
"Aku belajar agar dapat mencintai diriku sendiri. Aku ingin menjadi diriku yang kemarin, hari ini, dan juga hari esok."
*******
Aku bangun lebih lambat dibanding hari-hari biasanya. Untungnya, Bangtan tidak memiliki jadwal apapun di hari yang melelahkan ini. Jadi, aku bisa memanfaatkan waktu yang kosong ini untuk beristirahat dan bermain game sepuasnya. Aku akan meminta Jungkook untuk menemaniku bermain game usai makan siang nantinya. Dan jika sudah menjelang sore, aku akan berangkat ke Geochang untuk beristirahat.
Saat aku baru saja turun, tiba-tiba aku melihat Jimin hyung sedang menangis. Matanya merah, dan wajahnya basah akan air mata. Ia menatapku sekilas, lalu menoleh dan berjalan keluar menuju pintu dorm dan menutupnya dengan kasar. Ada apa ini?
Aku semakin kaget begitu melihat Yoongi hyung dan Jungkook memasang ekspresi yang jauh diluar dugaanku. Mereka...bertengkar??
Aku mendekati Yoongi hyung yang sedang mengerutkan dahinya sambil tersenyum cuek, penasaran dengan apa yang sebenarnya terjadi. "Hyung, ada apa?"
Yoongi hyung memutar bola matanya lalu menatapku datar. "Kalian ini.. selalu saja begitu. Membuat kacau suasana dorm yang sudah tenang."
Aku mengrinyit pelan, "M-maksudmu?"
Namun, Jungkook tiba-tiba menarik lengan kiriku dan memintaku menjauh dari Yoongi hyung. Dengan ekspresi yang serupa dengan Jimin hyung, ia berbisik padaku. "Hyung, biarkan ia menenangkan pikirannya dulu. Tadi, dia baru saja memarahi aku dan juga Jimin hyung."
Aku tersentak kaget. "Yoongi hyung memarahi kalian berdua? Ada apa??"
Jungkook menghapus air matanya dengan ibu jarinya, mengatur napasnya sambil refleks memasang ekspresi santai, "Nanti aku akan beritahu..."
Aku menyunggingkan bibirku, "Ya sudah, terserah kau saja. Kita bahas saat main game nanti usai makan siang berakhir..."
Lagi-lagi, Jungkook menepuk pundakku. "Well, hyung. Mungkin kita tak akan melakukan itu nanti. Lagipula, dorm sedang dilanda air mata kesedihan. Kau mau bersama siapa sekarang??" katanya sambil tersenyum kecut.
Aku kesal lalu melepaskan pegangan Jungkook. Aku lalu pergi, meninggalkan mereka berdua menuju pintu dorm dan menutupnya dengan kasar. Atmosfer ini, mengapa bisa sesunyi ini? Padahal, aku baru saja sembuh...
*******
Saat Seokjin hyung menyajikan makanan diatas meja makan, ia lalu meminta kami untuk makan siang. Namun, berbeda denganku. Aku tetap saja duduk berdiam sibuk memainkan ponselku di sofa.
Karena tinggal diriku saja yang belum memenuhi panggilan Seokjin hyung, aku diteriaki oleh mereka berenam. "TAEHYUNG!!!"
Aku lalu melepas earphone-ku, lalu menoleh sesaat memandang mereka dengan tatapan datar. Aku benci keadaan seperti ini. Membuatku seketika ingin bunuh diri saja.
"Kalian makan saja! Aku benci ini!" tukasku, lalu berjalan menuju ke kamarku dan menutup pintu kamarku dengan kasar.
*******
Author
"Taehyung?"
Seokjin membawa sepiring jjajamyeon, sambil mengetuk pintu kamar Taehyung dengan pelan. Dia membawanya karena khawatir Taehyung akan sakit jika ia tak memakan apapun. Ia membawanya seusai Bangtan makan siang.
TOK! TOK! TOK!!!
Karena sudah 3 kali Taehyung tak membalas ucapannya, ia lalu menaruh piring yang berisi jjajamyeon di lantai, lalu mengintip Taehyung diam-diam lewat lubang kunci kamarnya.
Ia tersentak begitu melihat kamar Taehyung berantakan, dan Taehyung duduk di samping ranjangnya dengan raut wajah sedih. Tisu bertebaran dimana-mana. Seokjin merasa kalau Taehyung menangis sendirian di dalam kamarnya.
"Aku tahu Hyung sedang membawa makanan untukku. Habiskan saja makanan yang Hyung bawa itu. Aku tidak mau makan," pungkas Taehyung, lalu mengusap wajahnya dengan kasar.
"Kenapa kalian bertingkah seperti itu padaku? Kenapa kalian berniat menjauhi aku? Apakah aku adalah Stigma kalian lagi??"
Mata Seokjin membesar begitu mendengar kata itu lagi. Stigma.
"Hei, Taehyung. Kenapa kau malah membahas kata itu lagi?" protes Seokjin tak terima.
