Journey To Arshila's Heart

Journey To Arshila's Heart
Bab 6: Pertarungan Emosi



Nisa dan Andi terjebak dalam perjalanan hubungan yang penuh dengan masalah. Setiap kali mereka berdua tampak dekat, ada saja ketegangan atau perselisihan yang muncul. Kali ini, situasi tidak berbeda. Nisa dan Andi sedang berjalan di koridor, berbicara dengan suara berbisik, tetapi perasaan cemburu dan kecurigaan masih terasa dalam kata-kata mereka.


Sementara itu, tak jauh dari sana, Putra sedang duduk di bangku sambil istirahat setelah latihan. Dia merasa lega dan puas dengan usaha yang dia berikan. Namun, dia merasa ada kehadiran yang membuat hatinya berdetak lebih cepat. Dia membalikkan kepala dan melihat Arshila mendekatinya dengan senyuman.


"Minuman dingin untukmu," ujar Arshila sambil menyerahkan gelas ke Putra.


Putra mengangguk dengan senyuman kecil. "Terima kasih, Arshila."


Nisa, yang masih berjalan bersama Andi, tidak sengaja melihat adegan ini. Wajahnya sedikit memucat, dan perasaan iri mulai menyala dalam hatinya. Meskipun dia telah memutuskan untuk bersama dengan Andi, tetapi melihat Putra dan Arshila bersama membuat hatinya berbunga rasa cemburu.


Putra dan Arshila duduk bersama di bangku, berbincang-bincang dengan ringan. Putra merasa nyaman dengan kehadiran Arshila, dan meskipun awalnya sikapnya terhadapnya dingin, dia mulai melihat sisi positif dalam diri Arshila.


Sementara itu, Arshila merasa senang bisa duduk berbicara dengan Putra. Dia tahu bahwa Putra adalah pribadi yang sulit didekati, tetapi dia tidak ingin menyerah begitu saja. Dia ingin mengenal Putra lebih dalam, dan dia merasa bahwa setiap percakapan mereka membawanya lebih dekat dengan tujuannya.


Di sisi lain, Nisa dan Andi terus berjalan di koridor. Perasaan cemburu semakin menghantui pikiran Nisa. Dia ingin menghapus perasaan ini, tetapi semakin sulit baginya untuk mengontrolnya.


Pertarungan emosi terjadi di antara mereka berempat. Nisa merasa cemburu dan iri melihat Putra dan Arshila, sementara Putra mulai merasa tertarik pada Arshila. Arshila, dengan hati yang berdebar-debar, berusaha menjaga keseimbangan antara membantu Putra dan tidak ingin mengganggu hubungan antara Nisa dan Andi. Sementara itu, Andi merasa semakin frustasi dengan masalah dalam hubungannya dengan Nisa.


Pulang sekolah, koridor menjadi tempat di mana perasaan dan emosi bertemu dalam satu momen yang tak terelakkan. Nisa sengaja menunggu di koridor, mengendap-endap dalam usahanya untuk melihat Putra. Dia berharap bisa berbicara dengan Putra, memperbaiki hubungan yang mungkin telah merenggang.


Namun, hatinya terasa seperti dilempar dengan batu ketika dia melihat pemandangan di depannya. Putra berjalan bersama Arshila, senyum ceria terukir di wajah keduanya. Putra bahkan tampak begitu ramah saat dia meletakkan topi kebanggaannya di atas kepala Arshila dengan perlahan.


Arshila bermain-main dengan topi itu, bertingkah seperti anak kecil yang baru saja menerima mainan baru. Tampak jelas kebahagiaan yang terpancar dari wajah Arshila, dan Putra tampaknya senang bisa memberikannya.


Nisa terpaku di tempatnya, hatinya terasa hancur oleh pemandangan itu. Cemburunya semakin mendalam, dan dia merasa kesal karena tidak bisa mengendalikan perasaannya. Perasaan ini meluap dalam dirinya, membuatnya merasa seperti dia tidak dapat menghadapi realitas di depan matanya.


Saat Putra dan Arshila berlalu di depannya, Nisa berusaha menyembunyikan perasaan cemburunya. Dia berdiri di tempatnya, wajahnya memerah dan matanya menatap ke lantai. Dia merasa hancur melihat Putra begitu nyaman bersama Arshila, sementara dia sendiri harus berjuang dengan perasaan yang tidak menyenangkan.


Setelah mereka pergi, Nisa tetap berdiri di tempatnya, mencoba mengatasi cemburunya. Dia berusaha menghentikan air mata yang hampir saja keluar. Dia tidak ingin menunjukkan kerentanannya kepada siapa pun, tetapi perasaan cemburunya begitu kuat sehingga dia merasa seperti dia hampir tidak bisa bernapas.


Perasaan cemburu yang semakin mendalam ini semakin membingungkan Nisa. Dia merasa terjebak dalam siklus emosi yang tidak sehat, dan dia tahu bahwa dia harus mencari cara untuk menghadapinya. Namun, di saat ini, dia merasa hancur oleh pemandangan yang dia saksikan, oleh perasaan yang tidak bisa dia kendalikan.