berkata pada ajay “kamu liar dong diandra lagi sedih, butuh hiburan” ajay malah bertanya “kenapa?” dita menjawab “kepo amat!” ajay kembali melihat ke arah diandra dan malah ikut memakan jajanan tadi sepertinya mereka merasa iba sekaligus memaklumi perbuatan diandra yang tidak hanya sekali melakukan itu pada ajay dan eki.


Bel pun berbunyi kembali, tanda pelajaran selanjutnya akan dimulai, tapi kebetulan ada rapat mendadak disekolah diandra dan sekolah dibubarkan lebih awal. Entah kenapa diandra tiba-tiba mengajak yuli ke stasiun dengan alasan ingin beli bakso dekat sana. Yuli pun meng-iyakan, mereka berdua pergi ke stasiun. Belum beli bakso nya fokus diandra dan yuli teralihkan oleh sekumpulan anak smp yang diantaranya ada sani. Diandra malas melihat sani setelah kejadian tadi waktu istirahat, tapi yuli memaksa diandra untuk bergabung dengan mereka. Oh iya yuli juga lagi pdkt sama teman sani.


Dengan wajah bt diandra menyapa mereka semua, tak lama kemudian telepon diandra berbunyi ternyata itu fahri, diandra sama sekali tidak mempedulikan nya. Setelah lama ditempat itu yuli akhirnya bertanya pada sani tentang pacar baru sani dan sani menjawab dengan santainya. Semakin terbakarlah hati diandra mendengar hal


itu dan fahri masih menelepon diandra meski tak pernah diangkat. Mendengar sani yang bangga dengan pacarnya akhirnya diandra menjawab telepon fahri dan berbicara bla bla bla hingga puncak pembicaraan fahri tetap meminta diandra menjadi pacarnya, dan tiba-tiba diandra menjawab IYA !