
Good Night, Minna( ⑉¯ ꇴ ¯⑉ )
Happy Reading𖤣𖥧𖥣。𖥧 𖧧𖤣𖥧𖥣。𖥧 𖧧
!1: Slow Update (Very Slow)
!2: Sorryaboutalloftypo~fufufu~
📑 One More Bad Day
Tok! Tok! Tok!
Suara ketukan tidak berhasil membangunkan seorang wanita yang tengah tertidur dengan nyamannya dan malah semakin jatuh jauh ke dalam alam mimpi.
Tok! Tok! Tok!
Tiga kali ketukkan lagi masih tidak berhasil membangunkan.
TOK! TOK! TOK!
Tiga ketukan kali ini lebih kencang daripada keenam ketukkan sebelumnya. Perlahan Ella membuka matanya. Pandangannya masih menerawang jauh, setengah sadar dan tidak sadar.
“Nona! Jika kau sudah selesai, kau bisa kambali bekerja,”
Mata Ella langsung terbuka dengan lebar mendengar suara bariton yang baru saja didengarnya kemarin memenuhi gendang telinga Ella. Ella langsung berdiri dan memberi hormat pada pria yang berstatus tertinggi diperusahaan ini.
“Maafkan saya, sir!” ucap Ella tidak berani mengangkat tubuhnya.
Tidak ada suara yang keluar dari laki-laki itu atau suara langkah kaki menuju ruangannya. Hanya terdengar dentingan jam yang terus berjalan. Bahkan Ella tidak berani melirik sedikitpun.
“Lissie, tolong bantu dia,” ucap pria itu memasuki ruangannya.
“Ella, bagaimana bisa kau tidur disini? Ayo, ikut aku. Kita harus memperbaiki penampilanmu,” ucap Lissie menggaet tangan Ella untuk mengikutinya menuju ruangan yang bersebelahan dengan ruangan direktur.
Ruangan ‘walk in closet’ lah tersembunyi dibalik pintu berwarna cream itu. Lissie langsung sibuk memilih beberapa pakaian saat memasuki ruangan. Ella hanya diam didepan pintu dan mengedarkan pandangannya kepenjuru ruangan. Segala jenis pakaian kerja wanita tersedia disana.
“Apa yang kau lakukan disana? Masuklah ke kamar mandi dan bersihkan dirimu,” ucap Lissie menunjuk pintu yang tepat disebelah pintu masuk
Ella mengangguk dan segera memasuki kamar mandi. Tak butuh waktu lama, Ella keluar dengan tubuh yang sudah segar kembali. Ella pikir jika ia sampai ketiduran dikantor maka tidak ada waktu baginya untuk membersihkan diri.
“Pakailah ini. Kurasa kau cocok memakainya,” ujar Lissie menyerahkan kemeja dan rok pendek.
Ella mengangguk dan kembali memasuki kamar mandi dengan pakaian ditangannya. Ia tidak menyangka akan berganti pakaian kerjanya dikantor bahkan menggunakan ruangan khusus untuk berganti pakaian. Atasannya ini benar-benar orang yang sangat kaya dan perhatian dengan karyawannya.
“Err… Lissie, apakah ini tidak terlalu..,” ucap Ella keluar dari kamar mandi.
Ella menggunakan atasan berwarna moka dengan rok berwarna hitam. Mata Lissie berbinar senang melihat pernampilan Ella yang terlihat lebih menarik daripada kemarin.
“Sudah kuduga kau terlihat sangat cantik,” puji Lissie pada Ella yang berdiri didepan cermin.
“Apa aku boleh memakainya?” ucap Ella menolehkan kepalanya pada Lissie.
Lissie mengangguk, “Tidak apa. Pakaian ini memang disiapkan khusus untuk para sekretaris direktur jika mereka tidak sempat pulang ke rumah. Kau bisa membawanya pulang dan memilikinya,” ucapnya membantu Ella merias wajah dan menata rambutnya.
Ella menatap Lissie tak percaya, “Apakah aku harus membayarnya jika ini kubawa pulang? Mereka terlihat sangat mahal,” ucap Ella dengan pupil mata yang bergetar kuatir.
Lissie menggeleng, “Tidak apa-apa. Lagipula direktur memang sengaja menyiapkan semua perlengkapan ini untuk sekretarisnya dan juga direktur memiliki banyak uang jadi tidak akan menjadi masalah jika kau membawa satu atau dua set baju lagi,” ucap Lissie tersenyum dengan entengnya.
Ella menggeleng menolak ucapan Lissie. Bagaimana bisa ia membawa beberapa set pakaian yang dibeli oleh atasannya walau semua pakaian ini dapat ia pakai untuk dirinya tapi melihat bahan yang digunakan dan kerapian jahitannya sudah pasti pakaian yang ada diruangan ini termasuk barang mahal.
“Lissie, kurasa lebih baik aku membeli pakaian diluar saja daripada menggunakan pakaian ini,”
“Bagaimana bisa kau membeli pakaian diluar. Pria itu tidak akan memaafkanmu jika ia mengetahuinya,” ucap Lissie melipat kedua tangannya dan memutar bola matanya malas.
“Biar begitu, kelihatannya direktur orang yang perhatian,”
Lissie terdiam dan menatap Ella datar. Ella mengedipkan matanya bingung.
Kenapa Lissie menatapnya seperti itu?
Apakah ada yang salah dari apa yang diucapkannya?
Lissie memastikan tidak ada yang salah dari apa yang didengarnya. Ella mengangguk dengan wajah polosnya. Lissie menghembuskan napasnya panjang, diletakkannya kedua tangan Lissie dipundak Ella dan menatap Ella serius.
