Idol Feeling

Idol Feeling
Not a Bad Day



Muyaho\(*⌒0⌒)♪


Konichiwa minna\(⌒0⌒)♪


Tanpa berlama-lama dan aq jg gk tau mau nulis apa.. so.. langsung aja..


Happy Reading𖤣𖥧𖥣。𖥧 𖧧𖤣𖥧𖥣。𖥧 𖧧


!1: Slow Update (Very Slow)


!2: Sorryaboutalloftypo~fufufu*~


📑 Not a Bad Day


Ella melirik jam dinding didepannya. Yap! Sudah hampir tengah malam dan sialnya pekerjaan Ella tak kunjung selesai. Bisa-bisa ia akan kabur setelah beberapa bulan bekerja, sama seperti sekretaris lama.


Perutnya terus berbunyi sejak tadi karena ia melewatkan makan malam. Ella merenggangkan tubuhnya dan berdiri.


Diambilnya dompet dalam tasnya dan berjalan menuju lift. Walau sudah tengah malam seperti ini. Kantor masih terlihat terang dibeberapa bagian pertanda masih ada bberapa orang didalam gedung dan tidak hanya Ella sendiri.


Kelihatannya perusahaan ini termasuk perusahaan yang sangat super sibuk hingga banyak karyawan yang memilih untuk lembur. Ella sampai dilantai bawah dan dimeja resepsionis tersisa dua orang yang salah satunya adalah yang mengantarkannya tadi.


Pandangan mereka bertemu dan Ella tersenyum menyapa pria itu. Pria itu terlihat tidak kaget dengan Ella yang keluar dari lift seolah-olah itu adalah pemandangan biasa baginya.


Kalau tidak salah ingat, saat berangkat tadi Ella sempat melihat salah satu kedai makanan yang buka hingga 24 jam yang terletak tidak jauh dari gedung kantor dan benar saja ingatan Ella. Baru saja dia keluar gedung, kedai makanan itu terlihat dengan jelas dimatanya.


Ella mempercepat langkahnya menuju kedai itu. Semerbak wangi makanan memenuhi kedai saat Ella membuka pintunya. Perutnya yang sudah lapar semakin terasa lapar saat aroma-aroma lezat itu tercium olehnya.


Ia duduk disalah satu meja dekat jendela dan seorang pelayan langsung menghampirinya dan memberikan buku menu. Mereka cepat sekali menghampirinya saat Ella baru saja duduk. Ella memesan satu set menu makanan dan pelayan itu segera pergi untuk membuatkan pesanan Ella.


Ella mengedarkan pandangan kepenjuru ruangan yang dipenuhi dengan orang-orang berpakaian kerja. Entah kenapa Ella merasa kalau orang-orang ini bekerja ditempat yang sama dengannya atau mungkin hanya perasaan Ella saja.


“Hai!”


Ella tersentak kaget sebuah suara mengintrupsi kegiatannya. Ella tersenyum kecil pada pegawai pria yang mengantarkannya tadi duduk didepannya.


“Maaf, aku langsung duduk disini. Tidak apa-apa, kan?” tanyanya dan Ella mengangguk.


Pria itu tersenyum lebar, “Tidak kusangka, kau yang baru saja bekerja langsung memilih untuk lembur,”


“Tidak ada yang bisa kulakukan. Pekerjaan yang ditinggalkan sekretaris sebelumnya sangat banyak,” ucap Ella tersenyum masam.


Dirinya masih tidak percaya kalau pekerjaan pertamanya adalah menyelesaikan tugas orang lain dan itu sangat banyak.


“Akh! Sorry. Sungguh tidak sopannya aku. Kita belum berkenalan tapi aku sudah mengajakmu berbincang. Eliot Leif. Kau bisa memanggilku Eli,” ucap pria itu mengulurkan tangannya.


“Ella. Ella Gallagher,” jawab Ella membalas menjabat tangan Eli.


“Nama yang manis,” ucap Eli tersenyum lebar.


Eli terlihat berbeda sekali dengan pria yang ditemuinya dikantor tadi pagi. Senyuman yang pria itu berikan tadi pagi dengan senyuman yang diberikannya sekarang sangat berbeda.


Jika senyuman tadi pagi adalah formalitasnya sebagai pekerja resepsionis sekarang senyumnya lebih seperti… teman? Mungkin.


Bahkan cara Eli berbicara tadi dengan sekarang juga berbeda. Lebih santai daripada saat mereke bertemu tadi pagi.


“Terima kasih,”


Seorang pelayan datang membawa pesanan Ella.


“Tolong seperti biasa,” ucap Eli pada pelayan yang mengantarkan pesanan Ella.


Makanan didepan Ella terlihat sangat enak membuatnya tidak sabar untuk memakannya tapi Ella tidak enak pada Eli kalau harus makan lebih dahulu.


 


“Makanlah. Aku tidak apa-apa,” ucap Eli lagi-lagi tersenyum.


Ella membalas tersenyum dan mulai menyantap makanannya. Kelezatan makanan yang disantapnya membuat Ella merasa seperti di dunia lain. Sungguh makanan terenak yang pernah dimakannya bahkan Ella rela mengesampingkan makanan-makanan kesukaannya demi hidangan dihadapannya ini.


