Journey To Arshila's Heart

Journey To Arshila's Heart
Bab 11: Momen Bersama di Jarak Jauh



Setelah sampai di rumah, suasana di sana tidaklah jauh berbeda dari biasanya. Putra mendengar suara pertengkaran orang tuanya yang terjadi di ruang tengah, namun kali ini dia memilih untuk tidak ikut campur. Dia telah belajar untuk menjaga jarak dari masalah keluarga mereka dan lebih memilih untuk fokus pada hubungannya dengan Arshila yang terus tumbuh.


Putra menuju kamarnya dan segera mengambil ponselnya. Dia tersenyum saat melihat notifikasi pesan dari Arshila di layar. Mereka telah berjanji untuk melakukan video call setiap hari untuk tetap merasa dekat meskipun mereka terpisah oleh jarak.


Setelah mengaktifkan kamera ponselnya, Putra menelepon Arshila. Wajah Arshila muncul di layar ponselnya, senyumnya yang hangat segera menyapanya.


"Hey, Put! Bagaimana hari ini?" kata Arshila dengan riang.


Putra tersenyum dan merasa lega ketika melihat wajah Arshila. "Hari ini baik-baik saja. Aku merindukanmu."


Arshila juga merasa senang melihat Putra. "Aku juga merindukanmu, Put. Bagaimana dengan program pramukamu? Sudah ada perkembangan?"


Putra menggambarkan proses pendaftaran ke program pramuka reguler dan semangatnya untuk mengikuti perkemahan. Mereka berbicara tentang rencana mereka masing-masing dan saling mendukung dalam upaya mereka.


Selama video call itu, suara pertengkaran orang tuanya terdengar samar-samar dari luar kamarnya, tetapi Putra memilih untuk tidak membahasnya. Dia ingin menghabiskan waktu berkualitas bersama Arshila dan merasa tenang saat berbicara dengannya.


Mereka tertawa, bercanda, dan berbagi cerita tentang hari-hari mereka. Walaupun terpisah oleh jarak, video call tersebut memberi mereka kedekatan dan kenyamanan yang mereka butuhkan untuk tetap kuat dalam hubungan merereka


Putra dan Arshila tengah asyik dalam video call mereka. Meskipun berjarak jauh, mereka merasa dekat satu sama lain.


Arshila tersenyum dan bertanya, "Jadi, Put, apa rencanamu malam ini?"


Putra merenung sejenak, lalu menjawab dengan nada ringan, "Hm, aku berpikir untuk menghabiskan malam dengan seseorang yang istimewa."


Arshila tersenyum lebar, merasa gembira dengan gombalan Putra. "Oh ya? Siapa dia? Aku sangat penasaran."


Putra tertawa kecil. "Dia adalah seorang gadis yang luar biasa, cantik, dan selalu ada di pikiranku."


Arshila mendekatkan wajahnya ke layar ponsel dan berkata dengan lembut, "Kamu tahu, Put, aku merasa sangat beruntung memiliki seseorang seperti kamu di hidupku."


Mereka berdua terus berbicara, mengejar topik-topik yang menyenangkan dan bercandaan yang membuat mereka tertawa. Putra mulai merasa lebih nyaman dan lebih terbuka dalam berbicara dengan Arshila, dan dia mulai merasa lebih percaya diri untuk memberikan gombalan.


"Kamu tahu, Arshila," kata Putra dengan suara lembut, "Aku merindukan senyum manismu setiap hari."


Arshila tersenyum lebar dan membalas, "Aku juga merindukan tatapanmu yang tajam."


Putra melanjutkan dengan serius, "Dan ketika kita bertemu lagi, aku ingin mencuri semua senyummu."


Arshila tertawa, merasa senang dengan gombalan Putra. "Oh, benarkah? Nah, kamu harus berusaha keras untuk melakukannya, Put."


Mereka berdua tertawa dan merasa bahagia dalam momen tersebut. Video call itu membuat mereka semakin mendekat satu sama lain, dan meskipun terpisah oleh jarak, cinta mereka tumbuh lebih kuat setiap harinya.


Waktu terus berjalan, dan malam mulai larut. Putra melihat bahwa Arshila mulai mengantuk. Matanya terlihat berat, dan dia sesekali menguap.


"Kamu terlihat lelah, Arshila," kata Putra dengan lembut.


Arshila menggelengkan kepala dengan senyum lembut. "Aku hanya sedikit mengantuk. Tapi aku ingin menghabiskan waktu sebanyak mungkin bersamamu."


Putra tersenyum penuh pengertian. "Aku juga, Arshila. Tapi kamu perlu istirahat. Kita bisa bicara lagi besok."


Arshila mengangguk, matanya semakin berat. "Baiklah, Put. Terima kasih atas video call yang menyenangkan ini."


Putra menjawab, "Sama-sama, Arshila. Selamat tidur dan mimpi indah."


Mereka saling berpandangan sejenak, lalu dengan perasaan yang hangat, mereka menyudahi video call mereka. Putra melihat wajah Arshila yang mulai terlelap dan berbaring di tempat tidurnya. Dia merasa beruntung memiliki seseorang seperti Arshila dalam hidupnya.


Setelah menutup video call, Putra tersenyum sambil mengusap mata pelan. Meskipun perpisahan dalam video call selalu membuatnya merasa sedih, dia tahu bahwa cinta mereka akan selalu membawa mereka kembali bersama. Dia berharap Arshila tidur nyenyak dan bermimpi indah, sementara dia sendiri berpikir tentang masa depan yang cerah yang akan mereka bagikan bersama-sama.