Idol Feeling

Idol Feeling
Meet



Ini chapter terakhir untuk update kali ini.. pas bgt pas awal bulan.. So...


Let`s Go♡。゚.(*♡´ᵕ` 人´ᵕ` ♡*)゚♡ °・


...𖤣𖥧𖥣。𖥧 𖧧𖤣𖥧𖥣。𖥧 𖧧Happy Reading𖤣𖥧𖥣。𖥧 𖧧𖤣𖥧𖥣。𖥧 𖧧...


...!1: Slow Update (Very Slow)...


...!2: Sorryaboutalloftypo~fufufu~...


📑 Meet


Ella menutup mulutnya dengan sebelah tangannya yang lain. Ia cukup terkejut dengan sikap berani pria yang berstatus sebagai CEO ini.


“Oh! Anda terlalu berlebihan sampai mencium tangan saja,”


Akshay melepaskan kecupannya dan tersenyum tapi tidak melepaskan tangan Ella.


“Tentu saja tidak. Apalagi untuk wanita cantik sepertimu,”


Ella hanya dapat tersenyum mendengar gombalan Akshay. Sudah dipastikan kalau pria didepannya ini termasuk kedalam salah satu pria menyebalkan lainnya. Pria yang suka menebarkan pesona mereka walau tak dapat dipungkiri Akshay termasuk pria yang tampan.


“Emm.. sir, bukankah kau terlalu lama memegang tangan adikku,” ucap Juan mengintrupsi kegiatan Akshay yang terus tersenyum pada Ella dan menggenggam tangan adiknya itu.


“Upss.. Maaf. Aku selalu tidak bisa menahan diri untuk menyentuh tangan wanita cantik seperti ini,” ucap Akshay dengan senyum tanpa dosanya.


‘Benar-benar pria penebar pesona,’


Begitulah yang Juan dan Ella pikirkan tentang Akshay.


Juan harus segera memisahkan Akshay dengan Ella karena jika Akshay tidak segera disingkirkan maka adiknya ini tidak akan selamat dari pria yang suka bergonta-ganti pacar ini.


Sudah menjadi rahasia umum diperusahaan kalau Akshay terkenal sebagai pria yang berganti pacar sesering yang pria itu inginkan bahkan pernah dalam sehari ia dapat mengencani tiga wanita sekaligus jadi Juan tidak ingin adiknya menjadi incaran Akshay.


“Emm.. kurasa aku akan ke kamar kecil dulu. Permisi,” ucap Ella melenggang pergi.


Setelah Ella pergi, Juan langsung mendekat pada Akshay.


“Jangan merayu adikku,”


Akshay mengedikkan bahunya acuh, “Aku hanya berkenalan padanya. Memangnya tidak boleh?”


“Tidak. Tidak boleh,” tolak Juan cepat.


Ia harus segera memberi batasan agar Akshay tidak mendekati adiknya.


“Cih! Kau ini pelit sekali. Padahal kita teman,”


“Tidak ada kata teman jika kau berniat mendekati Ella,” ucap Juan memincingkan matanya menatap Akshay memperingati pria itu.


“Kau ini kejam sekali,” ucap Akshay tak senang.


📑📑📑📑📑


Ella membasuh tangannya dan mengambil tisu untuk mengeringkannya. Ia menatap pantulan dirinya dalam cermin lalu menumpuhkan kedua tangannya pada wastafel didepannya. Ia tidak sanggup untuk kembali keruang istirahat jika ada Akshay didalamnya. Ella tidak akan pernah bisa tahan untuk satu ruangan dengan pria seperti Akshay.


“Sial! Aku berdiri diantara jurang,” guman Ella.


Ella hanya bisa pasrah dan keluar dari toilet perempuan. Langkahnya terhenti saat ia tak sengaja beradu mata dengan pria yang baru saja keluar dari toilet laki-laki sama sepertinya. Pria itu juga terdiam melihat Ella.


“Andrei,” guman Ella.


Ia tidak percaya akan bertemu dengan pria yang sangat dirindukannya ini. Bagaimana bisa bertemu dengan Andrei disini?


Akh! Tentu saja bisa karena kakaknya satu grup dengan pria ini jadi wajar jika ia tak sengaja bertemu dengan Andrei. Ella meneguk ludahnya susah payah dan berjalan terlebih dahulu melewati Andrei.


Lebih baik bertingkah tidak saling mengenal daripada harus bertegur sapa tapi kembali teringat kejadian yang lalu. Andrei menundukkan kepalanya sedih saat Ella melewatinya begitu saja. Andrei menyentuh dadanya yang terasa nyeri.


“Sial! Sial! Sial!” guman Ella menyetop taksi yang lewat dan memasukinya.


