Idol Feeling

Idol Feeling
First Happy (Bad) Day



Wow.. Dah lama gk upload new chapter or story.. karna sibuk jdi maba.. yeah apalagi ambil jurusan yng harus ngulang dri nol.. membuat q memilih brenti nulis dulu.. tp karna skrng udh mulai longgar.. so ku lanjut deh dng fiction lanjutan dri '*Little Girl Feeling' ∠( ˙-˙ )/


Happy Reading for first chapter


!1: Slow Update (Very Slow)


!2: Sorryaboutalloftypo~fufufu~


📑First Happy (Bad) Day


Dua hari yang lalu Juan baru saja meminta jatah liburnya diawal padahal saat ini, dia dan grupnya sedang sangat sibuk tapi Juan harus tetap mengambil cuti lebih dahulu. Semua anggota grup Juan merasa bingung, mengapa Juan meminta libur lebih awal.


Vier segera menemui Juan dan bertanya kenapa dia meminta cuti lebih awal dan Juan menjelaskan kalau adik semata wayangnya memintanya untuk mengambil libur lebih awal dan Juan tidak dapat menolaknya atau entah bagaimana nasibnya saat ia bertemu dengan adiknya itu.


Dan disinilah Juan sekarang. Ia duduk dikursi tamu dengan kedua orangtuanya diacara kelulusan sang adik. Adiknya itu bahkan sampai menyiapkan tempat khusus untuk keluarganya. Juan sedikit kesal karena adiknya itu memilihkan tempat yang membuatnya tidak nyaman.


Adiknya itu menempatkan keluarganya didepan dua baris setelah kursi dewan, guru, dan staf. Dari tempatnya duduk ini bahkan Juan dapat mendengar orang-orang membicarakannya. Ingin rasanya Juan menyembunyikan dirinya dalam lubang.


Ia sungguh malu saat ini walau tak dapat dipungkiri, dia juga senang karena ada orang yang mengenalnya tapi saat ini ia tidak ingin dikenal sebagai Juan sang selebriti tapi Juan si kakak.


Nama adiknya dipanggil ke atas panggung. Ia menempati posisi sebagai mahasiswi terbaik di kampusnya. Gelar Cum Laude lah yang diterimanya. Juan bangga memiliki adik yang cerdas.


“Juan!!! Look,” ucap adiknya setelah acara selesai dan mereka berada diluar auditorium tempat diselengarakannya acara kelulusan.


“Kau tidak bisa mengejekku lagi. Welk~” lanjutnya menjulurkan lidahnya pada Juan yang hanya bisa tersenyum dan mencubit kedua pipi adiknya yang sedikit berisi dari teakhir kali dilihatnya.


“Okay. Okay. I know. Aku tidak akan mengejekmu lagi. Aku janji,” ucap Juan mengangkat jari kelingkingnya.


Adiknya itu tersenyum dan mengaitkan jari kelingkingnya pada Juan.


“Jadi, kita berangkat sekarang?”


Juan menatap ibu mereka bingung. Mendengar ucapan ibu mereka membuat Juan memiliki dua pemikiran yaitu berangkat menuju rumah neneknya atau tidak kesana malah ketempat lain.


“Apa Ella belum bilang padamu?” tanya Aliah saat melihat tatapan bingung putranya dan Juan pun menggeleng.


Aliah mengalihkan pandangannya pada Ella dan menyipit menyuruh putrinya itu untuk menjelaskan sendiri pada kakaknya. Juan pun juga menatap Ella yang mengalihkan pandangannya ke arah lain.


“Errr..” guman Ella tak dapat menjelaskan tapi tatapan Juan malah semakin tajam memandannya membuat Ella tak tahan.


“Baiklah. Baiklah. Akan kujelaskan jadi berhenti menatapku seperti itu,” ucap Ella benar-benar tak nyaman dengan tatapan Juan padanya.


“Jadi, sebenarnya aku berbohong kalau belum menyelesaikan urusan kepindahanku. Itu sudah selesai sejak dua minggu yang lalu,” jelas Ella memainkan ujung kuku-kukunya.


Juan membulatkan matanya menatap adiknya itu tak percaya.


“Maaf. Aku tidak ingin merepotkanmu jadi aku mengurusnya sendiri,”


Juan menghembuskan napasnya dan menggeleng pelan.


“Tak apa. Lebih cepat kau pindah lebih baik,” ucapnya membuat Ella tersenyum senang.


📑📑📑📑📑


Sehari selepas wisuda, Ella langsung terbang kembali ke tempat dimana dia dibesarkan. Beruntungnya Ella, usahanya selama ini membuahkan hasil dengan cepat.


Beberapa hari setelah acara kelulusan, Ella mendapatkan panggilan kerja. Tak sia-sia ia bekerja keras untuk mendapatkan gelar itu.


Sudah ada seminggu Ella berada disini dan hari ini hari pertamanya bekerja. Dari gelar itupun, ia juga mendapat jabatan yang lumayan tinggi dengan gaji yang tinggi pula.


Ditambah lagi, ia juga mendapatkan tempat tinggal yang tidak jauh dari tempatnya kerja sehingga Ella dapat sampai ditempat kerja tepat waktu.


Ella tengah bersiap-siap berangkat kekantor. Dihari pertamanya, ia harus memberikan kesan bagus ditempatnya kerja. Ella memakai kemeja putih bermotif polkadot dengan pita dibagian leher dan rok selutut berwarna biru.



