
"Berikan aku sebuah alasan kalau aku benar-benar orang yang membutuhkan bantuan orang lain."
*******
Namjoon : Tinggal 7 hari lagi. Kau akan keluar dari Singularity. Tetap maju dan janganlah pernah berhenti dari posisimu saat ini. Jika kau meleset sedikit saja dari posisimu, maka kesempatan untuk keluar bisa saja terhalangi.
*******
Ini benar-benar hari yang cukup sulit bagi Taehyung. Pasalnya, ia hampir saja terpengaruh oleh bisikan dari bayangan yang selama ini telah menghantui dirinya.
"Aishh... kenapa mereka kembali? Aku pikir mereka sudah pergi berkat Yoongi hyung. Namun tetap saja mereka suka menggodaku. Apakah karena aku sangat tampan sehingga mereka dengan sengaja mengusikku agar membuatku ganas karena ketampananku??" gumam Taehyung begitu ia sadar dari lamunannya.
Disisi lain, Yoongi sedang mencari cara agar Taehyung bisa keluar dari masalahnya yang selamaini menghantui pikirannya hingga membuat ia menyakiti orang-orang disekitarnya. Untungnya, ia punya kelebihan untuk kembali ke masa lalu dan melihat segalanya, sehingga ia dengan mudah menyelesaikan masalah ini dalam waktu yang tidak lama. Namun, ia juga harus meminta bantuan orang lain untuk membantunya menyelesaikan masalah ini.
Namjoon. Mungkin dia orang yang bisa membantu Yoongi, karena akhir-akhir ini setiap kali ia mengirim pesan lewat grup chat, ia akan mengirim pesan serumit teori yang memiliki kaitan dengan masalah yang dialami Taehyung saat ini.
"Hm, apakah aku harus meminta bantuan kepadanya, yah?"
*******
"Hyung, kenapa sih setiap kali begitu Hyung mengirim pesan di grup chat, Hyung mengirim pesan yang rumit kayak teori?? Ada apa Hyung? Kasih tahu Kookie dong!!" rengek Jungkook.
Namjoon, yang saat ini duduk di samping Jungkook hanya terfokus pada ponselnya. Saking fokusnya, ia bahkan tak menghiraukan Jungkook yang sudah beberapa kali merengek kepadanya.
"Ah? Aku tak mendengar suaramu, Jungkook." katanya sambil menoleh.
"Hyung, kenapa sih akhir-akhir ini Hyung mengirim pesan yang membuat kepala pusing? Kasih tahu Kookie alasannya, dong!"
Namjoon lalu bangkit dari tempat duduknya, dan memberi isyarat pada Jungkook untuk mengikutinya ke suatu tempat. "Ikuti aku."
Saat tiba di tempat itu, Namjoon lalu meminta Jungkook duduk dan mendengarkan penjelasannya. "So, jadi kau sebagai orang yang pertama mengetahuinya, jangan beritahu siapapun, apapun alasannya. Paham?"
Jungkook lalu mengangguk pelan, "Ah, arasseo, Hyung."
"Begini. Hari pertama saat aku mengirim pesan, kira-kira kemarin tepatnya, aku mendapat kabar kalau kita akan mengadakan comeback dengan 3 konsep yang berbeda-beda. 1 Album, dengan 3 konsep, yang akan dibagi menjadi 3 sub-unit album. Love Yourself, menjadi Love Yourself 承 'Her', Love Yourself 轉 'Tear' dan Love Yourself 結 'Answer'. Kau ingat disaat kita melakukan syuting MV Euphoria? Nah, ada kaitannya dengan album itu. Dan 2 hari yang lalu, Jimin sedang melakukan sesi rekaman dengan lagu Serendipity di studio Yoongi. Lagu itu akan menjadi intro dari album Love Yourself 承 'Her'."
"Dan kata-kata yang aku maksud itu, adalah konsep teori album Love Yourself 轉 'Tear'. Tapi, yah, kenapa kau menanyakan hal ini secara tiba-tiba??" Namjoon menggaruk lehernya pelan.
Jungkook menatap Namjoon serius, "Hyung. Kata-kata yang kau kirim itu sama persis dengan masalah Taehyung. Dia benar-benar terjebak di dalam dunia Singularity-nya sendiri. Bahkan, ia sampai sampai menyakiti kami dengan Stigma-nya.."
Mendengar perkataan Jungkook, Namjoon tersentak. "Singularity? Hei, itu adalah lagu yang akan Taehyung tampilkan secara solo di album Love Yourself 轉 'Tear'!!!"
Jungkook yang juga tak kalah kagetnya, juga tersentak mendengar ucapan Namjoon barusan. "Astaga! Kok bisa kebetulan banget sih, Hyung?!! Kalau begini, bisakah Hyung kabulkan satu permintaan Kookie??"
"Apa itu?"
Jungkook memperbaiki posisinya agar bisa dekat dengan Namjoon dan menatapnya serius. "Ingat pesan Hyung kemarin yang kedua itu? Ada balasan dari Taehyung, dan itulah permintaan Kookie. Bisa?"