"Eoh, sudah kuduga. Ternyata kalian menganggapku seperti itu, ya?" ucap Taehyung dengan nada sinis.
Karena Seokjin sudah tidak terima lagi ucapan Taehyung, ia berteriak sambil memukul pintu kamar Taehyung dengan keras sehingga member lain menghampiri Seokjin.
"KAU INI SUDAH KEHILANGAN AKAL YA?!!"
Yoongi, Hoseok, dan Namjoon, yang baru saja tiba di dorm, langsung menghampiri Seokjin yang sudah berteriak dengan suara keras. Jimin dan Jungkook yang mendengar itu, ikut menghampiri Seokjin dengan langkah terburu-buru.
"Hyung, ada apa?" tanya Yoongi pelan.
"Bicaralah pada orang aneh itu!" ujar Seokjin kesal sambil menunjuk kamar Taehyung.
Jimin dan Jungkook saling tukar pandang. "Taehyung??"
"Majja! Mungkin ia dirasuki Stigma-nya lagi!"
Yoongi, Hoseok, Namjoon, Jimin, dan Jungkook tersentak kaget. "MWO?!!"
Karena rasa penasaran yang sudah di luar batas, Namjoon lalu mendobrak pintu kamar Taehyung. Alhasil, pintu kamar Taehyung terbuka dan untungnya, pintu kamar itu tidak rusak. Mereka berenam lalu berjalan menghampiri Taehyung yang duduk membelakangi mereka.
"Kalian pasti senang jika aku pergi, kan? Tenang saja, aku akan ke Geochang sore ini." sindir Taehyung sambil menyunggingkan bibirnya.
Yoongi memindai setiap sudut kamar Taehyung, lalu ia berjalan mendekati meja yang berada di sudut kamar. Disana ia menemukan kelopak bunga itu. Dan benar saja, kelopak bunga itu berubah. Itu tandanya, Taehyung kembali dirasuki kegelapan Stigma-nya lagi.
Yoongi lalu mengambil benda itu lalu menghampiri kelima member lain. Raut wajah mereka berlima seketika berubah ketika melihat perubahan yang terjadi pada kelopak bunga itu. Yoongi mengerutkan dahinya ketika melihat kejadian itu.
"Astaga. Taehyung..." katanya sambil mengatur napasnya, "...kembali seperti dulu."
Hoseok dan Namjoon tersentak kaget dan memandang Taehyung dengan heran, "Yoongi dan Jungkook, maksudmu? Kenapa kau malah menyalahkan mereka?"
"Yoongi. Dia tidak memberitahu aku tentang kejadian tadi pagi. Kedua, selama ini dia telah merahasiakan tentang kelopak bunga ini dariku. Aku baru mendengarnya kemarin darinya. Dan Jungkook, oh ya, aku benci Jungkook."
Seketika, kelima member, kecuali Jungkook, yang mendengar ucapan Taehyung berteriak, "K-KAU MEMBENCI JUNGKOOK?!!"
"Apa aku salah? Dia juga tahu urusannya sendiri," ujarnya, lalu meninggalkan keenam member itu dan beranjak pergi dari kamarnya dan menutup pintu kamar dengan kasar.
Sementara itu, Yoongi menatap Jungkook yang sudah berkaca-kaca. Ia memegang pundak maknae itu, lalu memeluk tubuhnya erat.
"Beritahu aku, apa salahmu padanya??"
Tiba-tiba saja, bulu hitam yang dulu pernah membuat Taehyung gila, hinggap di bahu Yoongi. Semua member yang melihatnya tersentak kaget. "B-bukannya itu bulu hitam yang pernah membuat Taehyung hampir celaka?!!"
Yoongi lalu mengambil bulu itu, dan tiba-tiba saja, muncullah bayangan yang pernah Yoongi temui waktu itu. "Wah, sudah lama, ya?"
"Aku datang bukan karena keegoisan Taehyung, namun aku datang karena keegoisan kalian." pungkas bayangan itu.
Jungkook mengrinyit heran. "M-maksudmu? Kami??"
"Iya. Tentu saja, kalian lah yang membuat Taehyung seperti ini. Bahkan kejadian tadi pagi lah, Taehyung tidak ingin makan siang.."
"Saat ia baru saja turun, ia melihat Jimin sedang menangis. Jimin memang melihat Taehyung, namun ia seakan-akan tak peduli lalu keluar dari dorm. Begitu sudah tiba di lantai bawah, ia melihat Yoongi dan Jungkook. Yoongi memang kesal karena ulah Jimin dan Jungkook, namun Jungkook malah membuat Taehyung kesal. Taehyung ingin mengajak Jungkook bermain game karena moodnya agak buruk, namun Jungkook malah menolaknya dengan sindiran. Nah, disitulah Taehyung merasa kalian mengabaikan dia.."
"Intinya, mood Taehyung hari ini tidak baik, namun kalian malah menambah buruk moodnya."
"Jika kalian ingin membuat moodnya baik sebelum dia pergi ke Geochang sore ini, buatlah sesuatu yang menurut kalian membuat dia kembali bersemangat. Aku yakin, kalian bisa." ujarnya, lalu menghilang tiba-tiba dari hadapan mereka berenam.
