
"Sebenernya aku tidak mengijinkan kamu menikah lagi Cel! tapi kamu saja Cel! kakak tidak bisa mengijinkan kamu menikah kali ini! kamu usaha sendiri minta restu mamah sama ayah!" ucap Zinnia.
"Kakak jangan kayak gitu kak! please ijinin sekali ini lagi kak, please," bujuk Yurcel diujung telpon.
"Sudah dulu Cel, kakak mau ngajar lagi, assalamualaikum!" tutup Zinnia mematikan panggilannya sebelum sempat dijawab oleh Yurcel.
Nafasnya terasa berat, pandangannya menatap layar ponsel yang menampilkan wajah seorang wanita yang sudah tidak muda lagi, bibirnya bergincu merah muda, alisnya tebal dan badannya cukup sintal, rambut lurus tergerai sebahu.
"Foto siapa Zi?" sapa sahabatnya sambil menepuk pundak Zinnia.
"Calon isteri si Yurcel!" jawab Zinnia terlihat penuh kekesalan.
Sahabatnya perempuannya yang mendengar berita tersebut langsung membulatkan matanya tidak percaya.
"Serius Zi!" pekiknya.
"Seriuslah!" jawab Zinnia malas.
"Tunggu! adekmu itu baru cerai kemarin sore sekarang udah dapet calon isteri lagi?"teriaknya.
"Ya begitulah, Soka. Aku tidak paham jalan pikiran Yurcel!" keluh Zinnia menghela nafas.
Soka sahabat Zinnia hanya bisa menghela nafas juga mendengarnya.
"Jadi kamu 3-0 dongnya Zi?" ucao Soka sambil cengegesan.
"Sudah Soka, kesel aku jangan dibahas," ucap Zinnia sambil bangkit dari duduknya.
"Sabar Zi, nanti mau aku kenali ke cowok?" tawar Soka sambil cengegesan.
"Jangan sok-sokan nyariin cowok buat aku Soka, kau juga masih jomblo," balas Zinnia sambil tersenyum penuh kemenangan lalu melangkah keluar dari ruang pengajar membawa flashdisk.
Zinnia kembali masuk ke kelas mengajar dan melupakan suasana hatinya seperdetik lalu yang kesal dengan adiknya. Itulah keharusan pengendalian emosi bagi Zinnia agar tidak membawa masalah pribadi dalam mood mengajar.
------------*****---------
Kakinya melangkah menuju layar komputer untuk amano pulang. Zinnia mengetik kode kepegawaian dan password setelah itu dengan ramah mengucapkan salam pada staf yang menjaga kantor sebagai bentuk pamit.
Langkahnya semakin cepat diiringi cahaya rembulan, Zinnia terbiasa pulang kerja setiap pukul 8.00 malam, dia tinggal di kontrakan yang dekat dengan kantornya.
Setelah melewati gang yang cahayanya remang-remang, daerah yang sangat padat penduduk. Kontrakan dengan cat warna hijau itu tempatnya.
Zinnia mengontrak dilingkungan rata-rata karyawan dan mahasiswa, namun pada umumnya mereka sudah berkeluarga.
Zinnia melangkah melewati satu kontrakan yang sudah berkeluarga terdengar suara pertengkaran didalam kontrakan tersebut, hal yang sudah biasa bagi Zinnia. Zinnia kemudian sampai dikontrakannya yang masih gelap gulita.
Zinnia meronggoh kunci di tasnya, lalu membuka pintunya, dinyalakan lampu sehingga menyinari seluruh ruangan. Zinnia masuk melepas sepatunya, menyimpan tasnya dimeja. Kakinya melangkah ke kamar mandi untuk membersihkan diri.
Zinnia keluar dari kamar mandi sudah memakai pakaian tidurnya, badannya terasa lelah, Zinnia merongoh ponsel ditasnya. Sambil tiduran Zinnia melihat status di media sosial yang menampilkan sepasang pengantin berbahagia dipelaminan.
Setetes demi setetes air matanya meluncur memandanginya, segera Zinnia menghapus air matanya. Ponselnya bergetar karena ada panggilan telpon, langsung diangkatnya.
"Assalamualaikum Zi," sapa suara lembut.
"Iya Mah, kenapa mah?" jawab Zinnia.
"Baru pulang kerja?" tanya mamanya lembut.
"Iya mah, baru sampai tadi," jawab Zinnia.
"Zi, Cel udah nelpon belum?" tanya Mamahnya hati-hati.
"Udah Mah, dia minta ijin mau nikah, Zizi gak ijinin Mah," ucap Zinnia.
"Mamah juga sama ayah gak setuju Zi, coba nasehatin adekmu Zi, jangan buru-buru mau nikah lagi!" keluh Mamahnya.