Namjoon mencoba mengingat-ingat pesan yang ia kirim dengan melihat kembali isi chat di grup chat BTS kemarin malam.
*******
Namjoon : Jika kau merasa tak melihat dirimu di sungai (cermin), itu tandanya kalau kau itu sebenarnya egois. Kau itu layaknya seorang PERSONA yang terjebak dalam dunia SHADOW sehingga membuat orang itu disakiti oleh EGO-nya sendiri. Jadi, kapankah kau mau mencoba untuk keluar dari dunia Singularity yang kau buat itu??
-> Taehyung : Keluarkan aku dari Singularity, sebelum Stigma-ku menyakiti kalian lagi^^
*******
Ia tersentak begitu membaca pesan yang dikirim Taehyung. Seakan-akan Taehyung tahu jalan cerita yang ia buat. Ia juga tak menyangka kalau Taehyung benar-benar mengalami kejadian tragis itu.
"Bagaimana, Hyung?" Jungkook mencoba meyakinkan Namjoon.
Namjoon mengelus dahinya pelan, lalu menatap Jungkook dengan penuh tanda tanya, "Sebenarnya, bisakah kau menceritakan Taehyung mengapa ia bisa seperti itu??"
"Begini, Hyung, kejadian ini bermula 3 hari yang lalu, di kamarnya sendiri.." Jungkook memulai ceritanya, "Ia menyerang Jimin dan juga aku.."
⏲⏱⏲
Jungkook
Saat waktu sarapan di dorm, Seokjin hyung memintaku untuk memanggil Taehyung hyung di kamarnya. Aku lalu berjalan menuju ke kamarnya. Begitu melihat pintu kamarnya tertutup, aku mencoba mengetuk pintunya pelan-pelan sambil memanggil namanya. Namun, aku tak bisa membuka pintunya karena pintu itu nyaris terkunci dari dalam.
"Taehyung hyung-ie~ Waktunya sarapan... Makanan kesukaan hyung sudah tersedia di atas meja. Aku juga ingin makan jika Hyung ikut makan," tuturku lewat lubang kunci pintu kamar Taehyung.
Saat aku mendengar suara Taehyung hyung, aku lalu berteriak karena khawatir kalau terjadi sesuatu padanya. "Hyung!! Apa yang terjadi padamu?!! Tolong buka pintunya!! Kumohon!!"
Namun, ia tak menjawabku. Sedangkan aku hanya bisa melihatnya lewat lubang kunci pintu kamarnya dengan rasa khawatir.
Dengan langkah yang begitu lambat, dia berjalan ke pintu yang terkunci. Ia menekuk lutut nya dan melihatku lewat lubang kunci pintu itu.
"Kau bisa melihatku, kan?" ucapnya dengan nada rendah.
"Iya-iya, Hyung. Aku bisa melihatmu. Jadi, tolong berhentilah bertingkah seperti ini," balasku dengan wajah sedih. Aku memang tidak menangis, hanya saja aku sedih melihatnya bertingkah seperti itu.
"Taehyung-ie? Kenapa tidak ke ruang makan? Waktunya sarapan." Tiba-tiba saja, Jimin berbicara di dekatku sehingga membuatku menoleh. Hal itu juga membuat Taehyung hyung mendekati lubang kunci pintu kamarnya.
"Ah, bisakah kau membantuku membuatnya keluar dari kamarnya yang terkunci layaknya 'Danger Hell' ini, Hyung??" ucapku pada Jimin hyung lalu berdiri menatapnya dengan serius.
Suasana saat itu kembali hening. Aku dan Jimin hanya bisa terdiam.
"Apakah aku adalah Stigma kalian??"
Tiba-tiba, ucapan Taehyung membuat kami berdua sekilas membuat kedua air mata kami jatuh membasahi pipi kami berdua.
Aku dan Jimin meneteskan air mata, kami sama sekali tidak menduga kalau Taehyung hyung akan berpikir seperti itu.
Jimin hyung saat itu merasa tak terima, sehingga dengan perasaan kecewa ia mencoba memerintahku untuk mendobrak pintu kamar Taehyung hyung dengan keras.
BRAKKK!!! Pintu itu berhasil didobrak dari luar berkat diriku. Kami berdua akhirnya dapat memasuki kamarnya disaat pintu itu terbuka.
Saat memasuki kamar nya, kami berdua seolah tak percaya dengan apa yang kami lihat di hadapan kami. Kaca cermin yang pecah, lampu kamar juga pecah, bahkan seisi kamar terlihat kacau dan berantakan. Hal itu sontak membuat aku dan Jimin merinding.
Dan di kamar itu juga aku dan Jimin hyung melihatnya duduk lemas di kasur sambil menundukkan kepalanya. Ia bahkan tak berani melihat wajah kami berdua. Dengan pisau yang terletak di atas kasur, dan juga pecahan kaca di tangannya, membuat Jimin hyung jadi tak berani mendekatinya.
