
Hari yang cerah dan segar menyambut Putra saat dia tiba di sekolah. Hari ini adalah hari pelatihan calon anggota OSIS, dan Putra merasa campuran antara gugup dan semangat. Dia ingin memberikan yang terbaik dalam pelatihan ini, berusaha menyalurkan energinya ke hal-hal positif.
Pagi itu, pelatihan dimulai dengan pemanasan fisik yang termasuk lari pagi di halaman sekolah. Putra dan para calon anggota OSIS lainnya berbaris rapi di garis start, siap untuk memulai pemanasan mereka.
Namun, saat Putra mulai berlari, tak sengaja dia menyenggol seorang siswi yang juga tengah berlari di sebelahnya. Dia merasa seperti ada kontak yang membuatnya terhenti. Putra memalingkan kepalanya, dan matahari pagi menerangi wajah seorang siswi yang terkejut.
"Maaf," ujar Putra dengan cepat, wajahnya tidak menunjukkan ekspresi apapun.
Siswi itu, bernama Arshila, tersenyum canggung. "Tidak apa-apa. Saya juga harus lebih berhati-hati."
Namun, sebelum mereka bisa melanjutkan percakapan lebih lanjut, pelatihan diteruskan dan mereka harus kembali fokus pada latihan. Putra melanjutkan berlari, menghapus insiden kecil tadi dari pikirannya. Dia tidak tahu mengapa, tetapi saat itu, dia merasa seolah-olah ada sesuatu yang berbeda tentang Arshila.
Setelah latihan selesai, Putra berjalan menuju perpustakaan untuk bersantai sejenak. Dia masuk dan melihat Arshila duduk di meja resepsionis, dengan senyum di wajahnya. Arshila ternyata adalah penjaga perpustakaan dan saat ini sedang menunggu buku-buku yang baru tiba.
Putra berjalan melewati meja resepsionis tanpa banyak bicara. Dia ingin menyendiri dan merenungkan hari pelatihan yang baru saja dia jalani. Namun, tiba-tiba Arshila menyapanya.
"Hai, kamu. Kamu anggota OSIS, kan? Aku mendengar mereka sedang mengadakan pelatihan," ucap Arshila dengan ramah.
Putra mengangguk singkat. "Ya, benar."
Arshila tersenyum lembut. "Sungguh pekerjaan yang mulia. Aku harap kamu bisa berhasil."
Putra hanya mengangguk sekali lagi, tetap mempertahankan sikapnya yang dingin. Dia tidak ingin terlibat dalam percakapan lebih lanjut, tetapi dalam hatinya, dia merasa ada sesuatu yang menarik tentang Arshila. Dia berjalan menuju salah satu sudut perpustakaan dan duduk sendirian, merenungkan pertemuan tak terduga ini. Arshila, gadis baru yang ramah dan penuh semangat, secara tak terduga mulai menarik perhatiannya, meskipun dia masih enggan untuk mengakui hal itu.
Beberapa hari setelah pertemuan di perpustakaan, Arshila merasa semakin penasaran tentang Putra. Dia ingin tahu lebih banyak tentang pria misterius ini yang selalu terlihat begitu dingin. Mungkin, dia bisa membuka sedikit lapisan dari dinding-dinding yang dibangun oleh Putra.
Pagi itu, Arshila membawa dua gelas minuman dingin ke perpustakaan. Dia tahu bahwa Putra biasanya akan datang ke sana untuk bersantai sejenak. Dia berharap bisa mengajaknya bicara dan mungkin mendapatkan kesempatan untuk mengenalnya lebih dalam.
Ketika Putra tiba di perpustakaan, Arshila menyambutnya dengan senyuman hangat. "Hai, Putra. Apa kabar?"
Putra mengangguk singkat. "Baik."
Arshila tersenyum, menunjukkan gelas minuman yang dia bawa. "Aku membawa minuman dingin, kamu mau?"
Putra memandang minuman itu dengan ragu. Dia tidak terbiasa dengan kebaikan semacam ini, dan dia merasa sedikit bingung tentang apa yang harus dia lakukan.
Arshila tidak menyerah begitu saja. Dia mendekatkan salah satu gelas ke meja tempat Putra duduk. "Coba saja. Ini akan membuatmu merasa lebih segar."