“Makanan disini terkenal sangat enak. Kudengar juru masak disini adalah mantan seorang chef terkenal,”


“Benarkah?” ucap Ella menatap Eli tak percaya.


Jika benar itu benar maka Ella sangat merasa terhormat bisa menyantap hidangan dari chef tersebut yang mungkin akan sangat tidak mudah dicobanya.


“Eiy… bagaimana caramu mendengarnya?” tanya Ella dengan wajah polos dan penasarannya.


Eli hanya mengedipkan sebelah matanya membuat Ella membulat dan entah kenapa dia seperti memahami apa yang Eli pikirkan. Ella menatap Eli tak percaya yang membuat pria didepan Ella ini tertawa.


“Apa yang kau pikirkan tentangku hingga kau melihatku seperti itu?”


“Emm,. Mungkin.. sesuatu hal yang buruk,” ucap Ella tak yakin.


Eli kembali tertawa mendengar ucapan Ella. Ia bisa mengerti apa yang Ella pikirkan tentangnya.


“Aku tidak seperti apa yang kau pikirkan. Kami hanya pernah mengobrol bersama. Itu saja,” ucap Eli mengedikkan bahunya membuat Ella menatapnya tak percaya.


“Terima kasih,” ucap Eli saat pelayan yang mengantarkan pesanan Ella datang mengantarkan pesanannya.


Ella masih menatap Eli tak percaya membuat Eli terkekeh geli melihat tatapan mata Ella padanya. Mata Ella bundar dan terlihat sangat menggemaskan. Matanya juga terlihat berbinar-binar memancarkan pandangan penuh bahagia.


“Percayalah. Aku bukan pria yang seperti itu,” ucap Eli lagi-lagi tersenyum dengan senyum lebarnya.


Senyuman lebar Eli malah membuat Ella semakin tidak mempercayai ucapan pria ini. Ia merasa senyuman Eli seperti laki-laki yang suka sekali bergonta-ganti pacar seperti teman kuliahnya dulu.


“Wajahmu tidak terlihat dapat dipercaya dan kelihatannya kau akan menjadi salah satu orang yang harus kuhindari,”


“Hmm… Jahat sekali. Kau membuat hatiku sakit. Akh! Sakit sekali! Kurasa aku butuh dipanggilkan ambulance. Akh sakit sekali,” ucap Eli memegangi dadanya pura-pura kesakitan.


“Pfftt…,”


Tawa Ella langsung pecah melihat tingkah Eli tapi berbeda dengan Eli yang terdiam melihat Ella tertawa. Dimatanya, Ella terlihat cantik saat tertawa. Tangannya yang masih berada didadanya dapat merasakan jantungnya yang berdegup kencang.


Dimata Eli, Ella terlihat seperti seorang dewi yang datang dari surga. Dimatanya juga, disekitar Ella terlihat memancarkan cahaya dan bunga-bunga bertebaran disekitarnya. Sungguh wanita yang sangat cantik. Eli terpesona pada pandangan pertama.


Eli rasa, ia sudah jatuh cinta pada Ella. [jujur aja aq sebagai penulis pas baca ulang 'semudah itu coeg jatuh cintrong!!]


“Eli. Hei!” 


Eli tersadar dari lamunannya.


“Ada apa?” ucap Ella mengernyitkan dahinya bingung.


Saat Ella terlepas dari tawanya tadi, ia mendapat Eli hanya memandangnya sambil terus menyentuh dadanya. Ia kuatir Eli tidak berbohong kalau dadanya memang sakit.


“Akh! Tidak apa-apa,” ucap Eli terdengar kikuk ditelinga Ella tapi ia tidak terlalu memperdulikannya.


Ada apa dengan pria ini? Batin Ella.


📑📑📑📑📑


“Terima kasih sudah menemaniku makan,” ucap Ella ketika mereka selesai makan dan perjalanan kembali ke perusahaan.


Eli menyentuh leher belakangnya dan mengangguk. Mereka sama-sama terdiam sampai dilobi perusahaan.


“Aku duluan. Selamat malam,” ucap Ella berjalan terus menuju lift.


“Apa setelah ini kau langsung pulang?” tanya Eli mengejar Ella.


“Emm.. kurasa tidak. Pekerjaanku masih sangat banyak dan jika tidak segera diselesaikan takutnya malah semakin menumpuk dan tidak akan ada habisnya,” jelas Ella merasa tidak enak menolak tawaran pulang bersama dengan Eli.


Pekerjaannya benar-benar tidak bisa ditinggalkan walau pulang dengan Eli adalah tawaran yang menggiurkan karena melihat waktu yang sudah sangat larut tapi Ella tidak bisa mengiakan ajakan Eli.


“Akh! Begitu,” ucap Eli tersenyum kecil, ia sedikit agak kecewa.


“Maaf. Mungkin lain kali kita bisa pulang bersama. Aku naik dulu. Bye,” ucap Ella memasuki lift.


Eli melambaikan tangannya saat lift mulai tertutup. Ella tersenyum dan membalas lambaian tangan Eli.


“Sial!” ucap Eli menyentuh dadanya.


Jantungnya terus saja berdegup kencang bahkan sejak mereka kembali menuju kantor membuatnya sangat gugup berjalan bersebelahan dengan Ella.


📑😘📑TBC📑😘📑


See ya next chapter ˘ᵕ˘ ᶻᶻᶻ