
Suasana kelas tampak tenang saat jam kosong di tengah hari. Siswa-siswa bercengkerama atau fokus dengan kegiatannya masing-masing. Putra baru saja kembali dari kamar mandi dan berjalan masuk ke dalam kelas dengan langkah pelan.
Namun, dia segera tercengang oleh pemandangan yang tidak pernah ia bayangkan sebelumnya. Andi, dengan tatapan bersemangat, berbicara dengan Nisa di depan kelas. Wajah Nisa berbinar-binar, dan Putra merasakan detak jantungnya semakin cepat.
Tidak percaya pada mata dan telinganya, Putra merapatkan langkahnya untuk mendengarkan apa yang mereka bicarakan. Dan tanpa disangka, dia mendengar kata-kata yang tidak pernah diharapkan.
"Andi, aku juga merasa begitu," ucap Nisa dengan suara lembut. "Aku menerima perasaanmu."
Hatinya seakan berhenti berdetak sejenak. Putra merasa seperti dunianya runtuh dalam sekejap. Mereka yang dia tahu adalah teman-teman dekatnya, tiba-tiba berada dalam momen yang mengguncang hatinya.
Tanpa ragu, tanpa berbicara sepatah kata pun, Putra berbalik dan berlari keluar dari kelas. Matanya berkabut dan hatinya penuh dengan perasaan campur aduk. Dia merasa hancur melihat pemandangan itu, melihat Nisa yang kini ternyata memilih Andi.
Putra berlari melewati koridor, berusaha menjauh dari semua yang baru saja ia saksikan. Dia merasa seperti tidak punya tempat untuk melarikan diri. Dia merasa kesepian dan hampa. Akhirnya, dia memutuskan untuk pergi ke lantai 2 perpustakaan, tempat yang sunyi dan sepi.
Di lantai 2 perpustakaan, Putra memilih untuk menyendiri, merenung dan merasakan semua emosinya. Tangisnya meleleh begitu saja, mencerminkan kekecewaan dan rasa sakit yang dia rasakan. Momen yang tak terduga itu menghantamnya begitu keras, merobek hatinya dan meninggalkan luka yang dalam.
Tidak ada yang tahu di mana Putra berada. Dia memilih untuk menghadapi perasaannya sendiri di tempat yang sunyi, berharap bahwa dia bisa merangkai kembali pikirannya dan menemukan cara untuk melanjutkan hidupnya di tengah semua perubahan ini.
Putra duduk sendirian di sudut perpustakaan, wajahnya pucat dan mata masih merah karena air mata yang tumpah. Dia merenung dalam keheningan, hatinya masih terguncang oleh kejadian yang baru saja ia saksikan di kelas.
Namun, tiba-tiba langkah kaki seseorang terdengar mendekat. Eric, sahabatnya yang selalu ada, berjalan perlahan mendekati Putra. Dia melihat ekspresi hancur di wajah Putra dan merasa sangat khawatir.
"Put, apa yang terjadi?" tanya Eric dengan suara khawatir, merenungkan kondisi Putra yang jelas-jelas dalam penderitaan.
Putra menoleh ke arah Eric, tetapi matanya tetap penuh dengan rasa sakit. Eric melihatnya dengan penuh simpati, berusaha membaca perasaan temannya ini.
"Dengar, Put, aku tahu ini sulit untukmu," Eric mencoba memulai pembicaraan dengan lembut. "Tapi, kamu tidak sendiri dalam ini. Kami semua ada di sini untukmu."
Putra merasakan getaran emosi dalam suaranya Eric, tetapi dia masih terjebak dalam kehampaan dan perasaan hancur. "Eric, aku tidak tahu bagaimana menghadapinya," Putra menjawab dengan suara bergetar.
Eric mendekati Putra dan duduk di dekatnya. "Put, dengarkan aku. Kamu memiliki hak untuk merasa marah dan kecewa, tapi kamu juga harus ingat bahwa kamu adalah seseorang yang berharga. Kamu memiliki teman-teman yang peduli padamu, termasuk aku."
Eric menggenggam bahu Putra dengan lembut. "Put, jangan pernah meragukan dirimu sendiri. Kamu adalah pribadi yang luar biasa, dan kamu memiliki masa depan yang cerah. Jangan biarkan satu hal mengubah cara kamu melihat diri sendiri."
Putra mengangkat wajahnya dan menatap Eric, matanya masih penuh dengan perasaan yang terlalu sulit diungkapkan. "Tapi apa yang harus aku lakukan sekarang, Eric?"
Eric mengembangkan senyumnya, mencoba memberi semangat pada Putra. "Yang paling penting sekarang adalah merawat dirimu sendiri, Put. Kami akan melewati ini bersama-sama. Ingat, jangan pernah bunuh diri, Put!"
Putra terdiam sejenak, kemudian membalas dengan nada lebih mantap. "Sembarangan lo kalo ngomong! Ya enggak lah!"
Eric tersenyum lega, merasa lega bahwa Putra masih memiliki semangat untuk menghadapi situasi ini. Mereka duduk di perpustakaan, bersama dalam momen yang penuh arti. Eric ingin memberi dukungan pada Putra dan mengingatkannya akan nilai-nilai kehidupan yang berharga.
Putra dan Eric masih duduk di perpustakaan, berbicara dengan nada rendah. Mereka merenung dan berbicara tentang berbagai hal, mencoba melupakan sedikit rasa sakit yang masih ada di hati Putra. Namun, tiba-tiba, perhatian Putra teralihkan oleh suara dering telepon genggamnya yang bergetar di atas meja.
Dia segera mengambil teleponnya dan melihat pesan masuk yang baru saja diterimanya. Matanya memfokuskan pada isi pesan itu, dan dia merasa dadanya berdebar lebih cepat.
"Apa itu, Put?" Eric bertanya, melihat ekspresi Putra yang berubah.
Putra menatap layar teleponnya, bibirnya bergetar sejenak sebelum akhirnya dia memutuskan untuk berbicara. "Ini adalah kabar rapat calon anggota OSIS."
Eric tersenyum. "Wah, Put, ini peluang besar. Kamu selalu memiliki semangat untuk berkontribusi pada sekolah, dan OSIS pasti akan cocok untukmu."
Putra mengangguk, wajahnya yang tadinya berat mulai terlihat sedikit bersemangat. "Aku memang telah mendaftar untuk menjadi anggota OSIS. Dan sepertinya sebentar lagi ada diklat dan latihan yang harus aku ikuti."
Eric mengangguk mengerti. "Kamu pasti akan berhasil, Put. Kamu punya kemampuan dan semangat yang diperlukan untuk peran itu."
Putra tersenyum tipis, mencoba mengalihkan perasaannya dari rasa sakit yang masih ada. "Mungkin ini bisa menjadi kesempatan untukku merasa lebih berguna dan berkontribusi positif di sekolah."
Eric meletakkan tangan di bahu Putra dengan lembut. "Pasti, Put. Dan siapa tahu, melalui OSIS, kamu bisa menemukan banyak teman baru dan mengisi waktu dengan hal-hal positif."
Putra merenung sejenak, membiarkan kata-kata Eric meresapi pikirannya. Mungkin, terlibat dalam OSIS bisa menjadi peluang untuknya untuk melupakan rasa sakit yang ia rasakan sekarang. Dengan hati yang terbuka, dia mungkin bisa menemukan jalan menuju kebahagiaan dan makna baru di tengah kesulitan yang dia hadapi.