Interlude : Who Am I?

Interlude : Who Am I?
Episode 9 : Extraordinary You



"Aku tidak tahu siapa yang kucintai di dunia ini, namun aku mengakui, kalau kau luar biasa bila kau mencintai dirimu sendiri. Kau adalah orang yang luar biasa bagiku."


*******


"Ah, aku tak percaya ini benar-benar terjadi.."


Tangisan Taehyung pecah begitu ia kembali ke backstage. Matanya merah karena ia tak menyangka kalau Bangtan memenangkan award pada sebuah acara penghargaan. Dalam pidato yang disampaikan Seokjin, Taehyung menangis di pelukan Jungkook.


"Tenanglah, Hyung. Aku tahu perasaanmu sekarang, jadi tenanglah.." tutur Jungkook sambil mengelus punggung Taehyung dengan lembut. Sama seperti Taehyung, Jungkook juga menangis mendengar speech yang disampaikan Seokjin saat menerima award.


"Hm, ayo kita beristirahat besok. Lagipula, besok tak ada jadwal, kan?" imbuh Jungkook.


Taehyung menengadahkan kepalanya, lalu menatap Jungkook bingung. "Molla.." (Aku tidak tahu.) Ia lalu menunduk, dan menghapus air matanya dengan tisu.


"Kau mau apa?? Yoongi hyung mentraktir kita." Jimin datang menghampiri mereka berdua, lalu duduk di samping Taehyung.


"Ah? Aku mau apa saja. Hotdog, boleh? Aku juga mau cola." pinta Jungkook.


Jimin menatap Taehyung, lalu menaikkan dagunya, "Tae, kau mau sesuatu? Jangan murung." 


Taehyung menarik senyumnya dan memamerkan mulut kotaknya. "Aku mau, tapi jika kita bersama-sama ya, Hyung?" katanya sambil merangkul bahu Jimin dan Jungkook.


"Ah.. dasar kau ini. Kau memang aneh dibanding yang lain." gurau Jimin, lalu memeluk kedua maknae itu. Tentu saja, Taehyung dan Jungkook.


"Baiklah, ayo kita menemui keempat hyung kita. Mereka sudah menunggu kita dari tadi..." seru Jungkook, lalu menarik lengan Jimin dan Taehyung.


*******


Taehyung


Aku terfokus pada layar TV yang menayangkan variety show Korea yang membuatku terpingkal-pingkal. Sambil memakan snack yang aku beli di minimarket tadi, aku fokus menonton TV. Untungnya, kondisi di dorm cukup sunyi, sehingga aku bisa terus menonton TV sepuasnya.


"Taehyung! Hujan akan turun sebentar lagi, jadi tolong jaga dorm baik-baik ya? Pastikan cucian yang dikeringkan di halaman belakang dorm harus dimasukkan ke dalam dorm jika sudah kering! Kalau belum, taruh saja diatas keranjang cucian di gudang! Aku akan menuju ke Myeongdong untuk membeli sesuatu." Seokjin hyung meneriaki aku sambil memintaku melakukan tugas dorm.


Akupun manggut-manggut, lalu menoleh menatap Seokjin hyung, "Iya-iya, aku akan melakukannya, Hyung! Tenang saja!!"


"Baiklah, aku pergi dulu." ujar Seokjin hyung, lalu berjalan keluar dan menutup pintu dorm. Dan pada akhirnya, akulah member yang tinggal sendirian di dalam dorm.


Karena terlalu lama menatap layar TV, mataku menjadi agak lelah, sehingga aku tiba-tiba tertidur. Aku tertidur di sofa dengan posisi telungkup.


*******


"Hyung! Bangun!! Bantu Kookie angkat cucian dulu!!!"


Aku membuka mataku perlahan, lalu memperbaiki posisi dudukku. Aku lalu menggosok-gosok mataku dengan pelan, lalu aku termenung sesaat. Aku lalu melihat Jungkook datang tergesa-gesa membawa cucian dari halaman belakang dorm dengan tubuh yang basah.


Aku tersentak. Sekarang sedang hujan?!!!


Aku bangkit dari tempat dudukku dan berlari menuju halaman belakang dorm untuk memungut cucian yang sedang dikeringkan. Untung masih gerimis, sehingga cucian tidak terlalu basah. Namun, cucian yang diangkut Jungkook seutuhnya basah, karena tempatnya agak jauh, dan tidak berteduh sehingga nyaris basah.


"Aduh, bagaimana ini? Seokjin hyung bisa marah kalau cuciannya basah!!" keluhku begitu melihat cucian yang Jungkook taruh di keranjang cucian.


Jungkook membesarkan matanya. "Hm, bagaimana kalau kita keringkan pakai pengering rambut milik Seokjin hyung?" usul Jungkook sambil membuka mulutnya lebar-lebar.


