Journey To Arshila's Heart

Journey To Arshila's Heart
Bab 2: Kenangan Tersemat di Antara Halaman Buku



Hari itu cerah, dihiasi sinar matahari yang memancar ceria di langit biru. Putra dan Eric berjalan beriringan menuju perpustakaan sekolah. Di tangannya, Putra memegang daftar buku paket yang diperintahkan oleh guru mereka untuk semester ini.


"Harusnya kita mencari buku-buku ini dan menyelesaikan tugas yang diberikan guru sebelum liburan dimulai," ujar Eric sembari mengedipkan mata kepada Putra.


Putra hanya mengangguk, tetapi pikirannya entah bagaimana terus melayang ke suatu tempat yang jauh. Mereka tiba di perpustakaan dan mulai mencari buku-buku yang diminta.


Saat sedang mengambil buku paket, mata Putra tanpa sengaja tertuju pada sebuah novel yang terselip di antara tumpukan buku. Novel itu mengingatkannya pada kenangan masa lalu yang bersemi di benaknya.


Flashback:


Sinar matahari pagi menyinari halaman sekolah, menciptakan bayangan-bayangan yang menari-nari di sekitar mereka. Suasana segar dan cerah, memancarkan semangat baru dalam setiap langkah. Putra berjalan dengan buku-buku di tangannya, mempersiapkan diri untuk hari pertama semester baru.


Namun, di tengah hiruk-pikuk siswa yang berlalu-lalang, pandangannya tak sengaja tertuju pada sesuatu yang berbeda. Di sudut perpustakaan sekolah, ada seorang gadis dengan tumpukan buku yang terlihat agak tidak teratur. Sepertinya dia sedang berusaha membawa buku-buku itu.


Dengan langkah hati-hati, Putra mendekati gadis itu. Ketika ia mencoba merapikan buku-buku yang nyaris jatuh, matanya dan mata gadis itu bertemu. Wajahnya yang cerah dan penuh senyum seketika menghipnotis Putra.


"Terima kasih," kata gadis itu dengan suara lembut yang membuat hati Putra berdetak lebih cepat.


"Sama-sama," jawab Putra sambil tersenyum gugup. Ia merasa seperti dalam keadaan yang aneh, seperti terpesona oleh kehadiran gadis itu.


Gadis itu menatapnya tulus. "Namaku Nisa. Aku baru pindah ke sini."


"Putra," sahutnya sambil meraih tangan Nisa untuk berjabat tangan. Tangannya terasa hangat, dan rasa itu masih terasa hingga kini.


Mereka berbincang sejenak tentang sekolah, mata pelajaran, dan banyak hal lainnya. Perbincangan ringan itu terasa begitu alami, seolah-olah mereka sudah saling mengenal selama lama.


Namun, waktu terus berjalan dan bel sekolah tiba-tiba berbunyi, menandakan bahwa mereka harus kembali ke kelas masing-masing. Putra merasa seperti waktu berjalan terlalu cepat. "Aku harus pergi ke kelas sekarang," ucapnya dengan sedikit kecewa.


"Kita pasti akan bertemu lagi, kan?" tanya Nisa dengan senyum penuh harapan.


Putra mengangguk, senyum yang tak bisa ia tahan muncul di bibirnya. "Pasti."


Mereka berpisah di tengah keramaian siswa yang bergegas ke kelas masing-masing. Namun, dalam hati Putra, kenangan pertemuan itu menjadi begitu berharga dan tak terlupakan. Scene ini menggambarkan momen di mana Putra pertama kali bertemu dengan Nisa di perpustakaan, sebuah kenangan yang masih hidup dalam benaknya.


Kembali ke kenyataan, Putra merasakan detak jantungnya yang semakin cepat saat mengenang momen itu. Hatinya masih menyimpan kenangan tentang senyum Nisa, tentang tatapan matanya yang tulus.


Namun, tanpa berlama-lama, Putra mengembalikan novel itu ke tempatnya semula. Ia menyadari bahwa masa lalu adalah masa lalu, dan tugas mereka di perpustakaan ini harus diselesaikan.


"Dapatkan semua buku yang diperintahkan oleh guru, Put. Jangan sampai kita terlambat menyelesaikan tugas ini," tegur Eric sembari menunjuk ke arah tumpukan buku lainnya.


Di balik ekspresinya yang serius, ada rasa getir dan perasaan yang berkecamuk di dalam hati Putra. Namun, ia tahu bahwa dia harus tetap fokus pada tugas dan tanggung jawabnya sekarang.


