Interlude : Who Am I?

Interlude : Who Am I?
Episode 1 : Am I Wrong?



"Aku sama sekali tidak berpikir kalau akulah yang benar-benar egois. Aku bahkan tak menyadari, kalau aku tidak salah.. Aku hanya merasa bersalah pada diriku."


*******


"Apakah aku adalah Stigma kalian?"


Jimin dan Jungkook meneteskan air matanya, mereka sama sekali tidak menduga kalau Taehyung akan berpikir seperti itu. Dramatis sekali.


Jimin merasa tak terima, sehingga dengan perasaan kecewa ia mencoba memerintah Jungkook untuk mendobrak pintu kamar Taehyung dengan keras.


BRAKKK!!! Pintu itu berhasil didobrak dari luar berkat Jungkook. Mereka berdua akhirnya dapat memasuki kamar Taehyung disaat pintu itu terbuka.


Saat memasuki kamar Taehyung, mereka berdua seolah tak percaya dengan kondisi kamar Taehyung. Kaca cermin yang pecah, lampu kamar juga pecah, bahkan seisi kamar terlihat kacau dan berantakan. Hal itu sontak membuat Jimin dan Jungkook merinding.


Dan di kamar itu juga mereka melihat Taehyung duduk lemas di kasur sambil menundukkan kepalanya. Ia bahkan tak berani melihat wajah Jimin dan juga Jungkook. Dengan pisau yang terletak di atas kasur, dan juga pecahan kaca di tangan Taehyung, membuat Jimin tak berani mendekati Taehyung.


"Dengar dan jawab perkataan ku. Apakah aku adalah Stigma kalian berenam?!!" tukas Taehyung, sambil membentak kedua pria itu dengan tatapan yang lebih menyeramkan, bahkan jauh lebih seram dibanding psikopat.


Mereka berdua terdiam. Bahkan, sekujur tubuh Jimin terlihat gemetar mendengar ucapan yang dilontarkan oleh sahabatnya bernama Kim Taehyung itu. Melihat mereka yang masih diam, Taehyung bangkit dari kasur dan mengacungkan pecahan kaca di depan mata Jimin dan juga Jungkook.


"Hei! Apakah kalian berdua tidak mempunyai mulut?! Jawab pertanyaanku!" ancam Taehyung.


Disisi lain, Seokjin dan Hoseok sudah berlama-lama menunggu kedatangan Taehyung dan juga Jungkook, sehingga membuat mereka lalu mencoba untuk menemui Taehyung dan Jungkook di kamar Taehyung. Begitu tiba di lantai 2, mereka mendengar teriakan dari Jungkook dan juga tangisan Jimin. Karena rasa penasaran, mereka mendekati kamar Taehyung dengan langkah yang pelan, sehingga orang di kamar Taehyung tak mendengar langkah kaki mereka berdua.


Begitu mereka berdua sudah berdiri di depan pintu kamar Taehyung, mereka sontak terkejut dan merasa seolah tak percaya dengan hal yang terjadi di hadapan mereka berdua. Dimana seorang Taehyung mengancam Jimin dengan pecahan kaca, dan Jungkook yang sedang menangis di pojokan.


Seokjin dan Hoseok berlari menghampiri mereka bertiga. "Hei, tolong hentikan ini!!!" Teriakan Seokjin sontak membuat mereka bertiga menoleh ke arah mereka berdua.


"Hyung, buatlah Taehyung hyung sadar!!" pinta Jungkook sambil berlari meminta perlindungan kepada Seokjin dan Hoseok.


"Hei, kenapa kau mau menyakiti sahabatmu sendiri, Kim Taehyung?!!" seru Seokjin dan berjalan menghampiri Taehyung yang sedang mengancam Jimin.


Agar bisa mengatur emosinya, Taehyung lalu mendorong Jimin sehingga membuat Jimin terjatuh ke lantai dan membuat Jimin merasa tersakiti. Dengan wajah yang cuek, Taehyung lalu mencoba menjelaskan pada Seokjin.


"Oh, gitu," imbuh Seokjin, "..jadi kau mengancam mereka karena ucapanmu diabaikan dan pertanyaan mu tidak dijawab oleh mereka berdua? Dan kau merasa dirimu sendiri tidak ada itu karena bayanganmu sendiri menghilang di cermin? Baiklah,"


Taehyung mengerinyitkan dahinya. Ia masih belum mengerti dengan ucapan Seokjin barusan. "Tapi, jawab dulu pertanyaanku. Apakah aku adalah Stigma kalian?!!" seru Taehyung.


"Hei, santai saja. Kami berenam tak pernah merasa kalau kau adalah sumber masalah dibalik semua masalah di dorm ataupun di kantor agensi, jadi jangan berpikir kalau kami berenam menyudutkanmu dan mengucilkanmu dari BTS." ujar Seokjin, yang disetujui oleh Hoseok, Jimin, dan Jungkook.