Keenam member BTS itu saling tukar pandang. "Menurut kalian, hal apa yang membuat moodnya kembali membaik??" tanya Namjoon.
"Hm, bagaimana kalau ajak dia bermain game?" tebak Jimin.
"Atau suruh Hoseok hyung membuatnya tertawa??? Hoseok hyung kan, suka membuatnya tertawa." ujar Jungkook.
"Apaan sih?" canda Hoseok sambil tertawa.
"Nah, Hyung, apakah kau bisa membuat anak itu tertawa lagi??"
"Aku akan dibantu Seokjin hyung. Dia akan membuat jokes yang akan membuatnya terpingkal-pingkal bahkan Jimin sampai dibuat terjatuh karenanya." canda Hoseok.
Mendengar itu, Jimin tertawa terbahak-bahak. "Hei, aku tidak akan jatuhhhhhh~" Namun, ucapan Jimin tak sesuai dengan apa yang terjadi. Ia malah terjatuh karena lantai kamar Taehyung yang agak licin.
*******
"Mungkin aku lebih mencintai seseorang, Semakin keras aku mencintai diriku sendiri. Mari kita mengakuinya dengan jujur. Kriteria yang kamu berikan padaku lebih ketat dari kamu. Cincin tebal hidupmu, Dia juga bagian darimu, kamu. Sekarang, maafkan aku karena telah membuang diriku. Hidup kita panjang, percayalah padaku dalam labirin. Musim semi akan datang lagi setelah musim dingin~" celoteh Yoongi sambil mengangkat tas kecilnya. (*spoiler lagu Answer : Love Myself)
Langkah Taehyung terhenti begitu mendengar suara Yoongi. Apalagi, ia baru saja mendengar sesuatu yang belum pernah ia dengar sebelumnya.
"Hm, itu Yoongi hyung? Dia sedang berbicara dengan siapa?" gumam Taehyung lalu mengintip Yoongi diam-diam begitu ia menyadari keberadaan Yoongi.
"Dari awal permulaan, Hingga akhir dari akhir, Jawabannya hanya satu. Kenapa kamu terus menyembunyikannya? Bekas luka bekas lukaku semuanya salahku."
"Kamu telah menunjukkan, aku punya alasan, Aku harus mencintai diri sendiri. Napasku, jawab semua jalanku. Aku yang kemarin, aku yang hari ini, aku yang esoknya, (aku belajar bagaimana mencintai diri sendiri) Semua yang aku lakukan tanpa pergi."
Yoongi bergumam sambil berjalan melewati koridor setelah kembali dari ruang studio miliknya. Mungkin dia akan berjalan keluar menuju lift. Sementara itu, Taehyung masih saja termenung mengingat apa yang dikatakan Yoongi tadi.
"Hm, apa aku harus meminta maaf kepada Yoongi hyung tentang kejadian tadi siang?" gumamnya dalam hati.
*******
Kondisi dorm kali ini terbilang aneh. Bukannya sunyi, justru sebaliknya. Yoongi bahkan mengulang-ulang perkataannya di kantor agensi. Keenam member selain Taehyung sedang berkumpul di ruang tamu.
Pintu dorm terbuka. Itu Taehyung. Kedatangan Taehyung membuat keenam member menoleh dan menatapnya lembut. Tanpa ragu, Taehyung berlari menghampiri Yoongi yang sedang duduk sambil melipat kakinya di sofa. Ia bahkan memeluk Yoongi sambil menangis. Hal itu justru membuat member lain terkejut.
"Heh? Ada apa ini??" ujar Yoongi.
"Aku akan janji untuk menjadi diriku sendiri, Hyung. Maafkan aku.. Mungkin kau sedang mengomel tentangku di kantor agensi tadi."
Yoongi membulatkan matanya. "Sejak kapan aku mengatakan itu?"
"Saat Hyung bilang, Dari awal permulaan, Hingga akhir dari akhir, Jawabannya hanya satu. Kenapa kamu terus menyembunyikannya? Bekas luka bekas lukaku semuanya salahku."
Yoongi mengelus rambut Taehyung dengan lembut, "Ah, itu aku sedang menyanyikan lagu baru kita. Memangnya aku pernah menceritakan sifat buruk orang lain? Aku tak berniat seperti itu."
"Hei, bukannya itu lagu Answer : Love Myself?" tebak Hoseok.
Yoongi dan Namjoon sontak mengangguk pelan. "Iya."
"Tapi, aku benar-benar meminta maaf karena itu, Hyung. Aku benar-benar menyembunyikan sesuatu. Tapi aku juga minta maaf karena sudah menuduh Hyung." sesal Taehyung.
"Hm, iya-iya. Tapi, jangan menangis lagi, oke?" Taehyung mengangguk, lalu menghapus kedua air matanya dan kembali tersenyum lebar.
"Iya, Hyung. I should love myself.."
to be continued.....