
Hari yang ditunggu-tunggu akhirnya tiba, hari pelantikan calon anggota OSIS. Putra dan teman-temannya, setelah melewati proses pelatihan yang intens, kini secara resmi diakui sebagai anggota OSIS. Putra sendiri telah diangkat sebagai Kepala Divisi Keamanan, sebuah tanggung jawab besar yang harus dia emban.
Di tengah suasana meriah pelantikan, teman-teman Putra dan dirinya sendiri mengenakan seragam OSIS dengan bangga. Mereka menghadiri upacara dengan semangat yang membara. Saat pengumuman resmi dilantiknya mereka sebagai anggota OSIS, sorak-sorai kebahagiaan dan haru menggema di antara mereka.
Setelah upacara pelantikan selesai, teman-teman Putra bersorak dan berpelukan, merayakan pencapaian mereka. Putra merasa bangga dan terharu dengan momen ini. Dia melihat sekitar, mencari wajah Eric, sahabatnya yang selalu ada untuknya.
Setelah merayakan dengan teman-temannya, Putra tiba-tiba melihat Arshila mendekatinya dengan senyuman. Arshila memberikan ucapan selamat dan membawakan Putra sebuah hadiah. Putra mengambil hadiah tersebut dengan pandangan penasaran.
"Apa ini?" tanyanya dengan senyum.
Arshila tersenyum lembut. "Ini adalah hadiah kecil sebagai ucapan selamat. Aku tahu kamu suka jaket ini, jadi aku berharap kamu menyukainya."
Ketika Putra membuka bungkusan hadiah tersebut, dia menemukan jaket yang sudah lama dia inginkan. Senyuman spontan muncul di wajahnya. Dia melihat Arshila dengan pandangan penuh rasa terima kasih.
"Terima kasih, Arshila. Aku sangat menyukainya," ujarnya dengan suara hangat.
Arshila tersenyum lebih lebar. "Sungguh? Aku senang kamu suka."
Tanpa ragu lagi, Putra tiba-tiba memeluk Arshila dengan erat. Arshila kaget sejenak, tetapi kemudian dia merangkul Putra dengan lembut. Kehangatan dalam pelukan itu menggambarkan rasa terima kasih dan kebahagiaan yang dirasakan Putra.
Saat mereka melepaskan pelukan, Putra melihat ke arah Eric dengan senyum penuh arti. Eric tak ingin melewatkan momen itu,ia segera mengambil kamera dan mengabadikan momen indah itu.
Namun, tidak jauh dari tempat itu, Nisa melihat adegan tersebut dari kejauhan. Dia menyadari bahwa saat itu Putra terlihat begitu bahagia bersama Arshila, dan hatinya semakin terasa hancur. Meskipun dalam hati kecilnya dia tahu bahwa dia harus menerima pilihan Putra, tapi melihatnya bahagia dengan yang lain tetap membuat hatinya sakit.
Dalam perjalanan yang rumit ini, perasaan Putra dan Arshila semakin mendalam, sementara Nisa semakin memahami bahwa kini Putra telah menemukan bahagianya dalam pilihan yang dia ambil. Keputusan-keputusan ini membawa mereka pada jalan-jalan yang berbeda, tetapi juga membangun kisah-kisah baru dalam hidup mereka.
Setelah pelantikan yang berkesan, Putra dan teman-temannya merasa perlu untuk merayakan momen bersejarah ini. Mereka memutuskan untuk pergi ke kantin sekolah untuk makan siang bersama. Putra, Arshila, dan Eric duduk di meja yang sama, dengan senyum ceria di wajah mereka.
Arshila, duduk di seberang Putra, merasa senang bisa merayakan momen ini bersama mereka. Dia tahu bahwa kehadirannya dalam kelompok ini mungkin masih baru, tetapi dia merasa diterima dengan hangat oleh Putra dan Eric. Dia ingin memberikan kontribusi positif dalam kelompok OSIS ini.
"Tempat paling enak buat makan bareng ya disini," ujar Eric sambil memandang menu di tangan.
Putra tersenyum. "Setidaknya cukup untuk merayakan hari ini."
Arshila ikut tersenyum. "Benar. Kita harus bersyukur atas pencapaian kita."
Setelah memesan makanan mereka, mereka berbincang-bincang tentang berbagai hal. Mereka tertawa dan saling bercanda, menciptakan suasana yang hangat dan akrab di sekitar meja mereka. Meskipun awalnya Putra dan Arshila memiliki sikap yang berbeda, tetapi mereka merasa semakin nyaman satu sama lain.
Saat makanan tiba di meja mereka, Arshila tiba-tiba mengeluarkan sebuah kotak kecil dari tasnya. "Oh ya, ini untukmu, Putra."
Putra memandang kotak kecil tersebut dengan keheranan. "Apa ini?"
Arshila hanya tersenyum dan menggeser kotak itu ke arah Putra. "Buka saja."
Dengan rasa penasaran, Putra membuka kotak itu. Di dalamnya, dia menemukan sejumlah permen favoritnya dan sebuah catatan kecil. "Selamat atas pelantikan, Putra! Semoga kamu tetap semangat dan sukses di tugasmu sebagai anggota OSIS. - Arshila."
Putra tersenyum dan melirik Arshila dengan tulus. "Terima kasih, Arshila. Ini sangat indah."
Eric, yang duduk di samping Putra, menyeringai. " bagi bang!"
Mereka semua tertawa, merayakan momen bersejarah mereka dengan tawa dan kebahagiaan. Meskipun perjalanan mereka masih panjang dan penuh dengan lika-liku emosi, tapi di saat ini, mereka merasa bahagia bisa merayakan bersama dan mendukung satu sama lain.