I'M Villainess?

I'M Villainess?
eps 10



...°•○HAPPY READING GUYS○•°...


"Jangan bersujud di kaki ku pak kepala desa, saya akan merasa sangat bersalah jika anda melakukan hal itu. Ingat, kita semua sama jadi anda tak boleh bersujud pada orang lain. Orang yang menyuruh orang lain bersujud padanya pasti adalah orang yang sangat jahat."


Tanpa Aletta sadari, ada orang yang tertusuk oleh kata kata yang dia ucapkan. Orang yang selalu membuat orang lain bersujud memohon pengampunan darinya, orang yang akan menghukum walau hanya melakukan kesalahan yang sangat kecil. Dia adalah Zelline Hillary, putri dari keluarga duke Hillary.


(Berhubung author lupa kedudukan Zelline apaan, jadi aku ubah menjadi duke aja)


"Terima kasih, kami pasti akan selalu setia kepada Tuan Putri Aletta."


"Sama sama, tolong jaga anak anak di sini yah," kata Aletta yang melihat anak anak memakai baju lamanya dengan gembira. Ada juga baju baru yang tidak terlalu mewah.


"Saya akan melakukan semuanya dengan baik, kami sungguh sangat berhutang banyak kepada Tuan putri."


"Tuan putri, kita harus kembali sebelum matahari tenggelam," kata Kristan sambil memberi salam ala kesatria. Entah kenapa setelah insiden yang membuat Aletta terluka, Aletta jadi lebih dekat dengan Kristan.


"Baiklah, aku akan kembali, sampai jumpa lagi yah, titip salam untuk semuanya yah," kata Aletta lalu pergi ke kereta kudanya.


...***...


"Zelline~ kenapa kau pergi saat aku bicara dengan kepala desa sih?" tanya Aletta tanpa sopan santun menoel noel pipi Zelline. Pemilik pipi itu? Tentu saja kesal.


"Berisik! Kita tidak sedekat itu," kata Zelline sinis.


"Padahal aku yang sudah menyelamatkan dirimu, kalau aku tidak membantu maka kau akan bertemu sang pencipta lho," kata Aletta sambil menyerucutkan bibirnya.


"Ya... soal itu..." kata Zelline menggangung. "Terimakasih..." gumamnya dengan suara amat kecil, dia menundukkan kepalanya agar dapat menyembunyikan rona merah dikedua pipinya.


Sayangnya itu tak berguna, Aletta menyadari semuanya termasuk rona merah di kedua pipi Zelline. "Waah~ Nona Zelline memerah~~ harusnya aku bisa memotretnya dan menjualnya, dengan nama Nona Zelline yang pemarah ternyata lembut juga," goda Aletta sambil memposisiskan tangannya seperti orang sedang memotret.


"Di- diamlah!!"


"Hehehe, ternyata kau punya sisi lucu juga yah, padahal di pertemuan pertama kita kau sangat er...."


"Tidak usah diingat," sanggah Zelline cepat. "Lagian, kenapa kita terutama kau bicara tidak formal seperti ini?"


"Lagian kita cuma berdua di dalam sini, kalaupun pengawalku dengar, mereka tidak akan membuka mulut mereka, jadi aman," jelas Aletta sambil mengacungkan jempolnya dan senyum p*ps*d*nt.


"Kau memang tak punya sopan santun yah," lirih Zelline dengan keringat imajiner.


Mereka berbincang sampai tiba di kediaman Hillary. "Terimakasih telah mengantar saya sampai ke kediaman saya," kata Zelline dengan hormat ala seorang lady.


"Terimakasih kembali, sampai jumpa lagi nanti Nona Hillary," kata Aletta lalu pergi dengan kereta kudanya.


...***...


"Silakan datang ke Cafe kami."


"Kakak, datang ke cafe kami, yah?"


"Di sana makanannya enak lho."


Di alun alun kota, para anak dari perbatasan yang dipilih Aletta dan Aletta sendiri sedang mempromosikan cafe baru Aletta.


