INFINITY SYSTEM

INFINITY SYSTEM
9. Ibukota Liaochun



Yun Qi melanjutkan perjalanannya, dia sama sekali tidak peduli dengan alam yang dia hancurkan. Sebab dia hanya seorang pria yang suka omong kosong daripada bersikap tegas.


Namun dia tak mau memikirkan itu. Karena hanya akan membuatnya sakit kepala.


Satu hari berjalan santai Yun Qi menemukan sebuah jalan setapak. Ukurannya hanya pas untuk berjalan kaki saja.


Letaknya ada di mulut hutan. Yun Qi berpikir bahwa jalan itu dibuat untuk para warga mencari bahan herbal.


Hutan yang baru saja dilewati Yun Qi, penuh dengan herbal berkualitas. Namun karena tempatnya terpencil, tak ada orang yang tahu dan mengeksploitasi tempat itu untuk dijadikan sumber harta.


"Eh?"


Yun Qi mendengar suara wanita dari arah depannya. Saat dia melihatnya, Yun Qi begitu terkejut dengan keberadaan gadis cantik yang sedang membawa keranjang digenggamannya.


Rambutnya berwarna coklat panjang, dengan warna mata yang selaras. Wajahnya yang agak tirus memberikan kesan yang imut.


Bibirnya berwarna merah muda dan mungil, wajahnya terlihat sangat cantik dengan kulit putih yang menghiasinya.


Bajunya Kumal, seperti baju Yun Qi dulu saat masih menggelandang. Banyak jahitan dan tambalan dicelana dan bajunya.


Bukannya merasa jijik, Yun Qi malah merasa terpesona. Tak pernah dia lihat wanita seperti itu selama dia hidup. Ini adalah yang pertama kalinya.


Melihat Yun Qi yang terus memandangi dirinya, wanita itu sedikit menutupi dadanya yang kecil sembari menundukkan kepalanya.


Wajahnya terlihat dipenuhi oleh kekhawatiran dan kegelisahan. Walaupun pria dihadapannya sangat tampan, itu tak membuat ketakutannya menghilang.


Wanita itu mundur perlahan dengan langkah yang kecil. Berharap pria dihadapannya tidak tahu bahwa dia ingin pergi.


Namun dia tidak tahu, tingkahnya yang seperti itu membuat Yun Qi menjadi semakin tertarik dengannya.


"Kau mau kemana nona?" Tanya Yun Qi dengan senyuman hangatnya. Dia tidak mau wanita dihadapannya merasa ketakutan dan gemetaran.


"E-Em... Aku mau pulang...." Jawabnya dengan kepala yang masih tertunduk.


"Oh, baiklah nona, silahkan pergi saja. Tak usah merasa takut padaku."


Wanita itu mengangguk, lalu hendak berbalik untuk pergi. Namun langkahnya terhenti saat Yun Qi memanggil dirinya lagi.


"Omong-omong, siapa namamu nona?"


"Yui Ganqing," setelah memberi tahu namanya, wanita itu pergi berlari dan kabur. Menghilang dari pandangan Yun Qi yang masih terpana.


"Imut sekali...."


[Dari beberapa wanita yang tuan temui, sepertinya wanita itu tidak lebih cantik dari mereka. Apa yang membuatmu tertarik padanya?]


"Ini masalah selera system, kau tidak akan mengerti."


[Seleramu wanita gembel?]


"Bukan, wanita polos."


[Begitu ya, tapi kenapa tidak tuan kejar? Apakah perkataan suka itu hanya omong kosong?]


"Aku ingin melihat takdir membawaku kemana antara aku dan dia. Karena mau bagaimanapun, 15% adalah angka yang lumayan besar."


[85% mu baru saja datang, tapi kau malah mengharapkan yang 15%]


Yun Qi tersenyum lebar, "Aku tidak ingin punya satu takdir saja."


[Begitu ya, kau lebih memilih satu dari banyak, bukan angka satu mutlak]


"Haha, begitulah."


***


Kota Hanxiu, kota terbesar yang dimiliki pulau Liaochun. Dipimpin oleh seorang pria kuat yang berada ditahap energi. Level yang sangat tinggi bagi penduduk benua Immortal.


Jadi kaisar timur memberikan daerah itu pada orang yang berada ditahap Energi.


Nama pemimpin kota Hanxiu adalah Dong Bai Xiu. Memiliki dua anak yang masing-masing sangat berbakat.


Istrinya sudah mati, saat perang antara timur dan barat pecah beberapa tahun yang lalu.


***


Yun Qi sampai dihadapan Kota Hanxiu dengan cepat. Tembok abu-abu raksasa setinggi 60 meter memanjang sampai ke ufuk timur dan barat.


Karena planet Qingxun berbentuk bulat, Yun Qi tidak bisa melihat ujung dari tembok raksasa itu.