Usulan Jungkook ada benarnya juga. Kurasa, itu ide yang bagus.


Tiba-tiba saja, Jimin hyung datang mengagetkan kami berdua. Untung saja, aku dan Jungkook tidak terkejut. Hanya saja, kami merasa senang bila Jimin hyung datang.


"Annyeong! Boleh aku bantu?" seru Jimin sambil mendekatkan kepalanya pada bahuku.


Aku sontak menoleh. "Hyung datang kesini bersama siapa??"


Jimin tersenyum. "Ho-oh, sendirian. Apa hanya kalian berdua saja yang menjaga dorm?" Aku dan Jungkook mengangguk pelan.


"Iya, Hyung. Akan jauh lebih cepat selesai jika Hyung membantu kami mengeringkan ini." ujar Jungkook, sambil melipat pakaian Yoongi hyung.


Jimin tersentak. "Mengeringkan pakaian? Maksudmu, pakaian ini basah karena hujan?!! Astaga, kenapa pakaiannya basah?? Untungnya kalian tidak ketahuan oleh Seokjin hyung!!"


Jungkook menatapku aneh, "Gara-gara Taehyung, bajunya basah semua. Dia ketiduran abis menonton TV. Apalagi, ia juga tidak mematikan TV saat ia akan tidur. TV nya menyala terus hingga aku datang. Untungnya hujan belum sederas ini saat aku datang, jadi aku terburu-buru memungut pakaian ini. Bahkan ada yang nyaris basah karena tempatnya tidak berteduh."


Mendengar ucapan Jungkook, Jimin hyung lantas menatapku horor. "Jadi kau yang disuruh tapi malah mengabaikannya karena ketiduran?! Untung saja Jungkook langsung datang membantu. Kalau tidak, kau pasti akan dimarahi. Ya sudah, ayo cepat kita lipat pakaian ini."


Aku melipat pakaian sambil menatap mereka berdua, "Jimin hyung, Jungkook-ie, terima kasih sudah banyak membantuku. Aku banyak berterima kasih kepada kalian.."


Jimin dan Jungkook lalu memelukku erat. Rasanya nyaman bila dipeluk oleh mereka.


"Kau adalah orang yang luar biasa bagiku."


"Akan lebih istimewa jika kau mencintai dirimu sendiri, Kim Taehyung," tutur Jimin.


*******


"Taehyung," Jimin hyung memanggilku dengan nada lemah dari dalam kamarnya. Suaranya jauh dari kata semangat saat ini. Menurut kata Jungkook, dia tampak kurang sehat sejak pagi. Ia bahkan tak meninggalkan kamarnya saat sarapan tadi. Jungkook membawakan miyeokguk dan bbibimbap untuknya. Aku baru menyadarinya saat aku berpapasan dengan Jungkook begitu ia selesai memberi makan untuk Jimin hyung.


Aku lalu melangkah masuk ke kamarnya dengan langkah yang pelan. Saat aku masuk ke kamarnya, ia terbaring lemah di kasurnya. Tubuh mungil Jimin hyung yang ditutupi selimut tebal berwarna putih, membuatku sedih. Sahabatku satu-satunya itu, yang juga teman sekelasku, adalah orang yang membuatku bahagia seumur hidupku dengan tingkahnya.


Aku duduk disampingnya, lalu memegang tangan kanannya. Jari-jarinya yang mungil terlihat imut dan lucu, dan sangat lembut, menggambarkan karakter Jimin hyung yang sebenarnya.


"Taehyung-ie," tuturnya lembut.


Ia mengelus rambutku, dan memegang wajahku dengan kedua tangannya. "Kau orang yang luar biasa bagiku, Tae. Aku baru pertama kali melihat orang yang luar biasa di dunia ini, selain orang tuaku. Dan aku sama sekali tak menyangka, kalau orang itu selalu bersamaku hingga saat ini."


Mataku berkaca-kaca mendengar perkataan Jimin hyung. Aku bahkan hampir menangis.


"Tae, jadilah orang yang istimewa bagiku, meskipun suatu saat nanti aku tak berada di sampingmu, yaitu saat dimana kau bahagia bersama orang yang kau cintai..."


Air mataku jatuh tak terhingga. Aku tak bisa menahan air mataku lagi, karena aku memang sensitif dengan ucapan Jimin. Aku lalu memeluk tubuh Jimin hyung.


"Hyung-ie, terima kasih sudah hadir dalam hidupku dan mewarnai hidupku..."


Jimin hyung lalu bangkit, dan kembali memelukku. Air matanya jatuh di bahuku. Tangisannya tumpah bahkan ia tak segan-segan membasahi bajuku dengan air matanya.


Namun aku sadar dengan suara yang tak jauh dari kami berdua. Suara Jungkook.


"You got the best of me....."


to be continued.....