I'M Villainess?

I'M Villainess?
eps 9



...°•○HAPPY READING GUYS○•°...


"Kau boleh melakukan apapun padaku lho," ujar Aletta dengan enteng sembari menggebit pisau ketua penjahat dengan dua jarinya. "Jadi lepaskan dia, apa kau tidak mau bersenang senang denganku?" tanya Aletta dengan tampang menggoda membuat semua yang ada di sana menganga, ketua penjahat yang tergoda dengan aletta pun melepaskan zeline dan dengan sigap seorang pengawal mengambil zeline menjauh dari ketua penjahat.


...___...


"Wah wah, buru buru sekali yah." Aletta berkata dengan santai meskipun pisau berjarak hanya 5 cm dari lehernya.


"DIAM!"


"Jan galak galak dong, nanti akunya takut," kata Aletta dengan wajah takut yang sudah jelas di buat buat.


Tangan Aletta meraih tangan jari jemari ketua penjahat dan...


KRAK!


"ARRG!!"


Dia dapat mematahkannya dengan mudah. Akan tetapi karena ceroboh, leher Aletta sedikit tergores pisau ketua penjahat tadi. Yah... kalau dia tak menghindar sudah pasti nyawanya melayang sih.


'Ah, aku ceroboh, untung saja aku berhasil menghindarinya,' batin Aletta bersyukur.


"Nah, sudah ku bilang bukan? Kau akan bersenang senang denganku. Bagaimana? Apakah rasanya enak?" tanya Aletta dengan watadosnya berhasil membuat ketua penjahat naik darah.


"DASAR IBLIS SIALAN!!"


"Makasih pujiannya." Aletta malah tertawa tanpa rasa bersalah sedikitpun.


Ketua penjahat yang merasa diremehkan itu langsung menyerang Aletta, tapi tentu saja para pengawal langsung menghadang dan meringkusnya karena sudah tak ada sandra.


Akhirnya ketua beserta para kroconya diamankan oleh para pengawal. "Terima kasih atas kerja kerasnya para pengawal kerajaan yang pemberani," kata Aletta sembari sedikit menunduk. Sontak itu mrmbuat semua yang ada di sana tak terkecuali Zeline terkesiap dengan apa yang dilakukan oleh seorang putri yang terhormat (terbuang) itu.


"Tuan Putri, anda tidak perlu berterima kasih seperti itu, kami cuma melaksanakan kewajiban kami," kata pengawal yang terlihat paling muda. "Daripada itu, lebih baik anda mengobati leher anda terlebih dahulu, jika di biarkan maka bisa infeksi lho."


Aletta menyentuh lehernya yang berdarah. Bulir merah itu terus menetes setetes demi setetes. "Ah, kau benar. Tolong obati aku yah," kata Aletta dengan ramah.


Aletta diobati oleh pengawal itu, "Jika dilihat lagi, sepertinya kau paling muda diantara mereka yah, siapa namamu? Dan berapa umurmu?"


"Nama saya Kristan, dan umur saya 16 tahun Tuan Putri."


"Hee~~ lebih tua dua tahun dariku kah, tapi kau kuat lho. Apa kau mau mengajariku berpedang?"


"Sebuah kehormatan bagi saya pengawal rendahan ini untuk mengajari berpedang."


"Aku anggap itu sebagai jawaban ya," kata Aletta antusias. "Karena luka ku sudah di obati, ayo kita lanjutkan perjalanan kita."


"Tapi Tuan Putri, apakah kita harus mengantar Nona Zeline ke kediaman Hillary dulu?"


"Hum... itu merepotkan, kita juga sudah dekat dengan perbatasan," gumam Aletta. "Apakah dia mau kalau dia ikut aku dulu yah?" gumamnya lagi.


"Zeline~~" Aletta langsung ngacir ke tempat Zeline tanpa mempedulikan Kristan.


"Haish~~ apa ini Tuan Putri yang di rumorkan kasar dan tak tau sopan santun?" tanya Kristan lebih kepada dirinya sendiri. Dia mengikuti Aletta ke tempat Zeline yang tak terlalu jauh.


"A- apa?" tanya Zeline yang masih syok dengan musibah yang sudah menimpa dirinya.


"Berhubung pengawalmu sudah bertemu dengan sang pencipta semua, dan aku harus kesuatu tempat, jadi kau harus ikut aku yah. Tak ada penolakan, ini perintah dari tuan putri!!" kata Aletta dengan tegas namun wajahnya berkata sebaliknya.