Selain tembok raksasa yang sangat panjang, para manusia-manusia yang sedang mengantri juga tak kalah panjangnya.


Mereka sedang menunggu masuk kekota dalam diam. Ada juga yang sedang membawa-bawa budak dalam genggamannya. Jika mereka kenal dengan salah satu orang, mereka akan saling mengobrol.


Dan Yun Qi tidak terlalu suka dengan pemandangan itu, sebab dia merasa muak dengan semua antrian panjang yang dia lihat.


"Hai tuan!"


Tiba-tiba tangan mungil mencolek Yun Qi, yang sedang menunggu antrian dengan wajah murung.


Yun Qi menoleh, dan melihat seorang anak laki-laki yang berumur sekitar 11 tahun sedang menatap kearahnya dengan wajah berseri-seri.


Bocah itu mengenakan pakaian lusuh dengan banyak tambalan. Dan juga bocah itu juga mengenakan tas selempang berwarna coklat.


"Ada apa cil?"


Bocah itu berjalan mendekati tuan dengan wajah berseri. "Apa kau mau memberikan aku uang? Aku lapar."


Yun Qi menaikkan sebelah alisnya, wajah si bocah yang berseri-seri, membuat dia tak menyangka bahwa bocah itu sedang memalak dirinya. "Minta orang tuamu saja dek. Kecil-kecil sudah memalak."


Dahi si bocah mengkerut, dia terlihat marah saat mendengar kata 'memalak' "Aku mengemis kak! Bukan memalak! Aku sedang mencari modal untuk menikahi pacarku!"


Yun Qi melongo, dia terlihat tak percaya dengan apa yang didengarnya. "Pacar? Kok masih kecil sudah pacaran saja? Ajaran siapa tuh."


"Hehe! Aku sudah dewasa! Aku sudah 11 tahun! Dan aku menyukai seorang gadis dari desa sebelah, jadinya aku mengemis dari siang dan malam untuk bisa menikahi gadis itu!"


"Memangnya gadis yang kau sukai mau menikahimu?"


Bocah itu sedikit tersentak, lalu mengelus dagunya. "A-Aku tidak tahu...."


Yun Qi menghela nafas panjang. Dia benar-benar heran dengan kelakuan si bocah tak dikenal itu. "Daripada sibuk dengan urusanmu sendiri, lebih baik sibukkan dirimu dengan gadis yang kau sukai. Dan asal kau tahu saja ya, kau baru boleh menikah saat umurmu 17 tahun."


Wajah si bocah terlihat kecewa. Namun perkataan Yun Qi bisa diterima dikepalanya. "Baiklah, aku akan mendekati gadis yang kusukai. Tapi gadis yang kusukai sangat sibuk, soalnya orang tuanya mempunyai penyakit yang bisa sembuh jika mereka mempunyai uang."


"Jadi orang tua gadis yang kau sukai punya penyakit? Dan mereka membutuhkan uang untuk sembuh? Kenapa tidak kau ubah saja tujuan mengemismu untuk menyembuhkan orang tuanya?"


Bocah itu mengalihkan pandangannya, lalu menendang-nendang batu kecil yang ada disekitarnya. "Aku berharap mereka mati saja. sebab biayanya pun tak main-main jika dibebankan pada bocah berumur 11 tahun."


Yun Qi terdiam, dia jadi teringat dengan masa lalunya. Dulu orangtuanya juga sakit, dan ekonomi keluarga menurun atau bisa dibilang hancur.


Dia yang satu-satunya sehat didalam keluarganya, menjadi tulang punggung dan mencari uang untuk menyembuhkan orang tuanya.


Namun setelah waktu beberapa tahun terlewati. Yun Qi merasa hal itu hanya sia-sia saja. Jadi dia meninggalkan orang tuanya, dan hidup sendirian di kejamnya dunia bawah tanah.


Dan saat dia meninggalkan orang tuanya. Hidupnya dipenuhi oleh kesialan. Jika bisa dibilang, hidup Yun Qi sudah tidak berkah. Yun Qi tidak menjalankan tugasnya dengan baik. Dan meninggalkan orang tuanya mati dengan wajah datar.


Jadi saat mendengar omongan si bocah. Yun Qi jadi merasa sangat bersalah. "Kau mencintainya kan? Jadi jangan buat dia sedih. Jika dia mencari uang dengan sangat keras, berarti gadis yang kau sukai sangat menyayangi orang tuanya. Dan kau berharap orang tuanya mati?"


"Maaf, pikiranku terlalu sempit jika memikirkan itu. Namun aku setuju padamu tuan."


Yun Qi tersenyum, lalu mengelus kepala bocah itu dengan lembut. "Siapa namamu bocah?"


"Xian Zheng."