“Biar kuberitahu kau karyawan baru. Direktur kita itu, orang yang sangat jauh dari kata perhatian. Dia tidak jauh berbeda dengan seorang tirani. Dia orangnya dingin dan tidak ramah. Ditambah lagi semua yang keluar dari mulutnya itu selalu membuat orang kesal. Apa kau tidak ingat bagaimana sikapnya saat kalian pertama kali bertemu?”
Ella membenarkan ucapan Lissie soal mereka yang baru saja bertemu. Ella masih ingat dengan jelas bagaimana cara direktur muda itu memandangnya seolah-olah tengah meremehkannya.
“Ak…,”
Tok! Tok! Tok!
Ucapan Ella terhenti saat suara ketukkan pintu terdengar. Lissie melepaskan kedua tangannya dari pundak Ella dan membuka pintu. Ia terkejut saat direktur muda itu berdiri didepan pintu. Sontak Lissie langsung membungkukkan badannya memberi hormat bergitupun dengan Ella.
“Aku ada janji diluar. Kau ikut denganku,” ucapnya tak jelas kepada siapa dan melangkah pergi.
Lissie yang paham maksud direktur itu langsung menyuruh Ella mengikutinya. Ella langsung mengikuti pria itu yang sudah berdiri didepan lift. Lissie datang setelahnya, berdiri disamping Ella.
Ella menelan ludahnya susah payah saat pria itu berbalik dan memandangnya. Cara pria itu memandangnya sama seperti kemarin. Dari atas hingga kebawah. Membuatnya gugup, Lissie pun sama gugupnya.
“No bad,” ucapnya kembali menghadap lift.
Ella melirik Lissie yang juga meliriknya lalu menghembuskan napas lega dengan gerakan saja. Mereka tidak berani membuat suara sedikitpun seolah-olah mereka akan langsung dihukum gantung jika sekecil apapun suara yang keluar dari mulut keduanya.
Mereka memasuki lift berbarengan. Lissie segera menekan tombol lantai bawah begitu mereka memasuki lift.
“Kenapa hanya menekan tombol lantai bawah?”
“Saya akan mengantar anda sampai bawah, sir,” ucap Lissie sedikit membungkukkan badannya.
Walau Lissie lebih tua dan lebih lama berada diperusahaan tapi ia tidak menghilangkan kebiasaan hormatnya sejak ayah dari direktur muda ini menjabat walau direktur muda itu sudah menyuruhnya untuk bersikap biasa tetap saja Lissie tidak bisa melakukannya.
“Tekan saja tombol lantai kantormu. Kau tidak usah mengantarku sampai bawah dan bawa ini,”
Ella dengan sigap menerima dokumen yang ditenteng atasannya itu. Ella tidak berani membukanya dan ia tidak tau apakah dia harus membuka dan membacanya atau tidak jadi dia hanya membawanya saja sembari menunggu perintah selanjutnya.
“Tapi, sir,”
“Tekan saja. Ini perintah,”
“Yes, sir,”
Ella hanya bisa melirik Lissie yang menekan tombol menuju lantainya yang berada dilantai dua. Ella tidak berani bergerak atau berbicara. Ia sangat tegang berdekatan dengan atasannya yang ia rasa memancarkan aura tak bersahabat.
Mereka sampai dilantai dua tempat Lissie akan turun. Lissie membungkukkan badannya dan keluar dari lift sehingga hanya tersisa Ella dan direkturnya. Ketegangan Ella bertambah saat Lissie melangkahkan kakinya keluar.
Beruntungnya mereka hanya turun satu lantai saja jadi Ella tidak harus merasakan ketegangan yang amat lama. Mereka melangkah keluar gedung dan setiap karyawan yang berpapasan selalu memberi hormat membuat Ella merasa tidak nyaman berada dibawah tatapan para karyawan.
“Duduklah dibelakang,” ucap pria itu memasuki mobil yang sudah terparkir didepan pintu masuk.
Ella mengangguk dan segera memutari mobil untuk duduk dikursi satunya. Ella meneguk ludahnya susah payah begitu ia sudah duduk disebelah atasannya ini. Tidak ada pembicaraan apapu sampai mereka tiba ditempat tujuan.
Mereka turun dan Ella berjalan dibelakang atasannya. Ia merasa pagi ini, ia menjadi orang yang tidak siap bahkan ia belum memberitahukan apa saja kegiatan hari ini dan tiba-tiba ia herus mengikuti atasannya ini untuk menemui entah siapa.
“Akhirnya kau datang,” ucap seorang pria berdiri dari duduknya dan memeluk singkat atasannya itu.
“Dan siapa ini? Sekretaris baru,” ucap pria yang Ella rasa kenal dengan atasannya.
Pria itu mengulurkan tangannya dan saat Ella akan membalas uluran tangan itu sudah lebih dahulu ditepis oleh atasannya.
“Ck! Kau ini kasar sekali,” ucapnya tak senang.
“Lebih baik kau duduk dan selesaikan pekerjaan kita. Dan kau duduklah disana,” ucapnya menunjuk meja yang tidak jauh dari tempatnya berdiri.
Ella mengangguk dan menyerahkan dokumen yang dibawanya lalu segera melangkah menuju meja yang ditunjuk atasannya tadi.
📑😘📑TBC📑😘📑
See next chapter ˘ᵕ˘ ᶻᶻᶻ Oyasumi ˘ᵕ˘ ᶻᶻᶻ