
Di ruangan tersebut, empat orang sudah duduk dengan secangkir teh tersaji di meja. Suasana hening masih mengisi ruangan tersebut sampai manajer membuka suaranya.
"Jadi kenapa anda menuduhnya! Apa anda punya bukti?" Kata Manajernya.
" Karena saya melihatnya dengan mata kepala saya sendiri, uwa saya hanya bertemu dengan lelaki ini saat saya berjalan-jalan di alun-alun!"Jelas Hamizan.
"Anda tidak bisa sembarangan menuduh!" Telak Halil.
" Kalau begitu pak, siapa yang melaporkan perkara ini? Apa pak Halil?" Kata Zinnia langsung.
Manajernya terlihat termenung, Halil sendiri terlihat tidak tenang menatap manajernya. Hamizan menangkap ekspresi tersebut sambil berdecih, dia merasa muak melihat sikap lelaki yang bertopeng seperti Halil.
"Sebaiknya anda mengaku saja!" Celetuk Hamizan.
" Hamiz!" Tegur Zinnia, saat melihat mata mereka perang kembali.
" Baiklah begini saja! Jadi Hamiz ini lelaki yang bersama bu Zizi saat malam minggu itu?"
" Iya pak! Saya Hamizan anak dari adiknya bu Zizi, saya datang ke kontrakannya untuk membayarkan hutang ayah saya, lalu saya mengajaknya makan diluar! Jadi tolong jangan salah paham lagi dengan hal ini!" Jelas Hamizan mantap.
" Hmm... Begitu ya, jadi saya tanya pak Halil apa lelaki ini yang pak Halil lihat dimalam minggu itu?" Kata pak Manajer.
" Itu.. Anu pak!" Halil tergagap.
" Pak Halil waktu itu bersama isterinya, itu cukup menjadi bukti! Kalau bukan pak Halil yang melaporkan saya! Tolong bersaksi mengenai perkara saya! " Kata Zinnia sambil melirik Halil yang sudha mulai pucat
Manajer tersebut terlihat menatap tajam pada Halil yang diam membisu. Hamizan sudah menghela nafas dengan kesal.
"Kalau begitu saya akan minta keterangan dari isteri pak Halil!" Kata Manajer tersebut sambil bangkit.
"Tidak perlu pak! Benar lelaki ini yang saya lihat!"Kata Halil dengan terpaksa.
" Iya silahkan pak!" Kata Hamizan dengan entengnya.
Hamizan menelpon Yurcel, lalu memperlihatkan foto pernikahan kedua orang tuanya. Disana manajer pun mangut-mangut. Sementara wajah Halil sudah diliputi rasa malu yang mendalam. Dia semakin menekuk wajahnya.
" Baiklah sekarang, saya minta maaf sama bu Zizi karena sudah salah paham!" Kata manajernya dengan santun.
" Iya pak!" Kata Zinnia.
" Nah, pak Halil lain kali kalau mau melaporkan sesuatu tolong dikonfirmasi dulu informasinya! Jangan sampai merusak nama orang! Nah karena kesalahan pak Halil, mohon maaf pak Halil anda harus keluar dari perusahaan saya!" Jelas Manajernya.
Ketiga orang disana matanya membulat penuh, terutama Halil yang tidak percaya dengan perkataan Manajernya.
" Pak, tolong maafkan saya!" Ringgis Halil.
"Pak Halil seharusnya minta maaf sama bu Zizi!" Kata Pak manajer
" Bu Zizi tolong maafkan kesalahan saya!" Kata Halil sambil meluruh bersujud dikakinya.
Zinnia tersentak dengan perilaku Halil, Zinnia meminta Halil untuk berdiri.
" Pak Halil jangan seperti ini! Saya sudah memaafkan anda"
" Maafkan saya, saya benar-benar minta maaf bu, saya telah melakukan kesalahan yang fatal!" Kata Halil tersedu-sedu dihadapan Zinnia.
Zinnia termenung dengan keputusan Manajernya, lelaki yang dihadapannya adalah seseorang yang pernah mengisi relung hatinya. Zinnia menyuruh Halil bangkit dan kembali duduk, akhirnya Halil menurut.
" Pak, tolong jangan keluarkan pak Halil! Biar saya saja yang keluar. Pak Halil ini punya tangungan keluarga, dia tulang punggungnya." Kata Zinnia membuat ketiga lelakk disana melirik ke arah Zinnia.