
Tanpa kata ᝰ✍︎꙳⋆
...𖤣𖥧𖥣。𖥧 𖧧𖤣𖥧𖥣。𖥧 𖧧Happy Reading𖤣𖥧𖥣。𖥧 𖧧𖤣𖥧𖥣。𖥧 𖧧...
...!1: Slow Update (Very Slow)...
...!2: Sorryaboutalloftypo~fufufu~...
📑 Explain
“Maaf membuatmu menunggu,” ucap Osane mengulurkan tangannya.
“Tidak apa. Aku juga baru saja sampai,” ucap Ella membalas jabatan tangan Osane.
Osane sedikit terpana akan wajah Ella. Ternyata ia terlihat lebih cantik daripada foto yang Juan perlihatkan padanya.
Mata hijau dan rambut coklat bergelombangnya menambah kesan menarik pada Ella. Osane yakin wanita semenarik Ella pasti banyak yang menyukainya. Jika saja ia belum menikah mungkin ia akan mendekati Ella juga.
“Silahkan duduk,” ucap Ella mempersilahkan Osane untuk duduk.
Osane berterima kasih dan duduk. Juan dengan pelan duduk disamping Osane, ia terus mengalihkan pandangannya kearah lain. Ia bisa merasakan kalau Ella menatapnya tajam walau ia sedang tersenyum. Osane yang melihat tingkah Juan menggelengkan kepalanya.
“Kedatanganku kemarin soal..,”
“Aku tau,” ucap Ella cepat.
Osane tersenyum canggung mendengar jawaban cepat dari Ella. Ia tiba-tiba merasa tidak nyaman dengan senyum ramah Ella. Ia merasa merinding melihat senyumnya.
“Sebenarnya aku tidak punya banyak waktu. Jadi, apa yang bisa kulakukan untuk membantu kakakku dan membuatku lepas dari skandal ini?” ucap Ella tetap tersenyum ramah.
Osane benar-benar merasa tidak nyaman, ia melirik Juan tapi pria disebelahnya ini mengalihkan pandangannya. Osane mengumpat dalam hati.
“Sebenarnya, kami memutuskan...,”
“Aku akan melakukannya selama tidak membuatku menjadi semakin terlibat dalam ke masalah Juan,” ucap Ella tersenyum pada Juan yang tak sengaja melihatnya.
Juan segera mengalihkan pandangannya. Melihat Juan yang gugup membuat Osane juga merasa gugup. Osane terbatuk pelan untuk mencairkan suasana.
“Apa kau yakin akan mengikuti keinginan kami,”
Ella mengangguk, “Hmm. Selama itu bukan menjadi kekasihnya,” ucap Ella menatap Juan datar.
Juan merasa tertekan dibawah tatapan Ella yang tajam bahkan Osane yang tak ditatappun juga dapat merasakan apa yang Juan rasakan. Ia tidak menyangka kalau adik Juan semenakutkan ini.
Ella yang terlihat sangat anggun, manis, dan cantik ternyata bisa membuat orang lain tertekan. Ella lebih menakutkan daripada CEO perusahaan entertainment mereka.
“Ten.. tentu saja tidak,”
“Syukurlah. Aku cukup marah saat melihat berita ini, ” ucap Ella kembali tersenyum ramah.
Sekarang Osane bisa mengerti kenapa Juan tidak ingin bertemu dengan adiknya. Adik Juan yang sedang dalam keadaan marah benar-benar menakutkan. Ia ingin segera pergi dari sini, ia sudah tidak tahan berada disamping Ella.
Osane melirik sekitarnya yang kelihatannya juga merasakan hawa tertekan dari Ella. Perlahan mereka mulai menjauh.
“Kal.. kalau begitu. Aku akan menghubungimu lagi, kami ada pekerjaan lain dan Juan tidak bisa berlama-lama diluar,” ucap Osane berdiri dari duduknya.
Juan terlihat cerah saat Osane akan pamit.
“Apa kakakku tidak bisa tinggal?” tanya Ella dengan wajah seriusnya.
Juan menatap Osane dan menggelengkan kepalanya, ia berharap Osane menolak permintaan adiknya. Osane melirik Juan dan meneguk ludahnya susah payah. Ia ketakutan hanya karena wajah serius Ella.
“Ma.. maafkan aku. Kam..,”
Tubuh Osane menegang saat Ella tiba-tiba berdiri dari duduknya.
“Baiklah. Tidak apa-apa. Senang berkerjasama denganmu,” ucap Ella mengulurkan tangannya.
Osane segera menjabat tangan Ella dan pamit bersama Juan.
Sesampainya dimobil. Juan dan Osane menghembuskan nafas lega. Berada didekat Ella benar-benar membuat mereka sangat tegang.
