Idol Feeling

Idol Feeling
Good 'Fxxk' Day



Anyeonghaseyop~ \(*⌒0⌒)♪


Goodeu Nighteu \(*⌒0⌒)♪


I'm back with next chapter.. How bout last chapter.. I think is not really good but i will do my best too ♡✧。(〃>ᴗ<〃)。✧♡


Happy Reading**𖤣𖥧𖥣。𖥧 𖧧𖤣𖥧𖥣。𖥧 𖧧


!1: Slow Update (Very Slow)


!2: Sorryaboutalloftypo~fufufu~


📑 Good 'Fxxk' Day


Ella masih tidak dapat mempercayai apa yang baru saja dikatakan pria disebelahnya ini. Ia akan menjadi sekretaris direktur bukannya pegawai bagian keuangan.


“Anda jangan kuatir. Gaji yang ditawarkan untuk menjadi sekretaris direktur tidak sedikit. Jadi...,”


“Cukup! Saya tidak ingin mendengarnya lagi,” ucap Ella mengangkat tangannya menghentikan pegawai pria itu melanjutkan ucapannya.


“Baiklah,”


Entah kenapa bukannya merasa senang karena dapat melihat senyum manis pria disampingnya ini, dirinya malah merasa kesal. Dirinya benar-benar kesal melihat senyum pria ini yang tersenyum tanpa dosa.


“Nah! Kita sudah sampai,”


“Silahkan,”


Pria itu mempersilahkan Ella keluar. Ella keluar dari lift lebih dahulu tetapi pegawai pria itu tidak ikut keluar dengannya dan hanya memperlihatkan senyum lebarnya. Apa ia tidak capek terus tersenyum seperti itu? Batin Ella.


“Anda..,”


“Ada kepala HRD yang menunggu anda didepan ruangan direktus. Saya permisi,”


Pria itu menunjukkan arah dimana pintu ruangan direktur dan benar saja disana berdiri seorang wanita yang terlihat muda tapi juga terlihat sangat dewasa berdiri tegap memandang kearah Ella yang masih berdiri didepan lift.


“Tung...,”


“...gu,”


Ella menghambuskan napasnya perlahan dan menolehkan ke wanita itu. Ella berjalan mendekat kearahnya.


“Hai. Pasti Ella, kan? Saya Lissie Bartley, kepala HRD disini dan juga sebagai sekretaris sementara direktur,”


Ella membalas uluran tangan wanita itu dan tersenyum. Ella sedikit gugup berhadapan dengan wanita didepannya ini. Sangat berwibawa dan berkarisma membuat Ella sedikit tertekan akan pesonanya.


Bahkan saat ia baru saja memasuki pintu utama, dirinya disuguhkan pemandangan betapa mempesonanya pegawai yang bekerja diperusahaan ini.


“Kita tidak punya banyak waktu untuk menjelaskan jadi kita langsung menemui direktur untuk memperkenalkanmu,”


Belum sempat Ella membuka suaranya, wanita bernama Lissie itu sudah mengetuk pintu dengan cepat dan dengan cepat pula jawaban dari dalam ruangan itu. Ella semakin dilanda kegugupan saat Lissie membuka pintu dan memintanya untuk masuk.


Dimeja kerja yang langsung berhadapan dengan pintu, duduk seorang pria tampan dengan balutan kemeja berwarna biru muda. Bahkan direktur perusahaanpun tak kalah mempesona dengan pegawainya. Tempat ini memang gudangnya orang-orang tampan dan cantik.


“Sir, ini sekretaris anda yang baru yang akan menggantikan sekretaris Katie,”


Lissie menginterupsi kegiatan direktur tampan itu. Lissie menatap Ella yang langsung paham akan maksud tatapan Lissie padanya.


“Saya Ella Gallagher yang akan menggantikan sekretaris lama anda, sir,” ucap Ella memperkenalkan dirinya.


Pria itu menatap Ella dari atas hingga bawah, menelitinya membuat Ella merasa sedang ditelanjangi.


Apa direktur perusahaan ini orang yang mesum?


Batin Ella merasa tidak nyaman ditatap seintens itu.


“Hmm. Kalian bisa keluar dan Lissie beritahu apa saja tugasnya,” ucap pria itu kembali melanjutkan pekerjaannya.


Lissie mengangguk dan membungkukan badannya lalu mengajak Ella keluar. Ella yang masih kebingungan juga membungkukkan badannya dan mengikuti Lissie keluar.


“Maaf atas sikap direktur tadi. Orangnya memang seperti itu, ia tipe orang yang sensitif dengan orang baru,”


Lissie tersenyum tidak enak dan Ella hanya mengangguk memakluminya. Pantas saja ke-13 sekretaris sebelumnya memilih mengundurkan diri. Lihat saja, bagaimana sikap direktur itu padanya tadi. Siapapun yang menjadi sekretarisnnya pasti akan merasa kesal.


“Ayo, aku akan menjelaskan singkat tugasmu hari ini,” ucap Lissie menuju meja yang berada tepat disamping pintu direktur.


Ella bahkan tidak sadar kalau ada meja disana. Lissie mulai menjelaskan apa saja yang harus Ella lakukan. Ella mendengarkan setiap ucapan Lissie dengan seksama bahkan ia sampai mencatat hal-hal penting yang wajib dilakukannya.