"Yah, kalau masalah cermin yang kau ucapkan tadi itu, aku juga pernah mengalaminya. Hanya saja, tidak seseram kejadian yang kau alami semalam. Aku hanya berkaca di kamar kecil saat aku sedang bangun tidur. Mungkin aku hanya masih belum sadar saat itu.." timpal Hoseok.


"Memangnya listrik dimatikan karena pohon tumbang di depan gerbang UN Village? Itu hal yang wajar, sih. Cuma jangan sampai berpikir kalau kau sudah menjadi orang tak kasat mata, Kim Taehyung.." omel Seokjin merangkul bahu Taehyung hingga membuat Taehyung tersenyum tipis.


Jimin bangkit dari posisi awalnya, dan mendekati Seokjin dan Taehyung sambil tersenyum lebar. "Kurasa, hal yang aneh berakhir berkat Seokjin hyung. Untungnya Hyung datang disaat kami benar-benar dalam kesulitan besar.." ujar Jimin. Ia akhirnya lega begitu Taehyung sadar.


Hoseok menarik lengan Jungkook dan Jimin, disusul Seokjin dan Taehyung di belakangnya, bercanda ria meninggalkan kamar Taehyung menuju ruang makan untuk sarapan. "So? Ayo ke ruang makan untuk sarapan bersama!!" seru Hoseok, yang diikuti sorakan dari Jimin, dan Jungkook. Sedangkan Taehyung, hanya bisa menunduk sambil tersenyum.


*******


"Nal guwonhaejun neo cheonsa- Aishh!! Hyung!! Pergi sana!!" seru Jimin sambil mengusir Seokjin yang mengganggunya yang sedang melakukan record lagu Serendipity.


"Itu bukan Serendipity, tapi Jiminipity! Hahaha!!!" ejek Seokjin lalu berjalan keluar meninggalkan ruang studio.


Saat Seokjin berjalan menyusuri koridor di lantai 2, tiba-tiba ada 2 orang berjalan di koridor itu. Orang itu tidak lain ialah Hoseok dan Jungkook. Mereka berdua berteriak sambil melambaikan tangan ke arah Seokjin. "Disini!! Disini!!"


"Heeh?" seru Seokjin, "..kok kalian cuma berdua? Kemana Taehyung?" Hoseok dan Jungkook saling tukar pandang, lalu menggeleng pelan. "Um, kami tidak melihatnya, Hyung.."


Tiba-tiba ponsel Jungkook berdering...


"Geu soneul naemireojwo Save Me, Save Me, I need your love before I fall, fall~"


Setelah mendengar perkataan Seokjin, Jungkook langsung mengangkat panggilan yang masuk. Dari Yoongi.


"Yeoboseyo?" ucap Yoongi dari panggilan itu. Saat ini, Yoongi berada di dorm. Dia akan menuju ke kantor BigHit setelah urusannya selesai di dorm.


"Annyeong, Hyung. Naya, Jungkook." (Halo, Hyung. Ini aku, Jungkook.)


"Kau sekarang sedang lagi berada di kantor, kan? Kalau kau sedang di kantor, kau sedang bersama siapa?" tanya Yoongi ulang.


"Hm, aku lagi di kantor bersama Jimin hyung, Namjoon hyung, Hoseok hyung, dan juga Seokjin hyung. Hanya itu saja. Kalau Taehyung hyung, aku tidak tahu dia dimana. Soalnya, aku baru tiba disini bersama Hoseok hyung." balas Jungkook, dengan ekspresi bingung.


Secara mendadak, Yoongi berteriak lewat panggilan itu.


"YAA!!! Hei, bisakah kalian kembali ke dorm?!!! $#%^&>%);+#%#/?!!"* Dan, tiba-tiba saja panggilan Yoongi terputus begitu saja.


"Hyung!!!!"


Seokjin, Hoseok, dan Jungkook mulai khawatir. Mereka bertiga khawatir tentang kondisi Yoongi dan dorm saat ini.


"Tunggu apa lagi?! Ayo kita kembali ke dorm!!!" seru Hoseok, yang disetujui Seokjin dan Jungkook. Mereka lalu berlari menuju lift untuk menuju ruang basement, yang disana terdapat mobil Jungkook.


*******


"YAA! TAEHYUNG-SSI!! NEO MICHYEOSS-EO?!!" teriak Yoongi melihat dirinya sudah menjadi korban dari sisi hitam Kim Taehyung. Sekarang, sudah 3 member yang menjadi korban dari sikap anehnya akhir-akhir ini. Padahal sebelumnya, ia belum pernah menyerang member secara tiba-tiba, bahkan perilakunya yang aneh belum pernah dilihat oleh member sebelumnya.


Sebelumnya, Jimin dan Jungkook juga menjadi korban serangan dari sisi gelap Taehyung. Mereka berdua sama sekali tak menduga orang selucu dia bisa seganas seperti itu. Psycho, itulah kata yang diibaratkan oleh Jimin kepada Taehyung.


