Idol Feeling

Idol Feeling
Press Conference



...𖤣𖥧𖥣。𖥧 𖧧𖤣𖥧𖥣。𖥧 𖧧Happy Reading𖤣𖥧𖥣。𖥧 𖧧𖤣𖥧𖥣。𖥧 𖧧...


...!1: Slow Update (Very Slow)...


...!2: Sorryaboutalloftypo~fufufu~...


📑 Press Conference


Ella menarik nafasnya dan menghembuskannya pelan. Sudah beberapa kali ia melakukannya. Tadi pagi, manajer kakaknya yang dia baru tahu bernama Osane menghubunginya kalau mereka akan mengadakan seminggu lagi jadi Ella ingin meminta ijin pada bosnya.


Ella mendengus kesal saat ia ingat kalau dia terseret skandal dengan kakaknya.


“Menyebalkan sekali jika diingat lagi,” guman Ella masih merasa sangat kesal.


Ingin rasanya Ella menghajar orang-orang memberitakan buruk tentang dirinya dan Juan. Memangnya apa yang mereka tau tentang ia dan Juan. Hanya sekumpulan pemburu berita. Ella menghela nafasnya. Biarkanlah, ini memang pekerjaan mereka jadi untuk kali ini Ella dapat memakluminya.


“Cih! Dasar sialan!” umpat Ella.


Ia berdiri dari duduknya dan berjalan menuju depan pintu. Ella memastikan kembali pakaiannya.



Ella menghirup nafas dan menghembuskannya sekali lagi lalu mengetuk pintu. Satu ketukan tak ada jawaban, ketukan keduapun juga sama bahkan ketukan ketiga, baru ketukkan keempatlah terdengar jawaban dari dalam.


Ella membuka pintu dan memasuki ruangan atasannya itu. Ia menutup kembali pintu dengan pelan lalu berjalan mendekat. Atasannya ini terlihat sangat fokus dengan pekerjaanya dan tidak mempedulikan Ella tapi Lissie bilang kalau dia hanya diam saja artinya Ella lah yang harus berucap.


“Sir, ada yang ingin saya sampaikan,” ucap Ella memandang Shean dengan senyum yang terus terpantri diwajahnya dan sikap sopannya.


“Sir?” panggil Ella.


Lissie juga berpesan kalau Shean tidak segera mengangguk maka Ella harus memanggilnya dan yang dikatakan Lissie terbukti benar, Shean menganggukkan kepalanya. Ella tetap tersenyum walau ia merasa kesal.


“Saya ingin mengajukan cuti untuk minggu depan. Hanya cuti sehari,” ucap Ella lancar.


Ella menghela napasnya, “Sir?” panggil Ella.


Jika terus seperti ini bisa-bisa dirinya akan terkena darah tinggi. Ella mencoba bersabar.


“Hmm,”


Ella tersenyum dan pamit undur diri. Ternyata tidak sesulit yang dia pikirkan. Walau Shean termasuk dalam jajaran orang yang menyebalkan tapi tidak seburuk itu tapi jika melihat wajahnya yang dingin ia tetap saja menyebalkan ditambah lagi sikapnya yang sesuka hati.


Hanya membutuhkan empat hari Ella sudah mengerti bagaimana perangai orang tertinggi diperusahaan itu.


“Tunggu,”


Ella berhenti dan berbalik. Sial, baru saja ia akan keluar tapi atasannya yang menyebalkan ini memanggil.


“Yes, sir?” jawab Ella tersenyum dan bersikap sopan.


Point utama jika sedang berhadapan dengan Shean, itulah yang Lissie katakan padanya.


“Apa kau ada acara tanggal 22 Juli nanti?”


22 Juli artinya sehari setelah konferensi pers. Ella mengingat kembali agendanya sampai seminggu kedepan.


“Saya rasa tidak,”


Shean tidak mengeluarkan suara dan berfokus pada computer didepannya. Kekesalan Ella sudah sampai dikepalanya tapi harus tetap bersabar.


“Sir?”


“Hmm.. kirimkan alamat tempat tinggalmu,”


Shean menghentikan kegiatannya dan menatap Ella yang berdiri didepan pintu dan menatapnya tak percaya.


“Sorry, sir?”


“Jangan banyak bertanya dan kirimkan saja lewat email. Kau boleh keluar,”


Ella tersenyum kesal dan menganggukkan kepalanya, “Yes, sir,” ucap Ella dan segera meninggalkan ruangan Shean.


“Cih! Ada saja orang yang sepertinya,” gerutu Ella kesal.


Ella menghirup udara sebanyaknya dan menghembuskannya perlahan, “Tenang. Tenang. Semua itu pasti ada hikmahnya,” ucap Ella tersenyum dan menganggukkan kepalanya.


Sedetik kemudian ekspresinya berubah datar, “Tapi jika bertemu dengan orang sepertinya tidak akan ada ketenangan,” lanjutnya kembali duduk dan melanjutkan pekerjaannya.