Setelah berhasil mendapatkan buku-buku mereka, Putra dan Eric berjalan kembali menuju kelas. Mereka mengobrol tentang tugas dan rencana untuk semester ini, sembari sambil membawa tumpukan buku yang cukup berat.


Namun, langkah mereka terhenti tiba-tiba ketika Andi dan beberapa kawannya tiba-tiba muncul di depan mereka. "Wah, si kutu buku lagi mau belajar ya!" Andi menyeringai, suaranya penuh dengan nada merendahkan. Putra sudah terbiasa dengan ejekan semacam ini, tetapi hari ini, ia tidak ingin tinggal diam.


"Jangan ganggu kami, Andi," ujar Eric dengan tenang, berusaha menghindari konflik.


Tetapi Andi tidak berhenti sampai di situ. Ia mendekati Putra dengan sikap arogan. "Jangan sekali-sekali lo dekati Nisa lagi," ucap Andi sambil menarik kerah baju Putra dan memojokkannya di antara tembok.


Putra merasa marah. Ia tak ingin lagi diperlakukan seperti ini. Tanpa ragu, ia menghantamkan tinju ke perut Andi, membuatnya terjungkal dan merintih kesakitan. Sebagai tindakan pertahanan diri, Putra tiba-tiba menunjukkan bahwa ia memiliki keterampilan bela diri yang lebih dari sekadar "kutu buku".


Namun, Eric segera menyadari bahwa perkelahian akan semakin parah jika dibiarkan berlanjut. Ia mendekati Putra dan mencoba meredakan situasi. "Udah, sudah cukup," bisik Eric sambil mencoba mencegah Putra yang akan mengambil pisau lipatnya.


Putra akhirnya memutuskan untuk meredakan diri dan menarik diri dari perkelahian tersebut. Eric berhasil membujuknya untuk meninggalkan tempat tersebut sebelum situasi semakin memanas.


Namun, saat mereka berjalan pergi, Nisa yang ternyata telah menunggu di depan kelas, menyaksikan adegan itu. Matanya terbuka lebar, terkejut melihat Putra yang sebelumnya terlihat lembut dan dingin, kini terlihat garang dan menyeramkan dengan tatapannya yang tajam. Nisa merasa seperti melihat sisi Putra yang selama ini tidak pernah ia lihat sebelumnya.


Setelah Putra dan Eric pergi dari tempat kejadian, Nisa berjalan mendekati Andi yang masih tergolek sakit di lantai. Wajahnya penuh dengan rasa prihatin dan keprihatinan. Meskipun Andi pernah menjadi sebab berbagai masalah di antara mereka, Nisa tetaplah gadis yang ramah dan tidak ingin melihat siapapun menderita.


"Nisa, apakah kamu baik-baik saja?" tanya salah satu teman Nisa yang datang mendekat.


Nisa mengangguk, tatapan lembutnya tetap tertuju pada Andi yang merintih kesakitan. "Andi, apa yang terjadi? Kamu baik-baik saja?" tanya Nisa dengan nada khawatir.


Andi, yang masih dalam rasa sakit, menatap Nisa dengan tatapan yang campur aduk. "Aku baik-baik saja," ia menjawab dengan suara terengah-engah.


Nisa merasa perlu membantu, meskipun ia tidak tahu persis apa yang terjadi. "Mungkin sebaiknya kamu pergi ke ruang guru untuk mendapatkan pertolongan medis," sarannya dengan sopan.


Andi mengangguk lemah. "Baiklah."


Saat Nisa berbalik untuk pergi, matanya tanpa sengaja menangkap bayangan Putra yang menjauh dari tempat itu. Meskipun hanya sekejap, dia melihat ekspresi putus asa di wajah Putra. Namun, Nisa tidak tahu pasti apa yang terjadi di antara mereka, dan dia merasa terjebak dalam situasi yang rumit.


Setelah Andi pergi menuju ruang guru, Nisa merenung sejenak. Hatinya bergejolak dengan pertanyaan dan keraguan. Dia ingin membantu, tetapi dia juga tidak ingin menimbulkan lebih banyak masalah. Akhirnya, dia menghela nafas dan pergi kembali ke kelas, berusaha mengabaikan kebingungannya.


Putra, di tempat yang jauh, melihat Nisa membantu Andi. Hatinya terasa perih dan berat, tetapi ia tahu bahwa dia harus menjauh dari situasi itu. Ia memilih untuk meninggalkan semuanya, membiarkan mereka menyelesaikan masalah mereka sendiri. Keputusannya itu membuat hatinya semakin terasa kosong, tetapi dia mengerti bahwa dalam situasi seperti ini, tindakan terbaik adalah menjaga jarak.