
Pagi itu, matahari baru saja naik di langit, memberikan cahaya hangat yang menyinari seluruh sekolah. Putra berjalan dengan langkah hati-hati di lorong menuju ruang kelas. Di setiap langkahnya, suara langkah kaki menggema di dinding-dinding beton. Pagi ini, suasana sekolah terasa damai, menghadirkan perasaan tenang yang mampu meredakan kecemasan di hati Putra.
Namun, langkah Putra terhenti tiba-tiba ketika ia mendengar suara yang begitu akrab baginya. Panggilan itu membuat hatinya berdetak lebih cepat dan kepalanya berputar mencari sumber suara.
"Puuttrraa!"
Dia mengenal suara itu, dan dia tidak bisa melepaskan diri dari kenyataan bahwa itu adalah panggilan Nisa. Pandangan Putra seketika tertuju pada Nisa yang berdiri beberapa langkah di depannya, tersenyum dengan wajah yang cerah.
Hati Putra berdebar lebih kencang, perasaan campur aduk yang pernah dia rasakan sebelumnya kembali muncul. Dia merasa gugup dan bahagia sekaligus. Matanya terkunci pada Nisa yang berjalan mendekatinya.
"Pagii, Putra!" sapanya dengan riang.
Putra merasa terpana. Dia tidak tahu harus berkata apa, bagaimana harus merespons panggilan tiba-tiba ini. Hati kecilnya berdetak cepat, membuatnya teringat kembali pada setiap momen yang pernah mereka bagikan.
"Pa...pagi juga, Nisa," jawabnya akhirnya, dengan suara yang sedikit gemetar.
Nisa tersenyum, dan senyum itu seperti matahari yang menerangi pagi hari. "Kamu baik-baik saja? Aku mendengar tentang insiden kemarin. Semoga semuanya sudah baik-baik saja sekarang."
Putra mengangguk cepat, mencoba meredakan gugupnya. "Ya, aku baik-baik saja."
Mereka berdiri di tengah lorong, berdua, dalam momen yang terasa hangat. Putra merasa sedikit kaku, tetapi senyum Nisa membuatnya merasa nyaman.
"Mungkin kita bisa lebih sering ngobrol di sini, ya?" Nisa berkata dengan riang.
Di tengah pagi yang cerah, Putra dan Nisa berdiri di lorong, menjalin percakapan yang berlangsung dengan alami. Kini, pertemuan mereka bukan hanya sekedar kenangan, tetapi momen-momen yang berarti dalam kehidupan mereka di SMA Bintang Bangsa.
Putra dan Nisa tengah asyik berbincang di tengah lorong sekolah yang tenang. Percakapan mereka terjalin dengan alami, membuat mereka semakin nyaman satu sama lain. Cahaya matahari yang lembut menyinari wajah mereka, menciptakan suasana yang hangat.
Namun, tiba-tiba suara bel sekolah yang tanda masuk berbunyi. Suara bel tersebut membuyarkan momen indah mereka, mengingatkan bahwa mereka harus segera menuju kelas masing-masing.
Putra menghela nafas, merasa agak disayangkan bahwa momen berdua ini harus berakhir begitu cepat. Dia melihat jam di tangannya dan mengangkat satu alis. "Sepertinya kita harus menuju kelas sekarang."
Nisa mengangguk, senyumnya masih terpancar di wajahnya. "Iya, kamu benar. Aku takut terlambat."
Putra menahan kekecewaannya, berusaha untuk tetap tersenyum. Mereka berdua mulai berjalan menuju ruang kelas, namun langkah Putra tiba-tiba terhenti.
"Apa yang salah, Putra?" tanya Nisa, melihat bahwa Putra terlihat agak berpikir.
Putra memandang Nisa dengan penuh perhatian. "Tadi, kamu benar-benar menungguiku di depan kelas?"
Nisa mengangguk, wajahnya memerah sedikit. "Iya, aku ingin berbicara lagi denganmu setelah kemarin."
Putra tersenyum, hatinya berbunga-bunga. "Aku senang kamu menunggu."
Sementara itu, bel sekolah masih terus berbunyi, mengingatkan mereka akan tugas-tugas harian yang menanti. Namun, di tengah kebisingan bel, suara hati mereka lebih kuat terdengar. Perasaan yang tumbuh di antara mereka semakin jelas, dan momen itu menjadi pemicu bagi sesuatu yang lebih dalam dalam hubungan mereka.