📑📑📑📑📑


Hari jumpa pers pun tiba dan sudah banyak wartawan yang menunggu. Juan tidak menyangka akan sebanyak ini yang datang. Ia pikir hanya beberapa wartawan saja yang akan datang dan itupun pasti perusahaan berita yang Juan kenal tapi ini terlalu banyak. Ia jadi merasa gugup.


“Juan, apa adikmu belum datang?” tanya Osane pada Juan yang sejak tadi mencuri pandang kearah wartawan yang berkumpul.


Juan menggeleng. Adiknyapun juga tidak segera datang padahal acaranya akan segera dimulai. Tinggal beberapa menit lagi tetapi Ella tak kunjung terlihat.


“Kemana anak ini?” guman Juan.


Ia gugup luar biasa hingga perutnya terasa mulas. Juan mengatur napasnya untuk mengendalikan perasaan gugup yang melandanya.


“Mana adikmu? Belum datang?”


“Ah! Sir,” ucap Juan pada pria yang berstatus sebagai atasannya itu atau CEO perusahaan dimana ia bernaung.


“Bisa tunggu sebentar lagi?”


“Baiklah. Kalau begitu aku keluar dulu,”


Juan menganggukkan kepalanya. Ia tidak nyaman karena Ella tidak segera menunjukkan batang hidungnya. Suara jepretan kameran terdengar sampai ketempat Juan berdiri. Mendengar itu membuatnya semakin gugup.


“Juan!”


Juan menolehkan kepalanya dan bernafas lega, akhirnya Ella sudah datang. Kegugupannya sedikit berkurang.


“Maaf, aku terlambat,”


Juan menganggukkan kepalanya memaklumi.


“Bagaimana penampilanku?? Aku tidak salah kostumkan?”


Ella memakai dress berwarna maroon. Terlihat sangat cocok dengan tubuh rampingnya.



“Adikku terlihat cantik. Ayo, kita sudah dipanggil,” ucap Juan mengulurkan tangannya untuk diampit Ella.


Ella tersenyum dan mengampitkan tangannya pada Juan. Mereka keluar dari ruang belakang dan duduk dikursi yang telah disediakan. Suara jepretan kamera sedikit membuat Ella tidak nyaman tapi ia harus membiasakan diri untuk berjaga-jaga jika ia harus tersangkut masalah yang sama.


Juan menggenggam tangan Ella dan tersenyum lembut pada adiknya. Ella juga membalas senyuman Juan dan hal itu tak luput dari wartawan. Mereka segera mengambil gambar sebanyak yang mereka bisa.


Konferensipun terlaksana dengan lancer. Mereka memilih untuk mengungkapkan identitas asli Ella. Banyak pertanyaan yang diajukan untuk Juan maupun pria yang Ella tidak salah ingat adalah atasan Juan bahkan ada beberapa pertanyaan yang dilayangkan pada Ella. Beberapa dari pertanyaan tak bisa dijawab oleh Ella tetapi bisa dijawab oleh Juan. Ella merasa sangat terbantu.


Ella benar-benar tidak tahu harus bersikap seperti apa didepan kamera karena mau bagaimanapun ini adalah kali pertamanya berada didepan kamera.


Ella merebahkan badannya dikursi panjang diruang istirahat. Ia benar-benar merasa tegang berada didepan banyaknya wartawan. Dirinya jadi kepikiran dengan Juan yang pastinya lebih sering merasakan hal tersebut.


Mendengar banyaknya suara dan jepretan kamera saja sudah membuat Ella pusing bagaimana dengan Juan yang baru saja memulai karirnya.


“Terima kasih sudah membantu,” ucap Juan menolehkan kepalanya pada Ella yang menenangkan tubuhnya.


“Hmm.. hanya hal kecil. Masih bisa kuatasi,” ucap Ella tersenyum manis.


Jangan Juan pikir ia tidak akan meminta imbalan apapun dari kejadian hari ini. Lihat saja apa yang akan dilakukannya nanti.


“Waah… tak kusangka adikmu cukup hebat,”


Juan dan Ella menegakkan tubuh mereka saat CEO perusahaan Juan bernaung memasuki ruang istirahat.


“Dia cukup berani tampil dimuka umum,” ucapnya duduk dikursi tunggal sebelah Ella.


Ella tersenyum malu dan menganggukkan kepalanya, “Terima kasih,”


“Ah! Iya. Kita belum berkenalan, Akshay Dayshwan. Kau bisa memanggilku Akhsay,” ucap pria bernama Akshay itu meraih tangan Ella dan mengecupnya.


Mata Ella, Juan maupun Osane membulat sempurna melihat serangan mendadak Akshay.


📑😘📑TBC📑😘📑


Are~ Koko~ ( ˶ ̇ᵕ​ ̇˶)


Oyasumi〜˘ᵕ˘ ᶻᶻᶻ