"Hahaha, jadi kau takut, ya? Pertama kalinya aku melihat seorang Min Yoongi takut kepada dongsaeng-nya sendiri. Dasar penakut." sindir Taehyung sambil tersenyum licik.


Yoongi yang sabar menahan amarahnya akibat sindiran Taehyung, kini ia tak tahan lagi. Dia akhirnya melampiaskan amarahnya di hadapan Taehyung. Yoongi menatap Taehyung dengan tatapan yang tajam, lalu dengan cepat ia mendorong tubuh Taehyung hingga membuat Taehyung terjatuh ke lantai. Anehnya, meskipun Yoongi mendorong tubuh Taehyung hingga keramik lantai retak, namun Taehyung tak mampu merasakan sakit. Jika kita merasakan apa yang dirasakan oleh Taehyung, mungkin kita tak dapat berdiri. Namun, Taehyung malah tersenyum kecil seperti tidak terjadi apa-apa pada dirinya.


"Wah, kau betulan gila, ya? Bahkan aku mendorong tubuhmu hingga lantai retak, tapi kau malah tertawa. Dasar sinting."


Sementara itu, Seokjin, Hoseok, dan Jungkook sudah berada di depan pintu dorm. Jungkook mengintip isi dorm lewat jendela yang terbuka. Ia lalu terkejut karena kondisinya sama seperti kondisi kamar Taehyung kemarin pagi.


Begitu mereka bertiga berada di ruang tengah, tiba-tiba mereka mendengar suara berisik dari salah satu ruangan. Di pojok kanan lantai dasar. Tepatnya lagi, kamar Yoongi.


"Hei, tunggu. Bukankah suara berisik itu dari kamar Yoongi hyung?" kata Hoseok sambil berjalan hati-hati menuju kamar Yoongi.


Kamar Yoongi jelas-jelas tidak terkunci, lalu mengapa bisa mereka bertengkar disana seperti kejadian kemarin??_ Begitulah perkataan yang muncul di benak Jungkook saat ini.


Saat mendekati kamar Yoongi, tiba-tiba saja Taehyung keluar dari kamar. Hal itu membuat Seokjin, Hoseok, dan Jungkook bergidik ngeri ketakutan melihat tingkahnya saat ini.


"Astaga, ada apa dengan dirimu, sehingga kau sampai tidak sadar kalau kau sedang menyerang kami satu persatu?? Kemarin, kau menyerang 2 sahabatmu, dan sekarang, kau menyerang Yoongi. Apakah kau telah dirasuki kegelapan Stigma?" ujar Seokjin, meskipun dari raut wajahnya hanya ia terlihat jauh lebih ketakutan dari mereka bertiga.


"Hyung!! Hentikan!!! Jangan dekati dia, karena dia butuh udara segar dulu! Karena jika kalau kita mengganggu dia lagi, bisa-bisa kau juga jadi korbannya!! Taehyung baik-baik saja, hanya saja, dia dirasuki kegelapan Stigma!" teriak Yoongi, sambil menghentikan Seokjin yang ingin berbicara dengan Taehyung.


Tak seperti yang ada di pikiran Yoongi saat ini, Taehyung malah meneruskan langkahnya menuju kamar kecil. Ia bahkan sama sekali tak menoleh, ataupun berpaling menatap Jungkook dan ketiga hyungnya.


Tak lama kemudian, Taehyung kembali dari kamar kecil dengan wajah pucat pasi. Ia lalu berjalan menuju ke tempat Seokjin, Yoongi, Hoseok, dan Jungkook berdiri. Dan begitu sudah berada di hadapan mereka berempat, ia meneteskan air matanya dan memeluk mereka berempat dengan tangisnya yang amat deras.


"Maafkan aku, karena Stigma-ku, kalian semua menderita.. Terutama dirimu, Yoongi hyung. Aku bahkan tak menyadari kalau tadi aku mendorong tubuhmu hingga tubuhmu menabrak lemari di kamarmu sendiri. Dan aku sebenarnya terjebak di dunia Singularity sejak kejadian tragis 2 hari yang lalu itu.." ujar Taehyung sambil menyalahkan dirinya sendiri dengan menangis di hadapan mereka berempat.


Yoongi mengelus rambut Taehyung, lalu tersenyum lembut menatap Taehyung. "Ani, Taehyung. Kau sama sekali tak bersalah. Kami yang salah karena tidak mengajakmu ke kantor waktu itu. Aku yang seharusnya bersalah padamu."


Karena suara tangisannya jauh lebih besar dibanding suara rendah Yoongi, ia malah menyalahkan dirinya dan kembali menangis.


"Aku yang salah..." tutur Yoongi, "..jadi, hentikan ini. Aku akan membantumu keluar dari tempat itu. Genggam tanganku, dan aku akan membawamu keluar dari tempat itu."


to be continued.....