Ting~


Ponselnya berbunyi menandakan kalau ada sebuah pesan yang masuk. Ella meraih ponselnya yang dia letakkan diatas kasur lalu membuka pesan tersebut yang ternyata dari kakaknya.


^^^‘Fighting!!! Bekerjalah dengan giat, jangan sampai atasanmu nanti marah. Aku mendoakanmu dari sini. Love you my dear~’^^^


Ella tersenyum membaca pesan manis dari kakaknya itu.


Ella memasukkan ponselnya kedalam tas dan melangkah keluar tempat tinggalnya.


“My beloved myself, good luck for today!!!” ucap Ella pada dirinya sendiri saat ia menunggu lift terbuka.


📑📑📑📑📑


Dengan langkah penuh percaya diri, Ella memasuki gedung pencakar langit yang membuatnya sempat terpaku sejenak saat ia sampai didepan gedung tersebut. Dirinya masih tidak dapat percaya kalau dirinya dapat bekerja ditempat yang menjadi incaran para pekerja baru.


Tempatnya kerja ini termasuk dalam jajaran perusahaan yang paling berpengaruh dikotanya. Saat dirinya mencari data tentang tempat kerjanya ini, ia tidak ada hentinya berdecak kagum dengan sederet prestasi yang didapatkan perusahaan ini.


Ella berjalan menuju resepsionis. Bahkan para pergawai meja depan ini sangat memukau mata. Mungkin perusahaan ini memang mencari pegawai yang menyilaukan mata ini untuk ditempatkan didepan.


Ada empat orang pegawai meja depan ini. Dua orang laki-laki dan dua orang perempuan. Sungguh perpaduan yang pas.


“Ada yang bisa saya bantu?” tanya salah satu pegawai itu saat Ella berjalan kearahnya.


“Aku ingin menemui bagian HRD,”


“Atas nama?”


“Ella. Ella Gallagher,” jawab Ella dan pegawai itu langsung sibuk dengan tugasnya setelah Ella menyebutkan namanya.


Ella menelan ludahnya susah payah saat pegawai pria itu menelpon seseorang dengan ekspresi yang Ella susah jelaskan karena ia sangat tegang atau memang mereka diharuskan pandai meyembunyikan informasi dalam ekspresi seperti itu.


“Mari nona. Saya antar,” ucapnya tersenyum pada Ella.


Pegawai pria itu berjalan mendahului Ella, dirinya sedikit bingung tapi tetap mengikuti pegawai tersebut menuju lift. Ella hanya diam saja dan mengikuti.


Pegawai pria itu menekan salah satu tombol lift yang berada paling atas. Walau tak berani mengira-ngira tapi perasaannya berkata ada yang aneh. Tulisan singkat yang memenuhi tombol tersebut membuat Ella semakin tegang.


“Maaf, bolehkah saya bertanya?”


Pegawai itu menoleh pada Ella dan tersenyum, mengijinkan Ella bertanya.


“Eum.. Bu.. bukankah itu tombol menuju ruangan direktur?” tanya Ella dengan hati-hati.


Padangannya menuju tombol lift dan pegawai pria itu kembali tersenyum dan mengangguk. Ella merasakan napasnya tercekat. Memang benar apa yang ada dalam kepalanya. Mereka bukannya menuju lantai dimana ruangan HRD berada tapi menuju ruangan orang tertinggi diperusahaan ini.


“Apakah ada pertanyaan lagi?” tanya pria itu tetap dengan senyuman dibibirnya.


“Bukankah kita seharusnya menuju ruang HRD atau kebagian keuangan?”


Pria itu tersenyum lagi dan mulai menjelaskan.


“Sebenarnya baru-baru ini kami baru saja kehilangan pegawai lagi. Ia baru saja bekerja selama tiga bulan tapi ia tidak betah dan memutuskan untuk mengundurkan diri padahal ia termasuk orang yang sangat dapat diandalkan. Sungguh disayangkan sekali,”


Ella menyimak dengan seksama, “Tunggu, jangan bilang kalau pegawai itu adalah sekretaris direktur?”


Pria itu lagi-lagi tersenyum dan mengangguk, “Yap! Anda benar sekali,”


Seluruh sendi pada tubuh Ella rasanya sangat lemas hingga ia tidak dapat merasakan lagi bagaimana tegangnya ia tadi.


“Dan sebagai rahasia kecil saja, anda adalah calon yang ke-14,”


Ella menatap pria itu bingung. Apa maksudnya dengan dirinya adalah calon ke duabelas?


“Maaf?”


“Anda adalah orang yang akan menjadi sekretasi direktur yang ke-14 setelah sebelas sekretaris yang lainnya mengundurkan diri,”


Ella membulatkan matanya menatap tak percaya pria disampingnya ini.


Yang benar saja, bagaimana bisa ia yang lulusan bidang keuangan malah harus menjadi sekretaris? Apa Tuhan sedang ingin bermain-main dengannya?


📑😘📑TBC📑😘📑


Fyi aja.. fiksi ini bakal update lama jdi gk tentu juga karna aq harus bagi waktu sma kuliah jdi aku mau mohon maaf terlebih dahulu 😣🙏


see ya next chapter ˘ᵕ˘ ᶻᶻᶻ