“Sekarang aku tau kenapa kau tidak ingin bertemu dengan adikmu,”
Juan menganggukkan kepalanya dengan wajah memelas.
“Adikmu sangat menakutkan,” ucap Osane yang diangguki setuju oleh Juan.
📑📑📑📑📑
“Juan!!!”
“Ada apa?” tanya Juan pada Aro yang berdiri disamping pintu.
Disana juga ada Vier, Eric, dan Mateo.
“Kenapa kalian ada disini?” tanya Juan menatap bingung keempatnya satu persatu.
Kenapa teman-temannya satu grup ada didepan pintu.
Apa mereka menuggunya?
Tidak biasanya mereka menunggunya seperti ini. Juan tersentuh dengan kepedulian teman-temannya.
“Apa kau tidak apa-apa?”
Juan menatap Vier bingung.
Ia rasa ia tidak apa-apa?
Memangnya apa yang sudah terjadi?
Apakah ada berita baru mengenai dirinya atau wajah adiknya sudah tersebar luar?
Juan berdoa dalam hati semoga saja wajah Ella tidak tersebar atau adiknya itu akan mengamuk.
“Kenapa memangnya?” tanya Juan was-was.
“Kami baru tau soal skandalmu tadi siang. Kau yakin tidak apa-apa?” tanya Aro memastikan.
Juan menganggukkan kepalanya paham jadi inilah kenapa mereka berdiri menunggunya didepan pintu. Ia sedikit kecewa karena mereka menunggunya karena berita tadi pagi. Ia sudah terlanjur senang ditunggu oleh mereka tapi ternyata mereka menunggunya karena ingin tahu berita tadi pagi.
Tapi, tak dapat dipungkiri Juan juga merasa senang mereka mengkuatirkannya.
“Aku tidak apa-apa. Atasan akan segera mengajakan jumpa pers,”
Mereka berbarengan menghela nafas lega. Saat mereka melihat betapa hebotnya berita tentang Juan, mereka sangat kuatir akan terjadi sesuatu pada Juan tapi kelihatanya tidak akan terjadi hal yang fatal.
“Syukurlah. Aku sangat kuatir,” ucap Aro.
Juan tersenyum senang Aro mengkuatirkannya. Ia merasa sangat berharga.
Mateo menganggukkan kepalanya, “Jadi, siapa wanita itu?”
“Dia...,” ucap Juan tertahan saat ia tak sengaja bertatap mata dengan Andrei yang baru saja lewat.
Andrei hanya diam menatapnya dan kembali berjalan menuju kamarnya. Tiba-tiba saja jantung Juan berdegup dengan kencang, entah kenapa Andrei terlihat seperti adiknya kalau sedang marah dan adiknya malah terlihat seperti Andrei yang sedang marah.
“Juan?” panggil Aro.
“Err.. dia adikku,” jawab Juan tersenyum kecil.
Setelah itu, Juan tidak tahu apa yang mereka berempat bicarakan. Ia kepikiran dengan Andrei.
📑📑📑📑📑
“Masuklah. Jangan mengintip seperti itu,” ucap Juan melirik sedikit pada pintu dibelakangnya.
Andrei yang sejak tadi menunggu didepan pintu sejak Juan memasuki kamarnya akhirnya masuk kedalam dan menutup pintu.
“Ada yang ingin kau katakan?” tanya Juan tanpa basa-basi.
Ia tahu apa tujuan Andrei menemuinya setelah berita tadi pagi.
“Soal...,”
“Jika ini soal adikku. Aku tidak bisa mengatakan apapun karena ini masalah kalian jadi aku tidak berhak ikut campur,” ucap Juan duduk dipinggiran kasur dan menatap Andrei yang berdiri didepan pintu kamarnya.
Andrei menundukkan kepalanya.
“Tidak banyak yang bisa kubantu tapi aku hanya bisa sedikit membantumu. Datanglah ke konferensi seminggu lagi. Berdoalah semoga saja kalian dapat bertemu,”
Andrei mengangkat kepalanya dan tersenyum sumringah. Ia menganggukkan kepalanya cepat dan pergi dari kamar Juan tanpa kata. Juan terkekeh pelan, Andrei sangat berubah dari dirinya beberapa tahun lalu. Andrei yang dingin tiba-tiba saja menjadi pria yang lebih sedikit ceria.
Entah apa yang adiknya itu lakukan pada pria itu hingga berubah seperti itu. Juan yang ia kenal dingin pada siapapun sekarang menjadi lebih hangat.
Untuk pertama kalinya, Juan merasa kalau kepergian adiknya ini ada gunanya. Terima kasih pada adiknya.
📑😘📑TBC📑😘📑
Oyasumi~ ˘ᵕ˘ ᶻᶻᶻ