"Iya Mah, udah Zizi bilangin, tapi mamah tau sendiri Yurcel anaknya nekat mah," ucap Zinnia.
"Ya makanya kamu cepetan nikah Zi, mungkin Yurcel rumah tangganya gak bener terus karena dosa melangkahi kamu," cerocos Mamahnya.
Zinnia menghela nafasnya mendengar ucapan mamahnya yang selalu memintanya segera menikah.
Nyari suami kan gak kaya beli gorengan! gerutu Zinnia dalam hatinya.
"Iya mah dengerin kok, jadi sekarang mau gimana? dinasihatin juga udah," ucap Zinnia.
"Iya pokoknya kamu bilangin dia jangan buru-buru nikah, mana dia mau nikahin janda udah berumur, anaknya udah gede! emang dia bisa ngurusnya apa! adekmu kan masih laku juga sama gadis!" ucap mamahnya panjang lebar menumpahkan kesalnya.
"Iya mah, entahlah Zizi juga heran selera Cel aneh," ucap Zinnia.
"Iya adekmu itu, mamah sama ayah udah cape nikahin mulu adekmu yang rumah tangganya berantakan terus!" ucap mamahnya masih mengebu-ngebu.
"Iya Mah, nanti Zizi bilangin lagi ke Yurcel," ucap Zinnia.
"Ya udah, kamu udah ngantuk ya sayang, mamah tutup telponnya ya, Assalamualaikum selamat istirahat," tungkas mamahnya.
"Iya Mah, waalaikumsalam," ucap Zinnia sambil meletakan ponselnya disamping badannya.
Zinnia memandang langit-langit kontrakannya, pikirannya melayang jauh, potongan kenangan pernikahan adiknya.
Yurcel adik satu-satunya Zinnia, wajahnya cukup tampan, banyak wanita ngantri jadi pacarnya. Berkali-kali Zinnia memperingati Yurcel jangan mainin wanita.
"Cel, ingat kalau kamu menyakiti wanita. Kakakmu ini juga seorang wanita, kau pasti tahu sakitnya!" ucap Zinnia dibawah pohon jambu sambil memakan jambu.
"Iya kak Zizi bawel!" ucap Yurcel yang berada diatas pohon memetik buah jambu.
"Awas loh! kakak serius nih!" ucap Zinnia sambil menegadah melihat adiknya yang duduk didahan pohon.
"Iya, iya kakak bawel banget!" ucap Yurcel.
Namun tidak disangka, diusia 21 tahun Yurcel menikahi pacarnya, meski Zinnia menolak mentah-mentah karena ingin Yurcel fokus ikut tes masuk kuliah. Tapi pernikahan yang digelar mewah itu kandas juga, hanya bertahan satu tahun karena masalah Yurcel sering keluyuran main bareng temannya.
Setelah itu selang tiga bulan, Yurcel meminta ijin untuk menikah lagi dengan seorang janda tidak memiliki anak, pernikahan itu awalnya berlangsung tentram tapi akhirnya kandas karena sifat Yurcel cemburuan dan kurang perhatian.
Mengingat hal tersebut, Zinnia ragu memberikan ijin adiknya menikah lagi. Badannya sangat letih ditambah pikirannya ikut lelah memikirkan tingkah adiknya yang di labeli 'tukang kawin'.
Drrt Drrt Drrt
Ponselnya kembali bergetar, Zinnia melihat panggilan video call dari Yurcel, sangat malas mengangkatnya, tapi tetap Zinnia mengangkatnya. Wajah Yurcel terlihat sumringah dan kagetnya ternyata panggilan video callnya terhubung dengan seorang wanita.
"Kak Assalamamualaikum!" sorak Yurcel berbinar.
Zinnia yang sebenarnya kesal berusaha merubah mimik wajahnya ramah, padahal dalam hatinya gedek.
"Waalaikumsalam," ucap Zinnia memaksakan senyuman.
"Kak ini Lunaria, calon aku, kakak sudah lihat kan foto yang aku kirimkan," ucap Yurcel semangat mengenalkan calon isterinya.
"kak Zinnia, ini aku Lunaria," ucap wanita di layar ponsel tersebut sambil tersenyum.
Dalam hati Zinnia sudah mengerutu, " panggil kakak, yang tua siapa juga! huh!".
"Iya bu eh kak Luna," ucap Zinnia bingung menyapanya.
"Panggil tante aja kak Zinnia," sambil tersipu membuat Zinnia semakin mual.
"Oh iya tante ya," ucap Zinnia sedikit meringgis.
"Iya, kak Zinni, katanya gak restuin kita nikah ya kak? kenapa? apa karena saya janda kak?" tanya disebrang telpon membuat Zinnia mematung seketika.
.
.
.
.
.
.
Bersambung...