"Ba- baiklah..." Zeline menyetujuinya. Mereka pergi ke daerah kumuh bersama sama. Saat di daerah tersebut Zeline malah menatapnya jijik karena tentu saja dia adalah seorang bangsawan yang tak pernah melihat hal lain selain kemewahan.


"Ih! Kenapa kita ke daerah kumuh begini sih?! Bajuku bisa bisa kotor karena udara di sini!" protes Zeline tak terima. Sedangkan Aletta hanya menatap lawan bicaranya datar.


"WAH!! LIHAT!! KAKAK DATANG LAGI!!" teriak salah seorang bocil. Dengan kecepatan kilat seluruh bocil mendekati lalu mengerumuni Aletta dan pengawalnya serta Zeline yang ada di sebelah dirinya.


"JANGAN MENDEKAT! KALIAN AKAN MENGOTORI BAJUKU!" teriak Zeline dengan ekhem! Lebay.


Sedangkan Aletta malah menerima saja pelukan dari salah satu bocil sehingga membuat bajunya yang tak terlalu mewah itu kotor.


"Menjauhlah dari Tuan Putri, kau bisa membuat baju Tuan Putri rusak." Salah satu pengawal Aletta berkata dengan dingin dan pedang yang sudah tertodong di leher bocil.


"Tak apa kok, jangan terlalu keras kepada anak kecil," kata Aletta lembut sembari mengelus kepala bocil yang tengah ketakutan.


"Tapi Tuan put--"


"Sudah ku bilang tak apa bukan?" Belum menyelesaikan perkataannya, kata katanya itu malah dipotong oleh ucapan dingin yang keluar dari mulut Aletta.


"Ba- baik Tuan Putri."


"Nah, para pengawalku yang cakep cakep, tolong bagikan makanan yang sudah aku siapkan untuk seluruh orang di sini yah." Yah... daerahnya tak terlalu luas, dan juga semua warga sudah berkumpul ketika mendengar bahwa 'kakak' datang kembali.


"Baik Tuan Putri!" jawab seluruh pengawal Aletta serentak lalu membagikan makanan yang sudah Aletta siapkan.


Aletta bermain dengan anak anak yang ada di sana dan tidak mempedulikan dirinya yang sudah kotor, apalagi wajahnya yang dipenuhi debu.


Di sisi lain, Zeline tertegun dengan apa yang diperbuat Tuan Putri Aletta tersebut. Dia tak menyangka putri yang sama kasarnya sepertinya bisa berbuat hal yang terpuji seperti ini. Dia merasa kalah? Tentu saja, dia merasa kalah karena Aletta mampu membuat orang tertawa. Sedangkan dirinya? Dirinya hanya mampu membuat orang menangis dan bersujud di kakinya.


'Apakah aku seburuk itu jika dibandingkan dengannya?' Itulah yang dikatakan oleh Zelina dalam kepalanya.


Waktu berlalu begitu cepat, kini sudah waktunya bagi Aletta dan Zeline untuk pulang. "YAH!! KOK KAKAK MAU PULANG?!" rengek para anak anak.


"Tenang saja, kakak akan mengunjungi kalian lagi, jadi kalian jangan sedih, oke?" Aletta mengusap air mata yang keluar dari mata anak anak itu satu per satu.


"Baik kak!!"


"Oh ya Kepala Desa, aku akan rutin memberikan dana, tolong perbaiki desa ini dengan sebaik baiknya yah." Pandangan Aletta beralih ke seorang pria tua.


"Saya akan melakukan yang terbaik untuk desa ini, saya dan para warga amat berterima kasih karena anda masu membantu kami semua yang rendahan ini," kata kepala desa yang hendak bersujud namun langsung dihentikan oleh Aletta.


"Jangan bersujud di kaki ku pak kepala desa, saya akan merasa sangat bersalah jika anda melakukan hal itu. Ingat, kita semua sama jadi anda tak boleh bersujud pada orang lain. Orang yang menyuruh orang lain bersujud padanya pasti adalah orang yang sangat jahat."


bersambung


maapkeun diriku yang kagak up berbulan bulan, moga moga masih ada yang mau baca :v saya manusia yang mager dan membuat seluruh ide hilang begitu saja (aku harus baca ulang semuanya hiks T.T) sekali lagi maapkeun diriku yang mageran dan pemalas ini yak.