Putra akhirnya menerima gelas itu dengan raut wajah yang sedikit ragu. Dia mengambil satu teguk dan merasa kesegaran minuman itu mengalir melalui tenggorokannya.
"Ternyata enak," katanya tanpa ekspresi khusus.
Arshila tersenyum kemenangan kecil. "Lihat? Aku tahu kamu akan menyukainya."
Mereka duduk bersama di perpustakaan, dengan gelas-gelas minuman dingin di tangan mereka. Arshila mencoba memulai percakapan, berbicara tentang sekolah, minuman, dan hal-hal ringan lainnya. Dia berusaha memecahkan dinding-dinding yang dibangun oleh Putra, meskipun dia tahu itu akan memerlukan waktu.
Putra, meskipun awalnya canggung, mulai merasa lebih nyaman dengan keberadaan Arshila. Dia merasa bahwa gadis ini benar-benar ingin mengenalnya, bukan hanya orang biasa yang dia lewati di koridor sekolah. Meskipun dia masih menunjukkan sikap yang dingin, ada kilatan keinginan untuk berbicara yang muncul dari dalam dirinya.
Dalam percakapan yang berlangsung dengan santai, Putra dan Arshila mungkin sedang memulai perjalanan baru, membangun kedekatan yang tidak terduga. Dalam perpustakaan yang sunyi, dua dunia berbeda saling menyentuh, menciptakan ikatan yang perlahan-lahan tumbuh.
Putra dan Arshila masih duduk di sudut perpustakaan, berbincang-bincang dengan santai. Percakapan mereka telah membangun ikatan yang semakin kuat, meskipun Putra masih tetap menjaga sikap dinginnya. Namun, tiba-tiba suara gemuruh latihan dari luar menyela percakapan mereka.
Suara pelatih yang memimpin latihan calon anggota OSIS menggema melalui koridor. "Semua calon anggota OSIS, persiapkan diri untuk melanjutkan latihan di lapangan. Kita akan mulai dalam beberapa menit!"
Putra tiba-tiba merasa hatinya berdebar lebih cepat. Dia tahu bahwa ini adalah kesempatan baginya untuk membuktikan diri, untuk menunjukkan kemampuan dan semangatnya dalam menjadi anggota OSIS. Dia melihat Arshila dengan cepat dan bangkit dari kursinya.
"Maaf, sepertinya, aku harus pergi," ujarnya cepat.
Arshila tersenyum dan mengangguk. "Tentu, Putra. Semangat untuk latihannya!"
Putra memberikan senyuman singkat sebagai tanggapannya, lalu dia berbalik dan berlari keluar dari perpustakaan. Dia merasa semangat yang menggelora dalam dirinya, dan dia merasa bahwa inilah saatnya untuk mengenakan topi kebanggaannya sebagai calon anggota OSIS.
Saat dia berlari menuju lapangan, dia merasakan tatapan Arshila yang masih mengikutinya dengan pandangannya. Meskipun sikap Putra terhadapnya masih terasa dingin, Arshila tetap ada di sana untuknya, memberikan dukungan dan semangatnya.
Putra tiba di lapangan di mana sesi latihan akan dilanjutkan. Dia melihat teman-teman sekelasnya berkumpul di sana, dan dia merasakan adrenalin mengalir dalam dirinya. Dia mengambil napas dalam-dalam dan meletakkan topi kebanggaannya di kepalanya, seperti simbol dari tekad dan semangatnya.
Pelatih memberikan instruksi, dan latihan pun dimulai. Putra merasa fokus dan penuh semangat, mengikuti setiap instruksi dan berusaha untuk memberikan yang terbaik. Dia merasa seolah-olah ada api yang menyala di dalam dirinya, menggerakkan langkah-langkahnya dan mengatasi setiap rintangan yang ditemuinya.
Saat Putra berlari dan melompat, dia merasakan matahari yang bersinar terang di langit. Dia merasakan semangat yang menguat, dan dia merasa bahwa ini adalah langkah pertama dalam perubahan hidupnya. Dan, meskipun dia belum sepenuhnya mengatasi dinding-dinding yang dia bangun, ada seseorang yang percaya padanya di luar sana, seseorang yang memberikan dukungan dan semangat tanpa henti.