Mereka membagikan selembaran kepada para orang yang lewat, terlihat banyak orang yang mendekat karena promosian mereka di nilai tidak biasa.


Para anak anak memakai kostum kucing imut, dan ada juga boneka kucing di sebelah mereka. Tapi di samping itu, ada yang sangat menarik perhatian mereka. Yaitu seorang 'gadis' dengan rambut sebahu, memakai pakaian maid panjang sampe kaki lengkap dengan telinga kucingnya.


"Al?! Kenapa harus aku yang melakukan ini?!" tanya gadis itu dengan suara khas laki laki.


Yap! Gadis yang menarik perhatian semua adalah tidak lain dan tidak bukan, tuan muda Yugana. Berikan tepuk tangan kepada Aletta karena bisa mendandani Yugana sampai tidak bisa dikenali.


"Nona! Saya akan mampir ke cafe anda, berkencan lah dengan saya!" seru seorang laki laki dengan memegang tangan Yugana. Aletta yang menyaksikannya mencoba mati matian agar tidak tertawa terbahak bahak.


"E... ah... itu... maaf tidak bisa," kata Yugana dengan suara yang di mirip miripkan dengan 'cewek' sambil menepis tangan pemuda itu halus dan pergi ke sebelah Aletta.


"Kau senang melihatku menderita yah?"


"Emang :>"


"Sialan."


Sepanjang perpromosian, Yugana terus terusan menggerutu karena harus cosplay jadi cewek. Meski begitu, tak dapat dipungkiri bahwa ini adalah kenangan yang indah dalam hidupnya. Dimana dia melepas sejenak gelar bangsawan dan berkecimpung dengan masyarakat jelata.


Promosi sudah selesai, Aletta dan Yugana sudah mengganti pakaian mereka. Berbeda dengan kedua remaja itu, para anak anak masih memakai kostum mereka dan bermain dengan riang satu sama lain.


"Fuah~~ kuharap besok banyak yang datang ke cafe kita!" sahut Aletta antusias. Dia sekarang duduk dengan tidak elitnya dan tangan kanannya memegang gelas kosong, isinya? Sudah habis.


"Al, aku mau bertanya," kata Yugana dengan tampang serius.


"Huh? kenapa?"


"Posisimu... apa benar itu cara duduk seorang putri?" tanya Yugana dengan keringat imajiner dan juga telunjuknya menunjuk kearah Aletta.


"A- ah... tolong rahasiakan yah, bisa mampus jika berita menyebar tentang cara dudukku," balas Aletta yang memperbaiki posisi dudukku.


"Akan kusebar✨"


"Jangan dong!!😧"


"Hehehe, bagaimana jika orang lain tau hal ini yah? Reputasimu bisa lebih jatuh lagi lho."


"Yugana sialan!💢"


...Bletak!...


Sebuah sepatu melayang hampir mengenai kepala Yugana, tapi dia sempat menghindar hingga sepatu itu mengenai tembok dibelakangnya.


"Ho- Hoi... KAU MAU MEMBUNUHKU YAH?!" pekik Yugana saat melihat sepatu hak Aletta menempel pada tembok.


"Kagak tuh," kata Aletta datar sambil menjulurkan lidahnya.


"A- anu... bukankah seharusnya kita beres beres untuk besok?" kata Olivia ragu. Berkat ucapannya, perkelahian antara putri dan tuan muda duke Georgy itu.


"Ah! benar juga!" kata Aletta. "Anak anak, mau bantu kakak beres beres engga?" tanya Aletta pada anak anak yang bermain satu sama lain.


"MAU KAK!" balas semuanya antusias.


"Oke! Ayo mulai berbenah!" sahutnya antusias di balas sorakan para anak anak.


Mereka membereskan semuanya bersama, meski kadang Aletta terus menggoda yugana dengan kejadian Yugana cosplay jadi cewek.


Bersambung


maaf aku ga up berbulan bulan, ga ada ide TwT


SEE YOU