
Sunny di definikan sebagai cinta pertama seorang wanita. Begitu juga dengan sani yang ini.
Diandra sadar bahwa baru kali ini dia menyukai seorang laki-laki sampai seperti ini, padahal sebelumnya diandra adalah wanita yang kalau menyukai laki-laki ya hanya sebatas suka, kalaupun diandra pacaran diandra terkesan cuek dan tidak peduli, bahkan saat mantan pacarnya selingkuh dan memutuskan diandra, diandra pasti akan menjawab “ oke “ dengan santainya dan seolah tidak pernah terjadi apa-apa.
Tapi saat ini seolah-olah hanya sani laki-laki yang ada di hidup nya.
Pergaulan diandra tidak terlalu baik, dia berteman dengan anak-anak geng motor. Hingga suatu saat dina mengajak diandra untuk nongkrong di sebuah cafe milik salah satu anak geng motor itu, diandra juga di kenalkan dengan semua anggota yang ada disana salah satunya ada kakak kelas diandra waktu smp dan sma yang memang kakak kelas itu sangat popular jadi diandra dengan mudah mengenalinya. Dina juga mengenalkan seorang teman baru bernama putri. Putri adalah wanita seusia diandra dan hidupnya sangat bebas, dia wanita yang urakan, dan dikenal gampang dimanfaatkan oleh laki-laki di geng itu. Tapi bodohnya dia tahu dan dia sama
sekali tidak masalah dengan hal itu. Setelah satu minggu diandra ikut berkumpul dengan para anak geng motor itu tiba-tiba ada laki-laki yang menghampiri diandra, dia meminta nomor telepon dan fb. Awalnya diandra tidak mau memberinya tapi dina dan putri terus memaksa diandra untuk memberikan nomor telepon dan fb
kepada laki-laki itu, jadi dengan terpaksa diandra memberinya.
Dalam waktu beberapa hari laki-laki itu terus mengirimi pesan dan menelepon hingga diandra merasa terganggu dan bercerita pada yuli dan andri (teman sekelas diandra). Yuli menyarankan kepada diandra untuk berbicara baik-baik pada laki-laki itu bahwa diandra merasa terganggu.
Sebenarnya laki-laki itu tidak terlihat buruk, dia terlihat normal, tidak urakan, kulitnya putih, wajahnya terurus, hanya saja diandra tidak terbiasa dengan orang asing terlebih lagi laki-laki itu seperti menyukai diandra. Pada hari itu dina dan putri menunggu di depan sekolah diandra
“ diandra ! “teriak putri dan dina
Diandra menoleh dengan lemas “ apa mereka ada disini ! “ dalam hati diandra bergumam. Saat itu yuli ada urusan jadi dia pulang lebih dulu.
Diandra datang menghampiri mereka berdua
Diandra “ kalian kenapa disini ? “
Dina “ jemput kamu lah .”
Diandra “ kemana ? “
Putri “ kita ke rumah bibi adrian, katanya mau masak-masak bikin nasi liwet “
Dina “ iya di, yu kita kesana “
Diandra “ kita bertiga sama adrian doang? “
(adrian adalah salah satu dari anak geng motor )
Diandra “ nggak mau males “
Putri “ ayolah diandra nanti kita senang-senang disana, ada fahri juga loh “ nada putri sambil cengengesan
Diandra dalam hati “ apalagi ada dia, tambah males ! “
(fahri adalah anak geng yang sedang mendekati diandra)
Putri dan dina terus menarik tangan diandra dan diandra pun dengan terpaksa ikut. Sesampainya disana benar saja sudah banyak anak-anak geng itu dan fahri menghampiri diandra dan mengajak diandra duduk disebelahnya, dan yang paling menyebalkan adalah semua yang ada disana meneriaki “ cieeeee cieeeee cieeeee....... “ its so not comfortable. Diandra hanya tersenyum terpaksa dan mengikuti apa yang mereka bicarakan walau pun diandra tidak benar-benar mendengarkan. Tak lama kemudian fahri mendekati diandra dan menyatakan perasaannya pada diandra, diandra merasa aneh, bingung seolah-olah “ what the? “ diandra terdiam dan perlahan menjauh sambil berkata “ apa sih kamu kenal juga kan baru “ sambil tertawa aneh. Rasa tidak nyaman ingin pulang saja dan menjauh dari sini. Tiba-tiba telepon diandra berdering dan ternyata itu andri menanyakan tugas sekolah yang tak di mengerti, diandra sangat bersyukur karena andri menelepon, setidaknya itu bisa dijadikan alasan diandra untuk pulang lebih dulu.
Diandra “ oh hai gays aku pulang duluan ya, aku lupa ada tugas kelompok “
Dina “ ko pulang sih, memang ngga bisa nanti saja? “
Diandra “ nggak bisa din ini penting “
Putri “ yaudah dianter saja sama fahri ya “
Diandra “ nggak usah, bisa sendiri ko “
Semua “ fahri anter saja ngga usah malu karena di tolak “
Diandra “ **** ! “ dalam hati
Fahri “ iya diandra aku anter saja daripada naik angkot “ sambil menyalakan motornya. Dengan sangat terpaksa diandra mau diantar fahri meski dalam perjalanan tak ada topik pembicaraan apapun. Di tengah keheningan itu tiba-tiba “ di, siapa tahu kamu berubah fikiran mungkin aku terlalu cepat bilang begitu “ fahri dengan
pede nya berkata, diandra pura-pura tak mendengar apa yang dikatakan fahri, diandra hanya fokus pada jalan dan berharap cepat sampai. “ Akhinya sampai juga “ gumam diandra dalam hati “ fahri sudah nyampe “ teriak diandra sambil menepuk tangan fahri. Fahri pun berhenti, diandra turun dari motor “ fahri makasih ya “ sambil tersenyum terpaksa “ iya sama-sama, kalau kamu butuh aku tinggal chat saja ya “ jawab fahri, diandra hanya tersenyum membalas perkataan fahri.