Interlude : Who Am I?

Interlude : Who Am I?
Prolog : Call Me Stigma



"Kapan aku bisa melihat bayanganku sendiri di cermin???"


*******


Suatu malam, suasana hening di dorm membuat isinya terlihat menyeramkan, apalagi sebagian besar member berada di luar dorm, kecuali Taehyung. Ia tak menyusul para hyungnya ke gedung agensi karena ia merasa tidak enak badan. Meskipun ia memaksa untuk ikut, namun ia terlihat lemah sehingga ia tidak bisa ikut ke kantor BigHit.


Malam ini, bagi Taehyung adalah hal yang sangat menakutkan, karena listrik dorm tiba-tiba mati begitu saja. Seluruh ruangan terlihat gelap, bahkan Taehyung sendiri tidak mampu melihat dengan jelas saking gelapnya. Untuk membuat suasana menjadi agak terang, ia mencoba mencari lilin yang Namjoon beli tadi pagi untuk keperluannya.


Dengan bantuan cahaya ponsel miliknya, ia mencari lilin itu. Saat ia melangkah ke lantai 2, tiba-tiba petir menggelegar hingga membuat Taehyung terkejut sehingga membuat ponselnya jatuh ke lantai.


"AH!!!!!" teriaknya sambil menutup kedua telinganya. Tangannya gemetar karena ia tahu bahaya jika memegang ponsel di saat petir menyambar Bumi.


"Aaaa, kenapa suasananya malah tambah menyeramkan begini. Aku jadi takut." ujarnya, lalu bangkit dan berjalan menuju ke kamarnya dengan bantuan cahaya ponselnya.


Disaat bulan purnama menyinari langit dan juga Bumi, tiba-tiba awan gelap dan petir menghalangi bulan sehingga membuat langit semakin gelap. Listrik di daerah sekitar dorm masih padam, sekitar 3 jam lebih lamanya, membuat Taehyung tak berani melangkah keluar dari kamarnya. Ia duduk di kasur nya sambil memegang erat gulingnya. Saat petir menyambar, ia bahkan menutup wajahnya dengan bantal dan menutup kedua telinga saking menyeramkannya kondisi di dorm waktu itu.


Tak lama berselang, ia berjalan menuju kamar kecil untuk buang air kecil. Meskipun ia terlihat ketakutan dan keadaan listrik di dorm masih padam, ia tak bisa menahan untuk pergi ke kamar kecil. Begitu ia keluar dari kamar kecil, ia mencoba melihat wajahnya di cermin untuk memeriksa wajahnya.


Taehyung gemetar. Petir kembali menggelegar untuk yang kesekian kalinya, dan ia kembali terkejut dengan perubahan yang terjadi disekitarnya. Bukan petir atau gelap lagi, namun ia malah semakin takut ketika mengetahui bayangannya di cermin menghilang. Hal itu membuat seluruh tubuhnya gemetar.


"Tunggu. Mengapa aku tak bisa melihat bayanganku sendiri di cermin??"


*******


Pagi yang cerah meskipun kejadian semalam membuat Taehyung tak berani keluar dari kamarnya. Ia bahkan tak berani menatap dirinya di cermin sekali lagi untuk memastikan dirinya ada atau tidak.


Saat waktu sarapan di dorm, Seokjin meminta Jungkook untuk memanggil Taehyung di kamarnya. Jungkook lalu berjalan menuju ke kamarnya. Begitu melihat pintu kamarnya tertutup, ia mencoba mengetuk pintunya pelan-pelan sambil memanggil namanya. Ia tak bisa membuka pintunya karena pintu itu nyaris terkunci dari dalam.


"Taehyung hyung-ie~ Waktunya sarapan... Makanan kesukaan hyung sudah tersedia di atas meja. Aku juga ingin makan jika Hyung ikut makan," tutur Jungkook lewat lubang kunci pintu kamar Taehyung.


"Nae soli deullini, Kookie-ya??" balas Taehyung dengan gemetar. (Apakah kau mendengar suaraku, Kookie??)


Mendengar suara Taehyung, Jungkook membalasnya dengan berteriak, karena ia khawatir terjadi sesuatu dengan hyung-nya yang satu itu.


"Hyung!! Apa yang terjadi padamu?!! Tolong buka pintunya!! Kumohon!!" teriak Jungkook.


Taehyung tak menjawab. Sedangkan Jungkook masih saja khawatir melihat kondisi Taehyung di balik lubang kunci pintu.


Dengan langkah yang begitu lambat, Taehyung berjalan ke pintu yang terkunci. Ia menekuk lutut nya dan melihat Jungkook lewat lubang kunci pintu itu.


Tiba-tiba saja, Jimin berjalan keluar dari kamarnya melewati kamar Taehyung. Ia melihat Jungkook sedang menekuk lututnya dan berbicara melewati lubang kunci pintu kamar Taehyung. Ia berjalan mendekati Jungkook yang hampir menangis.


"Kau bisa melihatku, kan?" ucapnya dengan nada rendah.


"Iya-iya, Hyung. Aku bisa melihatmu. Jadi, tolong berhentilah bertingkah seperti ini," balas Jungkook dengan wajah sedih. Ia tidak menangis, hanya saja ia terlihat sedih.


"Taehyung-ie? Kenapa tidak ke ruang makan? Waktunya sarapan." Terdengar suara Jimin sekilas membuat Jungkook menoleh. Hal itu juga membuat Taehyung mendekati lubang kunci pintu.


"Ah, bisakah kau membantuku membuatnya keluar dari kamarnya yang terkunci layaknya 'Danger Hell' ini, Hyung??" imbuh Jungkook lalu berdiri menatap Jimin dengan serius.


Suasana kembali hening. Tiba-tiba, ucapan Taehyung membuat Busan Line itu sekilas membuat kedua air mata mereka jatuh membasahi pipinya.


"Apakah aku adalah Stigma kalian??"


to be continued.....