Journey To Arshila's Heart

Journey To Arshila's Heart
Bab 8:bersamamu



Sore yang damai dengan gerimis yang lembut menyentuh jendela cafe menciptakan suasana yang cocok untuk melihat-lihat tugas di laptop. Putra, yang kini menjadi anggota OSIS, menjalani rutinitas barunya dengan tekad dan semangat yang tinggi.


Dia duduk sendirian di sebuah sudut cafe, fokus pada layar laptopnya yang penuh dengan tugas dan tanggung jawab OSIS. Kehidupan barunya sebagai anggota OSIS membawanya ke dunia yang berbeda, dengan tugas-tugas organisasi, pertemuan, dan tanggung jawab yang semakin bertumpuk.


Meskipun sering kali sibuk dengan pekerjaan OSIS, Putra merasa bangga dengan peran barunya. Dia merasa bahwa ini adalah cara terbaik untuk memberikan kontribusi positif pada sekolahnya, dan dia berusaha menjalankan tanggung jawabnya dengan baik.


Namun, di tengah-tengah kesibukannya, Putra selalu menyempatkan waktu untuk menunggu seseorang. Mata Putra terus melirik jam di pergelangan tangannya, menunggu dengan sabar.


Tiba-tiba, pintu cafe terbuka, dan sosok Arshila muncul di ambang pintu. Dia terlihat segar, meskipun wajahnya agak basah oleh gerimis. Dalam sekejap, pandangan Putra memperindah sore yang gerimis itu. Dia segera berdiri dan tersenyum saat Arshila mendekati meja tempatnya duduk.


"Maaf aku telat," kata Arshila sambil melepaskan mantelnya yang basah.


Putra menggeleng dan menjawab, "Tidak apa-apa. Yang penting kamu sudah datang."


Mereka duduk bersama di meja cafe, dengan cangkir teh hangat di depan mereka. Mereka berbicara tentang hari-hari mereka, tugas-tugas mereka masing-masing, dan apa yang terjadi di sekolah. Putra merasa bahwa, meskipun sibuk, momen-momen seperti ini bersama Arshila adalah waktu yang berarti baginya.


Kehidupan bersama sebagai sepasang kekasih membawa perasaan kehangatan dalam hati Putra. Dia merasa bahagia bisa memiliki Arshila di sisinya, seseorang yang selalu mendukungnya dan membuatnya merasa lebih lengkap.


Sore itu, suasana di cafe semakin terasa romantis dengan cahaya lampu yang lembut dan suasana gerimis di luar. Putra duduk di meja cafe, matanya terfokus pada laptopnya yang sedang dibuka. Tugas-tugas OSIS membuatnya tenggelam dalam pemikiran.


Namun, tiba-tiba, tangannya terasa hangat ketika sesuatu menyentuhnya. Dia mengangkat kepala dan melihat Arshila yang duduk di seberang meja. Dia tersenyum dan membalas tatapannya.


"Ada apa?" tanyanya dengan ramah.


Arshila tersenyum lembut sambil memegang tangan Putra yang sedang memegang mouse laptop. Tatapannya yang hangat dan sorot matanya yang penuh kasih menyentuh hati Putra.


"Put, kamu terlalu serius dengan tugas-tugasmu. Mari beristirahat sejenak dan nikmati waktu bedua kita," kata Arshila dengan lembut.


Putra mengernyitkan kening, namun senyum Arshila membuatnya melemah. Dia menutup laptopnya dan meletakkannya di samping.


"Kamu benar," ujarnya sambil mengambil cangkir teh hangatnya.


Mereka duduk bersama, berbagi senyum dan percakapan yang hangat. Arshila memegang tangan Putra, dan sentuhan itu membantu mengalihkan perhatian Putra dari tugas-tugasnya yang menumpuk. Mereka saling berbicara, tertawa, dan merasakan kenyamanan satu sama lain.


Saat itu, Putra merasa beruntung memiliki seseorang seperti Arshila di sisinya. Dia menyadari bahwa hidup bukan hanya tentang tugas dan tanggung jawab, tetapi juga tentang saat-saat berharga bersama orang yang dicintai. Dalam genggaman hangat tangan Arshila, semua ketegangan dan pikiran tentang pekerjaan hilang, dan dia merasa seperti dia berada di tempat yang benar.


Putra, dalam suasana yang lebih santai, tiba-tiba teringat awal pertemuan mereka. Dia tersenyum lalu berkata, "Tahu tidak, Arshila, aku masih ingat betul awal pertemuan kita."


Arshila menatapnya dengan rasa penasaran. "Oh ya? Ceritakan."


Putra menghela napas singkat lalu mengingat saat itu dengan mata yang lembut. "Itu saat aku sedang mengikuti pelatihan OSIS. Aku sangat fokus dan terburu-buru, dan tidak sengaja menabrakmu di koridor sekolah."


Arshila tertawa lembut mendengar cerita itu. "Ya, aku ingat. Kamu terlihat sangat sibuk. Aku hampir saja jatuh, tapi kamu menangkapku."


Putra tersenyum, ingatan itu membuatnya merasa hangat. "Aku tahu itu hanya kebetulan, tapi sejak saat itu, aku merasa ada sesuatu yang istimewa."


Arshila juga tersenyum, mengingat momen itu. "Aku merasa begitu. Dan sekarang, kita di sini, bersama."


Mereka berdua terdiam sejenak, membiarkan kenangan mereka meresap. Awal pertemuan yang tak terduga telah membawa mereka ke dalam hubungan yang indah dan penuh cinta. Di cafe yang penuh cahaya lembut dan suasana yang hangat, mereka merasakan betapa beruntungnya mereka bisa menemukan satu sama lain.


Putra dan Arshila tengah asyik dalam percakapan mereka di sudut cafe yang nyaman. Mereka tertawa dan berbagi cerita saat Eric tiba-tiba muncul tanpa permisi.


"Cieee yang lagi pacaran," celetuk Eric dengan senyuman lebar di wajahnya, mata berkeliaran mencari reaksi kawan-kawannya.


Putra mendongak, matanya melempar pandangan tajam ke arah Eric. "Ganggu aja, lu! Udah sana!"


Eric hanya tertawa, merasa senang bisa menggoda temannya. Dia menunjukkan jari telunjuk ke arah Putra dan Arshila. "Tapi beneran, lu berdua cocok banget, deh!"


Arshila tertawa sambil menyembunyikan wajahnya di balik tangan. Putra merasa malu dan canggung, tetapi dia tahu bahwa Eric hanya ingin menggoda mereka.


"Diam, Eric," kata Putra sambil menggeleng. "lu  ke sini ngapain sih?"


Eric mengangkat bahunya sambil tersenyum kembali. "Cuma mau nongkrong aja, Put. Tenang aja, aku nggak bakal gangguin kalian terus-terusan."


Putra masih terlihat agak canggung, tetapi dia akhirnya mengizinkan Eric untuk bergabung. Mereka berbincang-bincang, walaupun Putra terkadang masih menatapnya dengan pandangan tajam jika Eric mencoba mengulang komentarnya tentang Putra dan Arshila.


Meskipun sedikit terganggu oleh kehadiran Eric, Putra dan Arshila tahu bahwa teman mereka itu baik hati di dalam hatinya dan hanya ingin melihat mereka bahagia. Mereka melanjutkan percakapan mereka dengan tawa dan senyuman, menikmati kebersamaan mereka tanpa ada beban.