Setelah menjelaskan tugas yang akan Ella lakukan, Lissie pamit untuk kembali ke tempat semulanya yaitu kantor HRD dan baru saja Ella ketahui kalau ternyata Lissie adalah sekretaris pertama direktur itu bahkan sebelum direktur itu mengisi jabatannya atau bisa dibilang Lissie sudah menjadi sekretaris sejak ayah direktur itu menjabat.


Benar-benar seseorang yang sangat berpengalaman dan sedikit rahasia yang tidak pernah diketahui perusahaan kalau Lissie sudah berumur hampir 40 tahun tapi wajah dan proposi tubuh Lissie tidak memperlihatkan umurnya.


Ella merenggangkan ototnya yang terasa kaku selesai ia mengerjakan beberapa tumpukkan kertas yang berada dimeja, semua itu adalah pekerjaan yang ditinggalkan sekretaris sebelumnya. Ella mendengus kesal saat ia membaca note kecil yang tertempel diatasnya.


^^^‘Maaf, merepotkanmu tapi kau harus menyelesaikan semuanya. Fighting!’^^^


Begitulah yang tertulis disana dan parahnya kekesalan Ella semakin meningkat saat ia menemukan kertas yang bertanggal empat bulan lalu yang artinya adalah kertas yang ditinggalkan sekretaris sebelum sekretaris ke-13 yaitu sekretaris ke-12.


Benar-benar gila dan jarak kertas-kertas itupun sangat jauh. Sebenarnya apa yang terjadi dengan sekretaris-sekretaris sebelumnya sampai mereka meninggalkan tugas mereka hingga menumpuk seperti ini.


Tapi, jika dipikirkan lagi. Pantas mereka memilih kabur sebelum kontrak kerja mereka habis. Tadi saja, baru ia mendudukkan dirinya dikursi, telpon dimeja berdering dan berasal dari ruangan direktur.


Pria itu memintanya memasuki ruangan dan menjelaskan kegiatan yang harus pria itu kerjakan.


Ella sendiri tidak tau apa saja kegiatan direktur muda itu tapi beruntungnya Lissie sudah menyelesaikan deretan kegiatan yang yang pria itu lakukan dan memberitahunya jadi Ella dapat selamat hari ini tapi ia tidak benar-benar selamat karena ada jadwal diluar kantor yang mengharuskan Ella mengikutinya.


Dirinya sampai kelelahan mengikuti jadwal padat atasannya ini. Ella menghembuskan napasnya panjang. Jam yang tertempel didinding didepannya menunjukkan pukul 4 sore. Kurang satu jam lagi, jam pulang kantor tapi Ella tidak bisa langsung pulang karena ia harus menyelasaikan semua tugas-tugas dimejanya.


Banyak sekali yang harus dikerjakannya. Jika tau akan seperti ini, lebih baik dirinya menolak diawal tapi sangat disayangkan kalau ditolaknya karena gaji yang ditawarkanpun cukup tinggi, melebihi gaji sekretaris biasanya.


Mungkin untuk mencegah para sekretaris kabur dari tugas mereka.


Melihat gaji yang ditawarkan lebih tinggi daripada pegawai sebelumnya membuat Ella tidak bisa benar-benar melepaskannya atau dia akan kehilangan tambang uangnya ini.


“Sungguh sial,” guman Ella kembali merenggangkan otot-ototnya yang kaku dan kembali melanjutkan pekerjaannya.


📑📑📑📑📑 


Tak terasa waktu terus berjalan dan semakin larut pula jam dinding yang menujukkan pukul setengah sepuluh malam. Pekerjaan Ella pun tiada habisnya seolah-olah mereka terus bertambah. Ella menghirup udara sebanyak-banyaknya dan menghembuskannya kasar. Ia harus segera menyelesaikan pekerjaannya dan pulang.


Tapi, melihat pekerjaannya yang masih sangat banyak membuat dirinya tak yakin akan segera selesai.


“Kenapa kau masih disini?”


Ella terperanjat kaget saat sebuah suara menginterupsi kegiatannya. Ella mengangkat kepalanya dan direktur muda itu sudah berdiri didepannya. Ella segera berdiri dan membungkukkan badannya.


“Aku tidak memintamu melakukan itu. Aku bertanya kenapa kau masih disini?”


“Akh! Sorry, sir. Ada beberapa pekerjaan yang harus saya selesaikan,” jawab Ella merasa tertekan akan tatapan atasan tertingginya itu.


“Tidak usah langsung diselesaikan. Lanjutkan saja besok,”


“Err...,”


“Pulanglah. Tidak baik perempuan muda sepertimu pulang malam-malam begini,”


Ella segera menganggukkan kepalanya dan pria itu berlalu begitu saja. Ella menghembuskan napasnya dan melemaskan otot-ototnya yang tegang saat direkturnya itu hilang dalam lift. Ella melirik mejanya  sedih.


Bagaimana bisa ia meninggalkan segudang pekerjaannya. Ia tidak yakin akan itu, jika ia meninggalkannya maka bukannya semakin berkurang perkejaanya malah akan semakin bertambah banyak.


📑😘📑TBC📑😘📑


Ehehehe~ Dah selesai aja.. next fyi, diawal chapter Ella sma Andrei blm ada adegan dan dsini smpk beberapa chapter jaoh bakal penuh dgn Ella dan kehidupan kerjanya˘︶˘♡


see ya next chapter ˘ᵕ˘ ᶻᶻᶻ