Ella segera menyebutkan alamat rumahnya dan setelahnya ia tak berbicara apapun. Supir taksi paruh baya itu melirik Ella dari kaca spion.


‘Anak muda dan kehidupannya,’ pikir supir paruh baya itu.


📑📑📑📑📑


Juan berusaha menelpon Ella tapi tak mendapat jawaban apapun. Ia tidak mungkin mengejar Ella karena sudah dipastikan kalau Ella sudah meninggalkan tempat ini, mau dia mencegahnya dan meminta kejelasanpun tidak ada gunanya.


“Tenanglah Juan,”


“Bagaimana aku bisa tenang?!!”


Juan menatap Akshay gusar. Ia tidak bisa tenang saat ini, ia sempat melihat adiknya pergi dengan wajah menangisnya. Ia kuatir jika terjadi sesuatu dengan adiknya saat ke kamar kecil tadi.


“Biarkan kubantu menghubunginya,” ucap Osane segera menelpon nomor Ella yang didapatnya dari Juan tapi sama saja tidak ada jawaban dari sana.


Osane menggelengkan kepalanya. Hati Juan semakin kuatir. Ia tidak bisa menebak kemana Ella akan pergi. Adiknya itu buta arah jadi ia sangat kuatir kalau Ella pergi tanpa tujuan walau bertujuan sekalipun ada kemungkin ia turut dan berjalan tak tentu arah.


“Aku akan pergi mencari…,”


Ucapan Juan terhenti saat ia melihat Andrei memasuki ruang istirahat dengan wajah lesunya. Juan hanya diam tak bersuara dan menatap Andrei. Akshay yang biasanya pintar mengetahui isi hati seseorang dari raut wajahnyapun tak bisa menebak apa yang Juan pikirkan.


Andrei terkejut saat Juan berdiri memandangnya tanpa kata.


“Aku..,”


“TIdak usah berbicara apapun,” ucap Juan berjalan melewati Andrei.


Ia sudah tau kenapa adiknya itu pergi sambil menangis. Tak ia sangka adiknya akan bertemu dengan Andrei padahal keinginannya mengijinkan Andrei datang hanya untuk melihat adiknya sebentar setelah itu pergi. Ia benar-benar tak menyangka mereka akan bertemu.


Andrei hanya dapat menudukkan kepalanya dan suasana diruang istirahat menjadi semakin tak nyaman.


📑📑📑📑📑


Besoknya berita tentang Ella tersebar luas dimana-mana. Mereka menjadi semakin penasaran siapa wanita yang berstatus sebagai adik kandung Juan.


Berita tentang kecantikan dan keanggunan Ella memenuhi laman pencarian berita. Ella benar-benar menjadi sosok baru didunia hiburan. Keingintahuan tentang Ella bahkan melebehi kakaknya. Tidak ada laman berita yang tidak menyiarkan berita tentang Ella.


Tapi berita itu berbanding terbalik dengan Ella pagi ini. Wajahnya sembab dan matanya bengkak sehabis menangis semalaman. Ia lupa kalau hari ini ia masih harus bekerja dan malah mengikuti kata hatinya untuk menangis. Ella terlena dalam tangisannya.


“Pagi, Eliot,” sapa Ella pada Eliot yang tersenyum padanya begitu Ella sampai.


“Ada apa dengan matamu?” tanya Eliot kuatir melihat mata Ella yang bengkak.


Ella hanya menghela napasnya tak ingin menjawab pertanyaan Eliot dan keliatannya pria itu cukup memahami keterdiaman Ella.


“Lebih baik ke ruang istirahat saja dulu dan kompres matamu,”


Ella menganggukkan kepalanya lalu pamit untuk naik. Ia harus segera sampai sebelum Shean datang. Ella jadi kuatir harus bersikap seperti apa pada atasannya itu. Tidak mungkin ia bertemu dengan Shean dalam keadaan mata yang mengerikan seperti ini.


Beruntunglah agenda Shean hari ini tidak ada yang diluar kantor ataupun rapat penting yang harus mengikut sertakan dirinya. Agenda Shean hari ini hanya nanti malam harus menghadiri pesta ulangtahun perusahaan relasi Shean jadi ia bisa aman.


Ella benar-benar melupakan kenapa Shean meminta alamat rumahnya padahal Ella sudah melihat pesan email yang Shean kirimkan dua hari yang lalu kalau dialah yang akan menemani Shean datang ke acara itu.


📑😘📑TBC📑😘📑


Mo oyasumi mina-san˘ᵕ˘ ᶻᶻᶻ


Sampai ketemu di updatean selanjutnya~


Otsukaresamadeshita~