"Dengar dan jawab perkataan ku. Apakah aku adalah Stigma kalian berenam?!!" tukasnya, sambil membentak kami dengan tatapan yang lebih menyeramkan, bahkan jauh lebih seram dibanding psikopat.
Aku dan Jimin tak bisa berkata-kata. Bahkan, sekujur tubuh Jimin hyung saat itu terlihat gemetar mendengar ucapan yang dilontarkan oleh Taehyung hyung. Melihat aku dan Jimin yang masih diam karena belum menjawab pertanyaannya, dia lalu bangkit dari kasur dan mengacungkan pecahan kaca di depan mata Jimin dan juga aku.
"Hei! Apakah kalian berdua tidak mempunyai mulut?! Jawab pertanyaanku!" ancamnya.
Karena aku tak berani dengan Taehyung hyung, aku lalu pergi di pojok kamarnya sambil menangis. Aku tak menyangka dia benar-benar akan menyakiti kami berdua, lebih-lebih Jimin hyung, karena Jimin hyung adalah sahabatnya.
Dan untungnya, Seokjin hyung dan Hoseok hyung datang untuk menolong kami berdua. Mereka sontak terkejut dan merasa seolah tak percaya dengan hal yang terjadi di hadapan mereka berdua. Dimana Taehyung hyung sedang mengancam Jimin hyung dengan pecahan kaca, dan aku menangis ketakutan di pojok kamar Taehyung hyung.
"Hei, tolong hentikan ini!!!" Teriakan Seokjin sontak membuat aku, Jimin hyung, dan Taehyung hyung menoleh ke arah Seokjin hyung dan Hoseok hyung.
"Hyung, buatlah Taehyung hyung sadar!!" ujarku sambil berlari meminta perlindungan kepada Seokjin hyung dan Hoseok hyung.
"Hei, kenapa kau mau menyakiti sahabatmu sendiri, Kim Taehyung?!!" seru Seokjin hyung dan berjalan menghampiri Taehyung hyung yang sedang mengancam Jimin hyung.
Tiba-tiba, Taehyung hyung lalu mendorong Jimin hyung sehingga membuatnya terjatuh ke lantai. Dengan wajah yang cuek, Taehyung hyung lalu mencoba menjelaskannya pada Seokjin hyung.
"Oh, gitu," imbuh Seokjin hyung, "..jadi kau mengancam mereka karena ucapanmu diabaikan dan pertanyaan mu tidak dijawab oleh mereka berdua? Dan kau merasa dirimu sendiri tidak ada itu karena bayanganmu sendiri menghilang di cermin? Baiklah,"
Taehyung hyung lalu mengerinyitkan dahinya. Ia masih belum mengerti dengan ucapan Seokjin hyung barusan. "Tapi, jawab dulu pertanyaanku. Apakah aku adalah Stigma kalian?!!"
"Hei, santai saja. Kami berenam tak pernah merasa kalau kau adalah sumber masalah dibalik semua masalah di dorm ataupun di kantor agensi, jadi jangan berpikir kalau kami berenam menyudutkanmu dan mengucilkanmu dari BTS." ujar Seokjin hyung, yang disetujui oleh aku, Hoseok hyung, dan Jimin hyung.
"Yah, kalau masalah cermin yang kau ucapkan tadi itu, aku juga pernah mengalaminya. Hanya saja, tidak seseram kejadian yang kau alami semalam. Aku hanya berkaca di kamar kecil saat aku sedang bangun tidur. Mungkin aku hanya masih belum sadar saat itu.." timpal Hoseok hyung.
"Memangnya listrik dimatikan karena pohon tumbang di depan gerbang UN Village? Itu hal yang wajar, sih. Cuma jangan sampai berpikir kalau kau sudah menjadi orang tak kasat mata, Kim Taehyung.." omel Seokjin hyung sambil merangkul bahunya hingga membuat Taehyung hyung tersenyum tipis.
⏲⏱⏲
"Aku sama sekali tak menyangka kalau dia benar-benar dalam masalah besar. Dia butuh bantuan dari Yoongi hyung. Karena ia dapat kembali ke masa lalu dan melihat segalanya. Namun, Yoongi hyung tak dapat mengatasi ini sendirian, perlu kerjasama kita berenam agar Taehyung dapat keluar dari Singularity-nya.." tutur Namjoon hyung sambil menunduk.
"Jadi, apakah Hyung bisa membantuku untuk membawa jiwa Taehyung hyung yang dulu lagi kembali bersama kita??" ujarku dengan penuh harap.
Namjoon menatapku, lalu mengangguk pelan sambil tersenyum. "Aku akan berada di pihakmu. Aku akan membantumu dan juga Yoongi hyung. Aku akan meminta semua member agar bekerja sama agar Taehyung bisa kembali seperti semula.."
Aku terharu, lalu memeluk Namjoon hyung dengan erat. "Hyung, terima kasih banyak.."
to be continued.....