
Hari pertama sekolah selalu membawa perasaan campur aduk, terutama bagi Putra. Berdiri di depan gerbang SMA Bintang Bangsa, rasa campur aduk antara gugup dan bersemangat menggelitik perasaannya. Di tengah keramaian para siswa yang baru berjalan menuju kelas, dia mencoba menemukan teman-temannya.
Putra, remaja yang cerdas dengan senyum tulus, memiliki kelakuan yang santai namun memiliki tekad yang kuat. Ia selalu berusaha untuk menjadi pendengar yang baik bagi siapapun yang membutuhkannya. Namun, ada sesuatu yang tak pernah terucap, yakni perasaannya terhadap Nisa, gadis yang selalu tertawa ceria di tengah kerumunan.
Nisa adalah matahari di tengah kelompok teman Putra. Keceriaannya menular, dan ia memiliki sifat yang ramah terhadap siapa saja. Putra selalu menemukan kenyamanan dalam senyumannya yang hangat. Meskipun perasaannya terhadap Nisa cukup dalam, ia belum pernah berani mengungkapkannya.
Di antara para teman sekelasnya, ada Andi. Pemuda energetik yang memiliki bakat alami dalam olahraga dan kepopuleran di kalangan siswa. Meskipun mereka bertiga adalah teman-teman dekat, Andi sering kali menjadi pusat perhatian. Putra merasa Andi memiliki segalanya, termasuk perhatian Nisa.
Namun, seiring berjalannya waktu, perasaan Putra semakin sulit untuk diabaikan. Setiap kali Nisa dan Andi bersama, rasa cemburu dan keraguan tumbuh dalam dirinya. Bagaimana Putra akan menghadapi situasi ini? Dan apakah SMA yang penuh dengan dinamika persahabatan dan percintaan ini akan membawanya pada petualangan tak terduga?
Suasana kantin SMA Bintang Bangsa terasa hidup dan riuh. Meja-meja dipenuhi siswa yang asyik berbincang dan tertawa. Putra duduk sendirian di salah satu sudut kantin, sambil terus mengaduk-aduk nasi gorengnya. Matanya kadang terangkat, mencari-cari sesuatu.
Tiba-tiba, suara ceria yang sangat dikenalnya membuat hatinya melompat. "Putra!" panggil Nisa dengan semangat dari meja seberangnya. Pandangannya seketika beralih ke arah suara itu, dan senyuman spontan menghiasi wajahnya. Dia berusaha menahan gugupnya dan melambaikan tangan ke arah Nisa.
Dengan langkah cepat, Nisa berjalan mendekati meja Putra. Rambutnya yang panjang tergerai dengan indah, dan matanya bersinar seperti matahari pagi. "Apa kabar, Putra?" tanya Nisa sembari tersenyum lebar.
Putra berusaha menahan rasa gugupnya yang muncul begitu saja. Dia melihat ke arah Nisa dengan ekspresi ramah. "Hai, Nisa. Aku baik-baik saja. Bagaimana denganmu?" jawabnya sambil mencoba mempertahankan raut wajahnya yang tenang.
Nisa duduk di kursi kosong di depan Putra, dan tatapan mereka bertemu dengan alami. "Aku juga baik-baik saja. Andi baru saja memberiku tiket konser band favoritku. Kau tahu, dia memang selalu tahu cara membuatku senang," ucap Nisa sambil tersenyum.
Putra mencoba tersenyum tulus, meskipun hatinya sedikit sakit mendengar tentang Andi. "Itu pasti akan menjadi pengalaman yang hebat bagimu," kata Putra dengan nada semangat yang berusaha dipaksakan.
Sementara mereka berbincang, rasa gugup di dada Putra mulai mereda. Nisa terus berbicara tentang rencana-rencana seru mereka di tahun terakhir SMA. Meskipun di dalam hati Putra ada rasa campur aduk, dia merasa bahagia dapat berbicara dengan Nisa seperti ini.
Saat Putra dan Nisa tengah asyik mengobrol di kantin, tiba-tiba ada bayangan yang melewati meja mereka. Andi, dengan sikap percaya diri yang khas, berdiri di samping Nisa. "Nisa, ada sesuatu yang ingin aku bicarakan di kelas. Maukah kau kembali bersamaku?" ajak Andi dengan senyuman manis.
"Aku duluan ya!. Aku kembali duluan ke kelas dengan Andi," kata Nisa dengan ramah sambil menatap Putra dengan tatapan minta maaf.
Putra mengangguk, mencoba untuk tidak menunjukkan perasaannya yang rumit. "Tentu, Nisa. Tidak apa-apa. Aku masih ingin berada di sini," ujarnya dengan senyuman tipis.
Nisa tersenyum dan berdiri dari kursinya. "Terima kasih, Putra. Kita bisa melanjutkan ngobrol nanti," katanya dengan ramah sebelum berbalik dan berjalan bersama Andi menuju kelas.
Putra memandang mereka pergi dengan rasa campur aduk di hatinya. Meskipun dia berusaha tetap berpura-pura baik-baik saja, dia merasa sedikit kesepian duduk sendirian di kantin yang masih berisik.
Meja kantin tempat Putra duduk menjadi seperti pulau sendiri dalam kerumunan siswa yang asyik beraktivitas. Putra menunduk, menggigit bibirnya dengan hati yang panas. Rasa cemburu dan kekecewaan mendalam terus menggelora di dalam dirinya. Meskipun begitu, ia merasa tak mampu berbuat apa-apa.
Tiba-tiba, suara akrab yang mengenalinya dengan baik membuat Putra mengangkat kepala sedikit. Eric, sahabatnya yang selalu hadir dalam setiap situasi, berdiri di depannya dengan ekspresi khawatir. "P, lu kenapa ngab?" tanya Eric dengan sedikit menepuk pundak putra.
Putra hanya menggelengkan kepala, terlalu terpaku pada perasaannya sendiri untuk mengucapkan kata-kata. Hatinya seperti berapi-api, tetapi dia tidak tahu bagaimana mengatasi semuanya.
Eric mendekati meja dan duduk di kursi kosong di dekat Putra. Ia mencoba menghibur dengan senyum lembutnya. "Udah, bang, jangan terlalu larut dalam perasaan itu. Cewek nggak cuma Nisa, kan?" ucap Eric dengan penuh pengertian.
Namun, Putra tetap diam dan memalingkan wajahnya. Eric tidak menyerah begitu saja. "Ingat, Put, selagi janur kuning belum melengkung, masih ada waktu buat nikung," kata Eric dengan lembut, mencoba menginspirasi Putra.
Putra menatap Eric, matanya mencari-cari makna di balik kata-kata sahabatnya itu. Akhirnya, dia memutuskan untuk berbicara. "Aku nggak mau merusak hubungan orang," ucapnya dengan suara pelan.
Eric mengangguk, mengerti akan apa yang menjadi pertimbangan Putra.."Tentu saja, lu punya prinsip yang baik. Tapi jangan lupa juga untuk nggak terlalu keras pada diri sendiri. Kau juga berhak bahagia, Put. Dan percayalah, suatu saat kau akan menemukan seseorang yang tepat."kata Eric dengan bijaksana
Putra merenung sejenak, merenungkan kata-kata Eric. Ia menyadari bahwa ia juga harus memperhatikan perasaannya sendiri, tanpa melupakan rasa tanggung jawabnya terhadap hubungan dan perasaan orang lain.